FILM Ayat-Ayat Cinta (AAC) belum juga diputar sampai sekarang - saat tulisan ini dibuat. Kapan? Pertanyaan ini pasti diajukan oleh jutaan pembaca AAC di negeri ini. Pertanyaan ini juga diajukan oleh siswa-siswaku yang sudah terlanjur aku racuni untuk menonton film ini. Padahal mereka sudah mengumpulkan uang secara kolektif untuk menonton nim ini bersama-sama. Aku tidak tahu apa yang membual film ini tertunda sebulan lebih dari rencana awalnya saat peluncuran, yaitu akan diputar serentang tanggal 10 Januari lalu.Aku memang menganjurkan - untuk tidak mengatakan mewajibkan - kepada siswa-siswaku untuk menyaksikan film ini. Anjuran ini terutama kuajukan kepada siswa-siswa kelas Xl Jurusan Bahasa dan anak-anak Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI) binaanku. Aku tidak asal menganjurkan untuk sekadar menonton. Kepada mereka aku wajibkan dulu untuk membaea novelnya. Kemudian, aku juga berencana akan menyertakan kepada mereka lembar tugas untuk diisi setelah kegiatan menonton.
Aku memang punya kebiasaan menganjurkan kepada siswa-siswaku untuk membaea atau menyaksikan sesuatu jika aku menganggap buku atau objek saksian itu pantas untuk mereka nikmati. Begitu juga terhadap novel AAC karya Habiburahman El Shirazy ini. Jauh sebelum adanya isu bahwa film AAC akan digarap, aku sudah menyarankan kepada siswaku untuk membaea novel tersebut. Apalagi setelah tahu novel itu telah difilmkan, maka makin gencarlah aku mcngampanyckannya.
Karya fenomenal
Novel AAC memang karya yang luar biasa. Jarang-jarang ada novel yang mampu meng-harubirukan perasaanku usai membacanya. Kang Abik, demikian si pengarang novel ini biasa dipanggil, telah mampu merangkum semua persoalan budaya, politik, dakwah, pendidikan, etika, dan cinta dalam satu atsmo-fir yang kaya. Pengarang bukan hanya mampu mendeskripsikan Mesir dan permasalah manusia yang menghuninya pada imaji kita, tapi juga seakan menghadirkan diri kila lahir batin pada peradaban di tepi sungai Nil itu.
Kang Abik, sang novelis yang menyelesaikan Sl dan S2-nyadari tahun 1995 sampai 2001 di Kairo ini, telah berhasil menghidupkan tokoh-tokoh rekaannya dalam lingkungan kehidupan pembacanya. Dari tokoh Fahril bin Abdillah yang berdiri pada sosok idealis danagamis, sampai tokoh Maria Girgis, Nurul, Noura, dan Aisha, yang menempatkan diri sebagai perempuan-perempuan yang mengantarkan alur dan menciptakan konflik cerita hingga begitu bersahaja. Tak ada salu titik pun dari kerangka cerita yang dibuat pengarang dapat terabaikan oleh pembaca.
Aku memang betul-betul terpikat dengan isi dan gaya pencernaan Kang Abik. Apalagi, rasanya, sudah lama tak ada novel romantisme islami semacam AAC ini menjadi isu pustaka terbesar di negeri ini. Pasca Di Bawah Lindungan Kabah-nya Hamka, mungkin hanya novel AAC inilah yang dapat menandinginya. Sementara novel-novel Indonesia kebanyakan yang beredar selama ini lebih banyak dikuasai oleh romantisme sekuler dan romantisme patriotis. Ada juga yang bertema romantisme islami, tapi hanya beredar pada kumpulan cerpen, semacam yang dipopulerkan Forum Lingkar Pena.
Aku pertama kali melihat novel ini di sebuah toko buku besar negeri ini sekitar akhir tahun 2005. Namun, aku justru membelinya di pusat buku Kwitang awal 2006 (aku mohon maaf kepada Kang Abik karena mengawali memiliki novelnya dengan membeli buku bajakannya!). Setelah membaea tuntas AAC, aku justru terhipnotis unuk mencari dan membaea novel-novel Kang Abik lainnya. Maka, menyusullah kemudian novel Ketika Cinta Bertasbih /, Di Alas Sajadah Cinta, Dalam Mihrab Cinta, dan Ketika Cinta Berbuah Surga untuk antre aku lumat (alhamdulillah keempat karya Kang Abik tersebut aku beli produk aslinya!).
Mewujudkan imaji
Ketika muncul isu bahwa AAC akan difilmkan, aku termasuk salah satu dari jutaan pembaca yang gembira. Aku pikir, inilah saatnya kembali aku mencerdaskan otak kananku untuk membuktikan imajinasiku sementara ini terhadap isi dan tokoh-tokoh dalam novel tersebut. Ada keasyikkan tersendiri bila apa yang ada di angan-angan dapat diwujudkan. Begitu pula akan apa yang kubayangkan mengenai AAC versi tertulis, pastilah sangat bersemangat bila bisa diwujudkan dalam bentuk visual, sekalipun hanya di layar perak.
Aku punya pengalaman banyak dalam membuktikan imajiku terhadap sesuatu objek dengan menyaksikan visualnya di layar lebar. Sekitar tahun 1983 ke alas, dunia radio di Indonesia diramaikan dengan sandiwara radio Saur Sepuh dan sejenisnya. Saat itu, semua telinga rakyat negeri ini terhipnotis dengan cerita karya Niki Kosasih itu. Semua pendengar mempunyai
Oleh Zulfaisal Putera*imaji tersendiri tentang tokoh-tokoh semacam Brama Kumbara, Mantili, dan Kerajaan Ma-dangkara. Dan ketika sandiwara itu dihidupkan dalam film layar lebar, maka berduyun-duyun-lah rakyat negeri ini (termasuk diriku) memenuhi gedung-gedung bioskop.
Masih soal sandiwara radio, radio Prambors Jakarta sekitar tahun 1986-an ke atas pernah mempproduksi drama radio Catatan Si Boy. Cerita gaya anak muda Jakarta ini begitu populer hingga melahirkan banyak trend, baik gaya bicara maupun gaya bergaul pada remaja saal itu. Popularitas tokoh rekaan seperti Boy dan Emon begitu menarik perhatian pendengar masa itu hingga dibuatkanlah filmnya. Catatan Si Boy versi layar lebar temyata meledak luar biasa. Kesuksesan film ini membuat produser membual lanjutannya hingga Catatan Si Boy 5.
Sebelumnya, pada awal 80-an, majalah Hai memuat secara seri cerita Lupus karya Hilman Hariwijaya. Cerita berseri itu kemudian disatukan dalam buku. Pembaca tentu masih ingat dengan Topi-Topi Ccntil, Cinta Olimpiade. Sandal Jepit dan beberapa lagi judul serial Lupus itu. Anak-anak muda negeri kala itu tentu juga sangat terkesan dengan konyolnya tokoh-tokoh macam Lupus, Boim, atau Lulu. Karya rekaan Hilman itu pun akhirnya difilmkan. Kita pun kembali menengok layar bioskop untuk melihat visualnya.
Begitu juga jika kita menengok di masa jaya-jayanya TVRI. Ketika itu, roman klasik seperti Siti Nurbaya karya Marah Rusli dan Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati yang sudah memasyarakat di dunia pustaka sejak zaman Balai Pustaka, dicoba dihidupkan dalam bentuk sinema elektronik (Sinetron). Para penonton setia TVRI (karena saat itu masih sebagai satu-satunya stasiun televisi di Indonesia) harus sabar menyaksikan tiap episode sinetron yang ditayangkan satu kali dalam seminggu itu.
Banyak lagi yang bisa dicatat bagaimana karya-karya bentuk tertulis dan bentuk suara dihidupkan ke dalam bentuk cinema. Sebut saja novel-novel karya Eddy D. Iskandar, Tilie Said, Mira W., dan Marga T. Ada juga komik-komik silat karya Hasmi, Ganes TH., Jan Mintaraga, R.A. Kosasih, dan Wid N.S. Begitu juga sandiwara radio pasca-Saur Sepuh macam Babad Tanah Leluhuh. Misteri Gunung Merapi, dan Tutur Tinular Hampir seluruh karya-karyafenomenal itu telah dihadirkan wujudnya pada perfilman nasional.
Yang paling akhir dan dahsyat adalah di-filmkannya karya-karya besar J.K. Rowling dengan tokoh rekaannya Harry Potter. Berjuta-juta penduduk dunia yang membaea novel itu begitu terbius dengan tokoh sihir Harry Potter. Begitu juga pembaca di Indonesia, peluncuran terjemahan novel-novel itu dinanti-nanti dan diburu setiap kali terbit. Dan ketika cerita yang kaya dengan perang ilmu-ilmu sihir itu difilmkan, semua perhatian orang tersedot ke gedung-gedung bioskop.
Secara umum, karya-karya fiksi tertulis dan lisan yang difilmkan itu sukses besar. Sukses dalam ukuran keberhasilan menyedot jumlah penonton. Semua pembaca novel dan komik serta pendengar radio saat itu puas dengan cerita dan tokoh-tokoh yang telah dihidupkan pada layar lebar itu. Aku dan mungkin juga pembaca sudah merasa bahwa apa yang ada dalam imaji selama ini terhadap tokoh dan latar cerita yang dibaca dan didengar benar-benar sesuai ketika dihadirkan wujudnya di film.
Ketika itu, kita semua bisa benerima ketika Brama Kumbara dalam Saur Sepuh hadir dalam wujud Fendi Pradana, Boy dalam Catatan Si Boy hadir dalam sosok Onky Alexander dan Emon hadir dalam kegenitan Didi Pelet, Galih Rakasiwi dalam Gita Cinta dari SMA hadir dalam diri Rano Karno, Siti Nurbaya hadir dalam kelembutan Novia Ko-lopaking dan Datuk Maringgih dalam tokoh HLM. Damsik, Si Buta dari Goa Hantu menjelma dalam diri Ratno Timur, serta Harry Potter dalam kecerdasan Daniel Radcliffe.
Namun, pernah juga kita semua kecewa ketika Lupus karya Hilman Hariwijaya pada awal-awalnya difilmkan. Tokoh Lupus yang diperankan Ryan Hidayat ternyata telah mematahkan imaji pembaca akan sosok Lupus. Tampilan Lupus yang agak tinggi kurus, cuek, rambut jambul gaya Freddy Mercury, dan dengan tatapan mata yang kalem, tak tercermin pada tampilan Ryan yang agak maskulin. Akibatnya. Ryan tak dipakai lagi pada film kedua Lupus. Dan perannya diganti oleh penulis cerita itu sendiri, yaitu Hilman Hariwijaya.
Siap kecewa
Bagaimana nasib AAC ketika hadir dalam bentuk film? Apakah betul-betul bisa mewujudkan imaji pembaca yang selama ini sudah terpenjara dengan rekaan yang dibuat Mas Abik? Apakah tampilan fisik dan karakter tokoh-tokoh rekaan dalam novel AAC di-perankan dengan sangat pas oleh artis-artis yang memerankannya? Itulah yang sedang aku dan pembaca tunggu-tunggu. Ada dugaan bahwa AAC edisi layar lebar itu akan mengecewakan imaji para pembacanya.
Perasaan tersebut muncul karena dua hal. Pertama, setelah aku membaea catatan yang dibuat oleh sutradara film AAC, Hanung Bramantyo, tentang Kisah di Balik Produksi Ayat-Ayat Cinta, yang aku dapatkan pada blog Hanung di http//dearestmask.blogs.friendster. com/myblog/2007/ll/kisahdibalik.html. Catatan yang dibuat dalam 3 bagian itu dengan jelas menggambarkan bagaimana scrunya proses produksi film ini dan bagaimana skenario film itu mengalami beberapa kali perombakan yang disesuaikan dengan budget dan lokasi pembuatan film sehingga makin jauh dari naskah dalam novel AAC.
Kedua, adanya misteri mengapa pemutaran film itu di bioskop tertunda sebulan lebih. Padahal Hlm itu sudah diluncurkan minggu kedua Januari dihadapan tokoh agama, pekerja seni, dan jurnalis negeri ini. Tersebar kabar bahwa Kang Abik agak kecewa dengan film tersebut karena ada banyak perbedaan dengan karya novelnya. Yang aku tahu, film itu 90% lokasi syutingnyadi Indonesia dan selebihnya di India. Tak satu scene-pun mengambil lokasi di Mesir seperti dalam novelnya. Apakah hal itu menjadi salah satu kekecewaaan Kang Abik? Apakah hal itu juga yang menyebabkan penundaan pemutaran film itu karena ada bagian-bagian yang harus direvisi.
Terlepas dari permasalahan yang muncul sejak awal proses produksi sampai film AAC siap diedarkan, masyarakat pembaca Indonesia tetap menantikan dengan berdcbar-debar film tersebut. Terlebih-lebih siswa-siswaku yang selama ini sudah terlanjur terpaksa membaea novel setebal 403 halaman itu. Mereka harus siap-siap untuk berurai air mala saat menyaksikan film itu. Baik menangis karena ceritanya betul-betul mengharukan seperti novelnya, maupun menangis karena menyesalkan penampilan filmnya yang jauh dari imaji yang selama ini ada saal membaea novelnya. Kita tunggu! Tabik