Tak hanya aktivis reformis Iran yang mendukung kandidat presiden Mir Hossein Mousavi yang jadi sasaran penangkapan. Wartawan yang meliput atau mencoba meliput aksi protes menentang hasil pemilu presiden pun tak luput menjadi sasaran penangkapan.
Setidaknya 24 wartawan dan blogger telah ditangkap aparat sejak aksi protes mulai sepekan lalu. Kelompok Wartawan Lintas Batas (RSF), Senin (22/6), merilis nama wartawan, editor, dan blogger yang ditangkap sejak 14 Juni. RSF juga menyatakan telah kehilangan kontak dengan sejumlah wartawan lain yang diyakini ditangkap atau bersembunyi.
"Jadi semakin sulit bagi wartawan," kata Benoit Hervieu dari RSF. Dia mengatakan, setiap penangkapan diverifikasi melalui jaringan wartawan dan aktivis di Iran.
Yang terkini menimpa wartawan majalah Vewsnvek, Maziar Bahari, seorang warga negara Kanada. Bahari ditangkap pada Minggu tanpa alasan apa pun. Sejak saat itu. tidak terdengar kabar darinya.
Newsweek mengecam penangkapan Bahari dan meminta Pemerintah Iran untuk segera membebaskan dia. "Liputan Bahari tentang Iran, baik bagi Newsweek atau terbitan lainnya, selalu adil dan memberikan bobot yang sama terhadap semua sisi," sebut majalah yang berbasis di New York itu dalam sebuah .pernyataan.
Ali Mazroui, Ketua Asosiasi Wartawan Iran, juga ditangkap pada Minggu pagi. Sebelumnya, pasangan suami-istri Bahaman Ahamadi Amoee dan Jila Baniyaghoob ditangkap polisi berpakaian preman yang mendatangi rumah mereka. Baniyaghoob bekerja sebagai editor sebuah situs internet yang memfokuskan pada hak-hak kaum perempuan. Suaminya menulis bagi sejumlah media proreformasi.
Hentikan penyiaran
Direktur pemberitaan jaringan televisi Al Arabiya, Nakhle Elhage. menuturkan, otoritas Iran telah memerintahkanpeng-hentian aktivitas sampai ada pemberitahuan selanjutnya Pada Minggu pekan lalu, Al Arabiya di Teheran telah diminta untuk menghentikan aktivitas mereka selama sepekan. Beruntung, koresponden mereka, Diaa al Nasseri, seorang warga negara Irak, tidak diperintahkan untuk meninggalkan Iran.
Tidak seperti yang dialami koresponden stasiun televisi BBC Jon Leyne. Otoritas Iran memerintahkan Leyne untuk meninggalkan Iran dalam 24 jam sejak Minggu. Dia dituduh menyiarkan berita yang dibuat-buat, mendukung pemrotes, mengabaikan netralitas dalam pemberitaan, dan melangkahi hak nasional bangsa Iran.
Sejak pecah protes menentang hasil pemilu presiden, otoritas Iran telah melarang media asing untuk meliput aksi di jalan-jalan. Mereka hanya diizinkan untuk wawancara melalui telepon dan mengambil informasi dari media resmi milik pemerintah.
Hervieu menuturkan, media-media asing akhirnya memperoleh berita hanya dari foto atau rekaman video yang dikirim oleh pengguna internet Akan tetapi, karena tidak ada nama orang yang mengirim demi menghindari penangkapan, informasi yang diperoleh itu sulit diverifikasi.
Iran telah lama mengawasi media lokal dan internasional yang beroperasi di negara itu. Tekanan semakin keras saat terjadi kekacauan politik, seperti saat meletus revolusi Islam tahun 1979. "Kami bekerja dalam larangan itu dan tetap mengingat bahwa tujuan utama kami adalah mampu mengerjakan tugas kami sebagai wartawan," ujar Redaktur Eksekutif Associated Press Kathleen Carroll. (AP/AFP/FROJ
