Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Wednesday, December 4, 2019

Curug Sewu Tetap Primadona



OBJEK wisata Curug Sewu di Kecamatan Pa-tean Kabupaten Kendal yang terkenal dengan keindahan air terjunnya, kini semakin menjadi primadona wisata domestik di daerah ini. Apalagi kini ditambah fasilitas kolam renang dan kebun binatang, semakin memberi daya tarik wisatawan domestik untuk menikmati suasana tenang, berudara sejuk dan segar, panorama indah jauh dari kebisingan dan polusi udara.

Terutama memasuki masa libur sekolah, banyak wisatawan yang memanfaatkan sebagai sarana rekreasi bagi keluarga.

Dalam masa liburan ini, sedikitnya jumlah pengunjung pada hari Minggu mencapai 4.000 orang dan di luar hari Minggu berkisar 2.000 pengunjung. IPada masa liburan ini, peningkatan pengunjung mencapai 50 persen. Mereka tidak hanya warga Kendal tetapi juga dari Temanggung, Batang dan Semarang," kata Munto-har, pengelola objek wisata Curug Sewu saat ditemui KR, Minggu (21/6).

Dilihat dari mobil dan motor yang diparkir, para wisatawan memang tak hanya dari Kendal, namun banyak pula plat nomor Kedu, Pekalongan dan Semarang. Menurut Muntohar, hingga kini, Curug Sewu tetap menjadi persinggahan favorit bagi masyarakat Kendal dan sekitarnya. Di antara tempat wisata di Kendal, Curug Sewu yang paling banyak diminati wisatawan lokal. "Objek wisata ini tiap tahunnya selalu mencapai target pendapatan yang ditetapkan Pemkab Kendal," papar Muntohar.

Ada keunikan jika memasuki area wisata Curug Sewu. Harga tiket tanda masuk Rp 3.000nRp 4.000, masih belum bisa menikmati seluruh fasilitas yang ada di objek wisata tersebut. Misalnya untuk renang, pengunjung harus bayar lagi karcis dengan tarif Rp 2.000 per orang. Untuk melihat koleksi satwa di Kebun Binatang


dikenai biaya Rp 2.500 per orang.

Pengunjung jangan kaget, bila hendak mendekati air terjun yang merupakan trade mark Curug Sewu, dikenai tarif Rp 3.500. Bila ingin berlibur ke objek wisata Curug Sewu, sedikitnya harus mengeluarkan ongkos keseluruhan Rp 12.000.

Ari, warga Patebon, seorang pengunjung Curug Sewu, sempat terperangah saat harus merogoh koceknya untuk tiap kali menikmati fasilitas di area wisata ini, apalagi harus membayar lagi saat akan melihat dari dekat air terjun yang merupakan kebanggaan masyarakat Kendal.

"Terakhir saya ke sini selesai kuliah saat merayakan kelulusan sekitar 10 tahun yang lalu, saat itu pungutan tiket hanya satu di pintu masuk, selanjutnya kita bebas memanfaatkan fasilitas yang ada, memang kolam renang dan kebun binatang belum ada, namun kita tidak dipungut biaya lagi ketika melihatair terjun dari dekat," katanya.

Ketika dikonfirmasi mengenai sistem tiket tanda masuk, Muntohar menjawab, tiket tanda masuk di area wisata Curug Sewu seperti kolam renang dan kebun binatang diatur dalam Perda, sedangkan pungutan tiket masuk lokasi air terjun merupakan kewenangan Perhutani, karena air terjun itu milik Perhutani.

Di tengah mempeso-nanya Curug Sewu, banyak pengunjung yang menyesalkan arena adu nyali yang cukup modern, roll coaster, sudah lima tahun ini terbengkelai. "Saya ingin naik roll coaster, dulu, setiap pulang kampung, saya sempatkan ke Curug Sewu dan melihat apakah alat ini sudah bisa berfungsi, ternyata belum," kata Ragil, pengunjung dari Kaliwungu. Tidak difungsikannya roll coaster, kata Muntohar, karena tingkat kenyamanan dan keamanan belum terjamin.

(Isdiyanto/Obi )-g

Monday, February 18, 2019

DPHO Askes Semakin Diminati Produsen Obat

askes
 Konsep managed care yang diterapkan PT Askes dapat mengendalikan mutu dan biaya pelayanan kesehatan. Khusus untuk mengendalikan penggunaan obat. PT Askes menggunakan daftar dan plafon harga obat (DPHO)."Peran Askes dalam seminar health economics yang lalu sangat menarik perhatian ahli kesehatan masyarakat dari Amerika karena sejak 1997 telah memiliki DPHO yang dapat mengendalikan pemakaian obat secara rasional." kata Direktur Utama PT Askes, I Gede Subawa. kemarin.

Saat ini sekitar 100-an fa-bnkan atau produsen obat yang bergabung dalam DPHO merasa diuntungkan karena obatnya pasti terpakai dan obat di DPHO marjinnya tetap serta bersih dari biaya marketing. "Oleh karena itu meskipun harganya murah tetapi produsen tetap untung." kata Gede.Sehingga produsen obat pun semakin tertarik dengan DPHO Askes. Kini, obat kanker dan obat hepatitis telah tersedia dalam DPHO. Tetapi obat di DPHO Askes hanya obat yang sudah direstui atau teregislrasi oleh pemerintah." ujarnya.Gede mengatakan Tim 7 selalu menganalisa obat yang ada dalam DPHO apak.ih obat yang ada tetap cost effective atau tidak. Begitu juga dengan obat-obat baru, jika dalam test dan analisanya cost effective maka Tim 7 alon merekomendasikan untuk ditambahkan ke dalam DPHO.

"Jadi Tim 7 punya wewenang untuk menolak dan merekomendasikan obat baru untuk ditambahkan ke dalam DPHO. Obat yang efektif belum tentu harus murah. Obat kanker misalnya harganya sekitar Rp20juta tetapi dia satu atau dua kali kir bis sembuh, itu lebih efektif karena ada kepastian." ujarnya.

Tim 7 juga melakukan penelitian-penelilian terkait dengan biaya pelayanan kesehatan dan penggunaan obat yang efektif yang dibiayai oleh produsen dan sebagian lagi memanfaatkan dividen yang saat ini tidak disetor kepada pemerintah. Nantinya jika SJSN berjalan, semua obat bisa dipakai sehingga biaya obat dapat terkendali, terjangkau, tetapi jasa medis tentunya tetap diperhitungkan." kala Gede.

Saat ini. pihaknya menyeleksi provider dan mengajak provider untuk ikut memikirkan risiko biaya karena pelayanan kesehatan. "Polanya ke arah pola paket atau dengan sistem kapitasi. sekarang provider sudah tahu pemanfaatan bagi peserta sehingga ada negosiasi antara Askes dan provider." ujarnya.Menurut Gede, pelayanan berjenjang juga akan menghemat biaya pelayanan kesehatan. Untuk itu PT Askes telah memulai bekerjasama dengan dokter keluarga, utamanya dokter di klinik 24 jam yang bisa menjaga pasien selama 24 jam.

Honorarium yang diberikan kepada dokter keluarga memakai sistem kapitasi yakni sebesar Rp6.000 perkepalaperbulan. Diharapkan selain menjadi "penjaga gawang" di pelayanan lini pertama, dokter keluarga akan mengawali sistem rujukan berjenjang."Kalau tidak perlu ke rumah sakit, kenapa harus ke rumah sakit. Tetapi yang lebih penting, dokter bisa melakukan upaya promotif dan preventif. Kalau perlu dokter mendatang) rumah pasien untuk menjaga kesehatannya. Semakin rakyat sehat, dokternya semakin untung. Ada 40 ribu dokter umum bisa jadi dokter keluarga." ungkapnya.

Terkait kesiapan PT Askes menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Gede mengatakan pihaknya telah siap memperluas kepesertaan asuransi kesehatan sosial. "Kami tinggal menunggu peraturan pemerintah agar jelas siapa saja penerima bantuan dan benefit apa yang harus diberikan, dan tentang premi yang sesuai aktuaria. katanya.Menurutnya, masyarakat Indonesia saat ini sudah mulai mengetahui manfaat asuransi

kesehatan. "Askeskin adalah sosialisasi yang sangat bagus karena masyarakat di pedesaan pun menjadi tahu manfaat asuransi kesehatan,* katanya.Oleh karena itu. pihaknya sangat optimis SJSN dapat berjalan dan masyarakat pun dinilainya mampu membayar premi. "Memang negara berkewajiban memberi perlindungan kesehatan bagi rakyatnya, tetapi rakyat juga sebetulnya bisa. Contohnya, perokok menghabiskan berapa rupiah setiap bulan, itu bisa untuk membayar premi asuransi sosial." kata Gede.

Ditegaskan kembali bahwa PT Askes sebagai lembaga milik pemerintah, siap melaksanakan dan tidak boleh menolak tugas negara menjadi BPJS dan melaksanakan SJSN. "Saat ini sudah ada 125 kabupaten/kota sudah bekerjasama dengan PT askes, tahun ini minimal 200 kabupaten/kota jaminan kesehatan masyarakatanya dikelola oleh PT Askes," ujar-nya

Friday, February 15, 2019

Ranah Apresiasi Pameran Seni Rupa

ilustrasi gambar seni rupa

FAKTA yang paling menarik untuk diutarakan, kebanyakan pendaftaran dalam cabang seni rupa adalah orang yang tidak memiliki bakat kreatif secara konkrit seperti menggambar atau mema tung sekaligus tidak memiliki minat ke arah itu.

Banyak hal yang selalu dicari dalam hidup dan kehidupan ini, seperli harta benda, pangkat, kekuasaan dan kebahagiaan. Untuk mencapai kenikmatan di dunia, banyak cara yang harus dilaksanakan dan diupayakan untuk mencapainya termasuk dalam bclajar dan mengapresiasi Reni lukis.

Dalam proses bclajar menga jar, seni lukis sendiri terdapat kecemasan akan punahnya aprc siasi terhadap kemampuan teknis seniman. Hal ini sedikit banyak juga disebabkan oleh karena begitu banyaknya dominasi teori sehingga mcngenvampingkan ekplorasi artistic yang lahir dari kecakapan (skill) yang hanya bergantung pada konsep sema ta. Farah Handani. Kompas 2003).

Di antara kcnikmatan-kenik-maian dunia termasuk di dalamnya, kenikmatan dalam kegiatan menggambar dan melukis seperli yang dilakukan dan dilaksanakan oleh murid TK, SD. siswa SLTA dan mahasiswa senirupa dan seniman pada cabang perguruan tinggi serta mengadakan apresiasi yang lebih dikenal dengan pameran seni rupa. Dulu saya pernah bcrangga pan, bahwa menggam bar atau melukis itu dianggap sebagai suatu kegiatan untuk menimbul kan kesan terlihatnya benda-benda tiga dimensi pada bidang datar sebidang kertas atau kanvas lukisan.

Akan tetapi, setelah mengikutiperkuliahan dan diskusi tentang seni lukis pada tingkat daerah dan tingkat nasional, ternyata menggambar dan melukis itu lebih dalam dari itu. (Adrian hill. How lo Draw. 1992).

Terutama sekali kenikmatan yang di dapat dalam tahapan mencoba dengan menggaris lurus, melengkung serta menggabungkan yang pada akhirnya bcrmua ra dan berlanjut kepada goresan yang mengarah kepada bentuk alum dan binatang serta bentuk yang terpikirkan oleh calon seniman itu.

Kesenangan dan kegembiraan yang muncul dalam proses keasyi kan kerja tanpa memperdulikan waktu yang berputar cepat, tanpa memperdulikan hasil yang dicapai. Apakah yang dibuat itu baik atau belum mencapai hasil yang diharapkan. Tapi yang pasti calon seniman ini (elah luluh dalam pengembangan pensil dan kilas pada gambar dan kanvas yang maha luas tiada balas.

Untuk memahami lebih mendalam apa sebenarnya menggam barkan dan melukis itu. kita akan menemukan makna yang lebih mendalam jika kila telah melihal dan menikmati hasil nyata seba gai dampak kerja penyaluran bakal, hobi yang tersimpan dalam rolling hati calon perupa/ seniman yang paling dalam.

Pada hakekatnya menggambar dan melukis itu adalah pcngung kapan rasa seni dari seorang melalui unsur seni secara mental dan visuil dari apa yang dialami diam bentuk garis, bidang, warna dengan penuh pertimbangan, keseimbangan dan aksentuasi untuk menciptakan komposisi yang manis dan menyenangkan serta tertata dengan harmonis.

Sering kita merasakan apa yang kita buat itu belum menca pai hasil maksimal seperti apa yang kila harapkan. Anehnya dalam relung sebuah hati terbersit rasa kebahagiaan yang mendalam, akan hal yang baru saja kita laksanakan.

Rasa puas akan keasyikan yang (crjadi selama berkecimpung dan berkutat dengan cat dan kuas untuk menuju penyelesaian sebuah karya seni rupa yang baru penuh inovasi.

Kebahagiaan dan kesenangan yang dicapai bukanlah hasil akhir, karena akan masih datang tanta ngan baru pada media yang baru untuk berkarya yang lebih baik dan lebih bagus dalam upaya incnambahkan bagan-bagan penting yang masih memerlukan scntuhan-scntuhan tambahan untuk mewujudkan karya seni yang mendasar dan hakiki.

Untuk sampai kepada tahap kenikmatan yang hakiki itu tidaklah semudah membalik telapak tangan, tentulah akan menempuh lorong-lorong sempit dan kecil yang memiliki onak dan duri di sepanjang perjalanan pensil dan kuas dengan segala perimbangan estetika sebelum smapai ke tilik finish yakni dipajangkanya karya tulis kita dalam pameran besar, sejajar dengan pelukis terkenal seperti Wakidi. Basuki Abdullah. Affan di.Sujoyonodan lain-lain.

Saya yakin dan berharap karya siswa dan guru sekarang ini akan dapal dipajang sejajar dengan pelukis terkenal lainya, karena banyak bentuk dan motivasi yang diberikan dalam men capai karya yang utuh secara maksimal.

Seperti sering membawa siswa melihal dan mengapresiasi pameran karya pelukis terkenal yang dipamerankan di museum, di galeri atau di sanggar seni lukis yang banyak terdapat di setiap kota dan provinsi.

Setiap individu itu berbeda dengan individu yang lainnya, masing-masing mempunyai ciri khas, baik sifat, nilai-nilai yang dianut maupun kemampuan yang dimilikjnya. Setiap orang adalah suatu konfigursi motif-motif, sifat-sifat sarat dengan nilai yang khas, tiap tindak yang dilakukan oleh seseorang mem bawa corak khas gaya kehidupan nya yang bersifat individu. (A/red Adler).

Namun satu hal yang perlu diperhatikan karena setiap orang mempunyai ciri khas, sebagai perbedaan individu, tidak usah marah dan gusar apabila karya yang kita tampilkan (idak cocok dengan selera penikmat seni, karena memang cita rasa dan instuisi setiap orang itu berbeda dan saling mengungkapkan prinsip masing-masing.

Oleh sebab itu, jangan gusar dulu bila ada yang sebahagian orang mencela dan merendahkan karya lukisan kita. Yang penting sekali janganlah kita larut dalam cacian pcnimat seni itu jadikan itu sebagai evaluasi dan introspeksi karya. Barangkali kita perlu mende ngarkan akan apa yang mereka perbincangkan dan apa yang mereka diskusikan itu karena mungkin ada sisi benarnya untuk pengembangan dan penda laman karya lukis kita di masa men datang.

Kalau perlu diadakan ajang diskusi/bedah karya dan sebaliknya jadikanlah pujian itu untuk memacu semangat dan motivasi kita dalam berkarya lebih aspiratif.

Pada penyelenggaraan pendidikan seni rupa sekarang ini yang sudah berbasiskan kecakapan hidup (life skill) dan bermuatan kompetensi yang mengharuskan siswa itu matang dalam berkarya dan dapat melaksanakan pame ran gambar dan lukisan dengan baik dan mencapai sasaran.

Berkarya dan pameran seni rupa ini sudah merupakan kalen der tetap setiap sekolah sesuai dengan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2005 yang bertujuan untuk memper dalam dan mengasah cita rasa seni penikmat dan rasa seni siswa dalam berkarya dan apresiasi.

Disamping memamerkan karya-karya terbaik pelukis dan karya siswa, selalu saja diadakan diskusi seni rupa dengan topik pembahasan seperti yang ada dalam lukisan yang terpajang di ruangan galery pameran itu.

Pada awal bulan Februari 2007 di Sumatra barat telah dilaksanakan pelatihan workshop komunitas kritikus seni rupa yang dilaksanakan oleh Fakultas Bahasa.Sastra dan Seni I INP Padang. Tujuannya, untuk menga nalisa, mengangkat dan memasya rakalkon masalah-masalah aktual yang sedang berkembang dalam seni lukis, sehingga masalah seni lukis dan pelukinya seperti Wakidi. Basuki Abdullah, Sujo yono. Affandi dan pelukis lainnya menjadi komunitas umum dan merupakan pokok pembicaran omag umum, apalagi komunitas seni rupa.

Sebetulnya banyak cara yang dapat dilaksanakan oleh perguruan tinggi seni, sekolah kejuruan seni lukis, tingkat SLTAdan SLTP untuk meningkatkan kemampuan dalam seni lukis dan rasa apresisi siswa.

Seperti melibatkan dan mengundang setiap sekolah itu untuk datang melihat pemeran dan berpartisipasi aktif dalam setiap diskusi, rasanya tidak terlalu berat bagi pembina orga nisasi siswa intra sekolah (OSIS) dan pihak sekolah untuk memberi izin. Kalaupun tidak pada jam belajar efektif, bisa saja sepulang siswa sekolah atau pada hari libur dan minggu.

Untuk mematangkan kegiatan berpameran dan rasa apresiasi siswa dalam pameran ini, akan sngat tergantung kepada kemauan dan kegigihan guru seni rupa dalam menciptakan kegiatan yang menarik dan mengkaitkan dengan metode pembelajaran seni rupa di sekolah.

Mudah-mudahan, kalau siswa telah sering kita bawha melihat dan mengunjungi pameran seni lukis, baik lingkat sekolah, atau di museum, semoga rasa seni dan apresiasi mereka terhadap karya seni rupa akan semakin terasa dan teruji. Dengan harapan pada suatu saat nanti mereka akan dapat melaksanakan pameran secara berkelompok atau per orangan. Semoga. *uPenulis adalah patriasimposium dan inomst pembelajaranlingkat nasional 2004 dan 2005mtwakili ktlompok guru dari Sumatra

100 Tahun Sutan Takdir Alisjahbana

sutan takdir alisjahbana
PERTAMA kali saya berjumpa Sutan Takdir Alisjahbana (STA) di KLB (kereta api luar biasa) yang pada malam 17 Desember 1945 mengangkut pimpinan pemerintah Republik Indonesia dari Stasiun Manggarai Jakarta ke Jawa Tengah dan JawaTimur.

Presiden Soekarno, 44; Wakil Presiden Mohammad Hatta, 43; dan Perdana Menteri Sulan Sjahrir, 36. Triwnviral itu melakukan perjalanan bersama ke pedalaman Jawa. Mau memperkenalkan diri secara fisik dan personal, mau menyampaikan terima kasih kepada rakyat yang telah mendukung Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, mau menghormati kebangkitan masal pemuda beserta rakyat dalam perjuangan heroik di Surabaya pada 10 November 1945 melawan tentara Inggris.

Yang saya ingat dari penemuan pertama dengan STA pada Desember 1945 ialah dia murah senyum, suaranya lembut, bicaranya lamban. Dia mengenakan celana pendek, bukan pantalon, memakai kaos kaki panjang, mungkin akibat krisis tekstil yang melanda di zaman Jepang, dan belum teratasi.

Di zaman Jepang STA bekerja di Kantor Bahasa. Dalam Komisi Bahasa yang menerjemahkan istilah-istilah Belanda ke dalam bahasa Indonesia dia dibantu oleh Soebadio Sasirosatomo, Miriam Saleh (kelak Budiardjo), dr Abdul Halim, dan dr Sutomo Tjondronegoro. Penyair Chairil Anwar sering datang ke Kantor Bahasa untuk bcrcakap-cakap dengan STA dan Ida Nasution, gadis yang pintar menulis dan tajani pemikirannya (kelak hilang tak tentu rimbanya di zaman revolusi).

Karena pergaulannya dengan Soebadio Sastrosatomo dan melalui itu dia mengenal sejumlah mahasiswa kedokteran seperti Socdjat-moko, Soedarpo Sastrosatomo, dan Iwan Suryo Santoso, karena masih ada hubungan kekeluargaan dengan Sutan Sjahrir, maka STA secara wajar masuk Partai Sosialis. Di zaman Jepang, berbeda dengan Soekarno-Hatta yang bekerja sama dengan Jepang, Sjahrir menolak fasisme serta kerja sama dengan Jepang, la memilih bergerak di bawah tanah, memimpin under-

ground movement. Dia mendirikan jaringan kader di beberapa kota di Jawa. Mendengarkan dan memonitor siaran radio Sekutu secara gelap dengan tujuan mengumpulkan informasi mengenai gerak-gerik tentara Jepang di medan perang melawan Sekutu. Dia juga menyebarkan informasi ke seluruh kader supaya mempersiapkan diri dan lahu bertindak, apabila Jepang kalah perang, suatu hal yang pasii bakal dalang..

STA terlibat dalam gerakan di bawah tanah. Dia diminta oleh Soe-badio Sasimsatomo dan kawan-kawan menulis sebuah naskah yang menguraikan pemikirannya mengenai demokrasi, sosialisme, dan kemerdekaan. Sial, naskah itu jatuh ke tangan intel politik Jepang. Akibatnya, Soebadio ditangkap, dimasukkan ke dalam sel polisi. Begitu pula halnya dengan STA. Dia ditahan, lapi tidak lama. Menjelang proklamasi kemerdekaan dia sudah dibebaskan.

Sesudah penemuan pertama dengan STA pada Desember 1945 saya praktis tiada hubungan dengan STA. Dia aktif di bidang pendidikan di Jakarta seperti mendirikan SMA sore untuk menolong anak-anak golongan Republikein melanjutkan pelajaran. Dia ikui menggerakkan adanya universitas darurat pro-kiblik untuk menandingi Universileit Indonesia yang didirikan Belanda di Jakarta.

Saya memandang STA sebagai orang yang luar biasa. Di mata saya dia pengarang yang prolifik. Betapa tidak. Segala macam topik disentuhnya. Sastra, filsafat, bahasa, semua dikupas dan dituangkan ke dalam buku.

STA yang dilahirkan di Natal, Tapanuli, dianggap orang Bengkulu. Sebenarnya ibu STA adalah orang Natal. Ayahnya juga orang Natal yang pergi merantau ke Bengkulu dan bermukim di situ. Ketika pada 1956 di Sumatera timbul gerakan Dewan Banteng, Dewan Gajah, dan


Dewan Garuda yang menuntut agar pemerintah pusat memperlakukan daerah lebih adil dalam hal pembagian pendatapan. juga agar Presiden Soekarno mengambil jarak dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), STA diangkat menjadi ketua Badan Persatuan Adat Seluruh Sumatera. Akibatnya, STA dikenakan tahanan kota, tidak bisa terbang ke Palembang bertalian dengan urusan gerakan daerah.

Tapi pada 1957 STA mendapat undangan menghadiri Kongres Pen Club di Tokyo. Berkat bantuan PM Djuanda dia diizinkan pergi. Di Tokyo dia tinggal beberapa waktu lamanya. Di tanah air berkembang gerakan PRRl-Permesta yang pada Januari 1958 dideklarasikan secara resmi di Padang oleh Kolonel Ahmad Hussin. STA berada di Eropa ketika Kolonel Barlian meletakkan jabatannya di Palembang. STA memuluskan untuk tinggal di Eropa. Kemudian STA pindah ke Amerika dan di sana mempelajari behavioral sciences.

Di Indonesia pengaruh politik PKI berkat rangkulan Presiden Soekarno semakin naik daun. Orang-orang PKI semakin bersemangat memojokkan lawan-lawan politik mereka. Terutama yang jadi sasaran komunis ialah orang-orang PSI yang disebut dengan penamaan ejekan Soska (Sosialis Kanan). PKI menghantam STA yang dikatakan sebagai orang PSI Soska,

Usmar Ismail, sutradara Perfini yang membuat nim cerita berdasarkan roman STA berjudul Perempuan di Sarang Penyamun dicaci maki sebagai orang PSI. Padahal Usmar adalah anggota Lesbumi, organisasi kebudayaan yang berasosiasi dengan Nahdatul Ulama (NU). Film tersebut diboikot oleh golongan komunis untuk menghukum STA yang PSI.

Pada 1968 STA kembali ke Indo-nesia. Keadaan di tanah air telah banyak berubah. G-30-S/PKJ gagal. Sckembalinya dari pengasingan yang dipilihnya sendiri selama bertahun-tahun STA lalu memilih pekerjaan yang disukainya sebagai pendidik, pengarang, pemikir, dan budayawan dalam arti seluas-luasnya.

Maka STA lalu menjadi rektor Universitas Nasional merangkap ketua Yayasan Universitas Nasional. Pada 1969 STA diminta menge-tuai Akademi Jakarta yang didirikan atas inisiatif dan konsep budaya Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Pada waktu itu saya dapal kesempatan membaca karya STA mengenai sistem nilai-nilai yang memerlukan waktu tujuh tahun untuk merampungkannya. Setelah saya baca karyanya kekaguman saya terhadap STA bertambah. Orang ini bukan saja mempunyai disiplin diri sendiri yang kuat untuk mempelajari, meriset balian studi yang dipilihnya, melainkan juga tersihir oleh magnificent obsession yang tidak bisa dilepaskan sampai tugas selesai.

Aktivitas STA berikutnya ialah mendirikan Balai ScniToyabungkah di Bali. STA mengajak saya melihat-lihat Balai Seni Toyabungkah yang merupakan kebanggaannya. Seorang penari ternama Ibu (Kctui) Reneng merupakan bagian dari Toyabungkah dan mempertunjukkan tari Bali di situ. Saya pikir apa lagi yang dilakukan insan energik STA ini?

STA menulis novel yang dikirimkannya kepada saya berjudul Gmita Azura. Orang ini betul-betul prolifik. Karya tulisannya seakan-akan tidak pernah mati mata airnya. Mengalir terus. Sudah selesai? Belum. Sebelum STA meninggal, dengan tidak meninggalkan obsesinya mengenai filsafat yang dianggapnya induk segala ilmu, dia rajin mempelajari Islam. Lalu setiap kali bertemu dengan saya dia bicara tentang pengetahuan dan insight baru yang diperolehnya mengenai Islam.

Kadang-kadang saya antarkan STA ke tempat kerjanya, bila mobil yang saya tumpangi lewat di jalan itu. Dengan suaranya yang lembut dia menganjurkan kepada saya untuk menulis buku. Jangan lupa itu, tulis buku, katanya. Saya diam sejurus. Rupanya sang maestro sama sekali tidak sadar saya telah menulis buku lebih dari tiga puluh banyaknya meliputi aneka ragam topik.

Mobil berhenti di Jalan Dr


Sahardjo. STA turun melangkah agak terpincang-pincang. Take care. Bung, kata saya. Terima kasih, balas The Great STA.

Mengapa saya bilang The Great STA? Betapa tidak. Ia bisa menulis buku yang berkaitan dengan values as integrating forces. Ia bisa mengembangkan konsep tentang mengadakan Islamic studies di Universitas Nasional. Ia penganjur kuat agar manusia Indonesia menerima kebudayaan Barat, bersikap rasional, ingin maju dalam kehidupan.

Itu di masa mudanya. Di hari lantik sanjo, dia pun sama tegas menganjurkan bahwa karena penduduk Islam hampir 90 persen dalam masyarakat kila, maka tanggung jawab yang terbesar ada pada penduduk yang beragama Islam dan hidup dalam kebudayaan Islam. Dia menekankan bahwa dunia Islam harus berkembang dalam waktu1* yang secepat-cepatnya. Organisasi dan kemakmurannya harus dibenahi. Tidak ada orang yang miskin dan semua orang yang tidak mempunyai pekerjaan adalah tanggung jawab negara. Mereka berhak akan hidup yang layak sehingga tidak usah menerima sedekah dan mengemis-ngcmis. Demikian kata STA. Sejurus saya merenung, apakah itu suara seorang sosialis-demokrat, seorang PSI yang dianut oleh STA di masa muda, ataukah suara seorang muslim yang telah membaca ajaran agama Islam ibarat a new-born muslim sebagaimana tampak ditunjukkan STA. Ataukah semua iiu perwujudan dari hal yang satu sama lain juga ada pada manusia seperti STA, dari dulu hingga akhir hayatnya?

Saya tiada bertemu lagi dengan STA di hari-hari menjelang tutup usianya. Apakah segala nilai beserta sistem yang telah diajarkan dan dianjurkannya sebagai pendidik, sebagai pengarang, sebagai insan politik dan entah apa lagi selama hidupnya sudah dimengerti dan dilaksanakan oleh mereka yang mendengarkannya. Wallahu alam.

Betapa pun saya ingin menyampaikan salam hormat kepada seorang cendekiawan besar dan seorang sahabat sejati, yang tiada duanya, the one and only STA. Semoga Tuhan melapangkan arwahnya di alam kubur. Semoga Tuhan menerima arwahnya di sisi-Nya.