Wednesday, May 6, 2020

UN : Belajar Mengelola Kecemasan Moderat



Di Gedung E Lantai 5, Depdiknas, Prof. Suyanto, Ph.D., yang lahir di Magetan, Jatim, 2 Maret 1953 itu banyak menelorkan Ide-ide unik. Tumpukan buku, berkas, lembaran, ada di hampir semua sudut ruangan Dirjen Manajaemen Dikdasmen yang mantan Rektor UNY Jogjakarta itu. Sebagai cendekiawan, lulusan S-3 di College of Education, Michigan State University, AS (1986) dalam bidang Social Studies Curriculum and Instruction ini punya pandangan yang khas soal Ujian Nasional (UN) yang sempat mengundang prokontra baru baru ini. Berikut perbincangan dengan INDOPOS.

PROFESOR, Ujian Nasional mencuat menjadi polemik besar, itu bukti bahwa publik semakin peduli dan concern dengan dunia pendidikan. Seberapa perlu sih Ujian Nasional itu?Sangat perlu! Kalau alasan-alasan normatif dan teknis, sudah banyak disampaikan melalui media kan? Saya melihat, UN itu memiliki makna yang amat mendasar. Salah satunya, untuk menciptakan kecemasan moderat. Cemas yang terkendali. Mengajarkan siswa untuk mengelola kecemasan yang terukur. Ini penting sekali, karena semua kesuksesan orang selalu diawali dan disertai dengan kecemasan.

Maksud Prof?

Cemas itu bukan hantu yang harus ditakuti. Cemas itu sebuah keniscayaan yang hampir pasti dihadapi oleh semua orang. Siapa saja, kapan saja, di mana saja, dengan apa saja, dengan alasan apa saja kalau ia sedang melakukan sesuatu yang ujung ujungnya harus mencapai kesuksesan. Nah, karena itu "pendidikan" untuk mampu menguasai "rasa cemas" ini juga penting dilalui para siswa kita.

Jadi, kecemasan siswa menghadapi UN itu sendiri sebenarnya bagian dari pendidikan?

Ya. Betul.

Seluruh kehidupan umat manusia tidak akan lepas dari kecemasan. Semuanya terkait. Dunia olahraga misalnya, penuh diliputi rasa waswas jika hendak bertanding. Rasa was-was itu bisa diatasi jika atlet yang bersangkutan sudah mempersiapkan fisik, mental, spiritual dan teknik yang cukup. Sama dengan UN, agar pede (baca percaya diri, red), harus belajar, menguasai melan pelajaran, siap fisik dan siap mental. Tanpa persiapan itu, mereka hanya akan diteror oleh "rasa cemas" yang kadang berlebihan. Tidak pede. Takut kalah, atau bahkan sudah kalah sebelum bertanding.

Contoh lain?

Banyak! Ibu hamil yang mau melahirkan, bisa tidak lahir bayinya kalau tidak cemas. Kecemasan itu membuat kontraksi dan menuruti instruksi dokter dan bidan. Sang dokter kandungan yang menangani kelahiran, juga diliputi kecemasan, agar bisa menyelamatkan nyawa bayi dan anaknya. Keluarga yang menunggui di luar ruangan juga terdiam, menahan rasa cemas, dan hanya bisa berdoa agar proses kelahiran berlangsung lancar.

Dalam bisnis pun sama. Seorang manajer atau direktur, dibebani dengan "ujian" juga yang bernama "target." Jika tidak tercapai, dia bisa diturunkan jabatannya, atau bahkan bisa diberhentikan dari pekerjaannya. Tiap tiga bulan, mereka harus mereport capaiannya, dibandingkan dengan proyeksi. Dibandingkan juga dengan perolehan tahun sebelumnya. Tiap tiga bulan, mereka dikejar-kejar target, yang mencemaskan!

Ketika pimpinannya ditarget, karyawannya pun dibebani dengan tugas dan kewajiban yang sangat ketat dan disiplin. Mereka diawasi ketat oleh pimpinannya, untuk mencapai atau bahkan melampaui target. Mereka pun menghadapi "rasa cemas" setiap hari. Mereka seperti menghadapi Ujian Nasional setiap hari.

Politisi, pejabat publik, tekanannya lebih kuat lagi. Ujiannya lebih kencang lagi. Pedagang, swasta, profesional, operator, seniman, penulis, semuanya menghadapi kecemasan-kecemasan sendiri-sendiri. Tidak ada orang yang bebas dari ujian yang bernama kecemasan itu.

Kalau begitu, Ujian Nasional itu sebenarnya tempat berlatih yang riil bagi seorang siswa untuk menapaki kehidupan dan masa depannya? Bahkan makin hebat seseorang, makin tinggi jabatannya, makin kuat pengaruhnya, "ujiannya" juga semakin sulit, dan tingkat kecemasan yang dihadapi semakin tinggi?

Betul. Karena itu saya sebut UN itu sebagai ujian untuk menghadapi kecemasan yang terkendali. Terukur. Artinya, dengan UN itu para siswa bisa belajar mengatasi kecemasan yang terukur, tidak merupakan kecemasan yang berlebihan. Hasil penelitian ilmiah menunjukkan hubungan antara kecemasan dan prestasi seseorang berbentuk kurva parabolik seperti huruf U terbalik. Dari hubungan ini dapat diketahui bahwa orang yang cemas keterlaluan akan tidak tinggi prestasinya. Sebaliknya orang yang tingkat kecemasannya paling rendah, atau bahkan tidak cemas sama sekali, diajuga tidak akan berprestasi. Bagi yang terialu cemas atau cemas berlebihan, dia secara psikologis terganggu sehingga tidak bisa berfikir jernih dan rasional. Bagi yang tidak cemas sama sekali dia berarti tidak tahu permasalahan yang dihadapi, alias tidak tahu samasekali apa yang harus dikhawatirkan, sehingga dia tidak cemas. Naahh..bagi yang cemasnya moderat, tidak tinggi tidak rendah, yang digambarkan pada puncak parabolik, dialah yang akan mendapatkan prestasi yang paling tinggi diantara tiga kelompok orang tadi. Ini lihat hubungannya seperti ini (sambil menunjukkan grafik korelasional yang dibuat Prof Suyanto di secarik kertas ke INDOPOS)

Kalau begitu, seharusnya mental atau flghting spirit anak-anak didik juga harus ditempa di pendidikan sekolah dong Prof? Agar mereka tumbuh menjadi generasi kuat, tidak cengeng, tidak gampang depresi, dan mampu mengendalikan kecemasan? Ya benar, agar para siswa bisa mengendalikan kecemasan dengan baik. Cemas itu kan impact-nya bisa positif, bisa juga negatif. Pendidikan kita diarahkan agar mereka lebih positif mengelola kecemasan, sehingga justeru menjadi pemicu motivasi, pembangkit semangat, dan pelecut cita-cita untuk maju.

Implementasinya, mereka mempersiapkan diri dengan baik. Memanfaatkan waktu untuk belajar lebih optimal. Dan menguasai pelajaran demi pelajaran dengan maksimal. Ujung-ujungnya, dites dengan variasi pertanyaan mtu mil apapun, mereka dengan mudah akan melahapnya. Lulus itu sudah pasti, tantangannya menjadi seberapa besar nilainya? Berebut di posisi puncak, bukan berkutat di papan bawah harus dibudayakan sejak para siswa belajar di jalur pendidikan formal di sekolah.

Dari grafik yang disodorkan Prof tadi juga bisa dibaca, bahwa Ujian Nasional itu jika tidak dipersepsikan sebagai ujian yang serius dan bisa tidak lulus, membuat siswa ogah-ogahan! Toh tidak menentukan kelulusan? Atau karena terlalu "takut tidak lulus" membuat konsentrasi mereka buyar! Yang biasanya gampang, menjadi super sulit? Ya, betul. Maksimum impact ada di puncak parabola yang berbentuk huruf U terbalik itu, yang saya nam akan cemas moderat, cemas terkendali, cemas terukur. Mengendalikannya. bisa dilakukan dengan cara diasah, dilatih, diberi tugas tugas yang terkait dengan mata ujian yang akan diujikan, sehingga rasa cemas itu justeru membangkitkan semangat positif. Rasa cemas bisa jadi stimulus bagi terbentuknya mi M i vasi intrinsik yang inggi. Bawa, lecutan spirit untuk menyelesaikan UN dengan sukses itu sangat penting. Mereka bisa bangku, lalu mempersiapkan diri dengan baik, dan hasilnya maksimal. Coba bayangkan kalau mereka tidak cemas? Tidak takut? Cuek, tidak belajar? Berbahaya jadinya bagi masa depan mereka.

Bagaimana dengan yang siswa yang sakit saat UN?

Tahun 2010 nanti ada ujian susulan, bagi yang sakit, dan ujian nasional ula-ngan, bagi mereka yang belum lulus dalam UN pertama. Tetapi, lagi-lagi filosofi dalam dunia pendidikan itu harus dilihat secara holistik. Menjaga kesehatan itu adalah pendidikan yang sama statusnya dengan memperkuat mental melawankecemasan. Bagaimana cara siswa menjaga diri agar tetap bugar, sehat, tidak sakit, merupakan hiden curriculum yang penting yang harus dikuasai semua siswa tanpa diminta oleh siapapun. Mereka harus makan makanan sehat, untuk bisa lulus dari tuntutan hiden curriculum tersebut. Makanan yang sehat bukan berarti makanan yang mahal, dan juga bukan selalu makanan yang enak. Mereka harus bisa menjaga komposisi istirahat yang optimal. Mereka harus menghindari hal-hal yang merusak kesehatan, seperti merokok, minuman keras, obat, dan kebiasaan buruk lainnya. Mereka harus punya mind set, di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Mereka harus memperkuat diri sendiri dengan berolahraga, apapun yang cocok dan memungkinkan. Sakit, itu terjadi karena daya tahan menurun, dan bibit penyakit masuk. Kalau sehat, pertahanan tubuh otomatis kuat, dan tidak gampang sakit. Ini sudah diajarkan di bangku formal tetapi implementasinya kan tetap ada di tangan anak-anak, dan pengawasan orang tua di rumah.

Desakan agar UN dihapus, sebenarnya berakar dari banyak orang tua yang ikut resah, takut dicap anaknya bodoh? Tidak berpendidikan, tidak lulus ujian?Lalu, mereka menyoal konsep UNnya?Tanpa UN, bagaimana bisa membandingkan ketercapaian pendidikan nasional secara objektif? Aple to aple? Pria dan wanita? Jawa dan luar Jawa? Kola dan desa? Kawasan maju dan kawasan terpencil? Bagaimana membual standarisasi pendidikan nasional? Bagaimana mengukumya? Darimana pemetaan problematika pendidikan nasional? Hasil-hasil UN itu bisa digunakan untuk membual kajian di masa datang untuk berbagai intervensi perbaikan di semua standar pendidikan nasional.

Faktor pimpinan daerah mungkin? Ada yang ngotot agar tidak dicap buruk di Ujian Nasional? Daerahnya sukses di pendidikan, lalu menggunakan kekuatan politik? Bupati dan walikotanya ingin bersih dari persoalan pendidikan?Ya, ada daerah terindikasi seperti itu. Ini yang terus kami pelajari, lalu dicarikan jalan keluarnya.

Konon masih ada juga joki yang profit making? Memanfaatkan kecemasan itu untuk kepentingan bisnis? Mencari duit dari ketakutan anak-anak sekolah?

Ya, ada juga yang mengambil manfaat di sudut sempit seperti ini. Tetapi upaya mereka itu hanya laku di kalangan anak anak yang kurang percaya diri, yang jumlahnya tidak banyak juga.

Lalu apa lagkah-langkah preventif Diknas?

Soal joki, isu jawaban yang sudah beredar, Diknas juga sudah lakukan langkah preventifnya. Misalnya, dalam satu kelas itu soalnya bisa tiga macam atau tiga set. Meskipun, sebenarnya materi soalnya sama, hanya nomor urutnya yang beda, disusun kembali secara random, sehingga kalau ada yang mendapatkan jawaban dari joki, belum tentu benar dan belum tentu cocok dengan set soal yang dikerjakan siswa. Kalau siswa tidak percayadiri dan langsung mengerjakan sesuai kunci jawaban yang palsu tadi, maka dia pasti akan salah semua dalam mengerjakan soal itu. Karena nomornya diacak. Kalau dicontek semua, pasti malah salah semua! Isu soalUN yang beredar, ada yang jual beli jawaban, harus ditolak saja, jangan percaya. Para siswa jangan pernah beli kkunci jawaban! Jangan pernah terbuai oleh bujuk rayu dan isu-isu menyesatkan seperti ini. Pede saja, kalau mau belajar, tidak ada yang tidak bisa. Semua sudah pernah diajarkan di bangku sekolah kok! * Nilai positif lain yang bisa dipetik dari UN apa Prof?

UN juga mendorong perilaku positif bagi anak dan orang tua. Banyak sekolah yang menggelar doa bersama, istighotsah, agar bisa mengerjakan soal-soal dengan baik dan benar, sehingga lulus. Itu untuk memperkuat mental, kepercayaan diri, confidence. Semua orang membutuhkan pede seperti itu untuk sukses. Tanpa kepercayaan diri, rasa pede, kesuksesan itu tidak akan hadir bersama kita Fenomena ini kan bagus, menambah nilai religiusitas pada diri siswa, dan juga menambah kebersamaan sesama mereka, sehingga akan tumbuh menjadi social skills dan social capital bagi mereka.

Persepsi publik sering mengaanggap UN sebagai biang kerok tidak lulus siswa? Dan itu indikator pendidikan kita masih sangat lemah?

Nah, ini juga sering salah kaprah. UN bukan satu-satunya instrumen kelulusan. Sekolah juga bisa menentukan lulus tidaknya para siswa, misalnya beberapa pelajaran seperti agama, akhlaq muba, kewarganegaraan dan kepribadian, kesenian, olah raga dan kesehatan, juga harus lulus di tingkat ujian sekolah. Jika nilainya jauh di bawah standar, juga bisa tidak lulus, meskipun mata pelajaran yang di ujian nasional itu lulus. Belum lulus itu tidak berarti kiamat. Masih ada waktu untuk belajar lebih keras lagi, agar bisa lulus. Namanya juga ujian, di mana-mana pasti ada yang lulus dan ada yang tidak lulus. Itu sudah keniscayaan. Di negara-negara maju, seperti AS, juga ada siswa yang tidak lulus.

Profesor kan merah gelar master di School of Education, Boston University, AS (1981) di bidang Social Studies Education. Lalu Doctor Philosophy (Ph.D.) di College of Education, Michigan State University, AS (1986) dalam bidang Social Studies ( in i ii iiliiiin and Instruction. Bagaimana suasana pendidikan di sana?

Hampir sama, tetap ada yang tidak lulus. Di Singapura dan Malaysia, yang pembangunan pendidikannya juga maju, masih menggunakan ujian negara juga Rata-rata yang tidak lulus juga ada Tetapi, standar kelulusan mereka lebih tinggi, memang jika dibandingkan dengan kita.

Cukup besar ya? Rata-rata 5 persen?

Ya lebih banyak yang lulus dong? Orang akan semakin sadar, bahwa kualitas kelulusan itu menjadi sangat penting. Karena kompetisi di pasar tenaga kerja maupun pendidikan tinggi, akan semakin ketat, dari waktu ke waktu. Saya kila banyak orang lua yang semakin sadar juga, bahwa tantangan ke depan makin berat. Saya yakin, orang tua yang memiliki anak yang akan UN, akan semakin waspada, mengingatkan, mengecek, agar pulera-puterinya lulus ujian.

Tapi mereka kan malu? Disebut sebagai siswa tidak lulus ujian nasional? Distampel "bodoh" oleh masyarakat?

Kan lebih berbahaya, jika belum saatnya lulus, karena belum cukup menguasai ilmu untuk bisa lulus, kemudian diluluskan. Kalau hal ini terjadi ada bahayanya saat mereka harus melanjutkan di tingkat pendidikan yang lebih tinggi lagi, atau di dunia pekerjaan. Pada akhirnya mereka kan tidak memiliki daya saing kann? Oleh karena itu, lebih baik belajar lagi, yang lebih baik lagi, dan menempuh ujian akhir lagi sampai benar benar memenuhi standar kelulusan yang ada.

Bagaimana menyadarkan mereka?

Ketika menjadi Rektor UNY Jogjakarta, saya bilang kepada mahasiswa, Ijazah kalian sudah saya tandatangani. Jadi, jangan khawatir Anda pasti lulus. Anda tinggal mengisi kualitas nilai sesuai dengan standar kemampuan anda"

Saya ingin menegaskan, bahwa standar sebuah kelulusan itu penting. Sekolah itu tidak sekedar mencari kelulusan dan selembar ijazah. Itu percuma saja, tanpa standar kualilas yang baik. Karena di dunia pekerjaan pun mereka tidak mampu bersaing kalau proses pendidikannya tidak membekali kompetensi yang berkualitas sama sekali. Tidak punya daya saing kalau kualitas pendidikan kita tidak ditegakkan melalui evaluasi yang bisa dipertanggungjawabkan.

Apa antisipasi Diknas tahun 2010?

Ada ujian utangan. Pemerintah memberi kesempatan kloter kedua bagi mereka yang belum lulus di "putaran" pertama jika kita pinjam istilah pemilu (ha ha). Ini sekaligus membuktikan bahwa Mendiknas itu mendengarkan dan sangat mengapresiasi keluhan publik. Tentu keluhan yang masuk akal dan bisa diaplikasikan dengan baik bagi peningkatan kualitas kompetensi lulusan pendidikan.

Soal kualitas guru?Agar juga memiliki standar dalam memberikan materi pelajaran kepada murid di seluruh Indonesia?

Ya pasti! Depdiknas terus melakukan sertifikasi, untuk peningkatan kualitas guru. Depdiknas juga memberi tunjangan fungsional baik pada guru negeri maupun swasta. Pemerintah juga memberikan tunjangan profesi bagi guru yang telah tersertifikasi. Kualifikasi pendidikan bagi guru juga distandarkan. minimal S-1 atau lu Gaji mereka juga naik. Itu adalah jawaban nyata akan pertanyaan publik, soal peningkatan kualitas tenaga pendidik.

Selain itu?

Buku-buku teks pelajaran di sekolah juga dibeli dalam jumlah yang cukup besar dari program BOS. Laboratorium dilengkapi, dan terus semakin dilengkapi secara bertahap. Bahkan pengadaan sambungan inlemet dalamjumlah yang cukup besar juga menjadi salah satu program 100 hari Depdiknas. Ruang kelas diperbaiki, karena ruangan yang nyaman itu akan meningkatkan akseptabilitas siswa dalam proses pembelajaran.

Soal kurikulum?

Semua sudah KTSP. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sudah makin maju, makin memiliki ownership di setiap satuan pendidikan. Dengan KTSP sekolah leluasa mengembangkan kurikulum sesuai dengan keunikan dan keunggulan masing masing, sehingga pada akhirnya sekolah akan didorong untuk tidak saja memiliki keunggulan komparatif, tetapi juga harus bisa memiliki unggulan kompetitif.(dituturkan kepada don kardono).
Comments


EmoticonEmoticon