Wednesday, May 6, 2020

Napak Tilas Wartawan KMB1949


Dalam kaitan memperingati 60 tahun Konferensi Meja Bundar (KMB)-23 Agustus-2 November 1949-dan penyerahan kedaulatan-27 Desember 1949-Radio Nederland Wereldomroep (NRW) mengundang wartawan dari Indonesia yang meliput KMB 60 tahun lalu untuk berbagi pengalaman. Dari sekitar 12 wartawan yang kala itu meliput, tinggal tiga orang yang masih hidup, satu di antaranya Rosihan Anwar. Wartawan senior sekaligus pelaku sejarah itu menuliskan hasil perjalanannya selama sepekan di Nederland bulan Desember lalu di halaman ini dan halaman 35.Redaksi

Action...!

Saya mulai berjalan didampingi Febriyanti Sukmana di Ridderzaal Twede Kamer, parlemen Belanda, BinnenhofDen Haag, 23 Desember 2009 siang. Saya berucap, "Di sini 60 tahun yang lalu berlangsung upacara pembukaan resmi Konferensi Meja Bundar, Ronde Tafel Conferentie, 23 Agustus 1949 untuk mewujudkan penyerahan kedaulatan (souvereiniteits overdracht) dari Kerajaan Belanda kepada negara federal Republik Indonesia Serikat"

Seraya kami lewat di depan kursi tempat Ratu Beatrix mengucapkan Troonrede, pidato mahkota, juru kamera Junito Drias melakukan pengambilan gambar. Berkali-kali saya dimintanya mengulang gerak serupa guna memperoleh shots dari sudut jarak jauh hingga dekat, memfokus pada tongkat saya berkepala naga dan kepada jari-jari yang memegangnya.

Karena pengalaman sebagai aktor pemeran pembantu dalam film cerita, mulai dari Darah dan Doa (1950) arahan sutradara Usmar Ismail, Bapak Perfilman Nasional, hingga film Tjoet Nja Dien (1985), disutradarai Erros Djarot serta dibintangi Christine Hakim dan Slamet Raharjo-karena terbiasa mendengar perintah sutradara action dan cut-saya selesaikan apa yang harus di-acfti7-kan. Lama-lama kesal juga dan saya bergumam, "Gue nih lagi dikerjain."

Adegan berpindah. Saya duduk diwawancarai oleh Febriyanti dari Radio Hilversum, dalam dua bahasa, yakni Indonesia dan Belanda. Kemudian penyiar Yanti Mualim menyusul dengan wawancara berikut Dalam ruangan Ridderzaa) yang kosong itu, dengan lantai dihampari karpet berwarna jingga, hadir tiga orang yang turut bersama saya dari Jakarta, yaitu sejarawan Dr Rusjdi Hussein, putri bungsu saya, dr Naila Karim, SpM (Eia), dan suaminya, dr Roberth J Pattiselanno (Robby).

"Gawe" NRW

Apa pasal dengan kunjungan ke Negeri Belanda itu? .

Radio Nederland Wereldom-roep (NRW) punya gawe, yaitu memperingati tepat 60 tahun penyelenggaraan KMB (23 Agustus-2 November 1949) dan peristiwa penyerahan kedaulatan (27 Desember 1949). Maka, dicarinya wartawan-wartawan dari Indonesia yang meliput KMB untuk diundang ke Nederland, lalu bercerita mengenai pengalaman mereka. Ternyata wartawan KMB yang masih hidup adalah diri saya.

Saya coba mengenang dan mudah-mudahan memori ini masih kuat untuk tidak melakukan kesalahan fatal, maklum 60 tahun telah berlalu dan ambang pintu kepikunan sudah ada di depan.Adapun wartawan yang meliput KMB adalah BM Diah dan istrinya. Herawati (harian Merdeka, Jakarta); Adinegoro dan istri (majalah Mimbar Indonesia, Jakarta); Wonohito (JKedaulatan Rakyat, Yogyakarta); Sukrisno (Antara, Yogyakarta); Mohammad Said (Waspada, Medan); Kwee Kek Beng (Sm Po, Jakarta); Ir Pohan (majalah Spektra, Jakarta); RM Sutarto (Berita Film, Indonesia); EU Pupella (Ambon); serta Rosihan Anwar dan istrinya. Zuraida (Pedoman, Jakarta).

Teman-teman sejawat tadi telah meninggal dunia. Yang masih hidup tinggal Herawati Diah (92), Rosihan Anwar (87), dan Zuraida R Anwar (86).Saya terima undangan Radio Hilversum siaran bahasa Indonesia yang disampaikan oleh wartawannya, Jean van de Kok, di kediaman saya, dengan catatan agar saya didampingi oleh Dr Rusjdi Hussein yang semula adalah dokter medicus lulusan Universitas Indonesia dan menjelang masa pensiun mengikuti kuliah sejarah, lalu berhasil meraih gelar S-3 dengan disertasi tentang Perundingan Linggarjati (November 1946).

Putri sulung saya, dr Aida Fathya Darwis (Nonny), bersi-tekan agar terlebih dahulu saya check-up kepada dr Handoko Gunawan, Sp PP dan DR Idrus Alwi. Sp JP di Rumah Sakit MMG Sudah dua tahun saya tidak memeriksakan kesehatan kepada dr Handoko, ahli paru-paru. Dia menyimpulkan, "Kondisi lumayan, boleh berangkat"

Lain halnya dengan DR Idrus. Waktu ditensi, temyata tekanan darah saya 200 sistolik dan 100 diastolik. "Ini gawat Ganti obat yang dipakai dan kembali satu minggu lagi," katanya. Pada pemeriksaan berikut tekanan darah mencatat 140/70. Saya dibolehkan pergi ke Negeri Belanda.Namun, anak saya, dr Eia dan dr Robby, ingin mengawal dan menjaga saya, maka mereka ikut dalam perjalanan napak tilas wartawan KMB 1949.

Tiba di Schiphol

Setibanya di Bandara Schiphol, Minggu (20/12) pagi. Duta Besar RI pada Kerajaan Belanda Junus Effendi (Fanny) Habibie beserta sejumlah staf menyambut kedatangan kami Kepala Redaksi Indonesia NRW Sirtjo Koolhof juga ada

Di Bandara Kuala Lumpur dan di Schiphol saya kesulitan mendapat kereta roda untuk pengangkutan. Jarak cukup jauh. Kesehatan saya tak terlalu prima untuk berjalan kala Untung lewat pengemudi sebuah kereta golf dan saya diangkut-nya Munir dari protokol KBRI menunggu kami.

Dubes Fanny Habibie (72), yang khusus pada pagi buta dan suhu 10 derajat dibawah nol karena begitu care terhadap saya, datang ke Bandara Schiphol. Stafnya membawa sebuah mantel tebal untuk saya. Musim dingin tahun 2009 memang luar biasa. Saya dibawa ke mobil Pak Dubes. Waduh, di luar terminal bukan main dinginnya. Tubuh diterpa oleh angin kencang, muka serasa disayat-sayat sembilu. Sejak 1984 Nederland tidak lagi mengalami turunnya salju terhampar indah. Eia dan Robby tampak senang melihat salju pertama kal) dalam hidup mereka Bagi saya ini adalah untuk kedua kali.

Sensasi pertama saya alami di kampus North Western Reserve University di Michigan, Februari 1950, pasca-KMB. Atas beasiswa dari Rockefeller Foundation saya belajar ilmu dramaturgi di Amerika dan menonton tonil di Broadway, New York.

Dengan sepatu dibalut oleh boots dari karet, saya merancah tumpukan salju tebal di lapangan olahraga menuju gedung universitas. Pada hari itu pula saya baca di harian TTie New York Times sebuah berita kecil bahwa Panglima Besar Djenderal Sudirman tutup usia di Magelang. Jenderal Sudirman (1916-1950) setelah pecah aksi militer- Belanda kedua, 19 Desember 1948,dan para pemimpin RI, Soekarno, Hatta, dan Sjahrir, ditawan telah keluar dari Yogya memimpin perang gerilya melawan tentara Belanda

Saya kenang lagi tanggal 8 Juli 1949 di Desa Krejo, Kecamatan Ponjong, daerah Gunung Rendeng, saya dan Letkol Soeharto (kelak jadi Presiden) bertemu dengan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta dan dengan demikian meratakan jalan ke arah dimulainya KMB di Den Haag.Kami menginap di Wisma Duta di Wassenaar. Dalam perjalanan ke sana saya tanya kepada Fanny Habibie yang sudah tiga tahun bertugas di Negeri Belanda bagaimana hubungan politik antara Belanda dan Indonesia dewasa ini.

Acara NIOD batal

Acara pertama yang dijadwalkan adalah kunjungan ke Ne-derlands Instituut voor Oorlo-gsdocumentatie (Lembaga Belanda untuk Dokumen Pepe-rangan/NIOD) di Amsterdam. Kunjungan ialah untuk melihat dokumentasi yang disimpan di sana Ada kliping dari sebuah artikel saya yang dimuat dalam majalah Minggoean Merdeka pimpinan Herawati Diah, tanggal 17 Mei 1946, berjudul "Ditempat koekoe handak mentjek-am. Radio Indonesia di Djakarta. Tetap setia melakoekan ke-wadjiban masjarakat".

Kunjungan itu juga untuk bertemu dengan penulis Marije Plomp yang bekerja di NIOD. Pada awal Januari 2009 dia datang ke rumah saya untuk mencari bahan keterangan mengenai Piet de Queljoe, pegawai Kementerian Penerangan/Kepala Percetakan Negara tahun 1955, dan mengenai Frans Goedhart dari surat kabar Het Parool yang sebagai wartawan Belanda pertama menghadiri perayaan HUT Proklamasi 17 Agustus 1945 di Yogya, 17 Agustus 1946 di Gedung Negara

Akan tetapi, acara kunjungan ke NIOD di Amsterdam gagal. Sebab, badai salju, Senin, 21 Desember, telah menghalangi orang leluasa bepergian, pegawai tidak bisa masuk kantor, kereta api dan trem macet total.Alih-alih kami berempat, saya, Rusjdi, Eia, dan Robby, pergi ke Scheveningen mengunjungi Hotel Kurhaus. Waktu KMB ini merupakan tempafdelegasi Indonesia menginap dan bekerja

Saya berangkat dari Jakarta dengan pesawat Skymaster dari KLM pada 15 Agustus 1949 dan tiba di Schiphol tanggal 17 Agustus. Langsung saya ke Kurhaus.PM Hatta menyelenggarakan perayaan HUT keempat proklamasi. Di resepsi itu saya lihat Sultan Hamid dari Pontianak, Anak Agung Gde Agung, PM Negara Indonesia Timur. Mereka tokoh-tokoh BFO. Di antara tamu-tamu terdapat orang Belanda dari kalangan politisi dan pegawai pemerintah.

Mari saya bercerita sedikit tentang Hotel Kurhaus yang mengandung sepotong sejarah Eropa yang menarik. Asal mulanya ialah pada 1818 Jacob Pronk membangun sebuah tempat pemandian terbuat dari kayu. Orang masuk ke dalam tong-tong untuk mandi dalam air laut yang dipercaya punya daya menyembuhkan penyakit. Tahun 1885 tempat itu menjelma sebagai Kurhaus, artinya rumah pengobatan yang pertama terdiri atas sebuah bangsal untuk konser musik, 120 kamar, 2 restoran.

Dari tahun 1927 hingga tahun 1960-an Kurhaus menjadi pusat musik internasional. Tokoh-tokoh selebriti memberikan pertunjukan. Tercatat nama-nama seperti Maurice Chavalier, Duke Ellington, Edith Piaf, Maria Callas, dan Marlene Dietrich. Terakhir The Rolling Stones tahun 1965 untuk pertama kali memberikan pertunjukan di Eropa

Banyak kepala negara dan kalangan raja menginap di Kurhaus, seperti Carola, ratu dari Sachsen; Irene, putri dari Prus-sia; Presiden AS Harry Truman; PM Inggris Winston Churchil; Presiden Perancis Cary; dan Kaisar Jepang Hirohito.

Tahun 1969 Kurhaus ditutup dan setelah direnovasi dibuka kembali tahun 1979, lengkap dengan Casino Scheveningen. Banyak konferensi internasional telah berlangsung di Kurhaus. Namun, KMB tidak disebut sama sekali dalam buku tamu. Ketika mengunjungi Kurhaus, 60 tahun setelah KMB, saya dapatkan banyak perubahan dalam interiornya

Saya naik dengan lift ke ting- kat atas untuk melihat hasil renovasi Saya memandang ke Noordzee yang pada musim dingin bergolak ombaknya Saya ingat pada musim panas 1949 pergi ke pantai sesudah matahari silam bersama penyair Ed Hoomik dan pengarang Mies Bouwhuis. Zuraida Rosihan rada kaget melihat Ed Hoomik, si bule berbadan tinggi besar, dengan kalem membuka pakaiannya di pinggir laut

Tatkala meninggalkan Kurhaus saya ngomong dengan seorang karyawati masih muda Saya bilang, waktu 60 tahun yang silam diselenggarakan KMB atau RTC sebagai wartawan saya sering berada di Kurhaus. Tahukah Anda apa RTC itu? Tampaknya dia tidak paham. Pengetahuan umum generasi muda Belanda mengenai apa yang ter--jadi di negerinya mungkin tidak banyak. So much for history!

Agenda yang dilaksanakan ialah perekaman audiovisual di Ridderzaal Den Haag, 23 Desember, serta siaran live dan interaktif dengan pendengar di Studio NRW di Hilversum, 28 Desember, di mana saya sendiri dalam jam pertama diwawancarai dan di jam kedua diikutsertakan narasumber Dr Rusjdi Hussein dan wakil Dubes Umar Hadi.

Berbagai topik dibicarakan dalam perekaman video dan dalam siaran radio live, dari cerita human interest hingga politik akrual. Marilah saya sebutkan beberapa contoh, disajikan dengan kiat journalism-in-capsu-le-form (meminjam istilah The New York Times).

Bagaimana jalannya KMB?

Tiga delegasi yang berunding. Belanda, Republik Indonesia golongan Federal yang dihimpun dalam Bijzonder Federeal Overleg (BFO). Dalam praktik Republik dan BFO menyatu bila menghadapi Belanda Beberapa Komisi dibentuk Komisi Politik, di sana Hatta dominan; Ekonomi, di sana Dr Sumitro Djojohadikusumo menyangkal kebenaran angka-angka utang

yang diajukan Belanda; Komisi Pertahanan, di mana Republik diwakili oleh Dr J Leimena dan Kolonel TB Simatupang; serta Komisi Kebudayaan, di mana Mr Ali Sastroamijoyo berperan.

Bagaimana hasilnya KMB?

Belanda tidak bersedia menyerahkan Irian Barat kepada Republik Indonesia Serikat (RIS). Penyelesaiannya ditangguhkan untuk masa satu tahun. Tidak memuaskan. RIS harus mengoper utang Belanda yang telah dibuatnya untuk memerangi RI sejumlah 4.100 juta gulden, sedangkan menurut hitungan Dr Sumitro justru Belanda yang berutang kepada Indonesia lebih dari 500 juta gulden. Tidak memuaskan.

Di bidang pertahanan. Belanda mau membikin tentara KNIL sebagai intisari tentara RIS. Ini ditolak tegas oleh Leimena dan Simatupang, dan Belanda setuju TNI sebagai kekuatan pokok tentara RIS. Ini memuaskan. Jadi dalam hasil KMB ada plusnya dan minusnya

Poin perbedaan

Bagaimana dengan poin perbedaan, di satu pihak penyerahan kedaulatan (souvereiniteits overdracht), di lain pihak pengakuan kemerdekaan (vryheids arkenning)?

Belanda tidak mau mengakui proklamasi 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta Belanda hanya mengakui penyerahan kedaulatan tanggal 27 Desember 1949 sebagai bermulanya negara merdeka berdaulat berbentuk federal, yaitu RIS.Belanda mempunyai pola pikir legalistik. Dia menganggap secara hukum internasional masih heer en meester (tuan dan penguasa) atas Hindia Belanda

Tapi, sikap Indonesia ialah Soekarno-Hatta sudah memproklamasikan atas nama bangsa Indonesia kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Maka soalnya telah selesai. Saya tegaskan dalam bahasa Perancis Soil Fini. Dat is het (Demikian adanya Selesai. Itulah adanya).

Dalam siaran radio live. 28 Desember, yang dipandu oleh Yanti Mualim dan Jean van de Kok masuk 24 SMS dari pendengar dengan pertanyaan dan komentar dari berbagai kota dan daerah di Indonesia Ada satu setengah juta pendengar Radio Hilversum di Indonesia

Kebanggaan Bung Hatta

Mengapa Bung Hatta yang menerima penyerahan kedaulatan dalam upacara di Istana di Amsterdam tanggal 17 Desember 1949?

Karena secara formal Bung Hatta selaku Wapres dan PM yang memimpin delegasi Indonesia dalam KMB. Bung Karno menganggap kita sudah merdeka, buat apa itu penyerahan kedaulatan? Untuk tambahan informasi bagi para pendengar, saya bercerita pernah bertanya kepada Hatta apakah yang penting dalam hidupnya, apa highlights kariernya? Bung Hatta menjawab dua hal.

"Pertama, saya ko-proklama-tor kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Kedua, saya yang menerima penyerahan kedaulatan". Hatta dalam pidato sambutannya pada upacara penyerahan kedaulatan dengan nada bangga dan suara nyaring menegaskan, "Rakyat Indonesia sudah merasa lega dengan lenyapnya kolonialisme di Indonesia dan dengan susunan hukum baru berdasarkan Pancasila"

Mengapa Pemerintah Belanda tidak mengakui proklamasi 17 Agustus 1945?

Saya belum sempat memasuki otak orang-orang Belanda itu. Berspekulasi di sini tidak baik. Cukuplah jawaban ini.
Dalam pada itu tidak tersedia waktu bagi saya untuk menyampaikan fakta bahwa PM Belanda JP Balkenende telah mengakui Proklamasi Kemerdekaan kita, 17 Agustus 1945, dan Menteri Luar Negeri Belanda Bernard Bot menghadiri perayaan 17 Agustus di Istana Merdeka pada 2005.

Bot, yang lahir di Jakarta masuk kamp intemiran pada zaman Jepang, berani datang ke Jakarta dan dengan melawan sikap kaum veteran Belanda yang berperang di Indonesia telah memberitahukan kepada Indonesia bahwa Negeri Belanda pada saat aksi polisionil telah berdiri aan de verkeerdekant van de geschiedenis (di tempat yang keliru dari sejarah).

Sebagaimana dimaklumi akibat tekanan kaum veteran Belanda Ratu Beatrix pada 1995 tidaklah menghadiri perayaan HUT ke-50 proklamasi kemerdekaan, tapi tiba di Jakarta beberapa hari kemudian. Totergenis van de Indonesiers (menyebalkan orang-orang Indonesia), demikian tulis sebuah majalah Belanda

Mengapa Indonesia yang sudah merdeka ikut dalam KMB? Realitasnya ialah kita masih berhadapan dengan Belanda Rusjdi Hussein menambahkan dengan uraian sejarah sebelum KMB, tentang Perundingan Hoge Valuwe awal 1946, tentang Perundingan Linggarjati pada November 1946.

Saya utarakan pula sikap realistis PM Sutan Sjahrir. Dia menilai, tentara Indonesia tidak setara dengan tentara Belanda yang modern persenjataannya Dia tidak setuju dengan usul Ho Chi Minh agar Indonesia dan Vietnam bersama-sama melawan kolonialisme-imperialisme sebagaimana termaktub dalam surat Ho Chi Minh kepada Wakil Presiden Mohammad Hatta

Surat itu dibawa oleh wartawan Newsweek Amerika Harold lsaacs. ke Jakarta awal 1946. Bagi Sjahrir, menerima usul Ho Chi Minh itu berarti menambah musuh. Cukuplah satu saja, yaitu Belanda Berlarut-larutnya perang di Vietnam . melawan Perancis dan kemudian Amerika telah meminta korban jutaan orang Vietnam.

Sjahrir yang realistis mau mencegah keadaan itu di Indonesia Strateginya ialah politik diplomasi berbareng dengan perjuangan bersenjata Bagaimana pendapat Anda tentang petisi sejumlah intelektual Belanda yang kini mendesak pemerintahnya untuk mengakui kemerdekaan Indonesia yang dimulai 17 Agustus 1945?

Silakan saja Yang penting kita bekerja sama ke masa datang. H ROSIHAN ANWAR, Wartawan Senior

Tuesday, May 5, 2020

Terjadi karena Berbagai Faktor Banyak Investor Angkat Kaki



Puriaman, Singgalang


Banyaknya investor yang angkat kaki dari suatu daerah karena terganjal berbagai persoalan, kiranya perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Pemerintah kabupaten/kota perlu membuat regulasi yang tegas terkait pemberian kepastian kenyamanan dalam berinvestasi.

Penegasan itu dikatakan Ketua Kadin Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman H. Bgd. Jamohor kepada Singga-lang, Selasa (5/2). Menurutnya, tidak adanya kepastian yang jelas dalam berinvestasi, tak urung membuat banyak calon investor terkesan ragu-ragu dalam menanamkan investasinya. "Kita baru sekadar bisa mengatakan bahwa daerah kita kaya potensi, tapi belum bisa menjual potensi itu denganbaik kepada investor untuk digarap dan dikembangkan," paparnya.

Dia mencontohkan, Padang Pariaman memiliki potensi bijih pasir besi yang luarbiasa. Potensi itu ada di sepanjang pantai mulai dari Ketaping sampai ke Ulakan. Tapi ketika diundang investor untuk menggarapnya, persoalan muncul hingga sekarang tak selesai-selesai. Banyak investor yang tertarik, tapi kemudian terkendala karena dihadang masyarakat setempat.

Terkait rencana penambangan pasir besi tersebut, seperti diketahui, beberapa bulanlalu di Ulakan, ekskavator milik investor yang hendak bekerja nyaris dibakar massa. Bcgiiu juga yang terjadi di Ketaping baru-baru ini, masyarakat setempal melakukan demo ke kantor DPRD Padang Pariaman yang intinya menolak penambangan di sana. Alhasil, sampai saat ini rencana penambangan pasir besi di Padang Pariaman masih saja pada level urun rembug alias belum jadi juga.

Melihat realita yang demikian, Jamohor yang mantan wakil rakyat di DPRD Padang Pariaman itu minta ketegasan pemerintah setempat. Begitu juga dalam melahirkan regulasi terkait investasi, semuanya harus jelas dan tegas. Artinya, mulai dari proses perizinan sampai hitung-hitungan dengan masyarakat tempat berinvestasi, harus jelas.

Yang banyak terjadi selama ini, ketika izin diberikan, lulu kemudian tersandung berbagai persoalan, pemerintah daerah pun terkesan lepas tanggungjawab. Setelah itu, investor pun tidak lagi mendapatkan sebuah kepastian apakah usahanya bisa dilanjutkan atau tidak. "Bila suasana yang demikian terus-terusan terjadi, wajar jika investor kapok berinvestasi di daerah kita," ulas Jamohor. Investor bermain


Lain di Padang Pariaman sekitarnya, lain pula di Solok Selatan. Di daerah itu, justru terjadinya permainan oleh investor, sehingga masyarakat bersama pemerintah merasa dibodohi.

Sebagaimana diutarakan Bupati Syafrizal kepada Singgalang, kawasan Kabupaten Solok Selatan memang menjadi incaran para investor, terutama yang bergerak di sektor pertambangan. Manya saja, diakui pula dari sekian banyak investor, ada yang hengkang atau angkat kaki. Hal seperti itu terjadi, karena investor tersebut bermain dengan Kuasa Penambangan (KP). Menjelang KP didapat, berbagai upaya dilakukan, tapi setelah diperoleh, justru dijual ke perusahaan lain dan sering membodohi masyarakat.

Walau demikian. Bupati Syafrizal yang didampingi Asisten I, Bakri Bakar menegaskan, Pemda setempat akan memberikan kemudahan kepada para investor yang benar-benar serius.

Kabur


Lagaknya bukan man... ,i kctiku orang serius, ia kabur. Begitulah di Kabupaten Solok. Pemerintah Kabupaten Solok mengeluarkan perizinan bagi 27 perusahaan yang berminat dalam usaha penambangan biji besi, batubara, tembaga dan emas. Namun, setelah mengantongi izin, investor justru kabur. Bahkan, ketika diberikan teguran juga tak digubris sama sekali.

Perizinan yang diberikan antara lain, 22 untuk penambangan biji besi, dua batubara, dua tembaga dan sebuah perusahaan yang mengantongi Kuasa Penambangan (KP) bagi penambangan emas. Dari sekian banyak izin yang diberikan, baru tiga perusahaan yang beroperasi. Perusahaan penambangan biji besi, dua di Kecamatan Pantai Cermin serta satu perusahaan yang juga sudah mulai melakukan eksplorasi serta telah menumpuk biji besi di Lubuk Selasih (Kecamatan Gunung Talang).

Perusahaan lain yung tak menjalankan izin, tak diketahui perkembangan selanjutnya. Bahkan, ada indikasi perusahaan memperdagangkan izin yang dimiliki serta mempcrgunakannya untuk memperoleh kredit bank.

Asisten Ekbangkcsra Sekretariat Daerah Pemerintah Kabupaten Solok, Yunasman menyebutkan, pemerintah selaku pemberi izin lak bisa berbuat banyak terhadap investor yang mengabaikan izin yang telah dikeluarkan. "Hanya teguran yang bisa dilakukan," katanya. Namun, bila masa berlaku KP sudah habis, perusahaan tak juga menunjukkan perkembangan usaha, maka KP yang sudah dimiliki tidak akan diperpanjang lagi.

Larinya investor dikarenakan berbagai sebab. Mulai dari potensi alam yang tak ekonomis, sengketa yang tak tuntas dengan pemilik lahan. Sengketa berkaitan dengan bagi hasil yang sulit mendapatkan tilik temu. Kemungkinan lain yang menjadi penyebab kaburnya investor, diduga perusahaan benar tak serius dalam menjalankan usaha. Rencana usaha tak didukung dengan tenaga, modal serta teknologi yang memadai.

Meski demikian ada juga perusahaan yang masih melakukan penyelidikan umum guna mengetahui kandungan potensi alam yang akan ditambang.

Pemerintah Kabupaten Solok terlebih dahulu memberikan izin dalam menggaet arus investasi. Perusahaan yang kemudian melakukan survei terhadap potensi alam di atas lahan yang diberikan izin. "Dinas Pertambangan tak punya data tentang kandungan potensi mineral," kata Nellies, Kepala Dinas Pertambangan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Solok.

Hingga sekarung relatif tak ada lagi perizinan yang diberikan kepada investor yang berasal duri luar. Berdasarkan data yang ada di Kantor Pelayanan Umum dan Perizinan (KPUP), investasi hanya dilakukan masyurakat lokal. Perizinan yang dikeluarkan berupa pembukaan usaha kecil. Usaha kecil mulai dari bengkel, toko maupun jasa konstruksi.

Meski banyak investor yang kabur dari Kabupaten Solok, namun nyatanya. Badan Koordinasi Penanaman Modal tetap memberikan Investment Award kcpadaPemerintah Kabupaten Solok. Penghargaan itu diserahkan Kepala BKPM. Ahmad Luthfi kepada Wakil Bupati Solok di Jakarta, Desember silam.

Data tak valid


Hengkangnya investor dari sejumlah daerah di Sumbar disinyalir terjadi akibat kckurangvalidan data investasi yang diberikan daerah. Juga kurangnya keamanan dan kepastian berinvestasi.

Selama ini menurut Wakil Ketua DPRD Sumbar. H. Mahyeldi Ansharullah menjawab Singgalang, Selasa (5/2) di ruang kerjanya, persoalan investasi di Sumbar masih dilingkupi dua hal itu. selain kelayakan usaha investor itu sendiri.

Persoalan kevalidan data di Sumbar seolah menjadi masalah yang tak pernah terselesaikan dengan baik. Tidak hanya tentang investasi yang tersandung kevalidan duta, berbagai masalah lainnya juga terkendala pada data.

Dia menilai datu investasi tidak valid atau tidak konkrit sesuai yang dibutuhkan. Belum lagi, soal kepastian investasi terutama soal tanah ulayat dun jaminan keamanan dalam berinvestasi. Ironinya lagi, juga tidak adu jaminan soal investasi yang banyak tersandung dengan biaya tinggi "Banyak pungli dan pos-posj yang dibayar investor. Jelas ini sangat mcrugikan mereka, karena biaya yang . dikeluarkan jauh lehih tinggi dari inlormasi yang mereka peroleh." sesal Mahyeldi.

Soal tanah ulayat. DPRD Sumbar lanjutnya sudah mengajak Pemprov Sumbar untuk mengajukan kembali revisi Perda Tanah Ulayat. Namun, sejauh ini belum mendapatkan respon positif, padahal kepastian hukunl itulah yang sangat dibutuhkan demi terciptanya iklim investasi yung kondusif.

Namun diingalkunnya. dalam mengguot investor jangun memberi iming-iming. Melainkan harus didukung denaun dula dun jaminan keamanan serta kcpuslian lainnya. Supaya, licluk mcinhuai investor kecewa saut berinvestasi.

"Berinvestasi berurti mereka membawa dananya ke daerah kita, mukanya mereka Membutuhkan kepastian hukum, jaminan keamanan dan perizinan yang cepat serta tidak adanya biaya tinggi sebagai dampak banyaknya pungli," akhirnya.104/208/21.W03

Pikiran Besar di Kota Kecil




SAYA pernah tergeletak kelelahan di ruang tunggu yang pengap, sempit dan kotor menunggu keberangkatan pesawat yang akan membawa saya ke-Makassar dan Ambon yang mengalami keterlambatan selama dua jam di bandara Kendari enam tahun lalu. Yakni ketika saya ternyata sebenarnya sudah mulai sakit, namun tidak pernah saya rasakan. Waktu itu temyata mestinya hati saya sudah terkena sirosis, mengeras dan sudah mulai tumbuh bibit-bibit kankernya. Namun saya tidak tahu semua itu. Kelelahan yang saya rasakan di ruang tunggu itu semula hanya saya anggap sebagai akibat dari kurang tidur dan perjalanan panjang ke beberapa kota sebelum itu.

Pekan lalu, saya kembali lagi ke Kendari, ibukota provinsi Sulawesi Tenggara itu. Semuanya sudah berubah. Bandara lama yang parah itu sudah diganti dengan bandara baru yang indah. Tidak besar, tapi cantik dan modem. Cukuplah untuk kepentingan Kendari sampai lima tahun ke depan. Penerbangan juga sudah begitu banyak sehingga kalau ada pesawat yang terlambat pun masih ada pilihan untuk "loncat" ke pesawat yang lain. Jalan menuju bandara itu juga sudah disiapkan untuk sangat lebar sehingga tidak akan mengalami kesulitan kalau arus lalu-lintas meningkat drastis di kemudian hari. Kini negara kita memang sudah mulai punya bandara-bandara yang baik Makasar megahnya bukan main. Palembang juga indah dao modem. Manado sudah baik, Ambon demikian juga. Padang juga sudah modern. Bahkan Makasar dan Palembang sudah terasa kurang besar karena kemajuan wilayah-wilayah di luar Jawa sangat cepat.

Tinggal Samarinda, ibukota provinsi yang begitu kaya, ban-daranya lebih jelek dari terminal angkutan kota di Kendari. Memang sedang ada persiapan membangun bandara di Samarinda, tapi masih sangat ruwet untuk bisa berharap cepat selesai.

Maka kedatangan saya ke Kendari kali ini dengan suasana yang sangat berbeda dengan enam tahun lalu. Bandara baru, jalan-jalan baru dan dengan hati saya yang juga baru. Hampir dua tahun lalu saya memang menjalani operasi ganti hati di Tianjin, Tiongkok, dan alhamdulillah berhasil dengan sangat baik. Kegembiraan hati saya kali ini juga setelah melihat bahwa harian Kendari Post dan juga Kendari Ekspres mengalami kemajuan yang pesat. Apalagi saya juga melihat para pimpinan dan manajer saya di Kendari sudah sangat mampu sehingga sudah tidak perlu lagi diajari, dibina atau dimarahi. Maka kedatangan saya ke Kendari sore itu benar-benar hanya untuk "rekreasi" ngobrol santai dengan karyawan di ruang rapat, makan-makan ikan bakar yang sangat segar itu, jalan-jalan ke pantai, menengok dua karyawan yang lagi sakit di rumah masing-masing, ke kota lama, ke MTQ Square, ke kota atas dan besoknya sudah bisaterbang ke Manado (via Makasar) pada jam 7 pagi.

Kendari, sebagaimana juga hati saya, sudah benar-benar berbeda. Ketika kendari pertama kalinya untuk membangun Kendari Post 14 tahun lalu, di kota ini praktis hanya ada satu jalan yang memanjang. Ibaratnya, kalau Joko Tjandra mau melarikan diri jangan sekali-kali melarikan diri ke Kendari pasti kepc-gang. Mau lewat jalan mana hayooo" Hanya ada satu jalan di situ.

Kini Kendari sudah sangat berkembang. Memang terasa kota ini kekurangan dana pembangunan (dan terutama dana pemeliharaan), tapi dasar-dasar pembangunan kotanya sudah sangat baik tidak hanya terfokus ke kota lama yang sempit lapi sudah membangun kota baru yang masih mudah direncanakan. Juga mulai membenahi pinggir lautnya yang panjang karena Kendari memang memiliki kekayaan teluk yang jauh menjorok ke dalam (banyak yang berseloroh bentuk teluk Kendari ini menggambarkan kekayaan vital terpenting wanita).

Kota ini juga sudah mengalokasikan wilayah perkantoran seluas 1000 ha dengan infrastruktur jalan yang sudah dan sedang dikerjakan. Kantor gubernur yang baru dibangun di sini. Juga Polda dan lain sebagainya. Bangunan kantor gubernurnya sendiri kecil (sesuai dengan keperluan yang ada sekarang), tapi persiapan luasan lahannya yang kini masih berbentuk taman hutan sangat mengesankan. Terasa para pemimpin di Kendari memiliki sisi wawasan ke depan. Dan lihat! di tengah-tengah kota ini ada square yang luasnya paling tidak S ha. Di pusat kota. Alangkah langkanya sekarang ada kota yang memiliki square seluas itu di pusatnya. Saking luasnya saya sangat khawatir square ini akan diincar orang untuk keperluan lain yang lebih "menguntungkan". Baik alasan keuntungan dunia maimun akhirat. Keuntungan dunia, misalnya, dengan cara membangun mall di situ. Alasan keuntungan akhirat, misalnya,untuk membangun masjid raya. Karena itu saya berpesan kepada teman-teman Kendari Post untuk ikut menjaga keabadian square itu. Walikota atau gubernur bisa berganti dalam waktu lima tahun. Kebijaksanaannya bisa saja hanya mempertimbangkan keuntungan jangka pendek. Tapi Kendari Post akan abadi berada di kota Kendari selamanya bisa mengawasinya dalam jangka yang tak terbatas.

Kalau untuk kepentingan investor membangun mall atau hotel, rasanya teman-teman Kendari Post akan bisa konsisten akan mcngkritisinya. Namun belum tentu teman-teman sanggup untuk menghadangnya kalau ummat memintanya untuk membangun masjid raya. Karena itu saya minta diantar untuk melihat masjid raya. Saya ingin melihal apakah masjid rayanya sudah cukup besar sehingga tidak mungkin lagi perlu membangun masjid raya yang lebih besar.

Ternyata masjid raya Kendari sudah cukup besar dan cantik. Letaknya pun di tanah yang agak tinggi sehingga kelihatan ang-gunnya. Tapi saya perkirakan 10 tahun lagi Kendari memerlukan masjid raya yang lebih besar. Apalagi kalau keputusan itu dibual oleh orang ingin terpilih sebagai gubernur atau walikota. Namun, kalau toh keinginan itu akhirnya benar-benar terjadi, sebaiknya memilih lokasi yang di pinggir teluk. Juga di lahan yang cukup besar. Dengan membangun masjid raya di pinggir pantai maka cahayanya dan kcagungannya akan sangat menonjol. Seperti masjid raya Samarinda yang di pinggir Mahakam, meski sayangnya lokasinya kurang ditinggikan dan kurang luas. Tapi Masjid raya Samarinda sungguh agungnya.

Kini square di Kendari itu memang kurang terawat. Ta-mannya sudah banyak yang rusak, bangunannya mulai kusam dan lokam airnya yang indah dan luas itu tidak diberi air. Kalau toh ada bagian kolam yang masih ada airnya hanya difungsikan oleh penduduk untuk mencium sepeda motor di situ. Maklum square itu sudah dibiarkan terlantar sejakselesai dipakai untuk pertama kalinya untuk Musabaqah Tila-watil Quran (MTQ) "kejuaraan membaca Al Quran dua tahun lalu.

Meski menyesalkan penanganan pasca MTQ, tapi saya sangat menghormati idc besarnya. Square ini (kemudian saya na-makan MTQ Square), didesain untuk plaza terbuka dengan bagian entrance yang indah merangkap sebagai panggung utama MTQ saat itu. Di depannya terhampar dua kolam luas yang tidak dalam. Di sinilah, di atas air itu, para penari secara kolosal membuka MTQ tersebut.

Menghadap ke panggung itu, di lengah-lengah square, ada plaza dengan bangunan terbuka dan tertutup. Juga sangat atrak-lip. Masyarakat kini sering me-nyelanggarakan pesta perkawinan di plaza ini. Termasuk ketika kyai mbeling MH Ainun Najib mantu karena menantunya orang Kendari. Di belakang plaza ini masih ada lapangan terbuka yang luas lagi. Lalu di ujungnya ada tower yang tingginya 60 meter yang bentuknya mirip menara Shanghai yang terkenal itu.

Menara ini bagian bawahnya saya lihat belum jadi. Tapi dari luar sudah kelihatan indahnya. Bahkan dari pantai pun kelihatan seperti menjadi icon terpenting kota Kendari. Kelak, kalau Kendari sudah punya listrik dan walikolanya sudah rukun dengan gubernurnya, pasti MTQ square ini akan menjadi sangat indahnya. MTQ Square ini (juga proyek hotel bintang lima yang mangkrak di tengah kota) kabarnya memang menjadi korban ketegangan hubungan antara gubernur dan walikota. Kini salah satunya sudah berganti. Mudah-mudahan kelegangan-nya tidak abadi. Tidak akan seterbengkalai proyek pelabuhan besar Surabaya yang juga jadi korban sandera antara walikota Surabaya dan Gubernur Jatim.

Kali ini, saya pulang dari Kendari dengan pikiran yang senang, hati yang berbunga-bunga dan mendapat ide bagaimana pola perencanaan Kendari yang serba besar ini bisa ditiru wilayah-wilayah berkembang lainnya seperti Kaltim, Kalteng, Kalbar, ija dan Halmahera atau Scram. (*)

Membangun Bangsa dengan Takwa


Sementara itu, tentang buku Mengutamakan Rakyat, ada sedikit hal yang mengganjal dalam benak peresensi. rada bab Memerangi KKN (hal. 265) disebutkan bahwa KKN tidak ada kaitannya dengan nurani, keimanan, dan atau agama seseorang. KKN, menurut buku ini, terkait dengan sifat kreatif manusia yang akan terus eksis apabila sistem yang berlaku memberikan peluang.

Maka, masih menurut buku itu, untuk memberantas KKN hanya ada satu cara, yaitu melalui sistem yang tidak memberi kesempatan untuk terjadinya KKN. Pada kalimat selanjutnya kembali ditegaskan bahwa untuk meniadakan KKN janganlah se-kali-sekali digantungkan kepada moral, akhlak, apalagi keimanan dan agama seseorang.

Padahal pada pembukaan bab tersebut dikutip ayat Alquran Surat Al Haji ayat 45 yang artinya "Berapa banyak negeri yang penduduknya Kami binasakan karena penduduknya berbuat aniaya, maka rubuhlah dia atas atap-atapnya, dan beberapa banyak sumur-sumur yang ditinggalkan dan istana tinggi yang telah kosong".

Menurut peresensi, KKN justru sangat erat kaitannya dengan agama, keimanan dan ketakwaan seseorang. Karena itu, bangsa ini harus dibangun dengan ketakwaan. Pemimpinnya harus bertakwa, pembuat kebijakan/ sistem harus bertakwa, dan diikuti dengan rakyat yang bertakwa pula. Sebab takwa adalah landasan yang paling kuat dan paling ampuh. Dalam hal ini Allah Swt telah berfirman dalam Alquran Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepadanya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam (QS Ali Imran ayat 102).

Jika bangsa ini dibangun dengan takwa, maka negara kita akan aman dan dunia akan tentram, dan rezeki langit dan bumi akan dibuka dan kita akan diberi keberkahan, seperti janji Allah dalam Alquran Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan-nya.(QSAlAraf96).

Memang, di dalam suatu kota atau dalam suatu negara jika penduduknya beriman dan bertakwa kepada Allah, maka negara itu akan hidup tentram dan diberkahi oleh Allah dengan rezeki yang baik dan hasil yang berlimpah ruah. Sebab dengan bekal iman, rakyatnya tidak berani berbuat korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), manipulasi, dan sebagainya.

Sebaliknya, kalau dalam negeri itu berlomba-lomba dalam kemungkaran dan kemaksiatan, rakyat senang berpesta pora dengan judi, minum-minuman keras, ekstasi, shabu-shabu, narkoba, dan sebagainya, maka tunggu saja kehancuran negara itu.

Kita dapat melihat atau membaca sejarah kehancuran negarapada zaman dahulu yang bergelimang dalam kemaksiatan, seperti pada zaman Nabi Nuh AS. Pada saat itu kaum Nnbi Nuh menentang dan i ulak mau tunduk kepada ajakan Nabi Nuh. Nabi Nuh mengajak kepada kaumnya supaya menyembah kepada Allah, tapi ajakan Nabi Nuh itu dicemoohkan dan tidak diindahkan, bahkan anaknya sendiri yang bernama Kanan juga menentang ajakan ayahnya, yaitu Nabi Nuh.

Setelah itu, Allah menurunkan adzab yang sebesar-besarnya. Ditenggelamkan kaum Nabi Nuh yang menentangnya, termasuk anaknya Kanan, mati dalam kekafiran. Tapi Nabi Nuh dan orang-orang yang beriman diselamatkan oleh Allah dari bahaya banjir yang dahsyat itu.

Permintaan atau doa tersebut dikabulkan oleh Allah Swt, dan kaum Nabi Nuh yang sangat ingkar itu ditumpas habis-habisan oleh Allah, kecuali Nabi Nuh dan orang-orang yang beriman kepada Allah.

Ada lagi kenyataan dalam dalam sejarah yang tidak mengindahkan kepada ajakan Rasulnya. Seperti zaman Nabi Musa dengan Firaun. Nabi Musa As adalah utusan Allah, yang ditugaskan untuk amar makruf nahi mungkar, Kita dapat melihat bagaimana kekejaman Firaun kepada kaumnya. Sampai-sampai anak kecil yang tidak berdosa turut menjadi kurban karena kekejaman Firaun.

Tapi Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa, dapat menyelamatkan Musa dari bahaya maut yang mengerikan itu. Allah memerintahkan supaya Musa itu dihan-yutkan dalam air, sampai akhirnya tidak dibunuh, tapi dijadikan anak oleh Firaun.

Setelah Nabi Musa dewasa, melihat keadaan dan tindakan raja Firaun yang sewenang-wenang, sampai-sampai Firaun mengaku sebagai Tuhan, rakyatnya disuruh menyembahnya sebagai Tuhan. Tapi atas perintah Allah, Musa mengajak kaum yang sesat itu untuk kembali menyembah kepada Allah. Namun demikian, Nabi Musa juga mendapatkan tantangan yang hebat sekali.

Meski demikian, sekalipun resiko yang dihadapi oleh Musa sangat besar, tapi Nabi Musa yakin bahwa apa yang diperintahkan Allah adalah hal yang benar, maka Nabi Musa mendapatkan kemenangan yang gilang gemilang. Sedang Firaun dan bala tentaranya ditenggelamkan di Laut merah dalam keadaan kafir.

Beberapa musibah dan bencana yang terjadi di negeri mulai tsunami di Aceh, gempa Yogya, banjir bandang di sejumlah wilayah, lumpur Lapindo, dan berbagai musibah kecelakaan di nusantara ini, haruslah kita jadikan pelajaran yang sangat berharga. Hendaknya kita senantiasa waspada bahwa musibah dan bencana itu senantiasa mengintai bangsa, kota, kampung, dan keluarga serta diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita harus membentengi diri kita, keluarga kita, kampung kita, kota dan bangsa negara kita dengan peningkatan iman dan takwakepada Allah.

Tolak Bencana dengan Bertaubat


Beberapa kenyataan sejarah tersebut di atas, terungkap dalam buku ini pada bab Potret Bangsa (hal. 315). "Korupsi bukan lagi dosa, tapi urusan peluang, rasanya malah menjadi bagian dari budaya kenegaraan kita. Jelas-jelas gaji kecil, sebagian elite hidup mewah dengan menilap uang rakyat... Di depan publik lantang bicara pen kemanusiaan, tapi di belakang layar diam-diam merampok uang negara".

Sementara kenyataan paling gres bisa kita lihat kasus suap milyaran rupiah yang menimpa elit politik kita. Di antaranya, Ketua Tim Jaksa Penyelidik Kasus Penyimpangan Dana BLBI, Urip Tri Gunawan. Ia ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Minggu (2/3/2008) di rumah pengusaha Sjamsul Nursalim di Kelurahan Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Ia tertangkap menerima dana sebesar 660 ribu Dolar Amerika (Rp6,l Miliar) dari Artalyta Suryani, yang diduga sebagai uang suap dalam penyelidikan kasus penyimpangan dana BLBI.

Sebulan kemudian, tepatnya Rabu (9/4/2008) dini hari KPK kembali menangkap Anggota DPR Al Amin Nur Nasution atas dugaan suap bersama empat orang lainnya, termasuk Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan, Azir-wan di Hotel Rita Carlton. Penangkapan ini diduga terkait dengan upaya alih fungsi lahan hutan lindung 7.300 hektar di Bintan Bunyu, ibu kota Kabupaten Bintan. Alih fungsi itu bisa dilakukan atas rekomendasi DPR. Sebelum ia ditangkap, saat Rapat Kerja (Raker) dengan Menteri Kehutanan MS Kaban, Komisi IV DPR RI akhirnya menyetujui pengalihfungsian lahan hutan lindung tersebut. Diduga keputusan ini merupakan buah dari hasil lobi-lobi Al Amin Nur Nasution.

Namun dalam alenea tersebut (di buku Mengutamakan Rakyat) juga diberikan secercah harapan "...Kita masih berharap dan bahkan yakin hari depan akan cerah". Bahkan bab tersebut diawali dengan untaian kata "Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi. Dalam kemiskinan harta ada kekayaanjiwa. Dalam kesempitan hidup ada keluasan ilmu. Hidup ini indah jika segala karena Allah SWT".

MeBki terlambat, tampaknya memang perlu bangsa Indonesia mengadakan taubat nasional. Namun hal ini bukan merupakan hal yang mudah. Karena itu, sekali lagi kita harus waspada bahwa musibah dan bencana itu senantiasa mengintai bangsa, kota, kampung, dan keluarga serta diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita harus membentengi diri kita, keluarga kita, kampung kita, kota dan bangsa negara kita dengan peningkatan iman dan takwa kepada Allah. Sehingga kalau memang belum bisa mengajak orang lain, secara pribadi kita harus tetap bertaubat serta meningkatkan keimanan dan ketakwaankita kepada Allah Swt untuk menolak berbagai bencana yang menimpa bangsa kita.

Kalau kita kembali membaca sejarah masa lalu, bencana-ben-cana seperti yang tersebut di atas tidak hanya terjadi pada zaman ini saja. Sejak dulu bencana itu menimpa pada manusia. Seperti yang telah disebutkan di atas, juga gempa yang telah melanda kaum Ad (kaum Nabi Hud AS), angin topan yang melanda kaum Tsamud (kaum Nabi Sholeh), hujan batu yang menimpa kaum Nabi Luth, atau bencana alam yang menimpa orang-orang Madyan (kaum Nabi Syuaib), dan masih banyak lagi. Dunia memang tidak akan sepi dari bencana dikarenakan masih banyaknya orang-orang yang sombong dan durhaka terhadap Allah.


Orang-orang yang telah disiksa oleh Allah, hampir tidak ada yang selamat, sekalipun mereka itu orang-orang yang kuat, gagah serta berpengetahuan tinggi. Namun ada -atu kaum, yakni kaumnya Nabi Yunus As, yang kemudian diselamatkan oleh Allah Swt


Nabi Yunus As, seperti nabi-nabi yang lain yang diutus oleh Allah kepada kaumnya untuk mengajak mereka agar menyembah kepada Allah saja dan meninggalkan sesembahan selain Allah. Siang malam Nabi Yunus tidak mengenal lelah dalam mengajak mereka kembali ke jalan Allah, tetapi mereka selalu menolak dan mencemooh Nabi Yunus As. Di saat kedurhakaan mereka sudah sangat keterlaluan, maka Allah mengirimkan siksa yang berupa hujan api di atas daerah mereka.

Nabi Yunus yang belum dapat perintah Allah untuk meninggalkan daerah tersebut, sudah menghilang dari kampungnya. Di waktu mereka sudah dikepung oleh siksa, maka timbullah kesadaran mereka bahwa Nabi Yunus adalah benar. Mereka beramai-ramai mencarinya untuk bertaubat dan meminta maaf atas perlakuan selama ini terhadap Nabi Yunus. Tetapi sayang, Nabi Yunus sudah pergi jauh. Namun perasaan taubat dan penyesalan mereka itu menyebabkan siksa atau bencana ditarik kembali oleh Allah.

Dari kisah tersebut kita dapat mengambil satu pelajaran yang sangat berharga, bahwasanya untuk menolak bulak atau bencana, hanya dengan taubat dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Pengetahuan yang bagaimanapun tingginya, tidak akan dapat membendung kemurkaan Allah.

Jangan Sepelekan Toilet kampus


Jangan Sepelekan Toilet kampusnya. Saya juga bertcrimakasih kepada kampus-kampus yang merespon karena iiu akan sangat membantu pada masa depan. Kita sebagai arsitek atau disainer harus bisa berpikir 5, 10, sampai 15 tahun ke depan, dan saya berharap adik-adik ini yang kemudian akan bisa mendisain toilet lebih baik lagi. Itu karena kita harus mengetahui bahwa wanita pergi ke toilet tiga kali lebih lama daripada pria, dan pada tahun 2.000 ke depan akan lebih banyak wanita yang berpergian. Jadi kita harus sadar bahwa toilet untuk wanita harus lebih banyak daripada pria.

Salam Perspektif Baru, Pembaca dimana pun Anda berada, kembali saya Jaleswari Pramodhawardani berbincang-bincang dengan tamu kita saat ini Naning Adiwoso, ketua Asosiasi Toilet Indonesia. Kalau kita bicara soal toilet maka semua orang tidak ada yang tidak membutuhkannya. Itu mungkin kebutuhan primer. Dari laporan berbagai media, Naning Adiwoso adalah orang pertama di Indonesia yang concern dengan persoalan ini.

MENURUT Naning Adiwoso, setiap orang pasti memerlukan toilet, minimal lima kali sehari. Tapi semua tidak mau berbicara tentang toilet, tidak mau membicarakan bagaimana toilet harus bersih. Padahal toilet terkait erat dengan kesehatan karena penyakit menyebar dari toilet. Selain itu toilet juga cermin budaya. Kalau kita mau melihat suatu kantor dan manajemennya bagus maka lihat saja toiletnyx


Naning Adiwoso meminta semua pihak jangan menyepelekan toilet yang bersih. Apalagi ke depan kita pasti akan sangat membutuhkan toilet yang baik dan bersih terkait semakin tinggi mobilitas orang termasuk anak-anak muda. Jika mereka kerap menahan kencing maka ketika berumur 20 tahun akan mempunyai permasalahan di saluran air kencing mereka. Dalam hal ini mungkin pemerintah bisa memberikan aturan atau sanksi sehingga orang yang memiliki loilet-toilei umum merasa nyaman karena ada sanksi-sanksinya jika pemakai tidak menggunakannya dengan baik.

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Naning Adiwoso. Wawancara lengkap dan foto narasumber dapal pula dilihat pada situs http// www.perspektifbaru.com. Lewat situs tersebut Anda juga dapat memberikan komentar dan usulan.

Tolong ceritakan awal atau motivasi pertama Anda mempunyai ketertarikan dan kepedulian terhadap toilet?

Terus terang pertama kali saya juga tidak tahu mengapa saya tertarik, saya open mind saja. Saya bertanya-tanya mengapa digelar konferensi masalah toilet. Padahal toilet itu ruangannya kecil. Setelah saya mengetahui yang ada di dalam ruangan kecil itu, temyata ada 1001 masalah.

Dimana konferensi pertama tersebut?

Di Kyoso, dekat Fukuoka, Jepang pada tahun 1999. Di situ saya mengetahui bahwa sebagian besar penduduk pada tahun 2000 ke depan akan ada di Asia. Justru generasi muda Asia ini akan menjadi generasi yang sangat mobile. Karena itu mereka pasti akan membutuhkan toilet. Apalagi ditambah adanya pemanasan global (global wanning) yang bisa membuat penyebaran penyakit akan cepat sekali. Kemudian yang juga perlu kita lihat adalah bagaimana anak-anak muda itu pergi ke toilet. Coba Anda tanyakan kepada anak-anak, apakah mereka mau atau tidak menggunakan toilet di sekolah. Jawabannya adalah, "Aduh kotor, bau, gelap, vandalism." Jadi mereka menahan kencing dan ketika berumur 20 tahun mempunyai permasalahan di saluran air kencing mereka. Nah itu yang perlu kita hindari.

Sewaktu tahun 1999 mungkin itu pertama kali Anda hadir di konferensi tentang toilet. Apa saja yang dibicarakan di konferensi itu ?

Yang dibicarakan adalah perilaku orang. Bagaimana kita membutuhkan toilet yang lebih bersih di Asia karena jumlah anak-anak mudanya akan lebih banyak. Waktu itu saya belum berfikir tentang Low Cost Carrier (LCC) atau adanya penerbangan yang murah, sama sekali belum ada di benak saya. Namun kemudian saya berfikir memang benar juga bahwa semua orang akan pergi ke Asia. Mereka tentu menghindari penyakit-penyakit yang akan terjadi.

Setelah 10 tahun sejak konferensi yang pertama kali Anda ikuti, apakah ada atau tidak perubahan tingkah laku, perubahan kebiasaan?

Kalau di kota mungkin iya, tapi kalau di daerah belum. Terus terang untuk hal seperti ini saya tidak bisa bekerja sendiri, harus dibantu juga pemerintah. Yang saya sayangkan dari pihak otoritas sangat tidak peduli akan hal itu, dan kita harus bisa meyakinkan hal itu. Terus terang pada setiap konferensi toilet yang digelar setiap tahun secara bergiliran di suatu negara, pemerintahnya sangat responsif kecuali pemerintah kita. Setiap kali saya mengajak orang dari pemerintah Indonesia untuk ikut, tidak ada yang mau ikut. Walaupun saya mencarikan biayanya, juga tidak ada yang mau ikut.

Ini mungkin ada kaitannya dengan budaya


juga. Apakah ada atau tidak hal significant yang sebenarnya kita harus memikirkan soal toilet ini seperti mungkin mengenai masalah kesehatan?

Oh ya, itu sangat penting sekali karena terus terang bibit penyakit pindah dengan sangat cepat sehingga membuat penyakit akan tersebar dengan cepal. Sewaktu kita mulai mendirikan World Toilet Organization pada 19 November 2001 di Singapura kita mempunyai slogan A Nation Without a Clean Toilet is a Nation Without Culture karena itu menunjukkan kebudayaannya. Kita semua harus menyadari hal itu. Kalau kita mau melihat suatu kantor dengan manajemen bagus maka lihat saja toilctnya. Terus terang hanya ada satu instansi pemerintah yang sangat merespon hal ini yaitu Kementerian Kebudayaan dim Pariwisata. Dalam hal ini saya harus berterimakasih kepada I Gede Ardika, Jero Wacik yang sangat perhatian tentang toilet.

Jadi agenda di tingkat elit pun toilet bukan hal yang utama. Padahal seperti Anda katakan ladi bahwa penyakit bisa cepat berpindah di toilet.] Masalah kesehatan dan kebersihan di toilet ini sebenarnya soal penting tapi kila mengabaikannya. Apakah itu karena soal budaya atau hal lainnya?

Terus terang masalah yang kita hadapi sekarang adalah budaya. Selain itu, arsitek-arsilek kila atau mereka yang membangun toilet tidak menyadari bahwa membangun toilet di Indonesia sangat beda karena kita bukan orang yang tinggal di Eropa. Kila ada di negara tropis, negara yang sangat lembab. Jadi harus juga membual sirkulasi udara di toilet dengan baik.

Apakah toilet yang tertutup tidak cocok untuk Indonesia?

Saya terus terang mengatakan itu tidak cocok karena Tuhan sudah memberikan cahaya kepada kila. Mengapa kila harus menyalakan lampu, mengapa tidak ada sirkulasi udara dan harus tertutup semua? Kalau semakin lembab, semakin banyak bakteri dan jamur yang tersebar dari toilet. Data menunjukkan 65% penyakit datang dari toilet. Kila sudah memprediksi problema pada tahun 2000 ke depan adalah udara. Seperti Anda ketahui adanya Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan flu burung bertebaran ke seluruh dunia adalah melalui toilet.

Apakah ini tidak pernah disosialisasikan atau memang agak terabaikan?liu karena pembicaraan mengenai toilet dianggap tabu. Orang tidak mau membicarakan toilet, padahal mereka membutuhkan. Selama kita masih tinggal di huian belantara, kila bisa bersembunyi di belakang pohon untuk kencing. Coba sekarang di Jakarta, kalau tidak ada toilet, dimana kita mau bersembunyi.

Bagaimana cara Anda meyakinkan bukan hanya ke lingkungan sekitar tapi juga ke tingkat elit mengenai toilet ini?

Setiap orang pasti memerlukan toilet, minimal lima kali sehari. Tapi semua tidak mau berbicara tentang toilet, lidak mau membicarakan bagaimana toilet harus kelihatan bersih. Kita lihat China, mereka kini sudah mempersiapkan toilet untuk olimpiade. Saya terus terang mengalami kesulitan untuk memberi tahu atau memberikan informasi kepada pemerintah. Saya pergi ke satu departemen, mereka mengatakan, "Oh iya, kalau ingin distandarisasi harganya sekian." Kita belum bicara kebutuhan masyarakat. Kami pergi ke departemen lain, "Kok ruangan sekecil itu saja kamu bicarakan." Saat ke departemen lain, "Apa rele\wisinyadengan departemen saya?". Maaf, saya tidak menyebutkan nama departemennya


Tapi hanya satu instansi pemerintah saja yang kemudian tanggap adalah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Dari situ saya benar-benar mulai berusaha membuat sebuah standar toilet Indonesia dan membuat sosialisasi. Saya membuat booklet dengan bantuan teman-teman untuk disebarluaskan. Satu booklet berupa standar toilet yang dikeluarkan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Kemudian booklet cara membersihkan toilet dan cara membangun toilet. Melalui itu kila sosialisasi kedaerah, atas bantuan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Jadi mereka bisa mengundang banyak orang. Sementara itu saya pergi dari unversitas ke universitas terutama fakultas arsitek dan interior, memberikan informasi bagaimana sebenarnya mendisain toilet yang baik dan mudah pemeliharaannya. Saya juga suka membuat gathering untuk memberi tahu mereka bagaimana membuat disain toilet yang baik. Kami juga pergi dari satu toilet ke toilet lain dan memberitahukan mereka disain toilet yang baik.

Lalu bagaimana respon mereka?

Kampus agak kaget. Akhirnya mereka banyak yang meminta saya 2-3 kali datang untuk memberikan informasi baik kepada mahasiswanya maupun orang yang mengelola


Jadi dalam membangun toilet pun kita harus memikirkan kebutuhan laki-laki dan perempuan karena berbeda. Kalau perempuan kadang-kadang juga membutuhkan waktu yang agak lama daripada laki-laki di toilet. Tapi pada kenyataannya, apakah toilet di Indonesia telah memikirkan perbedaan kebutuhan antara perempuan dan laki-laki tadi?

Belum karena banyak arsitek tidak menyadarinya. Kalau arsitek tua berpikir tidak ada perbedaan kebutuhan, kalau yang muda-muda sudah mulai menyadari. Kalau arsitek yang tua tidak mau melihat bahwa banyak sekali perubahan dan perubahan di dalam disain itu praktis terjadi setiap tiga tahun sekali. Perubahan-perubahan itu yang harus kita pelajari sebagai arsitek atau disainer. Apalagi kita akan berhadapan dengan Nanoteknologi, yaitu pengembangan teknologi dalam skala nanometer, jadi semua produk-produk untuk arsitek, interior, atau untuk bangunan akan semakin kecil, ringan, semakin ramah, dan semakin kuat. Negara lain sudah mengadopsi itu, sedangkan Indonesia belum karena banyak dari mereka yang belum mengetahuinya. Saya mempunyai acara yang saya sebut, "INIAS Goes To Campus", kita ke kampus dan kita terangkan ke mereka mengenai hal itu.

Apa IMAS imi


Pada tahun 2000 saya membuat Indonesian Interior Architect lo Space Resource Center. Di sini anggotanya para industri, profesional dan para pengguna. Itu dibuat karena saya melihal setelah krisis tidak terjadi network antara kelompok tadi dan arsitek Indonesia. Sewaktu benar-benar/7ora/iwg pada tahun 1990-an, kita maunya spesifikasi produk-produk luar, tidak pernah mau mendidik industri dalam negeri.

Bagaimana hubungannya kegiatan ladi dengan toilet ini?

Ok, hubungannya dengan toilet adalah INIAS itu nsouite center. Jadi kila bisa memberi tahu kepada orang yang membangun toilet, produk-produk yang paling baik digunakan dan disain yang bisa digunakan untuk menghadapi limasampai sepuluh tahun ke depan.

Anda adalah pendiri Asosiasi Toilet Indonesia. Bagaimana keanggotaannya?

Terus terang yang bergabung kebanyakan masih industri. Tentunya karena mereka juga mempunyai kepentingan. Tapi volunieeryang kila butuhkan belum banyak. Mereka kalau melihat toilet rasanya jijik, padahal kita bukan menyuruh mereka untuk membersihkan, kita hanya mengajarkan orang bagaimana membersihkan toilet dengan benar.

Untuk di Indonesia, apakah kila punya semacam pela toilet umum?

Saya banyak sekali mendapatkan surat elektronik (e-mai I) menanyakan tentang peta toilet umum. Saya pernah datang ke Fauzi Bowo, "Pak, lihat ini banyak orang menanyakannya, jadi tolong dong membuat toilet umum yang bagus dwi benar di Jakarta." Coba lihat Trans Jakarta, apakah ada toilet umumnya? Tidak ada. Lalu, mengapa kita tidak bisa meminta kepada pemilik gedung di jalan Thamrin sekitar 4-5 gedung saja untuk bergabung dan membuat toilet umum. Kemudian mereka bisa diberi pengurangan pajak, atau mendapat insentif, dan sebagainya seperti di Jepang dan Korea karena itu kebutuhan publik. Sampai hari ini setelah saya bertemu Fauzi Bowo, juga belum ada jawabannya. Hanya dijanjikan saja. Terus terang, dengan harapan bahwa kalau Jakarta bisa menjadi satu contoh yang baik, saya yakin daerah lain juga akan mencoba.

Apalagi sekarang kila tahu Indonesia mengalami bencana alam dimana-mana, apakah terkait itu toilet juga menjadi satu lagi persoalan kita?

Ketika membantu dalam satu bencana tempo hari kebanyakan dari mereka mengatakan, "Bu, tidak usah memberikan makanan, berikan saja kita nang Rp 500." Saya jawab, "Untuk apa kan lidak ada yang berbelanja." Lalu mereka mengatakan, "Untuk pergi ke toilet." Jadi mereka harus membayar untuk mendapatkan air bersih, untuk bisa ke toilet.. Kadang kita tidak memikirkan hal itu, menganggapnya sebagai hal sepele. Walaupun banjir .orang pasti harus pergi ke toilet juga. Mereka bukan robot.

Kalau kila bicara mengenai toilet standar, apa yang perlu diperhatikan? Apakah arsitekturnya?

Ok, dari arsitekturnya adalah kalau dulu kita menggunakan pintu masuk ke toilet umum, sekarang sudah lidak perlu pintu karena ada sistem yang kila sebut freehand, bentuknya seperti huruf "LT. Pintu hanya ada di compartment toilet, dan cara membukanya harus ke luar, bukan ke dalam. Ini karena banyak sekali generasi muda yang sudah kena serangan jantung, pingsan, jadi kalau cara membukanya ke dalam bisa melukai orang itu. Kemudian antara compartment satu dan compartment lainnya diberi ruang, dindingnya menggantung kurang lebih 20cm sehingga kakinya terlihat supaya membersihkannya lebih mudah. Lebih baik lagi kalau bisa memilih monoblock yang menggantung tidaksampai lantai sehingga membersihkannya akan lebih mudah karena kita akan hemat air. Yang selalu lupa adalah alat penggclontor air (flush), sekarang dengan sistem freehand maka mcng-gelontomya itu bisa menggunakan sikut, atau penggelontor dari lantai, atau dengan sinar infra merah (infrared). Begitu juga sewaktu kita mencuci tangan, krannya itu bisa menggunakan (infrared), atau juga pedal dari lantai.

Mengapa tidak boleh memakai tangan ?

Karena tangan bisa menyebarkan penyakit kemana-mana. Dari survey yang telah kita lakukan. 50% laki-laki yang keluar dari toilet tidak mencuci tangan, wanita 25*X. Terkadang mereka langsung salaman. Jadi itulah yang harus kita perhatikan. Kemudian usahakan toilet itu kering karena kering itu sudah pasti sehat. Kalau basah bisa ada bakteri, jamur. Sirkulasi udaranya juga harus benar-benar baik, hams ada cahaya yang baik. Yang terpenting kita harus selalu ingat kepada pemakai toilet selanjutnya karena kita sering hanya memikirkan diri sendiri.

Mengenai kering dan basah, itu tentu tidak mudah karena sepertinya sudah menjadi tradisi bahwa basah itu adalah bersih. Jadi semakin banyak air yang kilo gunakan semakin bersih. Tapi dalam konteks ini kering justru yang lebih sehat. Mengapa?

Negara kita adalah negara tropis, lembab, dimana jamur mudah berkembang biak, begitu pula dengan bakteri. Jadi kalau kering, jamur atau bakteri itu akan susah untuk berkembang biak. Kalau basah, kita memakai sepatu dan jalan kemana-mana setelah dari toilet, pasti akan membawa bakteri bertebaran kemana-mana Karena itu pesan kampanye kita. "Kering iw sehat".

Bagaimana cara mengubah kebiasaan masyarakat tentang penggunaan toilet tadi karena hal itu seperti sudah menjadi tradisi yang mengakar?

Dengan memberi penyuluhan, misalnya, memberitahu mereka apa dan bagaimana akibatnya. Juga arsitek atau disainer harus sangat tanggap bahwa mereka harus mendisain toilet untuk semudah mungkin pemeliharaannya dan tidak terlalu banyak sudut. Kalau terlalu ada sudut itu orang sulit untuk membersihkannya. Jadi kita harus berpikir ke depan karena diperkirakan tahun 2010 ke atas, air akan menjadi sangat sukar didapat. Jadi lebih baik pilihlah produk-produk yang pembersihannya tidak terlalu banyak memerlukan air. Toilet itu sebenarnya tidak usah terlalu mewah, misalnya, di Cikampek terdapat toilet yang benar-benar sederhana, tapi bersih dan harum. Walaupun kita harus bayar Rp 1.000, it doesn t matter.

Saya tertarik dengan survey kecil-kecilan Anda tentang stasiun pengisian balian bakar umum (SPBU). Bagaimana hasilnya?

Beberapa tahun lalu kita survey ke SPBU atau restoran, pokoknya tempat-tempat yang dilalui orang saat bepergian atau lebaran. Hasilnya, sebagian besar SPBU memiliki closet jongkok, bak airnya juga sangat rendah. Jadi bisa bayangkan kalau ada laki-laki yang kencing dengan kekuatan yang cukup keras, maka bisa menyiprat kemana-mana bahkan mungkin masuk ke bak air. Setelah saya ambil air di bak tadi untuk di teliti di laboratorium, ternyata banyak sekali bakterinya. Kemudian saya sarankan kepada mereka untuk meninggikan bak airnya. Ya, tentunya karena saya tidak bisa bertemu langsung dengan pemiliknya, maka kita memberilahunya dengan surat unluk kesehatan bersama. Tapi kadang mereka juga menjawab bahwa permasalahannya adalah pemakainya, dan memang seringnya begitu. Dalam hal ini pemerintah juga bisa mengeluarkan peraturan, memberikan sanksi.

Apakah saat ini tidak ada sanksi dan peraturannya?

Kalau sekarang kita membuat sanksi, lalu kila melihat kantor pemerintahannya seperti itu, malah pemerintahnya yang malu.

Jadi seperti membuang sampah saja. Sanksinya sudah jelas ada tapi tidak pernah ada realisasinya.

Iya benar. Apalagi tanpa sanksi sama sekali. Sekarang Singapura dan China sudah memberikan sanksi tegas bagi orang yang berperilaku tidak baik di toilet.

Itu juga berlaku di pesawatkarena pada yunan sekarang mobilitas semakin tinggi sehingga semua orang nanti menggunakan pesawat.

Jika toilet pesawatnya lidak bersih maka im akan menyebarkan penyakit kemana-mana. Itu adalah hal yang ditakuti oleh setiap negara.

Apa peran pemerintah dalam hal ini?

Dia harus bisa membantu untuk penyelenggaraan penyuluhan, pengadaan toilet umum untuk masyarakat.

Bagaimana dengan toilet umum sekarang?

Tidak ada. Coba deh lihat di jalan-jalan di Jakarta, bukan di mall, tapi yang benar-benar toilet umumnya. Anda bisa melihat sendiri bagaimana menyedihkannya kondisi toilet. Sebenarnya pemerintah bisa memberikan aturan atau sanksi, seperti kila tidak boleh merokok di tempat umum, itu akan sangat membantu bagaimana mengelola toilet umum ke depannya.

Apakah pihak swasta tidak ada yang tertarik unluk mengurusi soal toilet ini?

Ada saya pernah baca di salah satu majalah dan pernah datang ke sana, temyaia orang itu cukup mendapat uang untuk kehidupan melalui toilet-toilet umum itu. tapi masih dalam skala yang sangat kecil.

Dalam konteks ini kita tahu bahwa pelayanan publik kita lemah mungkin jika pihak swasta bisa membantu dalam hal ini akan lebih bagus.

Bagus sekali kalau memang ada tapi masalahnya juga tidak sedikit. Masalah tanah, misalnya, harganya sangat mahal. Kemudian air, hampir semua orang menggunakan air. Kita memikirkan mobile toilet saja setengah mati karena kalau di luar negeri menggunakan kertas, sedangkan kita menggunakan air. Kalau air tidak bisa langsung i\-recycle kalau sifatnya mobile.-ooOOOoo-

Monday, May 4, 2020

Sebagian Rakyat Hidup di Daerah Endemis Malaria




Jakarta, Singgalang


Sekitar 49.7 persen populasi aiau 107.785.000 dari 217.328. 000 penduduk Indonesia hidup di daerah yang beresiko menjadi tempat penyebaran penyakit malaria.

"Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, semua provinsi di Indonesia punya area yang beresiko (inggi menjadi daerahjang-kiun penyakit malaria." kata Direktur Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Ling-kungan Departemen Kesehatan I Nyoman Kandun di Jakarta. Jumat (1/21.

Usai menerima bantuan obat aniimalaria dari pemerintah Republik Rakyat China (RRC) Kandun menjelaskan, hampir 70 persen atau MM dari 441 ka-bupaten/kota di Indonesia punya arca yang beresiko menjadi daerah penularan malaria.

"Kita juga masih menemukan 300 ribu hingga 400 ribu kasus positif malaria setiaptahun." katanya. Ia menjelaskan, pemerintah menerapkan empat pendekatan pokok untuk menanggulangi penularan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles itu yakni dengan surveilans penyakit dan vektor. diagnosa dan pengobatan dini, pengendalian vektor dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan.

"Di Jawa dan Bali, diagnosa dini dilakukan dengan menggunakan sistem mikroskopik untuk menemukan parasitnya. Sedangkan di daerah yang tidakpunya mikroskop dan tenaga yang dilatih untuk mengidentifikasi plasmodium dalam darah seperti Papua digunakan alat diagnostik cepat." katanya.

Ia menjelaskan pula bahwa untuk mengendalikan vektor pcnular penyakit malaria, pemerintah melakukan manajemen vektor terpadu yang meliputi upaya pemberantasan nyamuk penular dengan berbagai metode dan memberikan bantuan kelambu berpestisida kepada masyarakat yang tinggal di daerah endemis malaria.

Penyuluhan mengenai cara penularan malaria serta upaya pencegahan dan penanggulangan-nya, kata dia. juga dilakukan secara berlanjut untuk meningkalkan partisipasi masyarakat dalam upaya penanggulanganpenyakit malaria.

Mcnurut dia. untuk meningkatkan efektifitas program pengobatan pemerintah juga mengganti metode pengobatan malaria yang lama dengan cara pcngo l.ii.iii malaria bam sesuai dengan perkembangan teknologi pengobatan malaria.

Sejak 1960-an Program Pengendalian Malaria Nasional menggunakan Chloroquine dan Sulphadoxine-pyrimciamine untuk pengobatan malaria di seluruh tanah air 1960 namun kebijakan itu pada 2003 diganti karena menurut hasil studi obat-obatan tersebut tidak lagi manjur melawan malaria.

"Resistensi Plasmodium fal-. nMiiMn terhadap chloroquinc cukup tinggi, resistensi plasmodium vivax terhadap chloroquine juga mulai berkembang," katanya.

Oleh karena itu. ia melan-intkan. mulai tahun 2003 Deparlemen Kesehatan menggunakan Aneinieinin Combination Therapy (ACTl untuk pengobatan malaria di seluruh Indonesia.

Intensifikasi penanggulangan malaria, menurut dia, selanjutnya juga dilakukan dengan menyediakan obat anti-malaria, kelambu dan obat penyucihama di fasilitas kesehatan yang berada di daerah endemis malaria.

Berbagai upaya juga dilakukan untuk meningkatkan akses masyarakat di daerah endemis terhadap sarana kesehatan dan tenaga kesehatan. Tindakan intervensi yang telah dilakukan tersebut, menurut Kepala Subdit Malaria Departemen Kesehatan dr.Rita Kusriastuti,MSc, menunjukkan hasil yang bermakna.

Saya Ingin Cepat Dipulangkan




TAK dipungkiri, banyaknya warga negara Indonesia yang ingin mengadu nasib di Malaysia terpaksa menggunakan jasa calo yang menawarkan kemudahan masuk Malaysia. Calo PJTKI ilegal ini menjanjikan tawaran yang menggiurkan seperti gaji besar, fasilitas menyenangkan, dan pengalaman di luar negeri.

Mendapat iming-iming, tak jarang TKI rela menjual sawah atau harta benda dan berhutang agar bisa bekerja di negeri harapan, Malaysia. Mereka tidak menduga, lewat jasa calo ini, mereka akhirnya tertangkap Rela dan merasakan hidup di balik penjara Machap Omboo, Melaka, Malaysia.

Minto, TKI yang mendekam di penjara Machap Omboo yang ditemui, Jumat lalu, mengaku berangkat dari Bandara Soekarno Hatta bersama 30 orang lainnya. Mereka bekerja sebagai pemotong sawit di perkebunan di Melaka. Namun Minto kemudian memilih melarikan diri karena tidak tahan dengan beratnya pekerjaan. Apalagi selama enam bulan bekerja ia tidak mendapatkan gaji seperti yang dijanjikan.

"Saya banyak hutang di kampung dan di sini (Melaka). Gaji tidak pernah diberikan sudah enam bulan. Dari pada menderita terus, saya lari. Ternyata saya tertangkap pasukan Rela dan kemudian ditahan di sini," ujar Minto.

Minto mengaku kapok dengan janji manis yang pernah dijanjikan calo yang mengajaknya waktu di kampung. "Saya berpesan kepada yang belum berangkat, jangan percaya calo yang menjanjikan gaji besar di Malaysia, semuanya hanya tipuan. Saya ingin cepat dipulangkan, hidup di sini sangat menderita," ujarnya sambil menatap lantai barak.

Matanya tampak berkaca-kaca mengingat nasibnya di rantau orang. Minto kemudian hanya menggeleng ketika ditanya nasib kawan lainnya yang sama diberangkatkan ke Malaysia.

Menurut Kepala Pasukan Rela


Negeri (Provinsi) Melaka, Kol Ibrahim, saat ini pengurusan kepulangan TKI lebih cepat dari biasanya. Dulu, seorang TKI bisa berbulan-bulan setelah ditangkap baru diputuskan untuk dipulangkan atau dipenjara jika terbukti melakukan tindak pidana.

Kini, pemerintah Kerajaan Malaysia sudah membentuk majelis yang khusus untuk mengurusi persoalan TKI bermasalah. Mereka kini disidangkan di lokasi penahanan dan kemudian dipulangkan dengan segera. "Dulu, untuk sidang harus ke luar. Itu memakan waktu dan harus disesuaikan dengankesibukan dan jadwal yang ada di pengadilan. Kini,pemerintah sudah membentuk majelis yang khusus mengurusi tenaga kerja asing ini dan sidangnya dilakukan di dalam. Jadi bisa lebih cepat," terangnya.

Menurut Ibrahim, jumlah tenaga kerja asing yang ditangkap di Malaysia paling banyak terjadi tahun 2006 lalu. Ketika itu, 35.000 orang ditangkap dan 1.500 diantaranya ditangkap di Melaka. "Kalau tahun 2008 ini belum tentu jumlahnya, karena kin masih awal tahun," ujar mantan anggota tentara Malaysia ini.

Dalam pandangan M Ban-jir Simarmata, Ketua MPW PP Kepri, pemulangan TKI ke Indonesia ini juga banyak dimanfaatkan oleh para calo. Tak jarang TKI yang sedianya sudah bisa sampai di kampung halamannya kembali dikirim ke Malaysia dengan berbagai cara. "Saya akan selidiki ini sampai ke akarnya. Saya mengimbau para mafia ini janganlah mencari uang dengan menjual harga diri bangsa. Para TKI ilegal ini sangat menderita di penjara Malaysia. Jangan hanya memikirkan untung pribadi dengan mengorbankan nasib anak bangsa," tegasnya.-(zulhendri)