Showing posts with label knowledge. Show all posts
Showing posts with label knowledge. Show all posts

Thursday, December 19, 2019

Membiasakan Diri dengan Kemacetan Jakarta



Macet seakan menjadi salah satu ciri khas Jakarta yang berulang tahun ke-482. Tanyakan saja kepada penduduk Jakarta, "kata apa yang diingat tentang Jakarta", hampir pasti kata "macet" akan keluar dari mulutnya.

Berbagai survei yang mengindikasikan kemacetan memang masih memperlihatkan bahwa tren kemacetan di Jakarta memburuk. Rata-rata kecepatan perjalanan kendaraan bermotor turun dari 25 km perjam tahun 2000 menjadi sekitar 20 km per jam tahun 2007.

Sebuah penelitian memperlihatkan bahwa waktu bergerak kendaraan di Jakarta hanya 40 persen, sedangkan sisanya merupakan waktu hambatan karena terperangkap kemacetan. Beberapa persimpangan utama juga menunjukkan tingkat kejenuhan yang tinggi sehingga sebuah kendaraan harus mengantre hingga 5-7 kali di lampu merah untuk menerobos persimpangan tersebut.

Dalam bahasa teknis, rasio perbandingan antara jumlah kendaraan (vehicle) dan kapasitas jalan (capacity) banyak yang sudah melampaui angka 1.0. Ini artinya jalan-jalan tersebut sudah terlampaui kapasitasnya sehingga kemacetan menjadi pemandangan rutin sehari-hari.

Apa penyebabnya? Saya kira sudah begitu banyak ulasan tentang kemacetan di media ini. Kompas termasuk yang terus mengingatkan betapa kita sudah rugi lebih dari Rp 12,8 triliun per tahun (nilai waktu, pemborosan bahan bakar, dan biaya kesehatan) akibat kemacetan di Jakarta. Namun, ada baiknya beberapa hal utama kita kete-ngahkan lagi di sini.

Pertama, soal lokasi pusat kegiatan ekonomi dan permukiman yang sering disebut job-housing mismatch. Disebut ketidak-imbangan karena lokasi pusat-pusat kegiatan ekonomi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) terkonsentrasi di tengah kota.

Sementara sebagian besar warga yang bekerja di Jakarta punya rumah di Bodetabek. Sejak tahun 1995 persentase penduduk Bodetabek telah mengungguli persentase penduduk Jakarta. Ini karena permukiman yang terjangkau bagi kebanyakan warga ada di pinggiran kota.

Sebenarnya fenomena ini ingin disikapi pemerintah dengan memfasilitasi kota-kota mandiri seperti Cikarang, Bumi Serpong Damai, dan Karawaci. Namun, kenyataan setiap pagi kebanyakan warga berduyun-duyun ke tengah kota Jakarta dalam waktu, ruang (baca jalan atau rute), dan moda transportasi (kendaraan pribadi) yang sama.

Namun, karena ada konvergensi ketiga hal ini, yakni waktu, ruang, dan kendaraan pribadi, tidak heran kalau terjadi kemacetan.

Pola pergerakan di Jabodetabek yang mencapai sekitar 20 juta perjalanan per hari ini memang tidak mungkin ditampung oleh jaringan jalan yang ada. Berapa pun jalan dibangun, tidak akan mampu mengikuti laju pertumbuhan kendaraan di Jakarta. Panjang jalan di DKI hanya tumbuh 0,01 persen per tahun, sedangkan volume lalu lintas naik 12,2 persen per tahun pada 2002-2008.

Di lain pihak, kepemilikan kendaraan terus naik seiring dengan peningkatan ekonomi war-

ga DKI. Soal ini ada baiknya melihat bagaimana Jakarta dibandingkan dengan berbagai kota yang ada di dunia ini.

Gambar memperlihatkan keterkaitan antara laju kepemilikan kendaraan dan ekonomi perkotaan yang ditunjukkan melalui pendapatan per kapitanya. Studi yang dilakukan oleh para akademisi dan praktisi dari berbagai universitas ternama di Asia Timur dan Pasifik dilakukan secara kolaborasi melalui the East Asia Society of Transportation Studies (EASTS).

Salah satu kajian memperlihatkan ada tiga kemungkinan trajektori bagi kota-kota yang relatif masih memiliki kepemilikan kendaraan yang rendah (JKK/Jakarta, BJG/Beijing.

MNL/ManUa, BKK/Bangkok). Jalur trajektori pertama adalah mengikuti kota-kota di AS yang terkenal dengan kota yang sangat bergantung pada kendaia-an pribadi (auto-oriented city). Jalur kedua adalah kota-kota di Eropa yang memiliki ciri humanis, padat (compact) dan penggunaan campuran, serta sangat bersahabat terhadap pejalan kaki dan kendaraan tidak bermotor.

Ketiga adalah kota-kota negara maju di Asia, seperti Tokyo, Singapura, dan Hongkong, yang telah memiliki sistem jaringan angkutan umum yang baik dehgan kepadatan kota yang cukup tinggi. Seoul dan Taipei mencoba mengikuti ketiga kota tersebut


Dibawa ke mana


Lalu, kira-kira Jakarta mau ke manakah? Mau jadi kota yang bergantung pada kendaraan pribadi, yang akan mengakibatkan berkurangnya kerekat-an sosial seperti halnya di AS?

Beberapa buku seperti the Suburban Gridlock (kemacetan total di kota-kota penyangga) dan The Geography of Nowhere (yang menceritakan tentang hilangnya humanisme di perkotaan AS karena terkungkungnya manusia oleh kendaraan bermotor) merupakan contoh dari berbagai studi tentang transportasi dan dampaknya pada perkembangan kota di AS.

Kota-kota di AS hingga saat ini masih terus bergulat dengan kepemilikan kendaraan yang sangat tinggi, yang dipicu oleh mudahnya orang mendapatkan kredit mobil. Sementara itu, banyak kota di Eropa seperti London, Paris, dan Amsterdam berupaya terus mempertahankan ciri khasnya sebagai the livable city (kota yang nyaman). *

Kota yang memanjakan pejalan kaki, pengendara angkutan umum, dan kendaraan tidak bermotor. Kota-kota ini mampu menekan laju kepemilikan kendaraan bermotor meskipun memiliki tingkat ekonomi perkotaan yang tinggi.

The Asian Way tampaknya menjadi salah satu hal yang direkomendasikan para ahli transportasi di Asia dan Pasifik. -Mengikuti kota-kota yang memiliki pendapatan per kapita yang tinggi seperti Tokyo, Singapura, dan Hongkong, yang berada di "tengah" dengan pendapatan per kapita menengah seperti Seoul dan Taipei.

Kota-kota metropolitan yang berkembang pesat seperti Jakar-ta, Bangkok, dan Manila diharapkan mampu menekan laju kepemilikan kendaraan dengan penyediaan angkutan umum yang baik. Bagi kota-kota ini sebenarnya proporsi orang yang memakai angkutan umum sudah cukup besar.

AmBil contoh Jakarta, yang memiliki sekkar 56 persen perjalanan dengan angkutan umum. Oleh sebab itu, tantangan yang ada adalah mempertahankan proporsi ini sembari memperbesarnya secara bertahap. Jangan lupa sebesar 64,5 persen warga berpenghasilan rendah di Jakarta menggunakan angkutan umum. Perlu menjadi catatan, 24,2 persen warga ha-rus mengeluarkan biaya transportasi lebih dari 20 persen. Sebanyak 47,3 persen mengeluarkan biaya transportasi 10-20 persen.

Data memberikan makna bahwa 71,5 persen warga Jakarta harus mengeluarkan biaya tinggi untuk transportasi dibandingkan dengan negara berkembang lain yang memiliki angka "patokan" sekitar 10 persen.

Kembali ke Jakarta yang memiliki jumlah kendaraan sekitar 6.5 juta, dua pertiganya merupakan sepeda motor. Sepanjang tahun 2000-2007 proporsi kendaraan roda empat pada volume lalu lintas di jalan-jalan utama tetap, sedangkan sepeda motor meningkat menjadi 2.4 kali lipat. Ledakan jumlah sepeda motor ini harus dilihat sebagai "akibat" dari ketidakmampuan angkutan umum untuk melayani kebutuhan warganya.

Dari survei yang aila, umumnya warga mau meninggalkan kendaraan pribadinya, baik roda empat maupun roda dua. jika angkutan umum yang ada aman.nyaman, berjadwal, dan terjangkau.

Oleh sebab itu. kunci mengelola kemacetan Jakarta adalah melakukan revitalisasi angkutan umum. Bagi Jakarta, tampaknya tidak ada pilihan lain selain me-" lakukan reformasi total angkutan umumnya.

OJeh karena itu, diperlukan konsistensi dalam cara pandang dan eksekusi program secara cepat namun tepat Ketergesa-gesaan seperti dalam proyek wa-tenvay dan monorel seharusnya menjadi pelajaran untuk meng-akselerasi program transportasi secara terintegrasi dan komprehensif, namun tetap dengan persiapan yang matang dan good governance yang baik.

Hal ini dapat dimulai dengan optimalisasi angkutan umum massal yang sudah ada, seperti bus transjakarta dan kereta api komuter, serta kereta api dalam kota. Juga, melakukan restrukturisasi trayek angkutan umum secara menyeluruh, dan manajemen transportasi untuk menata lalu lintas di tengah kota dan koridor-koridor utama


Kita, warga Jakarta, tampaknya memang satu tahun ke depan masih harus membiasakan diri dengan kemacetan yang ada. Mungkin ada benarnya tulisan di dalam majalah Times yang menobatkan Jakarta sebagai tempat untuk melatih kesabaran karena kemacetannya.

Sering kali kita lupa, ketika kita terjebak kemacetan lalu mengumpat adalah bahwa kita sendiri merupakan bagian dari lalu lintas yang membuat kemacetan tersebut


BAMBANG SUSANTONO

Ketua Umum Masyarakat


Transportasi Indonesia

Sunday, November 24, 2019

IPM, Pendidikan, Kesehatan Prioritas RPJMD Provsu

ilustrasi Kesehatan 

MEDAN (Waspada) Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) menjadikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), pendidikan dan kesehatan sebagai prioritas utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sumatera Utara 2009-2013 mendatang. Pemprovsu juga memprioritaskan pembangunan infrastruktur jalan, jembatan dan pertanian.

Menurut Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara (Sek-daprovsu) Rustam Effendy (RE) Nainggolan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM),sektorpen-didikan, kesehatan dan infrastruktur menjadi prioritas utama dalam RPJMD Sumut 2009-2013 karena untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumut langkah yang mesti dilakukan dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Sumut.

"Bagaimana mengurangi kemiskinan, membuka lapangan kerja dan menekan angka pengangguran. Saya pikir yang paling utama, bagaimana mening-katkan kesejahteraan rakyat Sumut. Semua itu, tolak ukurnya dari tingkat pendidikannya, ekonominya, kualitas kesehatannya," ujar RE Nainggolan kepada wartawan usai membuka Sosialisasi RPJMD Sumut 2009-2013, Rabu (23/12).

Meski peningkatan IPM, kualitas pendidikan dan kesehatan menjadi prioritas utama, namun pembangunan infrastruktur tidak bisa diabaikan. Karena keduanya saling berkaitan dan mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat Sumut.

"Itu yang paling utama menurut saya, tapi seiring dengan itu mesti diimbangi infra-
struktur, baik jalan, pertanian maupun yang lainnya. Saya pikir kita harus melihat kedua keseimbangan itu. Tapi yang paling utama, peningkatan kesejahteraan masyarakat Sumut" papar RE Nainggolan.

Pembangunan fisik atau infrastruktur yang menjadi prioritas pada RPJMD Sumut, termasuk di antaranya pembangunan Bandara Kuala Namu, Jalan tol Medan-Kuala Namu, Medan-Tebing Tinggi, Medan Binjai, pembangunan irigasi, bendungan, pembangkit listrik dan lainnya. Kata RE Nainggolan, proyek Bandara Kuala Namu merupakan proyek yang akan terus diwujudkan.

"Mta melihat komitmen pemerintah pusat untuk mewujudkan itu. Bahkan ketika pertemuan di Jakarta dengan Wapres Budiono dan sejumlah menteri di antaranya Menko Perekonomian Hatta Radjasa, Pak Gubernur telah mewaming pembangunan proyek Kuala Namu," papar RE Nainggolan.

Ditegaskan RE Nainggolan, arah pembangunan Sumut lima tahun ke depan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan. masyarakat berupa pembangunan fisik dan non fisik. Namun yang paling utama yakni pembangunan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). "Bagaimana meningkatkan kualitas kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Untuk mencapai itu, mesti dikurangi tingkat pengangguran, kemisildnan, menciptakan lapangan kerja dan memberdayakan ekonomi masyarakat," sebutnya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Sumut. (Bappedasu), Ir Riadil Akhir Lubis menambahkan, peningka-
tan SDM Sumut tidak hanya pada tingkat aparatur pemerintah, tapi masyarakat Sumut, terlebih pada sektor produksi, distribusi, pelaku usaha kecil, menengah, usaha mikro dengan tetap memelihara dan menunjang pertumbuhan sektor lain.

Begitu juga pembangunan sektor pendidikan, sebut Riadil, tidak hanya sebatas peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sumut, tapi juga peningkatan kemandirian bekerja, pembudayaan pemanfaatan terknologi dan lainnya.

Sedangkan pembangunan infrastruktur diarahkan untuk pengembangan wilayah seperti pembangunan prasarana jalan. Hal itu menjadi prioritas, karena pembangunan transportasi jalan bagian penting dalam pembangunan Sumut. Karena mobilitas manusia, barang dan jasa masih didominasi angkutan transportasi jalan.

Berdasarkan data di draf RPJMD Sumut 2009-2013, target pembangunan jalan dan jembatan selama lima tahun ke depan, yakni untuk lintas timur sepanjang 372,18 Km, lintas tengah 408,08 Km, lintas barat 355,00 Km, lintas diagonal 468",73 Km, metropolitas 128 Km, dan jembatan nasional 692,00 Km.

Sedangkan rencana pembangunan kelistrikan di Sumut hingga 2013, yakni PLTP Sibayak, Kab. Karo dengan kafasitas 10 MegaWatta (MW), PLTU Labuhan Angin di Tapteng (2 X 115 MW), PLTU KualaTanjung, Kab. Batubara (2x215 MW), PUA Asahan 1 Kab. Tobasa (2 x 90 MW, PLTU Sumut, Kab Langkat (2 x 200 MW), PLTP Sarulla ni.KabTaput(llOMW) dan lainnya. (m!9)

Wednesday, February 20, 2019

Penggunaan Resep Generik Rendah

Ilustrasi Obat generik

MESKI berkualitas sama dengan obat bermerek dagang dan harganya jauh lebih murah, penggunaan obat generik dinilai masih rendah. Ke depan, tak hanya rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta pun akan dikenal kewajiban meresepkan obat generik.Hal itu disampaikan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dalam seminar Revitalisasi Penggunaan Obat Generik pada Akses Pelayanan Kesehatan di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (12/1). "Kami akan benahi dulu rumah sakit pemerintah. Barulah setelah itu kewajiban yang sama akan kami terap- kan pada rumah sakit swasta," katanya.

Berdasarkan data, peresepan obat generik di rumah , sakit umum milik pemerintah sekarang baru mencapai 66 persen. Sementara di rumah sakit swasta dan apotek baru 49 persen.Menkes mengatakan, ketersediaan obat esensial generik di sarana pelayanan kesehatan juga baru mencapai 69,7 persen. Padahal, targetnya 95 persen. Untuk itu ia terus melakukan terobosan lewat program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkes-mas) dengan cara mendorong rumah sakit melakukan klaim-klaim Jamkesmas ke pusat.

"Dengan cara itu, bisa dya-min masyarakat dapat mengakses obat esensial generik. Sebab, dalam Jamkesmas, obat standar yang harus digunakan adalah generik," katanya.Pemerintah, kata Endang, juga mempromosikan penggunaan obat generik secara rasional lewat pendekatan edukatif untuk mengimbangi promosi obat non-generik. "Selain itu, pemerintah berusaha menjamin kesinambungan suplai obat generik dengan meningkatkan daya saing industri farmasi nasional lewat pemberian insentif ekonomi yang wajar bagi industri farmasi yang memproduksi obat generik," katanya. Timur Arif Riyadi

Sunday, February 17, 2019

Potensi Wisata pantai Ni-pahnipah dan Tanjung Jumlai

Tanjung Jumlai

Dinas Perhubungan dan Pariwisata Penajam Paser Utara (PPU) mulai melakukan pendataan potensi kepariwisataan di PPU. Pendataan akan dilakukan menyeluruh terhadap potensi wisata di empat kecamatan yang ada. Nantinya, akan ditentukan wisata apa yang potensial dikembangkan."Kita mulai melakukan identifikasi potensi wisata di PPU dan peluangnya untuk dijadikan objek wisata andalan,"kata Kasi Pariwisata Dinas Perhubungan dan Pariwisata Ahmad Koyum saat melihat potensi wisata Bendungan Waru di kecamatan Waru.

Bendungan Waru sendiri, saat ini sudah dikelola, meskipun belum maksimal. Sabtu dan Minggu adalah waktu puncak kunjungan warga yang ingin rekreasi di sana. Saat ini, sudah ada beberapa fasihtas seperti perahu bebek dan outbond serta banana boat. Pengelolaanmasih dilakukan pihak swasta.

Pemkab PPU belum bisa melakukan tindakan yang lebih jauh terhadap fasilitas Bendungan Waru karena status tanah serta bangunan yang merupakan milik Pemprov Kaltim. Bendungan itu dibangun sekira tahun 1972 lalu di lahan seluas 678 hektare. Sayangnya, kini sebagian besar areal waduk dipenuhi gulma."Kita akan perjelas status tanah dan kepemilikannya. Jika memang bisa diserahkan pengelolaannya ke PPU, kita akan kelola," kata Koyum. Selain untuk wisata air, bendungan juga bisa dijadikan pemeliharaan ikan metode karamba maupun cadang bahan baku air bersih.

Pendataan potensi wisata PPU, akan dilakukan terhadap potensi yang ada di laut maupun yang ada di darat. Selain potensi yang memang sudah dikenal, sedang didata potensi yang masih tersembu-nyi. Misalnya saja potensi wisata goa di Babulu serta goa di Gunung Parung, PPU. "Kita masih terus telusuri," kata Koyum.

Data potensi yang ada, dipadu dengan permasalahan yang masih melingkupinya, akan dijadikan sebuah acuan dalam pengembangan sektor kepariwisataan. Dengan pendataan dan diagnosa yang benar, pembangunan kepariwisataan akan bermanfaat. Faktor penyediaan sarana rekreasi bagi warga akan dijadikan tolok ukur utama dibandingkan sektor pendapatan asli daerah (PAD).

Sebagaimana diketahui, tempat wisata yang menjadi rujukan utama warga hanyalah pantai Ni-pahnipah dan Tanjung Jumlai. Sementara, yang lainnya belum banyak dilirik. Padahal, ada potensi lain yang tak kalah menarik seperti gusung, penangkaran rusa di Apiapi serta kampung perajin kapal

Saturday, February 16, 2019

Sherina Dekat Gita karena Gosip

sherina munaf instagram

GOSIP panas yang sempat menimpa Sherina, diakuinya tak lantas membuat pertemanannya dengan Gita Gutawa rusak. Gadis kelahiran Bandung, 11 Juni 1990 ini mengaku, justru semakin akrab dengan pelantun tembang Harmoni Cinta itu."Pas kemarin ketemu Gita, aku bilang ke dia nggak usah terlalu dipikirin karena aku tahu itu bohong. Aku yang tadinya jarang ngomong sama dia, jadi banyak ngobrol gara-gara gosip ini," ujarnya saat ditemui di Studio Penta, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Seperti diketahui, belum lama ini Sherina diisukan diperkosa oleh sahabatnya Derby Romero. Dalam sebuah / forum di internet, Gita Gutawa disebut-sebut sebagai penyebar isu tersebut. "Hubungan akusama Derby juga baik-baik saja, nggak ada perasaan canggung. Waktu dengar gosip ini kita malah ketawa-ketawa," akunya.

Keponakan Fariz RM ini tidak menyangkal, dirinya sempat stres lantaran gosip tersebut. Namun, bukan karena malu atau takut nama baiknya tercoreng. Tetapi, orangtuanya ikut direpotkan dengan beredarnya kabar tak sedap itu.

"Ibuku pernah dikejar-kejar wartawan di Pondok Indah Mall, padahal waktu itu ibuku lagi kerja. Aku maunya kalau ade gosip-gosip seperti ini aku saja yang nanggung. Jangan orangtuaku ikut direpotin," tuturnya.

Sherina menambahkan, gosip tersebut membuatnya lebih kuat dan siap menghadapi terpaan gosip yang lebih sadis ke depannya. "Gosip ini cuma appertizer (makanan pembuka). Besok-besok pasti ada gosip yang lebih sadis lagi," tandasnya

Tips hidup bahagia Jangan Mengontrol Pasangan

gambar ilustrasi pasangan

 KEBAHAGIAAN pasangan merupakan kebahagiaan Anda juga. Dalam sebuah pernikahan yang baik harus didasarkan pada keselaraan.Tetapi dalam kenyataannya, pernikahan sehari-hari, ada banyak hal yang keseiaraannya berjalan tidak Romantis. Padahal kesetaraan ini sangat penting dalam menumbuhkan kebahagiaan pernikahan. Ketidakset-araan akan membual hubungan pernikahan tidak berkembang dan minimal akan membuat salah satu pihak merasa tidak bahagia tanpa tahu sebabnya.

Agar lebih jelas, cobalah buat permainan berikut. Pada saat senggang, saat Anda berdua sedang santai, ambillah dua lembar kertas dan alat tulis. Lalu Anda berdua menuliskan hal-hal apa saja yang harus dilakukan pasangan agar pernikahan bisa terasa lebih membahagiakan dan memuaskan. Tulis minimal lima hal lalu tukar kertas Anda dengan kertas pasangan dan baca jawabannya. Pasangan akan menjawab bahagia bila menguasai.

Permainan ini pernah dilakukan dalam penelitian mengenai kebahagiaan rumah tangga oleh sekelompok peneliti. Para responden yang suami istri diminta menjawab pertanyaan yang sama. Yang menarik dari jawaban para responden itu adalah siapapun yang menjawabnya, apakah itu suami atau istri, jawabannya bernada sama. Kebanyakan responden seperti sepakat bila pasangan mau melakukan apa yang mereka inginkan, maka rumah tangga inereka akan menjadi bahagia. Ada generalisasi keinginan dari lingkat pribadi yang lalu diproyeksikan menjadi keinginan bersama, apa yang Anda inginkan adalah keinginan kila bersama.

Hal ini bukan sesuatu yang baru. Menurut Judy Powell. Terapis Keluarga dari Amerika Serikat, secara sadar atau tidak kila berusaha memegang kendali dalam rumah tangga. Dengan kala lain berkuasa. Banyak orang yang berpikir ia akan bisa menjadi lebih bahagia jika memiliki kuasa terhadap pasangannya. Bila ia bisa mengontrol pasangannya dan lalu bahagia, maka bahagia pula rumah tangga mereka. Karena itu, menurut Powell, konflik yang sering terjadi dalam rumah tangga biasanya berawal dari perebutan kekuasaan tersebut.

Padahal semestinya, kendali itu harus ilih.igi. Menurut Powell, kebahagiaan yang didapat karena memegang kendali rumah tangga tersehut adalah kebahagiaan semu. Kenyataannya, kebahagiaan sejati justru dalang jika masing-masing pihak menahan diri untuk ini.ik memegang kendali dalam hubungan rumah [angga. Vang paling penting lagi, dengan membiarkan pasangan menjadi dirinya sendiri, hubungan pasangan suami istri justru akan semakin dekat. Meski tidak mudah untuk menjadi pasangan yang seperti itu. Powell memiliki beberapa untuk mencapainya. Inilah beberapa tips untuk mendekatkan hubungan dengan pasangan.

Pertama, memberi dukungan. Saat masing-masing pihak berhenti berusaha memiliki pasangannya secara total dan mulai berpikir untuk saling mendukung, ikatan yang tercipta di antara mereka akan menjadi lebih kuat. Di saat hubun-gan pernikahan penuh dengan ketidakpastian, pemberian dukungan secara timbal balik seperti akan membuat pasangan terikat secara sukarela, bukan dengan paksaan. Anda tentu cenderung memilih pasangan yang akan membiarkan Anda mengekspresikan diri sepenuhnya. Kedua, bersikap jujur. Ada banyak cara untuk mengontrol pasangan, balikan yang tidak anda sadari sekalipun. Seperti ada seorang klien yang diam saja saat pasangannya melakukan sesuatu yang tidak dia sukai, karena dia tidak ingin suami marah. Meski terlihat seperti perilaku mendukung, diamnya istri justru merupakan salah satu cara mengontrol perilaku suaminya. Kalau begitu, bagaimana Anda mengetahui suatu perilaku merupakan tingkah laku mendukung, mudah saja. Semua perilaku yang tujuannya membuat pasangan Anda melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak Anda adalah perilaku mengon-trol pasangan. Suatu perilaku disebut mendukung bila Anda bisa bersikap jujur, seperti dengan mengatakan Anda liduk menyukai apa yang dilakukannya, tetapi di saal yang sama Anda juga berusaha menerimanya sebagai bagian yang tidiik terpisahkan dari pasangan.

Ketiga, lakukan sesuatu demi kepuasan pribadi. Mungkin Anda pernah mendengar ungkapan bahwa cinta tidak bisu dipaksakan. Mungkin Anda mempertanyakan dalam diri, mana mungkin pasangan yang sudah menikah perlu memaksa pasangannya untuk mencinta dirinya. Mungkin saja, karena pemaksaan itu bisa berbentuk apa saja. Sibuk mengurus rumah, mempercantik diri atau memasak makanan kesukaan suami dengan tujuan mendapatkan cinta suami agar dia tidak berpaling kepada perempuan lain merupakan beberapa contoh dari pemaksaan tersebut. Yang paling baik adalah melakukan sesuatu untuk kepuasan pri-badi Anda sendiri. Dengan begitu. Anda akan membuat diri sendiri bahagia. Melakukan sesuatu dengan tujuan menyenangkan pasangan untuk mendapatkan cintanya bisa membuat Anda menganggap bahwa Anda sedang melakukan sesuatu yang memang wajib Anda lakukan.

Keempat, pernikahan juga perlu Cinta. Selain kesetaraan, hal lain yang diperlukan agar rumah tangga bahagia adalah cinta yang bertahan. Perkawinan yang bahagia memerlukan jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama. Masalah yang sering dikeluhkan pasangan menikah adalah redupnya rasa cinta pada pasangannya. Ingatlah bahwa cinta tidak tumbuh begitu saja maka Anda berdua harus berusaha untuk terus mencintai dan dicintai. Semasa pacaran. Anda berusaha tampil secantik mungkin bila bersama dengannya. Setelah menikah, pemandangan sehari-hari yang dilihat suami adalah wajah Anda yang kelelahan setelah seharian bekerja atau mengurus rumah. Ubah penampilan Anda sekali-sekali untuk memberi sentuhan yang berbeda. Selain itu. Anda berdua harus mencari cara untuk melihat sisi-sisi lain masing-masing pihak, yang berbeda dan apa yang Andil lihat sehari-hari di rumah. Seperti menjemput dia di kantor untuk pulang bersama.

Memang ada kecenderungan. Andaharus berhati-hati untuk tidak terjebak menjadi pengatur atau diatur pasangan karena semua orang memang memiliki kecenderungan yang besar untuk menguasai. Ini bahkan sudah terjadi sejak Anda berdua menikah, begitu pesta usai dan Anda tinggal berdua saja sebagai pasangan suami dan istri. Pada awal perkawinan banyak pasangan yang melakukan pertarungan memperebutkan kekuasaan dalam rumah tangga. Yang keluar sebagai pemenang adalah pihak yang paling banyak memegang kontrol semua masalah rumah tangga, seperti apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan di rumah, siapa yang menentukan bagaimana keuangan dikelola sampai ketentuan jam berapa suami atau istri harus sampai di rumah.

Pola ini sebenarnya tidak sehat, karena yang kalah harus terus menerus menekan perasaannya sepanjang masa perkawinan. Buang keinginan mendominasi rumah tangga seperti itu dan cobalah lebih fleksibel. Sebaiknya, semua ketentuan dalam rumah tangga diputuskan secara demokratis dan disesuaikan dengan keinginan. Tidak ada patokan mutlak yang bisa diikuti, karena itu setiap pasangan harus meneobanya sendiri. Karena itulah komunikasi yang baik merupakan kunci keberhasilan rumah tangga. Semoga berhasil.