Showing posts with label Movie. Show all posts
Showing posts with label Movie. Show all posts

Monday, February 18, 2019

Bikin KTP, Cukup Lima Menit

ilustrasi bikin ektp

Sumarsono datang tergesa-gesa menuju sebuah rumah yang letaknya berdampingan dengan Markas Polsek Metro Menteng, Jakarta Pusat. Sabtu (2/1) siang. Sepeda motornya diletakkan begitu saja di depan gerbang rumah tersebut. Dengan tergesa-gesa, Sumarsono mencari formulir permohonan perpanjangan Kartu Tanda Penduduk (KTP).Kebetulan, rumah Itu dipilih sebagai tempat warga Kelurahan Gondangdia yang Ingin memperpanjang KTP. Didalam formulir tadi, warga RT07/RW02, Kelurahan Gondangdia. Menteng, Ini diminta untuk menyertakan

surat pengantar dari RT dan RW tempatnya tinggal. Selain Itu Sumarsono Juga harus membawa kartu keluarga (KK) balk asli maupun fotokopi dan KTP lama. Namun, Sumarsono tidak membawa surat pengantar dariRT dan RW yang menjadi salah satu syarat perpanjang KTP. Sumarsono sempat kebingungan. Beruntung pihak kelurahan sudah menyiapkan pengurus RT dan RW sl lokasi Itu. Pak RT dan RW. sampai pak Lurah sudah ada. Jadi warga tinggal mendatangi dan minta surat pengantarnya." kala Sumarsono.Hanya dalam hitungan menit, pria separuh baya itu sudah mendapatkan surat pengantar dari RT/RW untuk memperbarui KTP lama. Setelah semua syarat dilengkapi. Sumarsono tinggal menunggu panggilan buat foto dirt. Antreannya memang cukup panjang. Menjelang tengah hari Itu sudah lebih dari 75 warga di RW 02 Gondangdia di 11 RT yang antre memperpanjang KTP.

Kemudahan Itu Juga dirasakan Iriyanto, warga RW02 lainnya. Begitu datang ke lokasi mobil pelayanan cepat pembuatan KTP disamping Polsek Menteng, dia hanya menyerahkan semua syarat tadi dan masuk kedalam antrean. "Saya tinggal menunggu untuk foto saja. Begitu foto selesai, diproses dan tinggal menunggu KTP baru," kata Iriyanto.Pria yang bekerja sebagai PNS di Polres Metro Jakarta Pusat ini mengatakan, dibandingkan dengan membuat KTP di kelurahan yang cukup rumit ditambah ongkosnya cukup besar, proses pembuatan KTP melalui mobil layanan berjalan milik Dinas Dukcapil Itu dianggap lebih mudah dan tidak berbelit-belit. Apalagi, dia tidak perlu mengeluarkan uang apapun untuk mendapatkan KTP baru.

Bikin KTP di mobil layanan keliling Ini Jadi lebih cepat dan mudah. Juga gratis. Kalau di kelurahan, menunggunya saja suka lama, kadang orang kelurahannya belum ada. Bisa dua-tiga hari atau sampai ber-mlnggu-mlnggu KTP-nya baru Jadi." cerita Iriyanto. Soal ongkos pembuatan KTP yang mahal, diakuinya relatif. "Dulu kalau buat KTP. saya beri (uang) buat uang rokok sajalah." ujarnya mengenang.

Dua minggu

Sudah dua minggu Ini mobil pelayanan KTP keliling milik Suku Dinas Dukcapil Jakarta Pusat mendatangi warga yang ingin memperpanjang KTP. Setelah minggu lalu di Kelurahan Petamburan, kini giliran warga Gondangdia yang dilayani mobil keliling. Saat Inj Dinas Dukcapil DKI mengoperasikan lima unit mobil pelayanan KTP keliling yang disebar di lima wilayah di Jakarta.

DI masing-masing mobil terdapat lima petugas, dua orang bekerja di bagian komputer dan pemotretan, dua orang sebagai tim registrasi warga, dan seorang lainnya adalah sopir. Hanya saja, mobil pelayanan KTP keliling ini baru dioperasikan setiap hari Sabtu saja. Pada hari kerja biasa, warga tetap dimintauntuk mengurus KTP baru, atau memperpanjang KTP di kantor kelurahan setempat.Menurut Kepala Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Jakarta Pusat Mohammad Hatta, sekarang warga tidak perlu waktu lama untuk membuat atau memperpanjang KTP yang baru edisi nasional. "Cukup lima menit." begitu kata Hatta, Sabtu (2/1).

Hatta mengatakan, pelayanan KTP dengan mendatangi warga itu merupakan terobosan baru dari Dinas Dukcapil DKI Jakarta untuk mempermudah dan mendekatkan diri, terutama dengan warga yang sibuk beraktlfitas. seperti yang tinggal di rumah susun maupun apartemen. "Pelayanan KTP keliling dengan mobil ini khusus untuk memperpanjang KTP saja. Kalau KTP baru, buatnya tetap harus datang di kelurahan." Jelas Hatta.Selain mendekati warga, Dinas Dukcapil DKI Jakarta berusaha meminimalkan pemalsuan KTP atau kepemilikan KTP ganda, sekaligus mengurangi calo KTP.Haji Ambar, warga Gondangdia, berharap pelayanan perpanjangan KTP itu dapat dikelola dengan baik di masa depan. "Alasan untuk mempercepat pembuatan KTP sudah baik, tetapi pelaksanaannya belum tentu balk. Jadi harus tetap diawasi. Apalagi kalau digratiskan, semua orang pasti datang," kata Haji Ambar

Sunday, February 17, 2019

Yogya Bisa Jadi Sumber Kreativitas Produksi Film

candi prambanan
 AKTIVITAS seni budaya saat ini sudah bisa berkembang menggembirakan. Untuk bidang seni tari sudah banyak kegiatan festival baik di Jakarta dan di berbagai daerah. Bahkan untuk produksi film Indonesia juga kian maju dan bisa menjadi tuan rumah sen-diri. Dalam setahun produksi film Indonesia bisa sekitar 87 film. Diharapkan, di Yogya sebagai kota budaya bisa menjadi sumber kreativitas untuk pnuiuk- ] film. Karena itu, film Indonesia sangat penting terus didorong untuk lebih maju karena bisa untuk mengang-kat martabat dan identitas budaya bangsa Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik dalam acara Sarasehan bertema Pengelolaan Bidang Kebudayaan di Hotel Melia Purosani Jalan Suryotomo Yogya, Senin (22/6) malam diikuti seniman, budayawan Yogya dan Solo.Jero Wacik menegaskan, untuk kegiatan budaya seperti festival kesenian, festival film yang digelar di Jakarta dan di sejumlah daerah dari Dirjen Nilai Seni dan Budaya selalu mendukung soal pendanaan. Karena keterbatasan anggaran dukungan dana belum bisa banyak sebagaimana yang diharapkan panitia penyelenggara kegiatan seni dan budaya. "Dalam setahun anggaran yang digunakan untuk seni budaya masih sedikit sekitar Rp 150 miliar. Namun mengingat budaya sangat pentingmerupakan identitas bangsa Indonesia, tetap terus didorong dengan mengembangkan berpikir positif. Ketika melaksanakan kegiatan seni budaya dengan dilandasi budaya berpikir positif hasil bisa maksi mal," papar Jero Wacik.

Dikatakan Jero Wacik, lewat sarasehan dengan para seniman dan budayawan Yogya-Solo ini, bisa menjadi media silaturahmi dan berbagi pengalaman untuk mengembangkan serta memajukan seni budaya di Indonesia. "Termasuk program bidang kebudayaan yang akan dilaksanakan ke depan. Sumbangan pemikiran dari seniman, budayawan sangat diperlukan untuk memajukan dan mengembangkan senibudaya di Indonesia. Karena itu, seya senang bisa bertemu berbagi pengalaman dengan sejumlah seniman dan budayawan di Yogya," aku Jero Wacik

Friday, February 15, 2019

100 Tahun Sutan Takdir Alisjahbana

sutan takdir alisjahbana
PERTAMA kali saya berjumpa Sutan Takdir Alisjahbana (STA) di KLB (kereta api luar biasa) yang pada malam 17 Desember 1945 mengangkut pimpinan pemerintah Republik Indonesia dari Stasiun Manggarai Jakarta ke Jawa Tengah dan JawaTimur.

Presiden Soekarno, 44; Wakil Presiden Mohammad Hatta, 43; dan Perdana Menteri Sulan Sjahrir, 36. Triwnviral itu melakukan perjalanan bersama ke pedalaman Jawa. Mau memperkenalkan diri secara fisik dan personal, mau menyampaikan terima kasih kepada rakyat yang telah mendukung Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, mau menghormati kebangkitan masal pemuda beserta rakyat dalam perjuangan heroik di Surabaya pada 10 November 1945 melawan tentara Inggris.

Yang saya ingat dari penemuan pertama dengan STA pada Desember 1945 ialah dia murah senyum, suaranya lembut, bicaranya lamban. Dia mengenakan celana pendek, bukan pantalon, memakai kaos kaki panjang, mungkin akibat krisis tekstil yang melanda di zaman Jepang, dan belum teratasi.

Di zaman Jepang STA bekerja di Kantor Bahasa. Dalam Komisi Bahasa yang menerjemahkan istilah-istilah Belanda ke dalam bahasa Indonesia dia dibantu oleh Soebadio Sasirosatomo, Miriam Saleh (kelak Budiardjo), dr Abdul Halim, dan dr Sutomo Tjondronegoro. Penyair Chairil Anwar sering datang ke Kantor Bahasa untuk bcrcakap-cakap dengan STA dan Ida Nasution, gadis yang pintar menulis dan tajani pemikirannya (kelak hilang tak tentu rimbanya di zaman revolusi).

Karena pergaulannya dengan Soebadio Sastrosatomo dan melalui itu dia mengenal sejumlah mahasiswa kedokteran seperti Socdjat-moko, Soedarpo Sastrosatomo, dan Iwan Suryo Santoso, karena masih ada hubungan kekeluargaan dengan Sutan Sjahrir, maka STA secara wajar masuk Partai Sosialis. Di zaman Jepang, berbeda dengan Soekarno-Hatta yang bekerja sama dengan Jepang, Sjahrir menolak fasisme serta kerja sama dengan Jepang, la memilih bergerak di bawah tanah, memimpin under-

ground movement. Dia mendirikan jaringan kader di beberapa kota di Jawa. Mendengarkan dan memonitor siaran radio Sekutu secara gelap dengan tujuan mengumpulkan informasi mengenai gerak-gerik tentara Jepang di medan perang melawan Sekutu. Dia juga menyebarkan informasi ke seluruh kader supaya mempersiapkan diri dan lahu bertindak, apabila Jepang kalah perang, suatu hal yang pasii bakal dalang..

STA terlibat dalam gerakan di bawah tanah. Dia diminta oleh Soe-badio Sasimsatomo dan kawan-kawan menulis sebuah naskah yang menguraikan pemikirannya mengenai demokrasi, sosialisme, dan kemerdekaan. Sial, naskah itu jatuh ke tangan intel politik Jepang. Akibatnya, Soebadio ditangkap, dimasukkan ke dalam sel polisi. Begitu pula halnya dengan STA. Dia ditahan, lapi tidak lama. Menjelang proklamasi kemerdekaan dia sudah dibebaskan.

Sesudah penemuan pertama dengan STA pada Desember 1945 saya praktis tiada hubungan dengan STA. Dia aktif di bidang pendidikan di Jakarta seperti mendirikan SMA sore untuk menolong anak-anak golongan Republikein melanjutkan pelajaran. Dia ikui menggerakkan adanya universitas darurat pro-kiblik untuk menandingi Universileit Indonesia yang didirikan Belanda di Jakarta.

Saya memandang STA sebagai orang yang luar biasa. Di mata saya dia pengarang yang prolifik. Betapa tidak. Segala macam topik disentuhnya. Sastra, filsafat, bahasa, semua dikupas dan dituangkan ke dalam buku.

STA yang dilahirkan di Natal, Tapanuli, dianggap orang Bengkulu. Sebenarnya ibu STA adalah orang Natal. Ayahnya juga orang Natal yang pergi merantau ke Bengkulu dan bermukim di situ. Ketika pada 1956 di Sumatera timbul gerakan Dewan Banteng, Dewan Gajah, dan


Dewan Garuda yang menuntut agar pemerintah pusat memperlakukan daerah lebih adil dalam hal pembagian pendatapan. juga agar Presiden Soekarno mengambil jarak dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), STA diangkat menjadi ketua Badan Persatuan Adat Seluruh Sumatera. Akibatnya, STA dikenakan tahanan kota, tidak bisa terbang ke Palembang bertalian dengan urusan gerakan daerah.

Tapi pada 1957 STA mendapat undangan menghadiri Kongres Pen Club di Tokyo. Berkat bantuan PM Djuanda dia diizinkan pergi. Di Tokyo dia tinggal beberapa waktu lamanya. Di tanah air berkembang gerakan PRRl-Permesta yang pada Januari 1958 dideklarasikan secara resmi di Padang oleh Kolonel Ahmad Hussin. STA berada di Eropa ketika Kolonel Barlian meletakkan jabatannya di Palembang. STA memuluskan untuk tinggal di Eropa. Kemudian STA pindah ke Amerika dan di sana mempelajari behavioral sciences.

Di Indonesia pengaruh politik PKI berkat rangkulan Presiden Soekarno semakin naik daun. Orang-orang PKI semakin bersemangat memojokkan lawan-lawan politik mereka. Terutama yang jadi sasaran komunis ialah orang-orang PSI yang disebut dengan penamaan ejekan Soska (Sosialis Kanan). PKI menghantam STA yang dikatakan sebagai orang PSI Soska,

Usmar Ismail, sutradara Perfini yang membuat nim cerita berdasarkan roman STA berjudul Perempuan di Sarang Penyamun dicaci maki sebagai orang PSI. Padahal Usmar adalah anggota Lesbumi, organisasi kebudayaan yang berasosiasi dengan Nahdatul Ulama (NU). Film tersebut diboikot oleh golongan komunis untuk menghukum STA yang PSI.

Pada 1968 STA kembali ke Indo-nesia. Keadaan di tanah air telah banyak berubah. G-30-S/PKJ gagal. Sckembalinya dari pengasingan yang dipilihnya sendiri selama bertahun-tahun STA lalu memilih pekerjaan yang disukainya sebagai pendidik, pengarang, pemikir, dan budayawan dalam arti seluas-luasnya.

Maka STA lalu menjadi rektor Universitas Nasional merangkap ketua Yayasan Universitas Nasional. Pada 1969 STA diminta menge-tuai Akademi Jakarta yang didirikan atas inisiatif dan konsep budaya Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Pada waktu itu saya dapal kesempatan membaca karya STA mengenai sistem nilai-nilai yang memerlukan waktu tujuh tahun untuk merampungkannya. Setelah saya baca karyanya kekaguman saya terhadap STA bertambah. Orang ini bukan saja mempunyai disiplin diri sendiri yang kuat untuk mempelajari, meriset balian studi yang dipilihnya, melainkan juga tersihir oleh magnificent obsession yang tidak bisa dilepaskan sampai tugas selesai.

Aktivitas STA berikutnya ialah mendirikan Balai ScniToyabungkah di Bali. STA mengajak saya melihat-lihat Balai Seni Toyabungkah yang merupakan kebanggaannya. Seorang penari ternama Ibu (Kctui) Reneng merupakan bagian dari Toyabungkah dan mempertunjukkan tari Bali di situ. Saya pikir apa lagi yang dilakukan insan energik STA ini?

STA menulis novel yang dikirimkannya kepada saya berjudul Gmita Azura. Orang ini betul-betul prolifik. Karya tulisannya seakan-akan tidak pernah mati mata airnya. Mengalir terus. Sudah selesai? Belum. Sebelum STA meninggal, dengan tidak meninggalkan obsesinya mengenai filsafat yang dianggapnya induk segala ilmu, dia rajin mempelajari Islam. Lalu setiap kali bertemu dengan saya dia bicara tentang pengetahuan dan insight baru yang diperolehnya mengenai Islam.

Kadang-kadang saya antarkan STA ke tempat kerjanya, bila mobil yang saya tumpangi lewat di jalan itu. Dengan suaranya yang lembut dia menganjurkan kepada saya untuk menulis buku. Jangan lupa itu, tulis buku, katanya. Saya diam sejurus. Rupanya sang maestro sama sekali tidak sadar saya telah menulis buku lebih dari tiga puluh banyaknya meliputi aneka ragam topik.

Mobil berhenti di Jalan Dr


Sahardjo. STA turun melangkah agak terpincang-pincang. Take care. Bung, kata saya. Terima kasih, balas The Great STA.

Mengapa saya bilang The Great STA? Betapa tidak. Ia bisa menulis buku yang berkaitan dengan values as integrating forces. Ia bisa mengembangkan konsep tentang mengadakan Islamic studies di Universitas Nasional. Ia penganjur kuat agar manusia Indonesia menerima kebudayaan Barat, bersikap rasional, ingin maju dalam kehidupan.

Itu di masa mudanya. Di hari lantik sanjo, dia pun sama tegas menganjurkan bahwa karena penduduk Islam hampir 90 persen dalam masyarakat kila, maka tanggung jawab yang terbesar ada pada penduduk yang beragama Islam dan hidup dalam kebudayaan Islam. Dia menekankan bahwa dunia Islam harus berkembang dalam waktu1* yang secepat-cepatnya. Organisasi dan kemakmurannya harus dibenahi. Tidak ada orang yang miskin dan semua orang yang tidak mempunyai pekerjaan adalah tanggung jawab negara. Mereka berhak akan hidup yang layak sehingga tidak usah menerima sedekah dan mengemis-ngcmis. Demikian kata STA. Sejurus saya merenung, apakah itu suara seorang sosialis-demokrat, seorang PSI yang dianut oleh STA di masa muda, ataukah suara seorang muslim yang telah membaca ajaran agama Islam ibarat a new-born muslim sebagaimana tampak ditunjukkan STA. Ataukah semua iiu perwujudan dari hal yang satu sama lain juga ada pada manusia seperti STA, dari dulu hingga akhir hayatnya?

Saya tiada bertemu lagi dengan STA di hari-hari menjelang tutup usianya. Apakah segala nilai beserta sistem yang telah diajarkan dan dianjurkannya sebagai pendidik, sebagai pengarang, sebagai insan politik dan entah apa lagi selama hidupnya sudah dimengerti dan dilaksanakan oleh mereka yang mendengarkannya. Wallahu alam.

Betapa pun saya ingin menyampaikan salam hormat kepada seorang cendekiawan besar dan seorang sahabat sejati, yang tiada duanya, the one and only STA. Semoga Tuhan melapangkan arwahnya di alam kubur. Semoga Tuhan menerima arwahnya di sisi-Nya.

Menanti Film Ayat-Ayat Cinta

FILM Ayat-Ayat Cinta (AAC) belum juga diputar sampai sekarang - saat tulisan ini dibuat. Kapan? Pertanyaan ini pasti diajukan oleh jutaan pembaca AAC di negeri ini. Pertanyaan ini juga diajukan oleh siswa-siswaku yang sudah terlanjur aku racuni untuk menonton film ini. Padahal mereka sudah mengumpulkan uang secara kolektif untuk menonton nim ini bersama-sama. Aku tidak tahu apa yang membual film ini tertunda sebulan lebih dari rencana awalnya saat peluncuran, yaitu akan diputar serentang tanggal 10 Januari lalu.

Aku memang menganjurkan - untuk tidak mengatakan mewajibkan - kepada siswa-siswaku untuk menyaksikan film ini. Anjuran ini terutama kuajukan kepada siswa-siswa kelas Xl Jurusan Bahasa dan anak-anak Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI) binaanku. Aku tidak asal menganjurkan untuk sekadar menonton. Kepada mereka aku wajibkan dulu untuk membaea novelnya. Kemudian, aku juga berencana akan menyertakan kepada mereka lembar tugas untuk diisi setelah kegiatan menonton.

Aku memang punya kebiasaan menganjurkan kepada siswa-siswaku untuk membaea atau menyaksikan sesuatu jika aku menganggap buku atau objek saksian itu pantas untuk mereka nikmati. Begitu juga terhadap novel AAC karya Habiburahman El Shirazy ini. Jauh sebelum adanya isu bahwa film AAC akan digarap, aku sudah menyarankan kepada siswaku untuk membaea novel tersebut. Apalagi setelah tahu novel itu telah difilmkan, maka makin gencarlah aku mcngampanyckannya.

Karya fenomenal

Novel AAC memang karya yang luar biasa. Jarang-jarang ada novel yang mampu meng-harubirukan perasaanku usai membacanya. Kang Abik, demikian si pengarang novel ini biasa dipanggil, telah mampu merangkum semua persoalan budaya, politik, dakwah, pendidikan, etika, dan cinta dalam satu atsmo-fir yang kaya. Pengarang bukan hanya mampu mendeskripsikan Mesir dan permasalah manusia yang menghuninya pada imaji kita, tapi juga seakan menghadirkan diri kila lahir batin pada peradaban di tepi sungai Nil itu.

Kang Abik, sang novelis yang menyelesaikan Sl dan S2-nyadari tahun 1995 sampai 2001 di Kairo ini, telah berhasil menghidupkan tokoh-tokoh rekaannya dalam lingkungan kehidupan pembacanya. Dari tokoh Fahril bin Abdillah yang berdiri pada sosok idealis danagamis, sampai tokoh Maria Girgis, Nurul, Noura, dan Aisha, yang menempatkan diri sebagai perempuan-perempuan yang mengantarkan alur dan menciptakan konflik cerita hingga begitu bersahaja. Tak ada salu titik pun dari kerangka cerita yang dibuat pengarang dapat terabaikan oleh pembaca.

Aku memang betul-betul terpikat dengan isi dan gaya pencernaan Kang Abik. Apalagi, rasanya, sudah lama tak ada novel romantisme islami semacam AAC ini menjadi isu pustaka terbesar di negeri ini. Pasca Di Bawah Lindungan Kabah-nya Hamka, mungkin hanya novel AAC inilah yang dapat menandinginya. Sementara novel-novel Indonesia kebanyakan yang beredar selama ini lebih banyak dikuasai oleh romantisme sekuler dan romantisme patriotis. Ada juga yang bertema romantisme islami, tapi hanya beredar pada kumpulan cerpen, semacam yang dipopulerkan Forum Lingkar Pena.

Aku pertama kali melihat novel ini di sebuah toko buku besar negeri ini sekitar akhir tahun 2005. Namun, aku justru membelinya di pusat buku Kwitang awal 2006 (aku mohon maaf kepada Kang Abik karena mengawali memiliki novelnya dengan membeli buku bajakannya!). Setelah membaea tuntas AAC, aku justru terhipnotis unuk mencari dan membaea novel-novel Kang Abik lainnya. Maka, menyusullah kemudian novel Ketika Cinta Bertasbih /, Di Alas Sajadah Cinta, Dalam Mihrab Cinta, dan Ketika Cinta Berbuah Surga untuk antre aku lumat (alhamdulillah keempat karya Kang Abik tersebut aku beli produk aslinya!).

Mewujudkan imaji


Ketika muncul isu bahwa AAC akan difilmkan, aku termasuk salah satu dari jutaan pembaca yang gembira. Aku pikir, inilah saatnya kembali aku mencerdaskan otak kananku untuk membuktikan imajinasiku sementara ini terhadap isi dan tokoh-tokoh dalam novel tersebut. Ada keasyikkan tersendiri bila apa yang ada di angan-angan dapat diwujudkan. Begitu pula akan apa yang kubayangkan mengenai AAC versi tertulis, pastilah sangat bersemangat bila bisa diwujudkan dalam bentuk visual, sekalipun hanya di layar perak.

Aku punya pengalaman banyak dalam membuktikan imajiku terhadap sesuatu objek dengan menyaksikan visualnya di layar lebar. Sekitar tahun 1983 ke alas, dunia radio di Indonesia diramaikan dengan sandiwara radio Saur Sepuh dan sejenisnya. Saat itu, semua telinga rakyat negeri ini terhipnotis dengan cerita karya Niki Kosasih itu. Semua pendengar mempunyai


Oleh Zulfaisal Putera*imaji tersendiri tentang tokoh-tokoh semacam Brama Kumbara, Mantili, dan Kerajaan Ma-dangkara. Dan ketika sandiwara itu dihidupkan dalam film layar lebar, maka berduyun-duyun-lah rakyat negeri ini (termasuk diriku) memenuhi gedung-gedung bioskop.

Masih soal sandiwara radio, radio Prambors Jakarta sekitar tahun 1986-an ke atas pernah mempproduksi drama radio Catatan Si Boy. Cerita gaya anak muda Jakarta ini begitu populer hingga melahirkan banyak trend, baik gaya bicara maupun gaya bergaul pada remaja saal itu. Popularitas tokoh rekaan seperti Boy dan Emon begitu menarik perhatian pendengar masa itu hingga dibuatkanlah filmnya. Catatan Si Boy versi layar lebar temyata meledak luar biasa. Kesuksesan film ini membuat produser membual lanjutannya hingga Catatan Si Boy 5.

Sebelumnya, pada awal 80-an, majalah Hai memuat secara seri cerita Lupus karya Hilman Hariwijaya. Cerita berseri itu kemudian disatukan dalam buku. Pembaca tentu masih ingat dengan Topi-Topi Ccntil, Cinta Olimpiade. Sandal Jepit dan beberapa lagi judul serial Lupus itu. Anak-anak muda negeri kala itu tentu juga sangat terkesan dengan konyolnya tokoh-tokoh macam Lupus, Boim, atau Lulu. Karya rekaan Hilman itu pun akhirnya difilmkan. Kita pun kembali menengok layar bioskop untuk melihat visualnya.

Begitu juga jika kita menengok di masa jaya-jayanya TVRI. Ketika itu, roman klasik seperti Siti Nurbaya karya Marah Rusli dan Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati yang sudah memasyarakat di dunia pustaka sejak zaman Balai Pustaka, dicoba dihidupkan dalam bentuk sinema elektronik (Sinetron). Para penonton setia TVRI (karena saat itu masih sebagai satu-satunya stasiun televisi di Indonesia) harus sabar menyaksikan tiap episode sinetron yang ditayangkan satu kali dalam seminggu itu.

Banyak lagi yang bisa dicatat bagaimana karya-karya bentuk tertulis dan bentuk suara dihidupkan ke dalam bentuk cinema. Sebut saja novel-novel karya Eddy D. Iskandar, Tilie Said, Mira W., dan Marga T. Ada juga komik-komik silat karya Hasmi, Ganes TH., Jan Mintaraga, R.A. Kosasih, dan Wid N.S. Begitu juga sandiwara radio pasca-Saur Sepuh macam Babad Tanah Leluhuh. Misteri Gunung Merapi, dan Tutur Tinular Hampir seluruh karya-karyafenomenal itu telah dihadirkan wujudnya pada perfilman nasional.

Yang paling akhir dan dahsyat adalah di-filmkannya karya-karya besar J.K. Rowling dengan tokoh rekaannya Harry Potter. Berjuta-juta penduduk dunia yang membaea novel itu begitu terbius dengan tokoh sihir Harry Potter. Begitu juga pembaca di Indonesia, peluncuran terjemahan novel-novel itu dinanti-nanti dan diburu setiap kali terbit. Dan ketika cerita yang kaya dengan perang ilmu-ilmu sihir itu difilmkan, semua perhatian orang tersedot ke gedung-gedung bioskop.

Secara umum, karya-karya fiksi tertulis dan lisan yang difilmkan itu sukses besar. Sukses dalam ukuran keberhasilan menyedot jumlah penonton. Semua pembaca novel dan komik serta pendengar radio saat itu puas dengan cerita dan tokoh-tokoh yang telah dihidupkan pada layar lebar itu. Aku dan mungkin juga pembaca sudah merasa bahwa apa yang ada dalam imaji selama ini terhadap tokoh dan latar cerita yang dibaca dan didengar benar-benar sesuai ketika dihadirkan wujudnya di film.

Ketika itu, kita semua bisa benerima ketika Brama Kumbara dalam Saur Sepuh hadir dalam wujud Fendi Pradana, Boy dalam Catatan Si Boy hadir dalam sosok Onky Alexander dan Emon hadir dalam kegenitan Didi Pelet, Galih Rakasiwi dalam Gita Cinta dari SMA hadir dalam diri Rano Karno, Siti Nurbaya hadir dalam kelembutan Novia Ko-lopaking dan Datuk Maringgih dalam tokoh HLM. Damsik, Si Buta dari Goa Hantu menjelma dalam diri Ratno Timur, serta Harry Potter dalam kecerdasan Daniel Radcliffe.

Namun, pernah juga kita semua kecewa ketika Lupus karya Hilman Hariwijaya pada awal-awalnya difilmkan. Tokoh Lupus yang diperankan Ryan Hidayat ternyata telah mematahkan imaji pembaca akan sosok Lupus. Tampilan Lupus yang agak tinggi kurus, cuek, rambut jambul gaya Freddy Mercury, dan dengan tatapan mata yang kalem, tak tercermin pada tampilan Ryan yang agak maskulin. Akibatnya. Ryan tak dipakai lagi pada film kedua Lupus. Dan perannya diganti oleh penulis cerita itu sendiri, yaitu Hilman Hariwijaya.

Siap kecewa


Bagaimana nasib AAC ketika hadir dalam bentuk film? Apakah betul-betul bisa mewujudkan imaji pembaca yang selama ini sudah terpenjara dengan rekaan yang dibuat Mas Abik? Apakah tampilan fisik dan karakter tokoh-tokoh rekaan dalam novel AAC di-perankan dengan sangat pas oleh artis-artis yang memerankannya? Itulah yang sedang aku dan pembaca tunggu-tunggu. Ada dugaan bahwa AAC edisi layar lebar itu akan mengecewakan imaji para pembacanya.

Perasaan tersebut muncul karena dua hal. Pertama, setelah aku membaea catatan yang dibuat oleh sutradara film AAC, Hanung Bramantyo, tentang Kisah di Balik Produksi Ayat-Ayat Cinta, yang aku dapatkan pada blog Hanung di http//dearestmask.blogs.friendster. com/myblog/2007/ll/kisahdibalik.html. Catatan yang dibuat dalam 3 bagian itu dengan jelas menggambarkan bagaimana scrunya proses produksi film ini dan bagaimana skenario film itu mengalami beberapa kali perombakan yang disesuaikan dengan budget dan lokasi pembuatan film sehingga makin jauh dari naskah dalam novel AAC.

Kedua, adanya misteri mengapa pemutaran film itu di bioskop tertunda sebulan lebih. Padahal Hlm itu sudah diluncurkan minggu kedua Januari dihadapan tokoh agama, pekerja seni, dan jurnalis negeri ini. Tersebar kabar bahwa Kang Abik agak kecewa dengan film tersebut karena ada banyak perbedaan dengan karya novelnya. Yang aku tahu, film itu 90% lokasi syutingnyadi Indonesia dan selebihnya di India. Tak satu scene-pun mengambil lokasi di Mesir seperti dalam novelnya. Apakah hal itu menjadi salah satu kekecewaaan Kang Abik? Apakah hal itu juga yang menyebabkan penundaan pemutaran film itu karena ada bagian-bagian yang harus direvisi.

Terlepas dari permasalahan yang muncul sejak awal proses produksi sampai film AAC siap diedarkan, masyarakat pembaca Indonesia tetap menantikan dengan berdcbar-debar film tersebut. Terlebih-lebih siswa-siswaku yang selama ini sudah terlanjur terpaksa membaea novel setebal 403 halaman itu. Mereka harus siap-siap untuk berurai air mala saat menyaksikan film itu. Baik menangis karena ceritanya betul-betul mengharukan seperti novelnya, maupun menangis karena menyesalkan penampilan filmnya yang jauh dari imaji yang selama ini ada saal membaea novelnya. Kita tunggu! Tabik