Showing posts with label inspirasi. Show all posts
Showing posts with label inspirasi. Show all posts

Monday, December 30, 2019

Membangun Jaringan di Luar Negeri



Sejumlah usahawan besar Indonesia menjadi pelaku bisnis di negara-negara Asia Tenggara, Asia Tengah, Asia Timur, Australia dan Amerika Serikat. Para pebisnis ini bermain di areal pertambangan, perdagangan umum, makanan, properti dan ritel. Menariknya, sebagian besar tenaga kerja perusahaan tersebut adalah eksekutif Indonesia. Nama mereka sangat wangi di antara eksekutif luar negeri.

Di RR China, jejak usahawan Indonesia tampak di kawasan utara dan sekitar pantai timur. Dari Dalian, Harbin, Beijing, Shanghai, Xiamen, Shenzen, Zhuhai, Guangzhou, Meizhou. dan Hainan di selatan. Di Hongkong, pemain Indonesia umumnya bermain di panggung properti, ritel, dan makanan. Di Amerika Serikat, sekadar menyebut contoh lain, pebisnis Indonesia bermain di bidang properti, ritel dan industri. Di Asia Tengah, khususnya di bekas Um Sovyet, usahawan Indonesia bergerak di bidang pertambangan minyak. Di Australia, di bidang properti, ritel dan jasa.

Datanglah ke Shanghai misalnya, jejak usahawan Indonesia terutama tampak di Nangking Road, kawasan sekitar The Bund (Shanghai Thang), dan Pudong. Bendera usaha Grup Lippo, Grup Salim. Sinar Mas, Gajah Tunggal, Summarecon, berdiri dengan sangat gagah di sana. Sulit disebutkan siapa yang terbesar, tetapi umumnya adalah pemain-pemain besar. Grup Lippo misalnya mempunyai jaringan ritel, supermarket yang tegak di pelbagai kota. Proyek-proyek propertinya juga sangat gemerlap. Tidak heran kalau nama Lippo, juga Sinar Mas,

Salim, Summarecon, sangat dikenal di kalangan usahawan di daratan besar China.

Di Amerika Serikat, beberapa imperium bisnis Indonesia cukup berki-lau. Jejak James Riady. Sofjan Wanandi dan usahawan lain tampak jelas di sini. Sofjan misalnya bermain di bidang perdagangan dan industri. Ia di antaranya menjadikan Chicago, kota ketiga terbesar di AS sebagai kantor pusat. Di Singapura, pemain-pemain Indonesia bermain di bidang perhotelan, properti, makanan dan sebagainya. Nama James Riady dengan Grup Lipponya cukup populer. Lippo memiliki sejumlah hotel bintang lima di kawasan elite, proyek-proyek properti di kawasan premium.

"Grup usaha Indonesia, seperti Lippo amat besar di sini," ujar Wu Liehong, eksekutif properti di Singpura, pekan lalu. Hal yang sangat menarik, menurut Wu, Lippo dan usahawan Indonesia lainnya mempunyai eksekutif yang andal. "Mereka umumnya cerdas, kreatif dan amat fasih berbahasa Inggris. Aksen Inggrisnya sangat Amerika, dan British. Tidak tampak bahwa mereka itu orang Indonesia."

Untuk usaha dalam skala lebih kecildan bergaung, juga banyak. Grup Tudung dengan Kacang Garudanya. lumayan dikenal di luar negeri. Usaha makanan Johnny Andrean juga sudah merambah ke mancanegara. Donatnya, J.Co sudah bisa dicicipi warga Singapura dah Malaysia. Ia sebentar lagi akan masuk ke pasar China dan Amerika Serikat. Johnny dikenal cermat dan hati-hati kalau melakukan ekspansi. Berekspansi ke dua negara tersebut, tentu sudah dengan perhitungan matang. Misalnya, pasarnya sangat jelas. Dalam realita di lapangan, donatnya Johnny Andrean disukai warga Malaysia dan Singapura.

Kepada Kompas, Johnny pernah bercerita bahwa ia ingin melebarkan sayap usahanya ke lebih banyak negara. Bukan untuk bermegah, tetapi ia ingin produk yang 100 persen asli Indonesia itu mendunia. Publik sejagat juga bakal tahu bahwa donat Indonesia tidak kalah dengan donat yang selama ini sudah masyhur. "Donat J.Co bisa berkompetisi di pentas dunia karena produknya enak, terdiri hampir 50 jenis. Sejumlah di antaranya sangat mendukung kesehatan," tutur Johnny.

Grup Ciputra tidak kalah bersinar di luar negeri. Di bawah pimpinan orangkepercayaan Ciputra, Budiarsa Sastrawinata, imperium bisnis properti dan perhotelan ini menancapkan bendera usahanya di India, Vietnam, Kamboja, Nigeria. Singapura dan beberapa negara Eropa. Tidak main-main, Budiarsa sangat dihargai di negara-negara tersebut. "Kamboja misalnya menyambutnya dengan hangat Ketika menjelaskan proyek kami, pemimpin Kamboja Hun Sen sendiri yang menerima saya dengan tim. Ini luar biasa," ujar Budiarsa. Di Vietnam, para petinggi negara tersebut juga menerima Budiarsa dengan tangan terbuka.

Uraian tentang grup usaha yang sukses ini tidak dimaksudkan untuk memuja mereka, melainkan memberi inspirasi kepada usahawan lain bahwa pengusaha seyogyanya tidak "jago kandang. Para usahawan Indonesia harus berpikir global, tidak keasyikan berkibar-kibar di negeri sendiri. Dengan mendirikan perusahaan di luar negeri, banyak manfaat diperoleh. Indonesia dan produknya menjadi lebih dikenal di luar negeri. Para eksekutif Indonesia pun tidak jago kandang, melainkan mampu berkompetisi dengan eksekutif lainnya di dunia.

Sebagian besar perolehan profit di luar negeri juga kembali lagi ke Indonesia.

Usahawan Sofian Wanandi dalam beberapa kesempatan menyatakan, sekarang era global. Usaha negara lain bisa masuk Indonesia. Usahawan Indonesia pun bisa masuk ke pelbagai negara dunia. Ini soal sangat lumrah dan sesuai perkembangan zamannya. Oleh karena itu para pengusaha Indonesia harus menyiapkan diri baik-baik untuk bertarung di panggung dunia. Manajemen mesti prima, sumber daya manusia harus profesional. "Jaringan dan lobi pun harus kuat. Bagaimana Anda bisa membuka usaha di luar .negeri, dan sukses kalau jaringan, lobi, pemasaran dan manajemen Anda tidak bagus," ujar Sofjan.

Catatan lain yang bisa disampaikan di sini, terlepas dari aspek era global itu. usahawan besar Indonesia hendaknya juga tidak keasyikan bermain di luar negeri. Di dalam negeri juga perlu perhatian, di antaranya pada masalah perbankan. Bank-bank swasta nasional, umumnya sudah dikuasai asing. Penguasaan oleh asing memang soal wajar dan jamak, tetapi betapapun juga perlu perhatian luar biasa dari pelbagai pihak, termasuk pemerintah.

Daerah Istimewa Yogyakarta

yogyakarta

Perubahan Arus Politik di "Nagaragung"

Yogyakarta adalah ironi bagi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Setelah berjaya "memerahkan" Daerah Istimewa Yogyakarta dalam dua pemilihan umum pascareformasi, partai berlambang kepala banteng tersebut harus menelan pil pahit dalam Pemilu Legislatif 2009. PDI-P kalah telak karena tak berhasil memetik satu kemenangan pun di lima kabupaten/kota di DIY.

OLEH NURUL FATCHIATI

Tak dapat dimungkiri, wilayah kesultanan Yogyakarta atau "nagaragung" DIY adalah salah satu basis PDI-P. Sejak Pemilu 1971, eksistensi partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu di bumi Mataram terus menguat Meskipun pada era Orde Baru tak luput dari "kuningisasi" Partai Golkar, tetapi kantong-kantong PDI-P di DIY tetap hidup. Terbukti, pada pemilu pertama pascareformasi, partai tersebut berhasil memenangi semua daerah pemilihan di DIY dengan perolehan suara mencapai 35,65 persen dari total suara sah.

Hegemoni PDI-P masih berlanjut pada Pemilu 2004 meskipun satu daerah pemilihan. Kabupaten Gunung Kidul, terlepas dari rengkuhan. Perolehan suara terbanyak di kabupaten terluas di DIY ini direbut Golkar. Sementara itu, Partai Amanat Nasional semakin ketat membayangi PDI-P di empat- daerah pemilihan lainnya. Secara umum, perolehan suara terbanyak di tingkat provinsi tetap dikuasai partai kepala banteng. Kejayaan partai tersebut berlanjut pada pemilihan kepala daerah. Dari lima kabupaten/kota di DIY, tiga di antaranya berhasil dimenangi bupati peta-hana (incumbent) yang berasal dari PDI-P, yaitu Idham Samawi (Bantul), Ibnu Subiyanto (Sleman), dan Toyo S Dipo (Kulon Progo).

Namun, tanduk banteng tak lagi melentingkan perolehan suara PDI-P ke peringkat atas pada Pemilu Legislatif 2009. Kemenangan di empat kabupaten/kota di DIY pada pemilu lima tahun lalu tak satu pun yang berhasil dipertahankan.

Sebaliknya, Partai Demokrat sukses melambungkan suaranya di tiga daerah pemilihan yang menjadi basis PDI-P, yakni Kabupaten Bantul, Sleman, dan Kota Yogyakarta Padahal, Bupati Bantul dan Sleman masih dijabat orang dari PDI-P. Kabupaten Kulon Progo pun lepas dari genggaman setelah dimenangi PAN. Dari lima wilayah DIY, hanya Kabupaten Gunung Kidul yang tidak berubah. Daerah yang sejak Pemilu 2004 direbut Golkar tersebut kembali dimenangkan partai berlambang beringin ini.

Tak hanya PDI-P yang luput mempertahankan suaranya di "kandang sendiri". Suara Partai Kebangkitan Bangsa di DIY pun "terjun bebas" dalam pemilu kali ini. Perolehan suara partai yangsempat dilanda badai internal perebutan kepengurusan antara kubu Abdurrahman Wahid dan Muhaimin Iskandar menjelang Pemilu 2009 tersebut tergerus banyak. PKB keluar dari peringkat lima besar partai pemenang pemilu legislatif di DIY, tergusur oleh Partai Keadilan Sejahtera yang semakin mengokohkan eksistensinya di peringkat kelima


Bongkar pasang


Perubahan konstelasi perolehan suara partai di DIY tak urung membawa perubahan pula pada komposisi anggota legislatif dari provinsi ini dalam Dewan Perwakilan Rakyat di tingkat pusat. PAN yang pada Pemilu 2004 berhasil merebut dua kursi di Senayan harus merelakan satu kursi untuk Demokrat Terjadi pula bongkar pasang personel partai yang akan berkiprah di gedung dewan di Jakarta.

Dari delapan jatah kursi DPR untuk DIY, lima di antaranya ditempati "wajah baru". Hanya legislator dari PAN, PKS, dan satu wakil dari PDI-P, yaitu Eddy Mi-hati, yang sudah mengecap pengalaman politik di tingkat pusat pada periode lalu.

Kesempatan bagi anggota legislatif dari DIY untuk ke Senayan pada pemilu kali ini terbuka luas sebab sejumlah legislator yang lolos ke DPR pada periode sebelumnya tidak lagi mencalonkan diri lewat DIY. Mereka tak lagi menjadi kompetitor bagi sesama calon anggota legislatif dari partainya.

GBPH Joyokusumo dari Golkar dan Soetardjo Soerjoguritno dari PDI-P, misalnya, tak lagi tercantum namanya sebagai calon anggota legislatif dari DIY pada Pemilu 2009. Padahal, Joyokusu-mo yang juga adik dari Sultan Hamengku Buwono X. Gubernur DIY dan pemimpin Keraton Yogyakarta, adalah salah satu penghimpun suara bagi Golkar di DIY. Sementara Soetardjo yang memilih bertarung untuk kursi Dewan Perwakilan Daerah DIY juga tak berhasil melaju ke Senayan.

Dalam komposisi baru legislator dari DIY untuk kursi DPR kali ini, hanya ada satu perwakilan perempuan yang berhasil mendudukinya, padahal pada pemilu sebelumnya mencapai tiga perempuan.

Para wakil rakyat dari DIY, bisa dibilang, telah memiliki bekal pengalaman dalam dunia politik praktis. Selain berpengalaman sebagai anggota DPRD DIY, dua legislator, yaitu Djuwarto (PDI-P) dan Gandung Pardiman (Golkar), adalah ketua dewan pimpinan daerah/wilayah tingkat provinsi untuk partainya masing-masing. Agus Sulistyono terakhir aktif di Fraksi Kebangkitan Bangsa DPRD DIY, sedangkan Agus Bastian menjabat sebagai Sekretaris DPD Partai Demokrat DIY. Adapun Roy Suryo No-todiprodjo adalah Ketua Departemen Komunikasi dan Informasi DPP Partai Demokrat


Bongkar pasang anggota juga terjadi di tubuh DPD DIY. Dua anggota baru, yaitu Cholid Mahmud dan Muhammad Afnan Ha-dikusumo, muncul mendampingi "pemain lama" Gusti Kanjeng Ratu Hemas dan Abdul Hafldh Ashrom. Meskipun perolehan suara Cholid berhasil mengungguli Hafldh, tetapi masih jauh di bawah perolehan suara GKR Hemas. Permaisuri Gubernur DIY yang banyak berkiprah di bidang sosial kemasyarakatan tersebut meraih mayoritas suara, menca-pai 52,61 persen dari seluruh suara pemilih DIY untuk DPD.

Terlepas dari bongkar pasang legislator dan DPD dari DIY, para wakil rakyat tersebut memikulamanat penting masyarakat Yogyakarta. "Kawulo" Ngayogyakar-ta menanti kiprah mereka dalam mewujudkan Undang-Undang Keistimewaan DIY selekasnya.satu soal yang "diwariskan" para wakil dalam periode sebelumnya.

(NURUL FATCHIATI/ Litbang Kompas)

Wednesday, December 11, 2019

Menengok Mata Air Pancuran di Desa Pekunden Kutowinangun



Tak Pernah Kering, Diyakini Bisa Sembuhkan Berbagai Penyakit


Mata air "Pancuran" di


Desa Pekunden memangunik. Selain tak pernahkering, kabarnya air


Pancuran itu konon jugabisa menyembuhkanberbagai penyakit.

Benarkah?

FUAD HASYIM-Kutowinangun


JELANG musim kemarau ini, warga desa Pekunden Kecamatan Kutowinangun tak begitu resah. Sebab, mereka memiliki sumber mata air yang tidak pernah surut. Bahkan dimusim kemarau sekalipun.

Pancuran, demikianlah warga desa setempat biasa menyebut sumber mata air yang berada di Dukuh Kalisetra Desa Pekunden itu. Tak sulit untuk menemukan sumber air Pancuran ini. Dari balai Desa Pekunden ke utara sekitar 600 meter. Jika bingung, tanyakan saja pada warga desa setempat. Pasti semua akan menunjukkan tempatnya.

Disebut Pancuran, karena secara


alami air tersebut mancur (meman-car) dari dalam tanah. Letak sumber mata airnya pun cukup unik. Yaitu persis berada di bawah sebuah pohon tinggi besar yang konon usianya sudah ratusan tahun. Air yang keluar dari sela-sela akar pohon itu sangat bening. Bahkan nyaris tidak mengandungendapan. Warga juga terbiasa meminum langsung air Pancurdn tar.pa harus dimasak terlebih dahulu.

Agar mudah diambil, warga membuat saluran dari bambu. Di tempat itu pula, khususnya kaum perempuan melakukan aktivitas mencuci, mandi dan mengambilair untuk keperluan di rumah.

Aktivitas di Pancuran ini akan semakin meningkat. Terutamajika musim kemarau. Ada saja warga yang datang ke tempat ini. Baik untuk keperluan mandi, mencuci dan mengambil air. Tak hanya warga dari dukuh Kalisetra saja yang dalang. Warga dari luar dukuh dan desa pun banyak yang memanfaatkan airnya.

Namun jika pada musim kemarau, harus bersabar. Sebab, debit air yang keluar tidak terlalu besar, dibanding musim penghujan. Otomatis warga pun harus antre. Apalagi hanya ada dua pancuran bambu yang dibuat warga.

Selain sebagai sumber air bersih bagi warga setempat, air Pancuran ini konon dipercaya bisa mengobati berbagai macam penyakit. "Kalau cuma sakit "batuk pilek, minum air Pancuran ini InsyaAllah bisa sembuh," ungkap Wariyun, sesepuh Dukuh Kalisetra.

Ditambahkannya, sudah tidak terhitung orang yang minta izin mengambil air Pancuran dengan maksud berikhtiar demi kesem-buhan penyakit yang dideritanya. Tidak hanya lokal Kebumen saja. Mereka juga datang dari berbagai kota di Pulau Jawa. Tidak sedikit pulayang dalang dari Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi . Bahkan ada yang sengaja datang dari luar negeri seperti Malaysia dan Filipina.

Wariyun paham benar situasi Pancuran. Sebab sebagai sesepuh, dia pernah menjalani laku tidak makan nasi selama 19 tahun dan puasa selama 40 hari 40 malam. "Jangan takut, "penunggu" Pancuran ini berujud seorang putri cantik jelita," ujar dia sambil tersenyum.

Dia menambahkan, keunikan lairT dari Pancuran, debit air yang keluar selalu sama. Tidak berkurang di musim kemarau dan tidak banjir ketika hujan.

Keanehan lain, Pancuran ini anti dipugar. Dulu, kala Wariyun, pernah dibangun bak penampungan air agar memudahkan warga mengambil air. Herannya, pasca dibangun, air Pancuran malah tidak keluar sama sekali.(*)

Wednesday, December 4, 2019

Dari Usaha Bordir ke Percetakan



Siang itu. tidak ada yang spesial di CV Mutiara, yang berlokasi di JL. Raya Widang -Tuban, Suiabaya., sebelum rombongan pengurus KAN Lubuk Kilangan. Di satu ruangan ada belasan pegawai yang tengah menjahit dao mengoperasikan mesin bordir. Di ruangan lainnya, ada puluhan pegawai yang (cngali melipat, mcnjilid buku sekolah dan menjalankan mesin cetak.

"Beginilah rutinitas kami setiap harinya. Saya memantau jalannya usaha konveksi dan bordir, sementara suami saya, mensupervisi jalannya usaha percetakan." tutur Mutiara,4l saal kunjungan pengurus KN Lubuk Kilangan, staf PT. Semen Padang dan pendamping merekadari divisi Bina Lingkungan dan Usaha. PT Semen Gresik, (29/1) lalu.

Kunjungan itu bermakna tersendiri bagi Mutiara dan suaminya Amat.51. Ada kebanggaan dan rasa sukur terpancar dari matanya. Bagaimana tidak, kalau biasanya ia hanya dikunjungi oleh staf PT SG saja, kali ini iadijambangi Masyarakat dari pulau lain yang bisa jadi adalah konsumen usaha konveksinya. Bahkan, ia juga dijadikan contoh suksesnya usaha rumahan hasil dampingan PT. SG

Mutiara masih ingat bagaimana usahanya itu berawal. Mutiara memulai usahnya bermula dari sebuah mesin jahit dan kctcrampilannya membordir. ditahun 1984 silam. Kala itu ruang lingkup usahanya sangat terbatas.

Beruntung di saat itu divisi Bina Lingkungan dan Usaha. PT SG mendatangi dan menawarkan bantuan memberi pinjaman lunak sebesar Rp 15 juta.

"Awal-awal itu memang masa merintis usaha. Dan usaha yang dimodali sekian bisa berkembang dan membutuhkan penambahan modal untuk pengembangan lebih." buka Mutiara.

Menurut wanita tamatan pondok pesantren, setingkat sekolah menengah atas itu, hingga usahanya berkembang saal ini sudah empat kali ia mendapat pinjaman lunak. Pinjaman pertama sebanyak Rp 15 juta, kedua Rp 30 juta, ketiga Rp 45 juta dan terakhir untuk usaha percetakan Rp 75 juta.

Dengan bunga pinjaman yang berkisar 6 persen, Mutiara berhasil menunjukkan kalau bantuan itu tidak sia-sia. Buktinya, dengan pembelian bahan konveksi sebanyak 3 ton per buliin (namun sekarang berkurang hingga 15 ton karena inflasi), Mutiara berhasil meraup omzet hampir Rp 5 miliar per bulan.

Yang menarik dari pesatnya perkembangan usaha Mutiara adalah karena kesunggiihannya selalu memperkaya pengetahuandan sumber day any a. Kalau dulu ia memanfaatkan bordir manual, sekarang sudah menggunakan mesin bordir berteknologi komputer.

"Bantuan dari perusahaan tidak hanya berupa modal saja, tapi mereka juga membekali dengan mengadakan pelatihan dalam bidang manajemen dan promosi. Tidak hanya itu, perusahaan juga memakai produk kami jika kebetulan mereka butuh," beber Mutiara.

Lain halnya dengan istrinya yang lebih fokus ke bidang konveksi. Amat justru berminat di bidang percetakan. Cuma sama halnya dengan istrinya. Amat pun mulai dari kemampuan dan minatnya. Artinya, ia memulai usaha terlebih dulu, dan ketika butuh modal yang lebih besar baru diajukanlah proposal ke PT.SG

Meski sudah cukup berkembang, usaha yang baru dirintis-nya sejak setahun silam itu telah memberikan omzet sekitar Rp 100 juta setiap bulannya. "Meski demikian, kila sebenarnya masih (etap butuh pendampingan lain berupa kunjungan belajar ke tempat lain. Hal ini akan membuka wawasan kita bagaimana pengusaha sukses lainnya bisa mempertahankan bisnis mereka," hamp Amat."

Friday, November 29, 2019

Satu Desa Diberi Satu Bidan

Ilustrasi bidan desa

Sebanyak 135 bidan desa se Kabupaten Tanah Laut akan mengikuti pelatihan, pada senin (18/2) kemarin, 40 orang angkatan pertama, mengikuti pelatihan tentang Pos Kesehatan Desa (pokcsdes) di Aula Dinas Kesehatan Tanah Laut, Jl Hutan Kota.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan dan Promosi Kesehatan Dinkes Tala Drs Rusliansyah MM mengatakan, pelatihan angkatan pertama ini akan digelar selama 4 hari, sejak 18 hingga 2! Februari 2008. Pelatihan ini menurut Rusli, untuk mendukung terwujudnya Desa Siaga di semua desa se Kabupalen Tanah Laut.

"Visi misi menkes sceara nasional, semua desa menjadi Desa Siaga. Untuk Tanah Laut percontohan Desa Siaga saat ini masih ada di Damit. Selanjutnya, untuk mendukung program ini, maka didukung sarana prasarana dan juga SDM. Nah, salah satu SDM yang diperlukan adalah bidan im sendiri." terang Rusli.

Karenya menurut Rusli, keberadaan Poskesdes di Desa nantinya, akan banyak melibatkan peranan bidan, khususnya di luar jam kantor. Selain itu, lanjut Rusli keberadaan bidan pada tiap desa ini, juga ditunjang dengan rumah bidan atau biasa dikenal Polindes (Pos bersalin Desa)

"Untuk Polindes ini, kami minta kepada kades, agar memberikan tanah hibah yang berada di sekitar rumah penduduk. Sehingga bidan mudah didalangi penduduk," sebutnya.

Sementara itu Bupati Tanah Laut, yang diwakili Asisten Bidang Administrasi dan Umum Drs H Abdul Halim, memberi apresiasi positif atas prorgam ini. Sebagai salah satu ujung tombak pelayanan kesehatan kaum ibu di wilayah pedesaan, maka menurut bupati para bidan hendaknya mampu beradaptasi dengan keadaan desa tempat bertugas.

"Mengingat adat dan budaya di setiap desa tidaklah selalu sama, sangat penting memahami dan mempelajarinya, agar tidak menemui kesulitan dalam menjalankan tugas," pesan Halim sebelum membuka pelatihan ini.

Disamping itu diperlukan pula kesiapan mental yang tinggi dan ketulusan untuk mengabdi. Karena, para bidan yang bertugas di desa, kadang lokasinya sangat jauh dari kecamatan.

Pada kesempatan ini. Halim mengingatkan kepada peserta, agar benar benar mengikuti pelatihan ini, jangan segan-segan bertanya kepada para narasumber, jika ada yang belum dimengerti, (mr-90)

Sunday, November 24, 2019

Bahagia Memerangi Diri Sendiri

ilustrasi bahagia

Seorang rekan yang adalah seorang perokok acap mendapatkan nasihat yang saya sangat yakin kalau dia sendiri sudah sangat mengetahuinya. Nasihat itu adalah anjuran untuk dia berhenti atau paling tidak mengurangi jumlah rokok yang dihabiskannya. Tetapi, pada kenyataannya semua itu sama sekali ndak pernah mampu mengubah kebiasaan tersebut. Dja loh tetap mengonsumsi rokoknya, ada atau pun ti-daJJ ada orang yang menasihatinya.

Ketika saya bertanya kepadanya tentang hal tersebut;, dia berkata "aku sudah tajiu, tetapi bagaimana? So-ajifya, aku masih mau menikmatinya". J Ya, musuh terbesar dalam hidup kita adalah diri kita sendiri. Kegagalan untuk memerangi diri kita sendiri akan menjadi kegagalan kita dalam menjalani kehidupan ini.

Kegagalan kita menjalani kehidupan ini hanya akan mengurangi keutuhan kebahagiaan kita. Memerangi diri sendiri adalah kesungguhan demi untuk sebuah kemenangan.

Memerangi diri sendiri adalah keberanian dari diri kita untuk berkata "tidak" untuk sesuatu yang biasa kita lakukan dan untuk sesuatu yang kita sangat sukai.

Memerangi diri sendiri adalah keberanian untuk berkata "setop" terhadap sesuatu yang kita nikmati.

Memerangi diri sendiri adalah keberanian untuk menolak saat kita sangat ingin menerimanya. Karena itu, memerangi diri sendiri adalah sebuah keberanian, karena ketika kita memutuskan untuk melakukannya, maka kita melakukannya tanpa bantuan siapa pun.

"Saat itulah kita berjuang mengerahkan kemampuan kita melawan dan mengontrol hasrat kita sendiri yang sudah terlanjur menjadi bagian dari hidup kita. Hanya dengan cara itulah, kita dibebaskan dari ikatan tanpa

rantai yang membuat kita menjadi pribadi yang terbelenggu dan terpasung oleh diri kita sendiri.

Hanya dengan cara itulah kita menata hidup kita, memaksimalkan semua yang baik yang dapat kita tingkatkan dan membuang semua yang tidak berguna dan yang tidak membawa dampak, baik bagi diri kita sendiri maupun bagi sesama kita yang dihadirkan di sekitar kita. Untuk semua itu maka mulailah bersikap jujur terhadap diri kita sendiri, kejujuran terhadap diri sendiri memungkinkan kita memandang secara obyektif segala sesuatu yang kita lakukan.

Kejujuran

Kejujuran terhadap diri sendiri menolong kita mampu mengatakan tidak kepada segala sesuatu yang melekat pada diri kita, sekalipun hal itu tampak menyenangkan. Kejujuran pada diri sendiri membuat kita juga mampu menerima penilaian umum dari banyak orang tentang sifat-sifat dan perilaku kita sendiri yang tidak terlalu baik, namun yang selama ini kita anggap sebagai sesuatu yang wajar untuk terus diberlakukan.

Setelah itu, perkuatlah kesungguhan kita untuk mewujudkannya. Yakinkan diri kita bahwa pilihan kita untuk memerangi diri kita sendiri dari segala kebiasaan buruk kita adalah sesuatu yang benar yang di dalamnya kita tidak boleh mem-

96.30 fm

beri toleransi kepada sikap kompromi.

Tegaskan diri kita untuk segera berubah, pastikan bahwa apa yang kila lakukan adalah hal yang benar. Mengurangi dan meminimalkan adalah bagian dari upaya (itu memang sebagian dari kebenaran), tetapi sekaligus juga memberi kesempatan dan peluang untuk kita melakukan sebuah pengulangan, oleh karena itu, pertegaslah diri kita untuk tidak mengurangi, tetapi meninggalkan.

Kepantasan

Berikan kesempatan kepada orang lain untuk menghargai kita karena keberhasilan kita mengalahkan diri kita sendiri. Dengan kesungguhan yang demikianlah, maka kita akan tampak berbeda dan menjadi bahagia.

Kita menjadi pribadi yang berbahagia karena dengan cara itulah kita meningkatkan nilai diri kita, dan meningkatkan nilai diri berarti meningkatkan kepantasan diri kita. Meningkatkan kepantasan diri kita berarti meminimalkan peluang bagi orang lain untuk memberikan penilaian yang kurang baik tentang kita.

Akhirnya tidak pernah ada hasil yang dapat dicapai tanpa usaha, dan tidak pernah ada usaha yang tidak pernah dibayar dengan pengorbanan. Namun, buatlah pengorbanan kita menjadi pengorbanan yang bermakna.

Perangilah semua yang patut kita perangi dari diri kita dan pupuklah semua yang perlu di tumbuh kembangkan. Kita tidak mungkin dapat memenangkan dunia jika kita tidak mampu meme- nangkan diri kita sendiri lebih dahulu.

Dalang cilik itu tampil berkolaborasi dengan ayahnya

Ilustrasi dalang cilik

Sewaktu kanak-kanak, Wulan sering mengikuti ke mana pun ayahnya mendalang. Suatu ketika, ia ditantang sang ayah, Kadino Hadi Carito, 82 tahun, untuk mendalang walau sebenarnya ia tak pernah bercita-cita menjadi dalang. Wanita kelahiran Wonogiri, 20 Juni 1980, itu pun menjawab tantangan itu dengan syarat ia diberi uang jajan. Setelah beberapa bulan berlatih bersama sang ayah, pada suatu pergelaran wayang kulit, Wulan berhasil menggantikan ayahnya ketika mendalang, meski hanya satu jam. Semua penonton terkesima

Sejak itu, Wulaningsih-demikian nama aslinya-menekuni pekerjaan langka, apalagi buat perempuan, ini. Bungsu dari empat bersaudara ini memang terlahir dan tumbuh di keluarga dalang. Darah dalang yang mengalir di tubuhnya diturunkan dari leluhurnya, Ki Kan-dabuwana."Saya keturunan ke-19," kata Wulan kepada Tempo, Rabu lalu. Dari 19 generasi tersebut, semuanya merupakan dalang, tanpa pernah terputus.

Awalnya, dalang cilik itu tampil berkolaborasi dengan ayahnya dalam beberapa kali pementasan. Setelah bisa mandiri, ia mendirikan nayaga (kelompok penabuh gamelan) kecil dengan merekrut teman-teman sebayanya. Berhasil menyedot perhatian, Wulan dan teman-temannya diundang pentas ke berbagai tempat, termasuk di pendapa Kabupaten Wonogiri saat ada tamu penting. Juga pernah tampil pada pergelaran dalang kecil di Jakarta. Tapi kala itu si dalang kecil tampil hanya dua-tiga jam. Baru sepuluh tahun

lalu, wanita lulusan Sekolah Menengah Karawitan Indonesia, Surakarta, ini berhasil pentas semalam-suntuk. Namun ia belum berani mendalang untuk ruwatan-upacara ritual untuk menolak bencana. "Perlu kesiapan spiritual yang matang," kata wanita murah senyum itu. Kalaupun dapat order ruwatan, ayahnyalah yang melakukannya. Kini teknik mendalang Wulan semakin matang. "Tahun lalu saya menang dalam sebuah festival dalang di Jawa Tengah, untuk kategori sabetan," kata

dia. Sabetan merupakan sebuah teknik menggerakkan wayang, sehingga wayang kulit menjadi lebih hidup.

Untuk dapat menguasai teknik sabetan, seorang dalang harus bisa menjiwai karakter wayang yang dipegang. Sehingga wayang seakan punya nyawa dan bergerak sesuai dengan karakternya. Demi menguasai teknik itu, ia banyak belajar kepada dalang kondang idolanya, Ki Manteb Soedarsono.

Penggemar tokoh wayang Prabu Bala-dewa ini juga dikenal piawai melakukan adegan jaranan, yang tidak semua dalang sanggup membawakannya. Ini merupakan adegan perang, yakni dalang harus memainkan beberapa wayang sekaligus, termasuk wayang kuda. Sementara itu, kakinya harus memukul kepyak, untuk menghasilkan efek suara tertentu.

Dalam satu bulan, istri seorang pemimpin koperasi syariah itu bisa mendalang hingga enam kali. Dua tahun lalu, dia bisa mendapat order hingga 15 pementasan dalam sebulan."Sepi semenjak krisis tahun lalu," ujarnya. Setiap kali pentas, suaminya, yang juga merupakan guru mengajinya, selalu mendampingi.

Order berpentas justru selalu datang dari luar kota. Kebanyakan pemesan merupakan pengusaha kaya atau petani sukses yang memiliki nazar menggelar wayang kulit. Ia pernah juga mendapat tawaran mendalang dari Jepang dan Amerika, tapi gagal lantaran perantara-nya mematok harga sangat tinggi.

Beberapa kali ia menggelar pentas untuk kampanye, antara lain kampanye salah satu kandidat gubernur di Banten beberapa waktu lalu. Bahkan saat ini sudah ada enam calon kepala daerah di beberapa kota yang berniat menggandengnya untuk kampanye. Dua di antaranya dari luar Jawa.

Adapun order dari pemerintah hampir tak pernah ia peroleh kecuali dari pemerintah kabupaten setempat, yang ia nilai peduli terhadap seni tradisional. "Padahalselama ini pemerintah selalu gembar-gembor agar kita mencintai seni tradisional," ujarnya. Dia berharap, "Perlu ada perjuangan dari pemerintah agar seni tradisional tidak punah, terdesak oleh budaya asing."

Istri Riyanto Puthut Prasojo itu merasa bangga bisa menjadi penerus keluarga, menjadi seorang dalang. Buah hati mereka, Puthut Abdul Muchlis, 12 tahun, bersama nayaga kecilnya, kini juga mulai mendalang.

Untuk merawat kesehatan agar suara tidak serak, ia memilih jamu tradisional. Demi mematuhi pesan ayahnya, Wulan tidak merokok. Tiap hari weton kelahirannya, ia berpuasa. ahmad MnQ

Thursday, February 21, 2019

Inilah alasan kenapa Dapur Wajib Punya Jendela

Ilustrasi jendela dapur (google image)

DAPUR harus punya bukaan yang cukup supaya sirkulasi udara lancar. Dengan demikian, kebersihan dan kesehatan udara dapur tetap terjaga. Ada dapur terbuka (open kitchen), ada juga dapur tertutup (close kitchen).

Jenis dapur tertutup biasanya ditempatkan di satu ruangan tersendiri. Keuntungannya, kegiatan apapun di dapur tidak akan terlihat dari ruangan lain. Jadi, mau seberanta-kan apapun dapur ketika kila memasak, ndak akan mengganggu orang yang ada di ruangan lain.

Begitu pula dengan baubau tak sedap, yang mungkin diakibatkan bahan makanan, seperti

ikan, daging, dan sebagainya, tidak akan mudah tercium dari ruangan lain di rumah. Tapi adajuga kekurangannya.

Dalam Practical Ideas for Kitchens and Bathrooms disebutkan bahwa dapur dengan konsep tertutup memiliki area sirkulasi yang terbatas. Itu sebabnya, dapur tertutup wajib memiliki bukaan supaya pertukaran udara berjalan lancar. Jadi baubau tak sedap dan uap sisa memasak tidak akan lama mengendap di dalam ruangan. Selain itu, sinar matahari yang masuk, juga akan membual dapur lebih sehat,

Wednesday, February 20, 2019

Mengupas Khasiat Buah Cinta

Ilustrasi buah cinta strawberry

BUAH strawberry menyimpan nutrisi yang luar biasa. Selain antioksidan, buah ini juga kaya serat, rendah kalori dan mengandung vitamin C, folat, potassium, serta asam ellagic. Beberapa khasiat strawberry, mampu menyusulkan kadar kolestrol. Dapat membantu melumpuhkan kerja aktif kanker karena asam ellagic yang dikandungnya. Strawberry juga dapat meredam gejala stroke. Strawberry mengandung zat anti alergi dan anti radang.Konsentrasi tujuh zat antioksidan yang ada pada strawberry lebih tinggi dibanding buah atau sayuran lain, sehingga strawberry merupakan buah yang efektif mencegah proses oksidasi pada tubuh (Oksidasi ialah hancurnya jaringan tubuh karena radikal bebas. Oksidasi juga bertanggung jawab pada proses penuaan). Buah ini kaya akan vitamin C sangat bermanfaat bagi pertumbuhan anak. Strawberry yang hanya sedikit mengandung gula juga cocok untuk diet bagi pengidap diabetes.

Jika dimakan teratur dapat menghaluskan kulit dan membuat warna kulit terlihat lebih cerah dan bersih. Khasiat yang terkenal lain adalah anti keriput. Strawberry dapat memutihkan atau membersihkan permukaan gigi. Strawberry ampuh melawan encok dan radang sendi. Selain isinya, daun strawberry juga berkhasiat karena memiliki zat astringent Tiga hingga empat cangkir air hasil rebusan daun strawberry per hari, dapat efektif menghentikan serangan diare.

Kebutuhan vitamin C orang dewasa per harinya dapat dicukupi oleh 8 buah strawberry (98 mg). Kebutuhan serat juga sekaligus bisa terpenuhi. Banyaknya kegunaan strawberry bagi kesehatan, bisa dikatakan kalau buah ini cocok disebut "buah cinta. Buah yang dapat menjadi hadiah istimewa penuh cinta untuk kesehatan tubuh Anda sendiri.

Mirip Bengkel, Sehari Bisa Delapan Kali Transplantasi

ilustrasi negara china

Kita sering mendengar pepatah,Belajarlah walau sampai ke negeri China. Untuk transplantasi liver,Tiongkok memang tempat belajar yang paling tepat. Selain jumlah kasus yang ditangani paling banyak, juga teknik operasinya paling maju. Begitu pula perawatan pascaoperasinya.

JANUARI ini sebenarnya bukan waktu yang tepat untuk datang ke Tianjin, Tiongkok. Sebab, udara di kota itu, seperti juga di Beijing, sedang tidak ramah. Suhunya bergerak dari minus 8 sampai minus 13 derajat Celsius, di bawah nol. Bagi orang lokal, ini musim dingin terburuk dalam lima tahun terakhir.Namun, karena berpacu dengan waktu, inilah pilihan terbaik kami. Seperti yang saya sebutkan di tulisan kemarin, kami sedang berusaha menyelamatkan seorang bocah berumur tiga tahun yang sangat memerlukan liver baru.

Bocah ini akan mendapatkan donor dari ibunya.Untuk itulah, sembilan dokter dan dua perawat dari RSUD dr Soetomo Surabaya belajar dengan sangat serius di OOTC (Oriental Organ Transplant Center), Tianjin. Kondisi bocah inilah yang membuat kami tak takut pada dinginnya udara Tiongkok. Ketika kami tiba. Minggu pagi (17/1), suhu di Beijing minus 10 derajat Celsius. Begitu pula di Tianjin, yang berjarak sekitar 2,5 jam dengan bus dari ibu kota negeri berpenduduk 1,3 miliar orang itu.

Tanpa saya ceritakan pun, pembaca pasti sudah bisa membayangkan dinginnya udara bersuhu serendah itu. Dari dalam gedung terminal, terlihat salju masih menyelimuti sebagian jalan dan atap bangunan-bangunan di luar bandara. Padahal, sinar matahari cukup cerah. Artinya, udara di luar bandara memang sedang sangat dingin Tianjin sebenarnya bisa dicapai dengan kereta api yang baru dari Beijing, Lebih cepal, hanya 28 menit. Tetapi, karena kami masing-masing membawa koper besar -risiko traveling di musim dingin terlalu ribet kalau harus menggunakan kereta. Apalagi, masih harus pakai underground (kereta bawah tanah) dulu. Dan, di sana, baik di bandara maupun stasiun, tidajc ada petugas portir yang bisa membantu mengangkat koper.

Naik bus iebih simpel karena bisa langsung naik dari bandara. Turunnya di terminal bus Tianjin. Dari sini bisa naik taksi ke hotel atau ke mana pun tujuan kita.Tepat jam makan siang, kami tiba di terminal Tianjin. Di situ Yang shefou (paman Yang) sudah menunggu kami dengan mobil pribadinya. Dia inilah yang melayani segala kebutuhan Dahlan Iskan selama dirawat di Tianjin. Ketika kembali ke tanah air, dia ikut dan tinggal di Surabaya selama enam bulan untuk mengurus makanan Dahlan.Ini karena makanan punya peran penting dalam proses pemulihan pasien post-transplant. Jadi, meski dokter telah mengizinkan makan apa saja, sebagaimana orang normal, sebaiknya pasien tetap memperhatikan kandungan dan nilai gizi makanannya. Misalnya, jangan terlalu banyak mengonsumsi kandungan protein. Sebab, liver baru belum bisa bekerja maksimal.

Jarak terminal dengan Hotel Hua Xia tempat kami menginap, hanya 15 menit dengan taksi. Ongkosnya juga tidak mahal.Hotel Hua Xia tidak besar, tapi bintang tiga. Lobinya kecil dan sederhana. Begitu pula restorannya. Tetapi, kamarnya sangat bersih, nyaman, dan apik. Para petugas dan pelayannya juga ramah, meski itu hotel milik pemerintah.Dulu, pegawai pemerintah di Tiongkok memang terkesan sangar dan tidak ramah. Apalagi polisi, militer, dan petugas imigrasinya. Tetapi, sekarang tidak lagi. Mereka sekarang umumnya ramah, santun, dan murah senyum. Tiongkok benar-benar sudah berubah.Hal paling menarik dari hotel ini, menurut saya, adalah adanya kotak-kotak kondom dan obat kuat di setiap kamar. Beberapa tahun terakhir, untuk menghambat penyebaran penyakit hepatitis dan HIV/AIDS, pemerintah di sana mewajibkan semua hotel menyediakan kondom di setiap kamar. Kalau obat kuat, itu kreativitas pihak hotel.

Namun, karena kemasan barang-barang tersebut mirip kotak permen dan diletakkan di meja samping ranjang, sebagian dari kami lantas mengira itu penmen. Untung, ada yang memberi tahu saya. Dengan demikian, di antara kami tidak ada yang sempat mengunyah kondom. He he.Minggu itu kami free. Tetapi, karena niat kami ke Tianjin untuk belajar, bukan piknik, waktu kosong itu kami pakai untuk diskusi tentang hal-hal yang perlu diperdalam selama di OOTC.Senin pagi (18/1) yang kami nantikan tiba. Pukul 06.00 waktu setempat, saya sudah bangun. Langit di luar masih gelap dan berkabut tebal. Berarti di luar sana sangat dingin. Namun, suara klakson mobil sudah ramai bersahutan. Para pejalan kaki dan pengendara motor, sepeda bermotor, dan sepeda onlhel juga sudah banyak yang berlalu lalang. Semuanya mengenakan overcoat, tebal dengan penutup kepala dari bahan wool.

Luar biasa etos kerja bangsa Tiongkok ini. Layak diacungi dua jempol. Bayangkan, di pagi yang masih buta dan sangat dingin seperti itu mereka sudah mulai beraktivitas. Pantas kalau negeri ini bisa maju pesat dalam waktu singkat.Jarak antara hotel dan rumah sakit Tianjin First Central, tempat OOTC bernaung, hanya 10 menit berjalan kaki. Ketika kami berangkat, matahari mulai bersinar. Tetapi, udaranya masih cukup untuk membekukan ujung hidung dan jari-jari kami. Maklum, masih minus 8 derajat Celsius. Atau dua derajat lebih hangat dari ketika kami tiba di Beijing.Sebagaimana umumnya, acara pertama kami adalah perkenalan dengan para petinggi OOTC. Mereka menyambut kami dengan baik dan hangat. Bahkan, presiden direkturnya, Prof Dr Shen Zhongyang, langsung menawarkan kunjungan ke pusat transplantasi lain yang dipimpinnya, yakni di Rumah Sakit Tentara Beijing. Sebuah tawaran menarik yang tak mungkin kami tolak.Acara berikutnya adalah berkeliling melihat fasilitas-fasilitas yang mereka miliki. Makan siang, lantas mendengarkan kuliah tentang teknik transplantasi liver.

Sebenarnya, kami ingin sekali bisa melihat langsung pelaksanaan Iransplantasi. Maklum,lima dari sembilan dokter yang ikut adalah ahli bedah digestif (perut) dan vaskuler (pembuluh darah) dan tiga lainnya ahli anestesi dan konsultan ICU. Begitu pula perawatnya. Yang seorang perawat untuk critical care (ICU), sedang yang lain, perawat bedah di kamar operasi.Hanya dr Sjamsul Arief yang bukan. Artinya, mereka adalah orang-orang yang sehari-hari berhubungan dengan operasi, anestesi, dan perawatan masa-masa kritis post atau pascaopcrasi. Jadi, wajar sekali kalau mereka ingin segera bisa kembali ke "habitatnya.Sayangnya, jadwal kami hari itu adalah kuliah di ruang pertemuan. Bukan di kamar operasi. Baru pada Rabu (20/1) kami diikutkan operasi. Itu pun masih tentatif (belum pasti), menunggu ada tidaknya donor cadaver (mayat). Maka, hari itu kami hanya bisa menyampaikan harapan (sambil berdoa).

Tampaknya Tuhan mendengar doa kami. Saat menanti jadwal berikutnya, Ellen Wei, sekretaris presdir OOTC, menawarkan, apakah kami mau ikut operasi? Siang itu akan ada transplantasi dengan menggunakan donor hidup. Risikonya, kalau kami mau, jadwal kuliah ditiadakan.Mendengar itu, serentak kami menjawab, "Ya, mau!" Pucuk dicinta ulam tiba. Mana mungkin ditolak.Karena operasinya agak siang, kami disuruh makan dulu di ruang VIP kantin rumah sakit, yang sudah di-booking Ellen. Di ruang itu hanya ada sebuah meja bundar yang tak terlalu longgar untuk 12 orang. Di situ sudah ditata peralatan makan yang terlalu bagus untuk ukuran kantin rumah sakit. Makanan dan cara menyajikannya juga oke banget.

Seusai makan, kami langsung ke lantai dua, ke ruang Prof Dr Shen Zhongyang yang bersebelahan dengan kamar kerja si cantik Ellen Wei. Kami ke situ bukan untuk bertemu Prof Shen. Sebab, seusai berkenalan dengan kami tadi, dia langsung ke bandara, terbang ke Beijing untuk rapat dengan Departemen Kesehatan. Kabarnya, hari itu dia minta izin untuk datang siang karena ingin menyambut kami. Sungguh suatu kehormatan bagi kami, tim dari RSUD dr Soetomo Surabaya.Dengan didampingi Cindy, penerjemah resmi OOTC, kami menuju lantai 12 untuk ganti pakaian operasi.Sambil menunggu donor dan resipien disiapkan kami diajak ke lantai 13. Lantai ini terisolasi. Hanya mereka yang terlibat operasi yang boleh masuk. Di situ ada 10 ruang operasi, serta ruang penyimpanan bahan dan instrumen untuk operasi. Di salah satu ujung lantai ini ada lift besar untuk menaikkan pasien yang akan dioperasi, dan untuk menurunkan pasien yang selesai ditransplant. Di sisi lain lantai ini ada ICU. Tetapi, tempat ini bukan untuk pasien post-transplant. Ruang tersebut untuk pasien operasi lain dan pasien pascatransplantasi yang belum siap dipindahkan ke ruangan, tetapi tidak lagi memerlukan pengawasan dan perawatan sangat intensif.

Untuk pasien yang baru ditransplantasi, yang tentu memerlukan pengawasan dan perawatan sangat intensif, disediakan ICU khusus di lantai 12. Ruang ICU ini terletak di samping lift yang ke lantai 12. Di ruang inilah, Dahlan dulu "singgah" dan kali pertama dijenguk keluarganya, setelah livemya diganti dengan yang baru.Lift yang ke lantai ini dijaga petugas khusus. Hanya dokter dan keluarga pasien yang dirawat di ICU yang boleh naik. Begitu pula pengunjung di lantai 13.Meski ruang operasi ada di lantai 13, pengunjung ICU lantai tersebut tidak bisa masuk ruang operasi. Sebab, untuk ke ruang-ruang operasi itu, hanya ada satu akses lift pasien yang ada di dalam ICU lantai 12. Letak lift ini tersembunyi dan diawasi. Karena itu. tidak sembarang orang bisa menemukannya, apalagi menggunakannya.

Oriental Organ Transplant Center atau OOTC sebenarnya bukan rumah sakit tersendiri. Hanya gedung dan administrasinya yang mandiri. Tetapi, secara yuridis, pusat ini berada di bawah naungan Tianjin First Central Hospital (TFCH). Sebuah rumah sakit pendidikan yang "tugas"-nya mendukung program pendidikan kedokteran Universitas Nankai, Tianjin.Center ini memiliki 14 lantai. Lantai satu dan dua untuk administrasi dan kantor manajemen. Tiga-empat untuk ginjal dan saluran kencing. Sisanya, lantai lima hingga 12 untuk iransplantasi. Tapi, lantai 13 khusus untuk transplantasi liver. Lantai teratas, untuk menyimpan instrumen operasi dan peralatan lain yang terkait dengan operasi.Meski lantai 13 telah ditetapkan sebagai "wilayahnya transplantasi liver, sesekali tempat itu digunakan juga untuk ginjal. Yakni, ketika yang ditransplantasikan bukan hanya ginjal, melainkan multiorgan transplant (yang ditransplantasikan lebih dari satu organ).

Untuk operasi jenis ini, organ yang digunakan berasal dari satu donor. Seperti yang saya saksikan pada hari terakhir saya di situ, dari satu donor didapatkan tiga organ sekaligus. Yakni, liver, dua ginjal, dan satu pankrcas. Karena umur organ-organ tersebut sangat terbatas meski sudah didinginkan ruang operasinya tidak boleh berjauhan. Karena itu. begitu selesai dicuci, masing-masing ginjal bisa langsung ditransplantasikan ke tubuh resipien. tanpa membuang lebih banyak waktu karena harus menunggu lift, misalnya. Begitu pula liver dan pankreasnya.

Ada katanya seorang pasien membutuhkan dua organ sekaligus Satu ginjal dan pankreas atau jantung dan paru-paru. Untuk ginjal, dalam transplantasi. seorang pasien hanya membutuhkan satu ginjal. Karena itu. transplantasi organ yang satu ini bisa dilakukan dengan menggunakan donor hidup. Sama dengan liver.Bisa belajar transplantasi di center ini sungguh suatu keberuntungan. Sebab. OOTC termasuk pusat transplantasi yang sangat aktif. Sebagai bukti, dalam setahun, center ini bisa melakukan lebih dari 650 transplantasi liver. Bahkan, mereka pernah melakukannya lebih dari 1.000 penggantian liver dalam setahun. Untuk ginjal, jumlahnya kurang lebih sama. Padahal, satu tahun hanya ada 365 hari.Pada hari terakhir saya di sana, center itu melakukan delapan transplantasi liver dalam sehari. Bayangkan! Kok mirip bengkel ya!

Center ini memang lebih tepat disebut bengkel manusia daripada rumah sakit. Bengkel manusia terbesar di dunia, karena center ini yang paling banyak menangani penggantian organ-organ rusak dengan yang baru, dibanding pusat transplantasi lain di dunia.Saya katakan mirip bengkel karena sejak masuk ke lobi OOTC sampai ke lantai-lantai tempat pasien dirawat. Anda tidak akan melihat perawat, pasien, dan dokter yang berseliweran. Sesekali saja, kalau beruntung. Anda berpapasan dengan pasien yang didorong kursi roda atau kereta dorong.Namun, di lantai 13, Anda akan melihat betapa banyaknya manusia yang diganti "onderdirnya. seperti sebuah bengkel mengganti spare parts mobil-mobil yang rusak agar bisa berjalan lagi.

EKSPEKTASI TERLALU TINGGI AKAN MEMBUNUH KREATOR

Aria kusuma ist

Terpilih sebagai Sutradara Terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) 2009, Aria Kusumadewa, 46 tahun, bersikap biasa saja. Bahkan ia menyaksikan kemenangannya itu dari layar televisi di sebuah warung Tegal. Film besutannya, Identitas, yang keluar sebagai Film Terbaik, pun dianggap paling tidak memuaskan dibanding tujuh karyanya yang lain. "Identitas terlalu menyuapi penonton," ujar Sutradara Terpuji Forum Film Bandung 2002 itu. "Karya yang baik, kalau tidak menyuapi penonton, memberikan wacana yang berbeda."

Selama ini, Aria dikenal sebagai sutradara di jalur film independen (indie) yang kerap mengangkat kehidupan kaum marginal, termasuk para pelacur, yang memang dekat dengan lingkungan dia nongkrong. Film-filmnya, seperti Novel Tanpa Huruf R, (2003) kerap mengundang hujatan sekaligus pujian. Aria justru senang.Rabu lalu, di Gelanggang Remaja Jakarta Timur, Jalan Otto Iskandardinata, Aria menerima wartawan Tempo, Ngarto Febru-ana dan Akbar Tri Kurniawan, serta fotografer Dwianto Wibowo untuk sebuah wawancara. Berikut ini petikannya.

Bagaimana proses kreatif pembuatan film Identitas ini?Saya enggak punya duit. Empat tahun tidak membuat apa-apa, saya bawa (skenario trilogi) ini ke beberapa produser, tapi tetap tidak ada yang mau. Temyata Deddy Mizwar yang memanggil. Tapi dia juga enggak mau sebuah film dengan pola bertutur modem ada tiga macam cerita di dalamnya.Karena produser banyak yang tidak mau, saya copotin cerita itu satu per satu. Yang mana dulu saya bikin. Saya kumpulin teman-teman komunitas yang sudah kaya. "Bantuan gue, deh. Aku mau bikin film ini tapi duitnya belum ada, dan ini untuk roadshow di kampus-kampus."

Ada satu produser di daerah Cempaka Putih (Jakarta Pusat), teman nongkrong saya (meminjamkan kamera). Cari pemain, aku panggil Tio Pakusadewo. Tapi gue bilang, kalau filmnya laku, baru gue bayar. Targetku juga bukan komersial. Eh, ter-nyata, begitu mulai syuting, Deddy Mizwar telepon, "Aria, lu bisa ke kantor?" Gue bilang, "Sori Ji (Pak Haji), lagi syuting, nih.". Jadilah dia datang ke lokasi. Kerjaan kita cukup serius. Seadanya, comot dari sana-sini. Deddy Mizwar rupanya kasihan lihat itu. Lama-lama Deddy nanya, "Coba lihat skenarionya." Lalu dibawa. Syuting sudah tiga hari, duitnya habis. Kayaknya berhenti nih syuting, duitnya cuma Rp 50 juta. Kru 40 orang, figurannya seabrek.Ya, udah kita berhenti, kalau ada duitnya, kita te-rusin.

Lama-lama aku berpikir, kenapa enggak ke Deddy Mizwar aja. Gue dateng. "Berapa lu perlu?" kata Deddy. Seratus lima puluh juta (rupiah). Tapi Deddy minta, sehabis bikin film, aku kerja sama dia. Aku setuju, aku bilang utang honor dululah. Setelah seminggu, duit mulai habis. Datang lagi ke Deddy Mizwar, utang lagi 100 juta (rupiah). Dikasih lagi. Dari situlah aku sudah memiliki kontrak hati sama Deddy. Dia satu-satunya produser di Indonesia yang percaya sama aku.

Deddy memberi masukan untuk film Anda?Enggak, sama sekali. Hanya satu pesan dia,"Filmnya pakai musik, ya, biar kelihatan film, biar bisa dijual."Lalu gue utang lagi ke dia. Dia ngomong,"Lu belum kerja sama gue, udah utangnya banyak.Ya, udahlah film lu gue beli aja. Nanti film iu gue transfer ke Kino Transfer 35 supaya bisa tayang di bioskop. Aku agak terganggu.Tapi akhirnya setuju, biarlah Deddy bawa (film) itu ke bioskop, tapi aku tetap roadshow ke kampus-kampus. Roadshow di delapan kota di Jawa dan sukses.

Apa yang istimewa dari film Identitas dibanding film Anda sebelumnya, Beth dan Novel Tanpa Huruf R" Aku merasa mundur. Ini personal banget, ya. Menurut saya, film Identitas terlalu menyuapi penonton. Menurut pandangan saya, karya yang baik, kalau tidak menyuapi penonton, memberikan wacana yang berbeda, ada dinamika. Misalkan film itu ditonton sepuluh penonton. Masing-masing penonton memiliki persepsi yang berbeda setelah menonton film. Berarti film tersebut telafl mampu memberikan wacana yang dinamis. Tapi, kalau sepuluh penonton itu persepsinya sama, film itu gagal.Film Novel Tanpa Huruf R, sepuluh yang menonton, ada sepuluh persepsi berbeda, ada yang menghujat, ada yang memuji.Dari segi kepuasan batin, mana yong puling memuaskan? Yang paling enggak puas, ya, ini (Identitas).Pesan apa yang Anda sampaikan lewat Identitas?

Sederhana, ini film pertanyaan. Saya ingin menyampaikan apakah identitas itu diperlukan dalam kehidupan. Kenyataan sehari-hari, identitas itu berbentuk legal formal, seperti KTP {kartu tanda penduduk), temyata dibutuhkan dalam kehidupan ini. Misalkan punya tanah tidak punya suratnya, disiU. Tidak ada KTP, dirazia. Orang mati tidak memiliki identitas, ia tak mendapat hak-hak kematiannya.Yang lebih luas lagi, identitas menurut dili kita pribadi bukan legal formal. Coba kita lucuti atribut kita masing-masing. Pada akhirnya, menurut pandangan seorang Aria, identitas itu adalah eksistensi hidup, bukan yang berbentuk KTP dan atribut lainnya. Tapi tidak memiliki atribut bisa mendapatkan gangguan.

Ide film ini Anda dapatkan saat ditangkap polisi kin imm tak memiliki KTP? Iya.Bagaimana Anda melakukan riset untuk Identitas"! Riset untuk film Identitas sangat kuat. Saya tongkwngin rumah sakit, melihat situasi dan peristiwa yang tidak masuk akal. Ada orang akan diamputasi, padahal dia sakit usus bantu. Ini beneran, ada di koran, saya kliping. Sejak tahun 2000 saya Wiping berita-berita kesehatan.Film-film Anda mengangkat persoalan kaum marginal....

Saya sudah akrab dengan kehidupan kaum marginal. Sejak SMP saya hidup di lingkungan itu. Saya tidak canggung mengangkat (kehidupan) kaum marginal. Saya sendiri sering nongkrong dengan pekcun-pekcun (pelacur) di Bulungan (Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan). Jadi saya tahu realitasnya. Ada yang sedang melacur tiba-tiba ibunya datang, marah-marah. Begitu dikasih uang 100 ribu, diam, langsung pulang. Itu sesuatu yang bagi mereka biasa tapi bagi kita luar biasa.Empat biliun tidak berkarya, apa kegiatan Anda?

Ya, itu kerjaannya, nongkrong. Kami sering mengadakan workshop. Kebetulan Lola Amaria bikin film Betina, mentornya saya. Mulai dari workshop sampai distribusi saya yang ngurusi.Pernahkah Anda berpikir film Anda masuk FFI? Belum pernah. Belum pernah satu pun filmku yang ikut FFI. Ada (yang ikut festival) di Belanda. Itu pun saya tidak pernah bicara ke media.Apa makna kemenangan ini bagi kalangan indie?

Untuk seorang kreator, ekspektasi membuat karya adalah membuat karya, bukan berorientasi pada festival. (Kalaupun) ekspektasi pada festival, ya, festival hanya sebuah pesta. FFI itu pesta. Ada orang bikin bikin pesta, makan-makan. Dalam makan-makan ada tanding panco, lalu ada yang dapat hadiah. Jadi menyikapi festival itu, ya, biasa-biasa saja. Enggak usah terlalu ideologis. Apalagi kalau ada seorang kreator menghujat, siapa pun yang menang dihujat. Ini akan menjadi iklim yang tidak sehat, akan menjadi efek domino di daerah.

Mengganggu mentalitas kalangan indie?Festival ini seolah-olah dianggap sesuatu yang ideologis. Aku ngomong begini bukan karena sudah menang. Aku sudah membuktikan aku enggak pernah ikut FFI. Masuk bioskop pun baru pertama kali dari tujuh film yang pernah aku buat. Aku tidak pernah berharap-harap. Awalnya Deddy Mizwar ngomong, "Ikut FFI, ya?" Aku jawab, "Enggak usah, Ji." Lalu jawaban dia menyentuh, "Yang mau senang lu doang apa, lu boleh enggak senang, tapi ada cameraman, editor, pemain lu, mereka pingin juga punya kebanggaan hidup."Ya, udah, ikut.

Waktu pengumuman nominasi di Batu (Javya Timur), aku diundang padahal aku sedang latihan dengan copet-copet di sini (Gelanggang Remaja Otista, Jakarta Timur). Dapat SMS, (film Identitas) masuk sembilan nominasi.Jujur saja, saya pribadi, melihat festival, apa pun itu, ya, itu sebuah festival. Kalau saya tidak bersikap seperti itu, saya bisa terganggu dengan karya-karya selanjutnya. Nanti ribut mau ikut festival ini-itu, malah bikin filmnya belum, tapi sudah mikirin festival. Lama-lama karya itu akan mengejar bentuk. Sebetulnya karya yang baik itu tidak mengejar bentuk, dia lahir bukan diciptakan.

Festival ini bisa menggairahkan Film indie?Kalau i mt nk film milir, saya berharap (bisa menggairahkan). Tapi, kalau saya pribadi, mau ada FFI atau tidak, saya tetap berkarya. Toh, saya sudah bikin .film tujuh biji, tidak pernah ikutan FFI.Ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap itu, salah menyikapi kalah-menang, akan membunuh seorang kreator. Banyak contohnya, baru menang Piala Citra, besoknya kelakuannya sudah tidak keruan, setelah itu ambruk. Mungkin saran saya untuk kreator yang ribut-ribut ini, sikapilah festival itu sebagai sebuah pesta. Tidak usah menghujat juri, jurinya lalu menghujat penonton. Tanggung jawab seorang kreator adalah membuat film, mau ada festival atau tidak, tetap bikin film. Kalau filmnya banyak berkembang, festivalnya juga pasti akan berkembang.

Tahun 2009 ini kebangkitan film indie?Baru bergairah, karena di film indie harus terlibat beberapa elemen, termasuk pemerintah, lembaga-lembaga film yang dibiayai oleh BP2N (Badan Pertimbangan Perfilman Nasional). Dari sini saya memiliki beberapa peluang dari BP2N yang diketuai oleh Deddy Mizwar. Saya ingin membuat worksliop besar di daerah Yogya, Semarang, keliling. Selama masih ada orang-orang yang memperhatikan film indie, ia akan maju; sekarang masih bergairah. Sama seperti di Hollywood, saat mereka kehabisan tema, semua film temanya hampir seragam, mereka melakukan riset ke bawah.

Selain itu?Dana. Bahwa workshop dan pendidikan yang mumpuni itu juga harus dilakukan di daerah. Di daerah itu banyak gagasan dan local genius. Tapi kadang mereka mau menyewa lampu saja, tidak kuat karena tidak kuat dananya. Lampu pun harus nyewa di Jakarta, tidak bisa di daerah.Saya berharap film Indonesia tidak seragam tema. Seperti pada 1980 ada banyak tema film, workshop berkembang, Gita Cinta dari SMA berkembang, film action-nya berkembang. Dulu kita sudah punya ekspektasi sebelum menonton, mau nonton film Cina di Jatinegara, mau nonton film India di Crivoli. Sekarang kan tidak seperti itu.

Apa penyebabnya?Salah persepsi yang terjadi di produser. Produser mengira penonton di Indonesia menyukai film yang seperti ini, padahal penonton itu di-/ait accompli. Mereka hanya disuguhi film jenis itu.Yang dianggap produser-produser asing yang ada di sini, penonton Indonesia itu tunggal. Senang dibodohi, padahal tidak. Publik itu tidak tunggal. Produser merasa penonton suka dengan itu (film-film hantu), padahal penonton tidak bodoh.
Kemenangan film Identitas ini akan berkontribusi pada kegairahan film indie di daerah?

Itu secara otomatis. Walaupun (saat pengumuman pemenang FFI) aku di warteg di luar Jakarta, semua telepon dan (pesan) Facebook penuh daii kawan-kawan indie di daerah. Semangat itu sudah pasti tumbuh daii mereka. Saya tidak mau semangat ini hilang, maka saya memiliki tanggung jawab plus dengan kemenangan ini.Untuk lebih menggairahkan film indie?Kalau film indie sudah bisa masuk ke film mainstream, dan pemilik modal sudah mendapatkan fa{ue-nya, saya yakin banyak yang akan berinvestasi di kelompok indie ini. Dengan Identitas menang, saya berharap para produser percaya kepada kelompok-kelompok indie dan membawa film ini ke film mainstream tanpa ada intervensi orisinali-tasnva.

Kalau sudah masuk mainstream, lalu apa bedanya?Nah, ini problemnya. Banyak orang salah memahami arti indie. Indie itu berarti suatu spirit. Bioskop atau kampus itu ruang presentasi. Saya menyebutnya indie itu independen. (Indie) adalah spirit kebebasan berpikir tanpa diintervensi oleh siapa pun. Selama sepuluh tahun saya di film indie, saya mempertahankan itu. Setiap saya melibatkan pada film mainstream, selalu ada intervensi pada gagasannya, dan saya tidak mau, saya tolak. Sehingga pada saat ada intervensi seseorang untuk menghancurkan kebebasan itu, ya jangan mau. Spirit itu sebetulnya yang harusnya ditransfer ke kawan-kawan indie

Spirit independen itu tidak ada kaitannya dengan nilai film tersebut komersial atau tidak. Saya memaknai sebuah independensi film adalah bagaimana film itu dibuat dengan spirit kebebasan berpikir.Bagaimana pandangan Anda tentang irim film indie Hollywood?Mereka bagus-bagus. Mereka juga komersial karena mereka punya bioskop. Di Amerika sangat banyak bioskop untuk film-film indie, di ruko-ruko yang itu ditonton 50-an orang. Di Eropa banyak, di sini enggak ada.Banyak anak-anak muda yang menggeluti film indie?Banyak. Hanya, secara teknis mereka kurang mumpuni, karena mereka belajar otodidaktik. Itulah tugas kami. Bagaimana mengajari mereka bahwa kamera itu tidak sekadar merekam sebuah peristiwa. Bahwa ngedit itu tidak sekadar menyambung dan memotong, tapi editing itu bagian dari menyusun peristiwa, struktur, dia seni, bukan teknis. Musik juga seperti itu. Dan saya optimistis.

Menurut Anda, masih perlu lembaga sensor?Untuk negara yang lagi kacau-balau seperti ini, masih perlu lembaga sensor. Bukan untuk saya lo, tapi untuk negara ini. Kalau aku tidak peduli, mau disensor atau tidak, bikin film terus. Tapi aku kritik, lembaga sensor tidak memiliki bargaining dalam kasus Buruan Cium Gue!. Saya buat film, saya berlindung pada lembaga sensor. Satu kelompok agama meributkan film itu, lalu ditarik kembali oleh lembaga sensor. Terus bagaimana kami bisa berlindung di balik lembaga ini. Artinya, kita bisa berlindung di balik dia, tapi parameter, ukuran-ukurannya, harus dibenahi.

Kriterianya seperti apa?Pertama, lembaga sensor tidak berhak memotong karya orang. Ia hanya berhak memberi rating umur. Lembaga sensor dengan gedung film harus bekerja sama. Kalau film itu untuk 17 tahun ke atas, penonton yang di bawah 17 tahun tidak boleh masuk. Kalau di sini tidak peduli, kan. Di luar negeri, pelayan bar saja ikut bertanggung jawab. Anak di bawah 17 tahun tidak membawa KTP tidak boleh masuk bar.Maka lembaga sensor dengan pemilik bioskop harus berada di depan pintu, memastikan bahwa penonton sesuai dengan rating usia yang ditentukan.Ada rencana bikin film lagi? Menyelesaikan trilogi sampai 2010.


Tuesday, February 19, 2019

Membangun Seribu Cerita di Hunian yang Nyaman

Ilustrasi Rumah impian

Rumah adalah saksi perjalanan hidup dan pasang surut suatu keluar ga. Sayangnya, memiliki hunian aman, nyaman, dan asri masih terasa begitu berat bagi sebagian orang.Membangun rumah memang tidak semudah yang dibayangkan tetapi tidak juga serumit yang dipikirkan. Sesederhana apapun rumah tetap disebut rumah. Namun, sederhana juga tetap memerhatikan dan mempertimbangkan hal-hal mendasar, terutama dari segi desain harus sesuai prinsip sustainable construction (konstruksi berkelanjutan).

Kondisi lingkungan

Rumah di daerah tropis seperti di Indonesia paling tidak harus memenuhi persyaratan berikut ini.Pertama, desain harus memungkinkan adanya sirkulasi udara memadai, mengingat suhu udara di Indonesia yang cukup tinggi. Selain itu, sirkulasi udara yang baik juga berarti hemat energi karena dapat mengurangi pemakaian pendingin udara. Memperlebar bukaan jendela dan pintu atau tinggikan plafon rumah mungkin sudah biasa. Cara lain, agar udara rumah segar nantinya, sediakan ruang khusus tanaman hijau pada rancangan Anda. Pastikan loteng rumah memiliki ventilasi yang baik agar udara "jelek" tidak terkumpul di atas.

Kedua, rumah sehat harus memiliki pencahayaan yang baik pula. Kelembapan udara yang cukup tinggi di negara kita merupakan sasaran empuk bertumbuhnya jamur dan bakteri. Kecukupan cahaya dapat mengurangi pertumbuhan kedua parasit tersebut, utamanya pada ruang basah seperti kamar mandi dan tempat meletakkan furnitur rentan jamur, seperti yang berbahan kayu. Perlu diingat, cukup cahaya bukan berarti cahaya langsung yang menyilaukan. Maka, persiapkan desain yang mengakomodasi baik kesehatan juga kenyamanan.

Ketiga, Anda perlu merancang rumah dengan penyerapan dan saluran air yang tepat. Curah hujan yang cukup tinggi jangan disepelekan. Jika serapan dan saluran air tidak memadai, siap-siap saja dengan banjir dadakan. Anda tentu juga tidak mau dipusingkan dengan genangan air yang kotor, berbau tidak sedap, bahkan menjadi sarang nyamuk yang mengancam kesehatan.

Konsultasi tepat

Saat merencanakan semuanya sendiri, tentu semua terasa sulit. Maka, salah satu jalan keluarnya adalah dengan berkonsultasi dan berdiskusi dengan orang atau lembaga yang tepat. Jangan ragu dan berpikiran bfhwa hal itu akan memakan banyak waktu dan biaya. Justru dengan berkonsultasi Anda bisa merencanakan desain sesuai standar. Nah, inilah saatnya mewujudkan istana kecil Anda dengan desain sehat dan tepat. [RAN]

Usaha Stroberi Terbentur Pemasaran


Gambar ilustrasi strawberry
Meski sejumlah perajin olahan buah stroberi di Desa Serang, Karangreja dan sekitarnya mampu memproduksi berbagai jenis makanan dengan bahan baku stroberi, namun mereka masih terbentur dalam pemasarannya. Sehingga usaha mereka masih sulit berkembang."Sebenarnya kami mampu memproduksi secara terus menerus. Tapi pemasarannya masih mengalami kesulitan. Sebab selama ini kami masih mengandalkan pemasaran di tingkat lokal saja," ungkap Bukhori (60), perajin produk olahan stroberi, kemarin.

Di samping persoalan modal, lanjut dia, belum adanya lokasi yang strategis untuk memasarkan produk juga menjadi kendala yang dihadapi saat ini. Sementara produk-produk yang dihasilkan antara lain gethuk dan selai stroberi.Selain itu jika ingin memasarkan ke sejumlah supermarket, selama ini masih terkendala tingkat ketahanan dari produk tersebut. "Memang kita pernah mencoba dengan memasarkannya ke supermarket dan swalayan namun produk ini hanya mampu bertahan sebentar." kata dia. -Jika dalam kondisi cuaca dingin {penghujan), produk ini mampu bertahan antara 7-10 hari. Namun jika cuaca cukup panas (kemarau)produk ini hanya mampu bertahan 3-4 hari, sehingga pihak supermarket kurang berminat. Tergantung Cuaca


Sementara hasil panen stroberi juga sangat tergantung dari cuaca Jika masim penghujan, terutama Ja-nuari-April banyak tanaman stroberi yang tidak berbuah. Akibatnya pasokan bahan baku untuk produksi gethuk dan selai stroberi juga menjadi berkurang, bahkan kosong.Komentar serupa diungkapkan anggota kelompok tani Waluyo-dadi Desa Serang, Kuswandari. Menurutnya, hasil panenan buah stroberi petani di wilayah Desa Serang dan sekitarnya dalam beberapa bulan terakhir ini merosot. H ujan yang turun hampir setiap hari menyebabkan hasil panennya kurang baik dan membusuk.

"Hasil panen stroberi tahun ini agak merosot Terutama pada Februari, Maret dan April yang memiliki curah hujan cukup tinggi, sehingga kualitas hasil panennya kurang baik,"