Banyak yang Belum Berani Gunakan Fitofarmaka
SEJAK ratusan tahun lalu bangsa Indonesia dikenal pandai meracik jamu atau obat tradisional. Ramuan tersebut dipergunakan untuk mengobati dan mencegah penyakit, serta menjaga kebugaran badan. Tidak hanya itu, masyarakat juga mengenal jamu untuk perawatan kencantikan.
Salah satu perusahaan yang melestarikan warisan leluhur adalah PT Nyonya Meneer. Perusahaan tersebut telah mengembangkan berbagai obat tradisional. Kini, setidaknya ada 250 produk yang dipamerkan di arena Pekan Raya Jakarta (PRJ), Kemayoran.
"Kami memamerkan sekitar 250 produk, 70% di antaranya untuk wanita baik berbentuk kapsul, pil, serbuk, dan minuman," kata Lili Siswanto, Consultan of Beauty and Health di stan Nyonya Meneer, kemarin.
Beberapa produk unggulan terbaru yang turut dipromosikan antara lain "Singkir Angin", ekstrak kapsul "Lelaki", dan "Body Mint".
Lewat berbagai upaya yang digelar, pihaknya menargetkan menaikkan omzet penjualan sebesar 15%, yakni dari sekitar Rp 7,2 triliun pada 2008 menjadi sekitar Rp 8 triliun padatahun ini dan 2010 ditargetkan naik lagi menjadi sekitar Rp 10 triliun.
"Untuk merealisasi target tersebut perlu ada berbagai terobosan dan memperhatikan permintaan pasar. Setiap industri harus membuat ino-vasi-inovasi yang diinginkan pasar," ungkapnya. Dukungan
Tidak hanya itu, dukungan pemerintah dalam pengembangan industri jamu atau obat tradisional sangat dibutuhkan, baik dari Departeman Perdagangan maupun Departeman Kesehatan.
Dia mencontohkan pemerintah China yang mendukung pengembangan obat tradisional sehingga industri di sana maju pesat. Di negara tersebut ada pendidikan, dokter, rumah sakit, apotek, dan ahli jamun-ya.
Di Indonesia memang sudah ada lembaga pendidikan dan dokter yang peduli pada jamu, misalnya RS Dokter Soetomo Surabaya. Di sana, pasien boleh memilih cara modern atau tradisonal.
"Kini sudah ada lembaga pendidikan yang menggeluti ilmu jamu, contohnya UGM dan Undip. Persoal-annya, jika lulusannya tidak diterima di rumah sakit. Kami meminta Menteri Kesehatan supaya memberikan izin kepada rumah sakit menggunakan obat tradisional. Jamu kan sudah dipakai sejak ratusan tahun lalu," ujarnya.
Ada tiga tingkatan jamu. Pertama, jamu empiris yang sejak zaman nenek moyang dipercaya dari mulut ke mulut. Selain itu, herbal terstandar atau jamu yang sudah di-reuji klinik serta fitofarmaka atau jamu yang sudah diuji secara klinis.
Obat itu merupakan hasil kerja sama antara rumah sakit dan fakultas kedokteran. Jamu tersebut sudah diujikan kepada manusia.
"Di Indonesia baru ada lima produk jamu yang sudah menjadi fitofarmaka. Salah satunya dari Nyonya Meneer bernama Reomaneer, obat untuk rematik," ungkapnya.
Seharusnya kalau sudah menjadi fitofarmaka, bisa diresepkan seperti obat-obatan farmasi. Tetapi banyak dokter yang belum berani menggunakan. Padahal untuk meningkatkan satu item produk menjadi fitofarmaka membutuhkan waktu 2-3 tahun dan biayanya Rp 2 miliaran. (Aris M-27)
