Monday, May 4, 2020

Sebagian Rakyat Hidup di Daerah Endemis Malaria




Jakarta, Singgalang


Sekitar 49.7 persen populasi aiau 107.785.000 dari 217.328. 000 penduduk Indonesia hidup di daerah yang beresiko menjadi tempat penyebaran penyakit malaria.

"Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, semua provinsi di Indonesia punya area yang beresiko (inggi menjadi daerahjang-kiun penyakit malaria." kata Direktur Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Ling-kungan Departemen Kesehatan I Nyoman Kandun di Jakarta. Jumat (1/21.

Usai menerima bantuan obat aniimalaria dari pemerintah Republik Rakyat China (RRC) Kandun menjelaskan, hampir 70 persen atau MM dari 441 ka-bupaten/kota di Indonesia punya arca yang beresiko menjadi daerah penularan malaria.

"Kita juga masih menemukan 300 ribu hingga 400 ribu kasus positif malaria setiaptahun." katanya. Ia menjelaskan, pemerintah menerapkan empat pendekatan pokok untuk menanggulangi penularan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles itu yakni dengan surveilans penyakit dan vektor. diagnosa dan pengobatan dini, pengendalian vektor dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan.

"Di Jawa dan Bali, diagnosa dini dilakukan dengan menggunakan sistem mikroskopik untuk menemukan parasitnya. Sedangkan di daerah yang tidakpunya mikroskop dan tenaga yang dilatih untuk mengidentifikasi plasmodium dalam darah seperti Papua digunakan alat diagnostik cepat." katanya.

Ia menjelaskan pula bahwa untuk mengendalikan vektor pcnular penyakit malaria, pemerintah melakukan manajemen vektor terpadu yang meliputi upaya pemberantasan nyamuk penular dengan berbagai metode dan memberikan bantuan kelambu berpestisida kepada masyarakat yang tinggal di daerah endemis malaria.

Penyuluhan mengenai cara penularan malaria serta upaya pencegahan dan penanggulangan-nya, kata dia. juga dilakukan secara berlanjut untuk meningkalkan partisipasi masyarakat dalam upaya penanggulanganpenyakit malaria.

Mcnurut dia. untuk meningkatkan efektifitas program pengobatan pemerintah juga mengganti metode pengobatan malaria yang lama dengan cara pcngo l.ii.iii malaria bam sesuai dengan perkembangan teknologi pengobatan malaria.

Sejak 1960-an Program Pengendalian Malaria Nasional menggunakan Chloroquine dan Sulphadoxine-pyrimciamine untuk pengobatan malaria di seluruh tanah air 1960 namun kebijakan itu pada 2003 diganti karena menurut hasil studi obat-obatan tersebut tidak lagi manjur melawan malaria.

"Resistensi Plasmodium fal-. nMiiMn terhadap chloroquinc cukup tinggi, resistensi plasmodium vivax terhadap chloroquine juga mulai berkembang," katanya.

Oleh karena itu. ia melan-intkan. mulai tahun 2003 Deparlemen Kesehatan menggunakan Aneinieinin Combination Therapy (ACTl untuk pengobatan malaria di seluruh Indonesia.

Intensifikasi penanggulangan malaria, menurut dia, selanjutnya juga dilakukan dengan menyediakan obat anti-malaria, kelambu dan obat penyucihama di fasilitas kesehatan yang berada di daerah endemis malaria.

Berbagai upaya juga dilakukan untuk meningkatkan akses masyarakat di daerah endemis terhadap sarana kesehatan dan tenaga kesehatan. Tindakan intervensi yang telah dilakukan tersebut, menurut Kepala Subdit Malaria Departemen Kesehatan dr.Rita Kusriastuti,MSc, menunjukkan hasil yang bermakna.
Comments


EmoticonEmoticon