Tuesday, May 5, 2020

Membangun Bangsa dengan Takwa


Sementara itu, tentang buku Mengutamakan Rakyat, ada sedikit hal yang mengganjal dalam benak peresensi. rada bab Memerangi KKN (hal. 265) disebutkan bahwa KKN tidak ada kaitannya dengan nurani, keimanan, dan atau agama seseorang. KKN, menurut buku ini, terkait dengan sifat kreatif manusia yang akan terus eksis apabila sistem yang berlaku memberikan peluang.

Maka, masih menurut buku itu, untuk memberantas KKN hanya ada satu cara, yaitu melalui sistem yang tidak memberi kesempatan untuk terjadinya KKN. Pada kalimat selanjutnya kembali ditegaskan bahwa untuk meniadakan KKN janganlah se-kali-sekali digantungkan kepada moral, akhlak, apalagi keimanan dan agama seseorang.

Padahal pada pembukaan bab tersebut dikutip ayat Alquran Surat Al Haji ayat 45 yang artinya "Berapa banyak negeri yang penduduknya Kami binasakan karena penduduknya berbuat aniaya, maka rubuhlah dia atas atap-atapnya, dan beberapa banyak sumur-sumur yang ditinggalkan dan istana tinggi yang telah kosong".

Menurut peresensi, KKN justru sangat erat kaitannya dengan agama, keimanan dan ketakwaan seseorang. Karena itu, bangsa ini harus dibangun dengan ketakwaan. Pemimpinnya harus bertakwa, pembuat kebijakan/ sistem harus bertakwa, dan diikuti dengan rakyat yang bertakwa pula. Sebab takwa adalah landasan yang paling kuat dan paling ampuh. Dalam hal ini Allah Swt telah berfirman dalam Alquran Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepadanya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam (QS Ali Imran ayat 102).

Jika bangsa ini dibangun dengan takwa, maka negara kita akan aman dan dunia akan tentram, dan rezeki langit dan bumi akan dibuka dan kita akan diberi keberkahan, seperti janji Allah dalam Alquran Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan-nya.(QSAlAraf96).

Memang, di dalam suatu kota atau dalam suatu negara jika penduduknya beriman dan bertakwa kepada Allah, maka negara itu akan hidup tentram dan diberkahi oleh Allah dengan rezeki yang baik dan hasil yang berlimpah ruah. Sebab dengan bekal iman, rakyatnya tidak berani berbuat korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), manipulasi, dan sebagainya.

Sebaliknya, kalau dalam negeri itu berlomba-lomba dalam kemungkaran dan kemaksiatan, rakyat senang berpesta pora dengan judi, minum-minuman keras, ekstasi, shabu-shabu, narkoba, dan sebagainya, maka tunggu saja kehancuran negara itu.

Kita dapat melihat atau membaca sejarah kehancuran negarapada zaman dahulu yang bergelimang dalam kemaksiatan, seperti pada zaman Nabi Nuh AS. Pada saat itu kaum Nnbi Nuh menentang dan i ulak mau tunduk kepada ajakan Nabi Nuh. Nabi Nuh mengajak kepada kaumnya supaya menyembah kepada Allah, tapi ajakan Nabi Nuh itu dicemoohkan dan tidak diindahkan, bahkan anaknya sendiri yang bernama Kanan juga menentang ajakan ayahnya, yaitu Nabi Nuh.

Setelah itu, Allah menurunkan adzab yang sebesar-besarnya. Ditenggelamkan kaum Nabi Nuh yang menentangnya, termasuk anaknya Kanan, mati dalam kekafiran. Tapi Nabi Nuh dan orang-orang yang beriman diselamatkan oleh Allah dari bahaya banjir yang dahsyat itu.

Permintaan atau doa tersebut dikabulkan oleh Allah Swt, dan kaum Nabi Nuh yang sangat ingkar itu ditumpas habis-habisan oleh Allah, kecuali Nabi Nuh dan orang-orang yang beriman kepada Allah.

Ada lagi kenyataan dalam dalam sejarah yang tidak mengindahkan kepada ajakan Rasulnya. Seperti zaman Nabi Musa dengan Firaun. Nabi Musa As adalah utusan Allah, yang ditugaskan untuk amar makruf nahi mungkar, Kita dapat melihat bagaimana kekejaman Firaun kepada kaumnya. Sampai-sampai anak kecil yang tidak berdosa turut menjadi kurban karena kekejaman Firaun.

Tapi Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa, dapat menyelamatkan Musa dari bahaya maut yang mengerikan itu. Allah memerintahkan supaya Musa itu dihan-yutkan dalam air, sampai akhirnya tidak dibunuh, tapi dijadikan anak oleh Firaun.

Setelah Nabi Musa dewasa, melihat keadaan dan tindakan raja Firaun yang sewenang-wenang, sampai-sampai Firaun mengaku sebagai Tuhan, rakyatnya disuruh menyembahnya sebagai Tuhan. Tapi atas perintah Allah, Musa mengajak kaum yang sesat itu untuk kembali menyembah kepada Allah. Namun demikian, Nabi Musa juga mendapatkan tantangan yang hebat sekali.

Meski demikian, sekalipun resiko yang dihadapi oleh Musa sangat besar, tapi Nabi Musa yakin bahwa apa yang diperintahkan Allah adalah hal yang benar, maka Nabi Musa mendapatkan kemenangan yang gilang gemilang. Sedang Firaun dan bala tentaranya ditenggelamkan di Laut merah dalam keadaan kafir.

Beberapa musibah dan bencana yang terjadi di negeri mulai tsunami di Aceh, gempa Yogya, banjir bandang di sejumlah wilayah, lumpur Lapindo, dan berbagai musibah kecelakaan di nusantara ini, haruslah kita jadikan pelajaran yang sangat berharga. Hendaknya kita senantiasa waspada bahwa musibah dan bencana itu senantiasa mengintai bangsa, kota, kampung, dan keluarga serta diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita harus membentengi diri kita, keluarga kita, kampung kita, kota dan bangsa negara kita dengan peningkatan iman dan takwakepada Allah.

Tolak Bencana dengan Bertaubat


Beberapa kenyataan sejarah tersebut di atas, terungkap dalam buku ini pada bab Potret Bangsa (hal. 315). "Korupsi bukan lagi dosa, tapi urusan peluang, rasanya malah menjadi bagian dari budaya kenegaraan kita. Jelas-jelas gaji kecil, sebagian elite hidup mewah dengan menilap uang rakyat... Di depan publik lantang bicara pen kemanusiaan, tapi di belakang layar diam-diam merampok uang negara".

Sementara kenyataan paling gres bisa kita lihat kasus suap milyaran rupiah yang menimpa elit politik kita. Di antaranya, Ketua Tim Jaksa Penyelidik Kasus Penyimpangan Dana BLBI, Urip Tri Gunawan. Ia ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Minggu (2/3/2008) di rumah pengusaha Sjamsul Nursalim di Kelurahan Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Ia tertangkap menerima dana sebesar 660 ribu Dolar Amerika (Rp6,l Miliar) dari Artalyta Suryani, yang diduga sebagai uang suap dalam penyelidikan kasus penyimpangan dana BLBI.

Sebulan kemudian, tepatnya Rabu (9/4/2008) dini hari KPK kembali menangkap Anggota DPR Al Amin Nur Nasution atas dugaan suap bersama empat orang lainnya, termasuk Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan, Azir-wan di Hotel Rita Carlton. Penangkapan ini diduga terkait dengan upaya alih fungsi lahan hutan lindung 7.300 hektar di Bintan Bunyu, ibu kota Kabupaten Bintan. Alih fungsi itu bisa dilakukan atas rekomendasi DPR. Sebelum ia ditangkap, saat Rapat Kerja (Raker) dengan Menteri Kehutanan MS Kaban, Komisi IV DPR RI akhirnya menyetujui pengalihfungsian lahan hutan lindung tersebut. Diduga keputusan ini merupakan buah dari hasil lobi-lobi Al Amin Nur Nasution.

Namun dalam alenea tersebut (di buku Mengutamakan Rakyat) juga diberikan secercah harapan "...Kita masih berharap dan bahkan yakin hari depan akan cerah". Bahkan bab tersebut diawali dengan untaian kata "Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi. Dalam kemiskinan harta ada kekayaanjiwa. Dalam kesempitan hidup ada keluasan ilmu. Hidup ini indah jika segala karena Allah SWT".

MeBki terlambat, tampaknya memang perlu bangsa Indonesia mengadakan taubat nasional. Namun hal ini bukan merupakan hal yang mudah. Karena itu, sekali lagi kita harus waspada bahwa musibah dan bencana itu senantiasa mengintai bangsa, kota, kampung, dan keluarga serta diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita harus membentengi diri kita, keluarga kita, kampung kita, kota dan bangsa negara kita dengan peningkatan iman dan takwa kepada Allah. Sehingga kalau memang belum bisa mengajak orang lain, secara pribadi kita harus tetap bertaubat serta meningkatkan keimanan dan ketakwaankita kepada Allah Swt untuk menolak berbagai bencana yang menimpa bangsa kita.

Kalau kita kembali membaca sejarah masa lalu, bencana-ben-cana seperti yang tersebut di atas tidak hanya terjadi pada zaman ini saja. Sejak dulu bencana itu menimpa pada manusia. Seperti yang telah disebutkan di atas, juga gempa yang telah melanda kaum Ad (kaum Nabi Hud AS), angin topan yang melanda kaum Tsamud (kaum Nabi Sholeh), hujan batu yang menimpa kaum Nabi Luth, atau bencana alam yang menimpa orang-orang Madyan (kaum Nabi Syuaib), dan masih banyak lagi. Dunia memang tidak akan sepi dari bencana dikarenakan masih banyaknya orang-orang yang sombong dan durhaka terhadap Allah.


Orang-orang yang telah disiksa oleh Allah, hampir tidak ada yang selamat, sekalipun mereka itu orang-orang yang kuat, gagah serta berpengetahuan tinggi. Namun ada -atu kaum, yakni kaumnya Nabi Yunus As, yang kemudian diselamatkan oleh Allah Swt


Nabi Yunus As, seperti nabi-nabi yang lain yang diutus oleh Allah kepada kaumnya untuk mengajak mereka agar menyembah kepada Allah saja dan meninggalkan sesembahan selain Allah. Siang malam Nabi Yunus tidak mengenal lelah dalam mengajak mereka kembali ke jalan Allah, tetapi mereka selalu menolak dan mencemooh Nabi Yunus As. Di saat kedurhakaan mereka sudah sangat keterlaluan, maka Allah mengirimkan siksa yang berupa hujan api di atas daerah mereka.

Nabi Yunus yang belum dapat perintah Allah untuk meninggalkan daerah tersebut, sudah menghilang dari kampungnya. Di waktu mereka sudah dikepung oleh siksa, maka timbullah kesadaran mereka bahwa Nabi Yunus adalah benar. Mereka beramai-ramai mencarinya untuk bertaubat dan meminta maaf atas perlakuan selama ini terhadap Nabi Yunus. Tetapi sayang, Nabi Yunus sudah pergi jauh. Namun perasaan taubat dan penyesalan mereka itu menyebabkan siksa atau bencana ditarik kembali oleh Allah.

Dari kisah tersebut kita dapat mengambil satu pelajaran yang sangat berharga, bahwasanya untuk menolak bulak atau bencana, hanya dengan taubat dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Pengetahuan yang bagaimanapun tingginya, tidak akan dapat membendung kemurkaan Allah.
Comments


EmoticonEmoticon