Monday, February 18, 2019

DPHO Askes Semakin Diminati Produsen Obat

askes
 Konsep managed care yang diterapkan PT Askes dapat mengendalikan mutu dan biaya pelayanan kesehatan. Khusus untuk mengendalikan penggunaan obat. PT Askes menggunakan daftar dan plafon harga obat (DPHO)."Peran Askes dalam seminar health economics yang lalu sangat menarik perhatian ahli kesehatan masyarakat dari Amerika karena sejak 1997 telah memiliki DPHO yang dapat mengendalikan pemakaian obat secara rasional." kata Direktur Utama PT Askes, I Gede Subawa. kemarin.

Saat ini sekitar 100-an fa-bnkan atau produsen obat yang bergabung dalam DPHO merasa diuntungkan karena obatnya pasti terpakai dan obat di DPHO marjinnya tetap serta bersih dari biaya marketing. "Oleh karena itu meskipun harganya murah tetapi produsen tetap untung." kata Gede.Sehingga produsen obat pun semakin tertarik dengan DPHO Askes. Kini, obat kanker dan obat hepatitis telah tersedia dalam DPHO. Tetapi obat di DPHO Askes hanya obat yang sudah direstui atau teregislrasi oleh pemerintah." ujarnya.Gede mengatakan Tim 7 selalu menganalisa obat yang ada dalam DPHO apak.ih obat yang ada tetap cost effective atau tidak. Begitu juga dengan obat-obat baru, jika dalam test dan analisanya cost effective maka Tim 7 alon merekomendasikan untuk ditambahkan ke dalam DPHO.

"Jadi Tim 7 punya wewenang untuk menolak dan merekomendasikan obat baru untuk ditambahkan ke dalam DPHO. Obat yang efektif belum tentu harus murah. Obat kanker misalnya harganya sekitar Rp20juta tetapi dia satu atau dua kali kir bis sembuh, itu lebih efektif karena ada kepastian." ujarnya.

Tim 7 juga melakukan penelitian-penelilian terkait dengan biaya pelayanan kesehatan dan penggunaan obat yang efektif yang dibiayai oleh produsen dan sebagian lagi memanfaatkan dividen yang saat ini tidak disetor kepada pemerintah. Nantinya jika SJSN berjalan, semua obat bisa dipakai sehingga biaya obat dapat terkendali, terjangkau, tetapi jasa medis tentunya tetap diperhitungkan." kala Gede.

Saat ini. pihaknya menyeleksi provider dan mengajak provider untuk ikut memikirkan risiko biaya karena pelayanan kesehatan. "Polanya ke arah pola paket atau dengan sistem kapitasi. sekarang provider sudah tahu pemanfaatan bagi peserta sehingga ada negosiasi antara Askes dan provider." ujarnya.Menurut Gede, pelayanan berjenjang juga akan menghemat biaya pelayanan kesehatan. Untuk itu PT Askes telah memulai bekerjasama dengan dokter keluarga, utamanya dokter di klinik 24 jam yang bisa menjaga pasien selama 24 jam.

Honorarium yang diberikan kepada dokter keluarga memakai sistem kapitasi yakni sebesar Rp6.000 perkepalaperbulan. Diharapkan selain menjadi "penjaga gawang" di pelayanan lini pertama, dokter keluarga akan mengawali sistem rujukan berjenjang."Kalau tidak perlu ke rumah sakit, kenapa harus ke rumah sakit. Tetapi yang lebih penting, dokter bisa melakukan upaya promotif dan preventif. Kalau perlu dokter mendatang) rumah pasien untuk menjaga kesehatannya. Semakin rakyat sehat, dokternya semakin untung. Ada 40 ribu dokter umum bisa jadi dokter keluarga." ungkapnya.

Terkait kesiapan PT Askes menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Gede mengatakan pihaknya telah siap memperluas kepesertaan asuransi kesehatan sosial. "Kami tinggal menunggu peraturan pemerintah agar jelas siapa saja penerima bantuan dan benefit apa yang harus diberikan, dan tentang premi yang sesuai aktuaria. katanya.Menurutnya, masyarakat Indonesia saat ini sudah mulai mengetahui manfaat asuransi

kesehatan. "Askeskin adalah sosialisasi yang sangat bagus karena masyarakat di pedesaan pun menjadi tahu manfaat asuransi kesehatan,* katanya.Oleh karena itu. pihaknya sangat optimis SJSN dapat berjalan dan masyarakat pun dinilainya mampu membayar premi. "Memang negara berkewajiban memberi perlindungan kesehatan bagi rakyatnya, tetapi rakyat juga sebetulnya bisa. Contohnya, perokok menghabiskan berapa rupiah setiap bulan, itu bisa untuk membayar premi asuransi sosial." kata Gede.

Ditegaskan kembali bahwa PT Askes sebagai lembaga milik pemerintah, siap melaksanakan dan tidak boleh menolak tugas negara menjadi BPJS dan melaksanakan SJSN. "Saat ini sudah ada 125 kabupaten/kota sudah bekerjasama dengan PT askes, tahun ini minimal 200 kabupaten/kota jaminan kesehatan masyarakatanya dikelola oleh PT Askes," ujar-nya
Comments


EmoticonEmoticon