Tuesday, May 5, 2020

Jangan Sepelekan Toilet kampus


Jangan Sepelekan Toilet kampusnya. Saya juga bertcrimakasih kepada kampus-kampus yang merespon karena iiu akan sangat membantu pada masa depan. Kita sebagai arsitek atau disainer harus bisa berpikir 5, 10, sampai 15 tahun ke depan, dan saya berharap adik-adik ini yang kemudian akan bisa mendisain toilet lebih baik lagi. Itu karena kita harus mengetahui bahwa wanita pergi ke toilet tiga kali lebih lama daripada pria, dan pada tahun 2.000 ke depan akan lebih banyak wanita yang berpergian. Jadi kita harus sadar bahwa toilet untuk wanita harus lebih banyak daripada pria.

Salam Perspektif Baru, Pembaca dimana pun Anda berada, kembali saya Jaleswari Pramodhawardani berbincang-bincang dengan tamu kita saat ini Naning Adiwoso, ketua Asosiasi Toilet Indonesia. Kalau kita bicara soal toilet maka semua orang tidak ada yang tidak membutuhkannya. Itu mungkin kebutuhan primer. Dari laporan berbagai media, Naning Adiwoso adalah orang pertama di Indonesia yang concern dengan persoalan ini.

MENURUT Naning Adiwoso, setiap orang pasti memerlukan toilet, minimal lima kali sehari. Tapi semua tidak mau berbicara tentang toilet, tidak mau membicarakan bagaimana toilet harus bersih. Padahal toilet terkait erat dengan kesehatan karena penyakit menyebar dari toilet. Selain itu toilet juga cermin budaya. Kalau kita mau melihat suatu kantor dan manajemennya bagus maka lihat saja toiletnyx


Naning Adiwoso meminta semua pihak jangan menyepelekan toilet yang bersih. Apalagi ke depan kita pasti akan sangat membutuhkan toilet yang baik dan bersih terkait semakin tinggi mobilitas orang termasuk anak-anak muda. Jika mereka kerap menahan kencing maka ketika berumur 20 tahun akan mempunyai permasalahan di saluran air kencing mereka. Dalam hal ini mungkin pemerintah bisa memberikan aturan atau sanksi sehingga orang yang memiliki loilet-toilei umum merasa nyaman karena ada sanksi-sanksinya jika pemakai tidak menggunakannya dengan baik.

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Naning Adiwoso. Wawancara lengkap dan foto narasumber dapal pula dilihat pada situs http// www.perspektifbaru.com. Lewat situs tersebut Anda juga dapat memberikan komentar dan usulan.

Tolong ceritakan awal atau motivasi pertama Anda mempunyai ketertarikan dan kepedulian terhadap toilet?

Terus terang pertama kali saya juga tidak tahu mengapa saya tertarik, saya open mind saja. Saya bertanya-tanya mengapa digelar konferensi masalah toilet. Padahal toilet itu ruangannya kecil. Setelah saya mengetahui yang ada di dalam ruangan kecil itu, temyata ada 1001 masalah.

Dimana konferensi pertama tersebut?

Di Kyoso, dekat Fukuoka, Jepang pada tahun 1999. Di situ saya mengetahui bahwa sebagian besar penduduk pada tahun 2000 ke depan akan ada di Asia. Justru generasi muda Asia ini akan menjadi generasi yang sangat mobile. Karena itu mereka pasti akan membutuhkan toilet. Apalagi ditambah adanya pemanasan global (global wanning) yang bisa membuat penyebaran penyakit akan cepat sekali. Kemudian yang juga perlu kita lihat adalah bagaimana anak-anak muda itu pergi ke toilet. Coba Anda tanyakan kepada anak-anak, apakah mereka mau atau tidak menggunakan toilet di sekolah. Jawabannya adalah, "Aduh kotor, bau, gelap, vandalism." Jadi mereka menahan kencing dan ketika berumur 20 tahun mempunyai permasalahan di saluran air kencing mereka. Nah itu yang perlu kita hindari.

Sewaktu tahun 1999 mungkin itu pertama kali Anda hadir di konferensi tentang toilet. Apa saja yang dibicarakan di konferensi itu ?

Yang dibicarakan adalah perilaku orang. Bagaimana kita membutuhkan toilet yang lebih bersih di Asia karena jumlah anak-anak mudanya akan lebih banyak. Waktu itu saya belum berfikir tentang Low Cost Carrier (LCC) atau adanya penerbangan yang murah, sama sekali belum ada di benak saya. Namun kemudian saya berfikir memang benar juga bahwa semua orang akan pergi ke Asia. Mereka tentu menghindari penyakit-penyakit yang akan terjadi.

Setelah 10 tahun sejak konferensi yang pertama kali Anda ikuti, apakah ada atau tidak perubahan tingkah laku, perubahan kebiasaan?

Kalau di kota mungkin iya, tapi kalau di daerah belum. Terus terang untuk hal seperti ini saya tidak bisa bekerja sendiri, harus dibantu juga pemerintah. Yang saya sayangkan dari pihak otoritas sangat tidak peduli akan hal itu, dan kita harus bisa meyakinkan hal itu. Terus terang pada setiap konferensi toilet yang digelar setiap tahun secara bergiliran di suatu negara, pemerintahnya sangat responsif kecuali pemerintah kita. Setiap kali saya mengajak orang dari pemerintah Indonesia untuk ikut, tidak ada yang mau ikut. Walaupun saya mencarikan biayanya, juga tidak ada yang mau ikut.

Ini mungkin ada kaitannya dengan budaya


juga. Apakah ada atau tidak hal significant yang sebenarnya kita harus memikirkan soal toilet ini seperti mungkin mengenai masalah kesehatan?

Oh ya, itu sangat penting sekali karena terus terang bibit penyakit pindah dengan sangat cepat sehingga membuat penyakit akan tersebar dengan cepal. Sewaktu kita mulai mendirikan World Toilet Organization pada 19 November 2001 di Singapura kita mempunyai slogan A Nation Without a Clean Toilet is a Nation Without Culture karena itu menunjukkan kebudayaannya. Kita semua harus menyadari hal itu. Kalau kita mau melihat suatu kantor dengan manajemen bagus maka lihat saja toilctnya. Terus terang hanya ada satu instansi pemerintah yang sangat merespon hal ini yaitu Kementerian Kebudayaan dim Pariwisata. Dalam hal ini saya harus berterimakasih kepada I Gede Ardika, Jero Wacik yang sangat perhatian tentang toilet.

Jadi agenda di tingkat elit pun toilet bukan hal yang utama. Padahal seperti Anda katakan ladi bahwa penyakit bisa cepat berpindah di toilet.] Masalah kesehatan dan kebersihan di toilet ini sebenarnya soal penting tapi kila mengabaikannya. Apakah itu karena soal budaya atau hal lainnya?

Terus terang masalah yang kita hadapi sekarang adalah budaya. Selain itu, arsitek-arsilek kila atau mereka yang membangun toilet tidak menyadari bahwa membangun toilet di Indonesia sangat beda karena kita bukan orang yang tinggal di Eropa. Kila ada di negara tropis, negara yang sangat lembab. Jadi harus juga membual sirkulasi udara di toilet dengan baik.

Apakah toilet yang tertutup tidak cocok untuk Indonesia?

Saya terus terang mengatakan itu tidak cocok karena Tuhan sudah memberikan cahaya kepada kila. Mengapa kila harus menyalakan lampu, mengapa tidak ada sirkulasi udara dan harus tertutup semua? Kalau semakin lembab, semakin banyak bakteri dan jamur yang tersebar dari toilet. Data menunjukkan 65% penyakit datang dari toilet. Kila sudah memprediksi problema pada tahun 2000 ke depan adalah udara. Seperti Anda ketahui adanya Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan flu burung bertebaran ke seluruh dunia adalah melalui toilet.

Apakah ini tidak pernah disosialisasikan atau memang agak terabaikan?liu karena pembicaraan mengenai toilet dianggap tabu. Orang tidak mau membicarakan toilet, padahal mereka membutuhkan. Selama kita masih tinggal di huian belantara, kila bisa bersembunyi di belakang pohon untuk kencing. Coba sekarang di Jakarta, kalau tidak ada toilet, dimana kita mau bersembunyi.

Bagaimana cara Anda meyakinkan bukan hanya ke lingkungan sekitar tapi juga ke tingkat elit mengenai toilet ini?

Setiap orang pasti memerlukan toilet, minimal lima kali sehari. Tapi semua tidak mau berbicara tentang toilet, lidak mau membicarakan bagaimana toilet harus kelihatan bersih. Kita lihat China, mereka kini sudah mempersiapkan toilet untuk olimpiade. Saya terus terang mengalami kesulitan untuk memberi tahu atau memberikan informasi kepada pemerintah. Saya pergi ke satu departemen, mereka mengatakan, "Oh iya, kalau ingin distandarisasi harganya sekian." Kita belum bicara kebutuhan masyarakat. Kami pergi ke departemen lain, "Kok ruangan sekecil itu saja kamu bicarakan." Saat ke departemen lain, "Apa rele\wisinyadengan departemen saya?". Maaf, saya tidak menyebutkan nama departemennya


Tapi hanya satu instansi pemerintah saja yang kemudian tanggap adalah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Dari situ saya benar-benar mulai berusaha membuat sebuah standar toilet Indonesia dan membuat sosialisasi. Saya membuat booklet dengan bantuan teman-teman untuk disebarluaskan. Satu booklet berupa standar toilet yang dikeluarkan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Kemudian booklet cara membersihkan toilet dan cara membangun toilet. Melalui itu kila sosialisasi kedaerah, atas bantuan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Jadi mereka bisa mengundang banyak orang. Sementara itu saya pergi dari unversitas ke universitas terutama fakultas arsitek dan interior, memberikan informasi bagaimana sebenarnya mendisain toilet yang baik dan mudah pemeliharaannya. Saya juga suka membuat gathering untuk memberi tahu mereka bagaimana membuat disain toilet yang baik. Kami juga pergi dari satu toilet ke toilet lain dan memberitahukan mereka disain toilet yang baik.

Lalu bagaimana respon mereka?

Kampus agak kaget. Akhirnya mereka banyak yang meminta saya 2-3 kali datang untuk memberikan informasi baik kepada mahasiswanya maupun orang yang mengelola


Jadi dalam membangun toilet pun kita harus memikirkan kebutuhan laki-laki dan perempuan karena berbeda. Kalau perempuan kadang-kadang juga membutuhkan waktu yang agak lama daripada laki-laki di toilet. Tapi pada kenyataannya, apakah toilet di Indonesia telah memikirkan perbedaan kebutuhan antara perempuan dan laki-laki tadi?

Belum karena banyak arsitek tidak menyadarinya. Kalau arsitek tua berpikir tidak ada perbedaan kebutuhan, kalau yang muda-muda sudah mulai menyadari. Kalau arsitek yang tua tidak mau melihat bahwa banyak sekali perubahan dan perubahan di dalam disain itu praktis terjadi setiap tiga tahun sekali. Perubahan-perubahan itu yang harus kita pelajari sebagai arsitek atau disainer. Apalagi kita akan berhadapan dengan Nanoteknologi, yaitu pengembangan teknologi dalam skala nanometer, jadi semua produk-produk untuk arsitek, interior, atau untuk bangunan akan semakin kecil, ringan, semakin ramah, dan semakin kuat. Negara lain sudah mengadopsi itu, sedangkan Indonesia belum karena banyak dari mereka yang belum mengetahuinya. Saya mempunyai acara yang saya sebut, "INIAS Goes To Campus", kita ke kampus dan kita terangkan ke mereka mengenai hal itu.

Apa IMAS imi


Pada tahun 2000 saya membuat Indonesian Interior Architect lo Space Resource Center. Di sini anggotanya para industri, profesional dan para pengguna. Itu dibuat karena saya melihal setelah krisis tidak terjadi network antara kelompok tadi dan arsitek Indonesia. Sewaktu benar-benar/7ora/iwg pada tahun 1990-an, kita maunya spesifikasi produk-produk luar, tidak pernah mau mendidik industri dalam negeri.

Bagaimana hubungannya kegiatan ladi dengan toilet ini?

Ok, hubungannya dengan toilet adalah INIAS itu nsouite center. Jadi kila bisa memberi tahu kepada orang yang membangun toilet, produk-produk yang paling baik digunakan dan disain yang bisa digunakan untuk menghadapi limasampai sepuluh tahun ke depan.

Anda adalah pendiri Asosiasi Toilet Indonesia. Bagaimana keanggotaannya?

Terus terang yang bergabung kebanyakan masih industri. Tentunya karena mereka juga mempunyai kepentingan. Tapi volunieeryang kila butuhkan belum banyak. Mereka kalau melihat toilet rasanya jijik, padahal kita bukan menyuruh mereka untuk membersihkan, kita hanya mengajarkan orang bagaimana membersihkan toilet dengan benar.

Untuk di Indonesia, apakah kila punya semacam pela toilet umum?

Saya banyak sekali mendapatkan surat elektronik (e-mai I) menanyakan tentang peta toilet umum. Saya pernah datang ke Fauzi Bowo, "Pak, lihat ini banyak orang menanyakannya, jadi tolong dong membuat toilet umum yang bagus dwi benar di Jakarta." Coba lihat Trans Jakarta, apakah ada toilet umumnya? Tidak ada. Lalu, mengapa kita tidak bisa meminta kepada pemilik gedung di jalan Thamrin sekitar 4-5 gedung saja untuk bergabung dan membuat toilet umum. Kemudian mereka bisa diberi pengurangan pajak, atau mendapat insentif, dan sebagainya seperti di Jepang dan Korea karena itu kebutuhan publik. Sampai hari ini setelah saya bertemu Fauzi Bowo, juga belum ada jawabannya. Hanya dijanjikan saja. Terus terang, dengan harapan bahwa kalau Jakarta bisa menjadi satu contoh yang baik, saya yakin daerah lain juga akan mencoba.

Apalagi sekarang kila tahu Indonesia mengalami bencana alam dimana-mana, apakah terkait itu toilet juga menjadi satu lagi persoalan kita?

Ketika membantu dalam satu bencana tempo hari kebanyakan dari mereka mengatakan, "Bu, tidak usah memberikan makanan, berikan saja kita nang Rp 500." Saya jawab, "Untuk apa kan lidak ada yang berbelanja." Lalu mereka mengatakan, "Untuk pergi ke toilet." Jadi mereka harus membayar untuk mendapatkan air bersih, untuk bisa ke toilet.. Kadang kita tidak memikirkan hal itu, menganggapnya sebagai hal sepele. Walaupun banjir .orang pasti harus pergi ke toilet juga. Mereka bukan robot.

Kalau kila bicara mengenai toilet standar, apa yang perlu diperhatikan? Apakah arsitekturnya?

Ok, dari arsitekturnya adalah kalau dulu kita menggunakan pintu masuk ke toilet umum, sekarang sudah lidak perlu pintu karena ada sistem yang kila sebut freehand, bentuknya seperti huruf "LT. Pintu hanya ada di compartment toilet, dan cara membukanya harus ke luar, bukan ke dalam. Ini karena banyak sekali generasi muda yang sudah kena serangan jantung, pingsan, jadi kalau cara membukanya ke dalam bisa melukai orang itu. Kemudian antara compartment satu dan compartment lainnya diberi ruang, dindingnya menggantung kurang lebih 20cm sehingga kakinya terlihat supaya membersihkannya lebih mudah. Lebih baik lagi kalau bisa memilih monoblock yang menggantung tidaksampai lantai sehingga membersihkannya akan lebih mudah karena kita akan hemat air. Yang selalu lupa adalah alat penggclontor air (flush), sekarang dengan sistem freehand maka mcng-gelontomya itu bisa menggunakan sikut, atau penggelontor dari lantai, atau dengan sinar infra merah (infrared). Begitu juga sewaktu kita mencuci tangan, krannya itu bisa menggunakan (infrared), atau juga pedal dari lantai.

Mengapa tidak boleh memakai tangan ?

Karena tangan bisa menyebarkan penyakit kemana-mana. Dari survey yang telah kita lakukan. 50% laki-laki yang keluar dari toilet tidak mencuci tangan, wanita 25*X. Terkadang mereka langsung salaman. Jadi itulah yang harus kita perhatikan. Kemudian usahakan toilet itu kering karena kering itu sudah pasti sehat. Kalau basah bisa ada bakteri, jamur. Sirkulasi udaranya juga harus benar-benar baik, hams ada cahaya yang baik. Yang terpenting kita harus selalu ingat kepada pemakai toilet selanjutnya karena kita sering hanya memikirkan diri sendiri.

Mengenai kering dan basah, itu tentu tidak mudah karena sepertinya sudah menjadi tradisi bahwa basah itu adalah bersih. Jadi semakin banyak air yang kilo gunakan semakin bersih. Tapi dalam konteks ini kering justru yang lebih sehat. Mengapa?

Negara kita adalah negara tropis, lembab, dimana jamur mudah berkembang biak, begitu pula dengan bakteri. Jadi kalau kering, jamur atau bakteri itu akan susah untuk berkembang biak. Kalau basah, kita memakai sepatu dan jalan kemana-mana setelah dari toilet, pasti akan membawa bakteri bertebaran kemana-mana Karena itu pesan kampanye kita. "Kering iw sehat".

Bagaimana cara mengubah kebiasaan masyarakat tentang penggunaan toilet tadi karena hal itu seperti sudah menjadi tradisi yang mengakar?

Dengan memberi penyuluhan, misalnya, memberitahu mereka apa dan bagaimana akibatnya. Juga arsitek atau disainer harus sangat tanggap bahwa mereka harus mendisain toilet untuk semudah mungkin pemeliharaannya dan tidak terlalu banyak sudut. Kalau terlalu ada sudut itu orang sulit untuk membersihkannya. Jadi kita harus berpikir ke depan karena diperkirakan tahun 2010 ke atas, air akan menjadi sangat sukar didapat. Jadi lebih baik pilihlah produk-produk yang pembersihannya tidak terlalu banyak memerlukan air. Toilet itu sebenarnya tidak usah terlalu mewah, misalnya, di Cikampek terdapat toilet yang benar-benar sederhana, tapi bersih dan harum. Walaupun kita harus bayar Rp 1.000, it doesn t matter.

Saya tertarik dengan survey kecil-kecilan Anda tentang stasiun pengisian balian bakar umum (SPBU). Bagaimana hasilnya?

Beberapa tahun lalu kita survey ke SPBU atau restoran, pokoknya tempat-tempat yang dilalui orang saat bepergian atau lebaran. Hasilnya, sebagian besar SPBU memiliki closet jongkok, bak airnya juga sangat rendah. Jadi bisa bayangkan kalau ada laki-laki yang kencing dengan kekuatan yang cukup keras, maka bisa menyiprat kemana-mana bahkan mungkin masuk ke bak air. Setelah saya ambil air di bak tadi untuk di teliti di laboratorium, ternyata banyak sekali bakterinya. Kemudian saya sarankan kepada mereka untuk meninggikan bak airnya. Ya, tentunya karena saya tidak bisa bertemu langsung dengan pemiliknya, maka kita memberilahunya dengan surat unluk kesehatan bersama. Tapi kadang mereka juga menjawab bahwa permasalahannya adalah pemakainya, dan memang seringnya begitu. Dalam hal ini pemerintah juga bisa mengeluarkan peraturan, memberikan sanksi.

Apakah saat ini tidak ada sanksi dan peraturannya?

Kalau sekarang kita membuat sanksi, lalu kila melihat kantor pemerintahannya seperti itu, malah pemerintahnya yang malu.

Jadi seperti membuang sampah saja. Sanksinya sudah jelas ada tapi tidak pernah ada realisasinya.

Iya benar. Apalagi tanpa sanksi sama sekali. Sekarang Singapura dan China sudah memberikan sanksi tegas bagi orang yang berperilaku tidak baik di toilet.

Itu juga berlaku di pesawatkarena pada yunan sekarang mobilitas semakin tinggi sehingga semua orang nanti menggunakan pesawat.

Jika toilet pesawatnya lidak bersih maka im akan menyebarkan penyakit kemana-mana. Itu adalah hal yang ditakuti oleh setiap negara.

Apa peran pemerintah dalam hal ini?

Dia harus bisa membantu untuk penyelenggaraan penyuluhan, pengadaan toilet umum untuk masyarakat.

Bagaimana dengan toilet umum sekarang?

Tidak ada. Coba deh lihat di jalan-jalan di Jakarta, bukan di mall, tapi yang benar-benar toilet umumnya. Anda bisa melihat sendiri bagaimana menyedihkannya kondisi toilet. Sebenarnya pemerintah bisa memberikan aturan atau sanksi, seperti kila tidak boleh merokok di tempat umum, itu akan sangat membantu bagaimana mengelola toilet umum ke depannya.

Apakah pihak swasta tidak ada yang tertarik unluk mengurusi soal toilet ini?

Ada saya pernah baca di salah satu majalah dan pernah datang ke sana, temyaia orang itu cukup mendapat uang untuk kehidupan melalui toilet-toilet umum itu. tapi masih dalam skala yang sangat kecil.

Dalam konteks ini kita tahu bahwa pelayanan publik kita lemah mungkin jika pihak swasta bisa membantu dalam hal ini akan lebih bagus.

Bagus sekali kalau memang ada tapi masalahnya juga tidak sedikit. Masalah tanah, misalnya, harganya sangat mahal. Kemudian air, hampir semua orang menggunakan air. Kita memikirkan mobile toilet saja setengah mati karena kalau di luar negeri menggunakan kertas, sedangkan kita menggunakan air. Kalau air tidak bisa langsung i\-recycle kalau sifatnya mobile.-ooOOOoo-
Comments


EmoticonEmoticon