Sunday, November 24, 2019

Dalang cilik itu tampil berkolaborasi dengan ayahnya

Ilustrasi dalang cilik

Sewaktu kanak-kanak, Wulan sering mengikuti ke mana pun ayahnya mendalang. Suatu ketika, ia ditantang sang ayah, Kadino Hadi Carito, 82 tahun, untuk mendalang walau sebenarnya ia tak pernah bercita-cita menjadi dalang. Wanita kelahiran Wonogiri, 20 Juni 1980, itu pun menjawab tantangan itu dengan syarat ia diberi uang jajan. Setelah beberapa bulan berlatih bersama sang ayah, pada suatu pergelaran wayang kulit, Wulan berhasil menggantikan ayahnya ketika mendalang, meski hanya satu jam. Semua penonton terkesima

Sejak itu, Wulaningsih-demikian nama aslinya-menekuni pekerjaan langka, apalagi buat perempuan, ini. Bungsu dari empat bersaudara ini memang terlahir dan tumbuh di keluarga dalang. Darah dalang yang mengalir di tubuhnya diturunkan dari leluhurnya, Ki Kan-dabuwana."Saya keturunan ke-19," kata Wulan kepada Tempo, Rabu lalu. Dari 19 generasi tersebut, semuanya merupakan dalang, tanpa pernah terputus.

Awalnya, dalang cilik itu tampil berkolaborasi dengan ayahnya dalam beberapa kali pementasan. Setelah bisa mandiri, ia mendirikan nayaga (kelompok penabuh gamelan) kecil dengan merekrut teman-teman sebayanya. Berhasil menyedot perhatian, Wulan dan teman-temannya diundang pentas ke berbagai tempat, termasuk di pendapa Kabupaten Wonogiri saat ada tamu penting. Juga pernah tampil pada pergelaran dalang kecil di Jakarta. Tapi kala itu si dalang kecil tampil hanya dua-tiga jam. Baru sepuluh tahun

lalu, wanita lulusan Sekolah Menengah Karawitan Indonesia, Surakarta, ini berhasil pentas semalam-suntuk. Namun ia belum berani mendalang untuk ruwatan-upacara ritual untuk menolak bencana. "Perlu kesiapan spiritual yang matang," kata wanita murah senyum itu. Kalaupun dapat order ruwatan, ayahnyalah yang melakukannya. Kini teknik mendalang Wulan semakin matang. "Tahun lalu saya menang dalam sebuah festival dalang di Jawa Tengah, untuk kategori sabetan," kata

dia. Sabetan merupakan sebuah teknik menggerakkan wayang, sehingga wayang kulit menjadi lebih hidup.

Untuk dapat menguasai teknik sabetan, seorang dalang harus bisa menjiwai karakter wayang yang dipegang. Sehingga wayang seakan punya nyawa dan bergerak sesuai dengan karakternya. Demi menguasai teknik itu, ia banyak belajar kepada dalang kondang idolanya, Ki Manteb Soedarsono.

Penggemar tokoh wayang Prabu Bala-dewa ini juga dikenal piawai melakukan adegan jaranan, yang tidak semua dalang sanggup membawakannya. Ini merupakan adegan perang, yakni dalang harus memainkan beberapa wayang sekaligus, termasuk wayang kuda. Sementara itu, kakinya harus memukul kepyak, untuk menghasilkan efek suara tertentu.

Dalam satu bulan, istri seorang pemimpin koperasi syariah itu bisa mendalang hingga enam kali. Dua tahun lalu, dia bisa mendapat order hingga 15 pementasan dalam sebulan."Sepi semenjak krisis tahun lalu," ujarnya. Setiap kali pentas, suaminya, yang juga merupakan guru mengajinya, selalu mendampingi.

Order berpentas justru selalu datang dari luar kota. Kebanyakan pemesan merupakan pengusaha kaya atau petani sukses yang memiliki nazar menggelar wayang kulit. Ia pernah juga mendapat tawaran mendalang dari Jepang dan Amerika, tapi gagal lantaran perantara-nya mematok harga sangat tinggi.

Beberapa kali ia menggelar pentas untuk kampanye, antara lain kampanye salah satu kandidat gubernur di Banten beberapa waktu lalu. Bahkan saat ini sudah ada enam calon kepala daerah di beberapa kota yang berniat menggandengnya untuk kampanye. Dua di antaranya dari luar Jawa.

Adapun order dari pemerintah hampir tak pernah ia peroleh kecuali dari pemerintah kabupaten setempat, yang ia nilai peduli terhadap seni tradisional. "Padahalselama ini pemerintah selalu gembar-gembor agar kita mencintai seni tradisional," ujarnya. Dia berharap, "Perlu ada perjuangan dari pemerintah agar seni tradisional tidak punah, terdesak oleh budaya asing."

Istri Riyanto Puthut Prasojo itu merasa bangga bisa menjadi penerus keluarga, menjadi seorang dalang. Buah hati mereka, Puthut Abdul Muchlis, 12 tahun, bersama nayaga kecilnya, kini juga mulai mendalang.

Untuk merawat kesehatan agar suara tidak serak, ia memilih jamu tradisional. Demi mematuhi pesan ayahnya, Wulan tidak merokok. Tiap hari weton kelahirannya, ia berpuasa. ahmad MnQ
Comments


EmoticonEmoticon