Wednesday, December 11, 2019

Menengok Mata Air Pancuran di Desa Pekunden Kutowinangun



Tak Pernah Kering, Diyakini Bisa Sembuhkan Berbagai Penyakit


Mata air "Pancuran" di


Desa Pekunden memangunik. Selain tak pernahkering, kabarnya air


Pancuran itu konon jugabisa menyembuhkanberbagai penyakit.

Benarkah?

FUAD HASYIM-Kutowinangun


JELANG musim kemarau ini, warga desa Pekunden Kecamatan Kutowinangun tak begitu resah. Sebab, mereka memiliki sumber mata air yang tidak pernah surut. Bahkan dimusim kemarau sekalipun.

Pancuran, demikianlah warga desa setempat biasa menyebut sumber mata air yang berada di Dukuh Kalisetra Desa Pekunden itu. Tak sulit untuk menemukan sumber air Pancuran ini. Dari balai Desa Pekunden ke utara sekitar 600 meter. Jika bingung, tanyakan saja pada warga desa setempat. Pasti semua akan menunjukkan tempatnya.

Disebut Pancuran, karena secara


alami air tersebut mancur (meman-car) dari dalam tanah. Letak sumber mata airnya pun cukup unik. Yaitu persis berada di bawah sebuah pohon tinggi besar yang konon usianya sudah ratusan tahun. Air yang keluar dari sela-sela akar pohon itu sangat bening. Bahkan nyaris tidak mengandungendapan. Warga juga terbiasa meminum langsung air Pancurdn tar.pa harus dimasak terlebih dahulu.

Agar mudah diambil, warga membuat saluran dari bambu. Di tempat itu pula, khususnya kaum perempuan melakukan aktivitas mencuci, mandi dan mengambilair untuk keperluan di rumah.

Aktivitas di Pancuran ini akan semakin meningkat. Terutamajika musim kemarau. Ada saja warga yang datang ke tempat ini. Baik untuk keperluan mandi, mencuci dan mengambil air. Tak hanya warga dari dukuh Kalisetra saja yang dalang. Warga dari luar dukuh dan desa pun banyak yang memanfaatkan airnya.

Namun jika pada musim kemarau, harus bersabar. Sebab, debit air yang keluar tidak terlalu besar, dibanding musim penghujan. Otomatis warga pun harus antre. Apalagi hanya ada dua pancuran bambu yang dibuat warga.

Selain sebagai sumber air bersih bagi warga setempat, air Pancuran ini konon dipercaya bisa mengobati berbagai macam penyakit. "Kalau cuma sakit "batuk pilek, minum air Pancuran ini InsyaAllah bisa sembuh," ungkap Wariyun, sesepuh Dukuh Kalisetra.

Ditambahkannya, sudah tidak terhitung orang yang minta izin mengambil air Pancuran dengan maksud berikhtiar demi kesem-buhan penyakit yang dideritanya. Tidak hanya lokal Kebumen saja. Mereka juga datang dari berbagai kota di Pulau Jawa. Tidak sedikit pulayang dalang dari Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi . Bahkan ada yang sengaja datang dari luar negeri seperti Malaysia dan Filipina.

Wariyun paham benar situasi Pancuran. Sebab sebagai sesepuh, dia pernah menjalani laku tidak makan nasi selama 19 tahun dan puasa selama 40 hari 40 malam. "Jangan takut, "penunggu" Pancuran ini berujud seorang putri cantik jelita," ujar dia sambil tersenyum.

Dia menambahkan, keunikan lairT dari Pancuran, debit air yang keluar selalu sama. Tidak berkurang di musim kemarau dan tidak banjir ketika hujan.

Keanehan lain, Pancuran ini anti dipugar. Dulu, kala Wariyun, pernah dibangun bak penampungan air agar memudahkan warga mengambil air. Herannya, pasca dibangun, air Pancuran malah tidak keluar sama sekali.(*)
Comments


EmoticonEmoticon