![]() |
| sutan takdir alisjahbana |
Presiden Soekarno, 44; Wakil Presiden Mohammad Hatta, 43; dan Perdana Menteri Sulan Sjahrir, 36. Triwnviral itu melakukan perjalanan bersama ke pedalaman Jawa. Mau memperkenalkan diri secara fisik dan personal, mau menyampaikan terima kasih kepada rakyat yang telah mendukung Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, mau menghormati kebangkitan masal pemuda beserta rakyat dalam perjuangan heroik di Surabaya pada 10 November 1945 melawan tentara Inggris.
Yang saya ingat dari penemuan pertama dengan STA pada Desember 1945 ialah dia murah senyum, suaranya lembut, bicaranya lamban. Dia mengenakan celana pendek, bukan pantalon, memakai kaos kaki panjang, mungkin akibat krisis tekstil yang melanda di zaman Jepang, dan belum teratasi.
Di zaman Jepang STA bekerja di Kantor Bahasa. Dalam Komisi Bahasa yang menerjemahkan istilah-istilah Belanda ke dalam bahasa Indonesia dia dibantu oleh Soebadio Sasirosatomo, Miriam Saleh (kelak Budiardjo), dr Abdul Halim, dan dr Sutomo Tjondronegoro. Penyair Chairil Anwar sering datang ke Kantor Bahasa untuk bcrcakap-cakap dengan STA dan Ida Nasution, gadis yang pintar menulis dan tajani pemikirannya (kelak hilang tak tentu rimbanya di zaman revolusi).
Karena pergaulannya dengan Soebadio Sastrosatomo dan melalui itu dia mengenal sejumlah mahasiswa kedokteran seperti Socdjat-moko, Soedarpo Sastrosatomo, dan Iwan Suryo Santoso, karena masih ada hubungan kekeluargaan dengan Sutan Sjahrir, maka STA secara wajar masuk Partai Sosialis. Di zaman Jepang, berbeda dengan Soekarno-Hatta yang bekerja sama dengan Jepang, Sjahrir menolak fasisme serta kerja sama dengan Jepang, la memilih bergerak di bawah tanah, memimpin under-
ground movement. Dia mendirikan jaringan kader di beberapa kota di Jawa. Mendengarkan dan memonitor siaran radio Sekutu secara gelap dengan tujuan mengumpulkan informasi mengenai gerak-gerik tentara Jepang di medan perang melawan Sekutu. Dia juga menyebarkan informasi ke seluruh kader supaya mempersiapkan diri dan lahu bertindak, apabila Jepang kalah perang, suatu hal yang pasii bakal dalang..
STA terlibat dalam gerakan di bawah tanah. Dia diminta oleh Soe-badio Sasimsatomo dan kawan-kawan menulis sebuah naskah yang menguraikan pemikirannya mengenai demokrasi, sosialisme, dan kemerdekaan. Sial, naskah itu jatuh ke tangan intel politik Jepang. Akibatnya, Soebadio ditangkap, dimasukkan ke dalam sel polisi. Begitu pula halnya dengan STA. Dia ditahan, lapi tidak lama. Menjelang proklamasi kemerdekaan dia sudah dibebaskan.
Sesudah penemuan pertama dengan STA pada Desember 1945 saya praktis tiada hubungan dengan STA. Dia aktif di bidang pendidikan di Jakarta seperti mendirikan SMA sore untuk menolong anak-anak golongan Republikein melanjutkan pelajaran. Dia ikui menggerakkan adanya universitas darurat pro-kiblik untuk menandingi Universileit Indonesia yang didirikan Belanda di Jakarta.
Saya memandang STA sebagai orang yang luar biasa. Di mata saya dia pengarang yang prolifik. Betapa tidak. Segala macam topik disentuhnya. Sastra, filsafat, bahasa, semua dikupas dan dituangkan ke dalam buku.
STA yang dilahirkan di Natal, Tapanuli, dianggap orang Bengkulu. Sebenarnya ibu STA adalah orang Natal. Ayahnya juga orang Natal yang pergi merantau ke Bengkulu dan bermukim di situ. Ketika pada 1956 di Sumatera timbul gerakan Dewan Banteng, Dewan Gajah, dan
Dewan Garuda yang menuntut agar pemerintah pusat memperlakukan daerah lebih adil dalam hal pembagian pendatapan. juga agar Presiden Soekarno mengambil jarak dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), STA diangkat menjadi ketua Badan Persatuan Adat Seluruh Sumatera. Akibatnya, STA dikenakan tahanan kota, tidak bisa terbang ke Palembang bertalian dengan urusan gerakan daerah.
Tapi pada 1957 STA mendapat undangan menghadiri Kongres Pen Club di Tokyo. Berkat bantuan PM Djuanda dia diizinkan pergi. Di Tokyo dia tinggal beberapa waktu lamanya. Di tanah air berkembang gerakan PRRl-Permesta yang pada Januari 1958 dideklarasikan secara resmi di Padang oleh Kolonel Ahmad Hussin. STA berada di Eropa ketika Kolonel Barlian meletakkan jabatannya di Palembang. STA memuluskan untuk tinggal di Eropa. Kemudian STA pindah ke Amerika dan di sana mempelajari behavioral sciences.
Di Indonesia pengaruh politik PKI berkat rangkulan Presiden Soekarno semakin naik daun. Orang-orang PKI semakin bersemangat memojokkan lawan-lawan politik mereka. Terutama yang jadi sasaran komunis ialah orang-orang PSI yang disebut dengan penamaan ejekan Soska (Sosialis Kanan). PKI menghantam STA yang dikatakan sebagai orang PSI Soska,
Usmar Ismail, sutradara Perfini yang membuat nim cerita berdasarkan roman STA berjudul Perempuan di Sarang Penyamun dicaci maki sebagai orang PSI. Padahal Usmar adalah anggota Lesbumi, organisasi kebudayaan yang berasosiasi dengan Nahdatul Ulama (NU). Film tersebut diboikot oleh golongan komunis untuk menghukum STA yang PSI.
Pada 1968 STA kembali ke Indo-nesia. Keadaan di tanah air telah banyak berubah. G-30-S/PKJ gagal. Sckembalinya dari pengasingan yang dipilihnya sendiri selama bertahun-tahun STA lalu memilih pekerjaan yang disukainya sebagai pendidik, pengarang, pemikir, dan budayawan dalam arti seluas-luasnya.
Maka STA lalu menjadi rektor Universitas Nasional merangkap ketua Yayasan Universitas Nasional. Pada 1969 STA diminta menge-tuai Akademi Jakarta yang didirikan atas inisiatif dan konsep budaya Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Pada waktu itu saya dapal kesempatan membaca karya STA mengenai sistem nilai-nilai yang memerlukan waktu tujuh tahun untuk merampungkannya. Setelah saya baca karyanya kekaguman saya terhadap STA bertambah. Orang ini bukan saja mempunyai disiplin diri sendiri yang kuat untuk mempelajari, meriset balian studi yang dipilihnya, melainkan juga tersihir oleh magnificent obsession yang tidak bisa dilepaskan sampai tugas selesai.
Aktivitas STA berikutnya ialah mendirikan Balai ScniToyabungkah di Bali. STA mengajak saya melihat-lihat Balai Seni Toyabungkah yang merupakan kebanggaannya. Seorang penari ternama Ibu (Kctui) Reneng merupakan bagian dari Toyabungkah dan mempertunjukkan tari Bali di situ. Saya pikir apa lagi yang dilakukan insan energik STA ini?
STA menulis novel yang dikirimkannya kepada saya berjudul Gmita Azura. Orang ini betul-betul prolifik. Karya tulisannya seakan-akan tidak pernah mati mata airnya. Mengalir terus. Sudah selesai? Belum. Sebelum STA meninggal, dengan tidak meninggalkan obsesinya mengenai filsafat yang dianggapnya induk segala ilmu, dia rajin mempelajari Islam. Lalu setiap kali bertemu dengan saya dia bicara tentang pengetahuan dan insight baru yang diperolehnya mengenai Islam.
Kadang-kadang saya antarkan STA ke tempat kerjanya, bila mobil yang saya tumpangi lewat di jalan itu. Dengan suaranya yang lembut dia menganjurkan kepada saya untuk menulis buku. Jangan lupa itu, tulis buku, katanya. Saya diam sejurus. Rupanya sang maestro sama sekali tidak sadar saya telah menulis buku lebih dari tiga puluh banyaknya meliputi aneka ragam topik.
Mobil berhenti di Jalan Dr
Sahardjo. STA turun melangkah agak terpincang-pincang. Take care. Bung, kata saya. Terima kasih, balas The Great STA.
Mengapa saya bilang The Great STA? Betapa tidak. Ia bisa menulis buku yang berkaitan dengan values as integrating forces. Ia bisa mengembangkan konsep tentang mengadakan Islamic studies di Universitas Nasional. Ia penganjur kuat agar manusia Indonesia menerima kebudayaan Barat, bersikap rasional, ingin maju dalam kehidupan.
Itu di masa mudanya. Di hari lantik sanjo, dia pun sama tegas menganjurkan bahwa karena penduduk Islam hampir 90 persen dalam masyarakat kila, maka tanggung jawab yang terbesar ada pada penduduk yang beragama Islam dan hidup dalam kebudayaan Islam. Dia menekankan bahwa dunia Islam harus berkembang dalam waktu1* yang secepat-cepatnya. Organisasi dan kemakmurannya harus dibenahi. Tidak ada orang yang miskin dan semua orang yang tidak mempunyai pekerjaan adalah tanggung jawab negara. Mereka berhak akan hidup yang layak sehingga tidak usah menerima sedekah dan mengemis-ngcmis. Demikian kata STA. Sejurus saya merenung, apakah itu suara seorang sosialis-demokrat, seorang PSI yang dianut oleh STA di masa muda, ataukah suara seorang muslim yang telah membaca ajaran agama Islam ibarat a new-born muslim sebagaimana tampak ditunjukkan STA. Ataukah semua iiu perwujudan dari hal yang satu sama lain juga ada pada manusia seperti STA, dari dulu hingga akhir hayatnya?
Saya tiada bertemu lagi dengan STA di hari-hari menjelang tutup usianya. Apakah segala nilai beserta sistem yang telah diajarkan dan dianjurkannya sebagai pendidik, sebagai pengarang, sebagai insan politik dan entah apa lagi selama hidupnya sudah dimengerti dan dilaksanakan oleh mereka yang mendengarkannya. Wallahu alam.
Betapa pun saya ingin menyampaikan salam hormat kepada seorang cendekiawan besar dan seorang sahabat sejati, yang tiada duanya, the one and only STA. Semoga Tuhan melapangkan arwahnya di alam kubur. Semoga Tuhan menerima arwahnya di sisi-Nya.
