![]() |
| Gambar ilustrasi google |
Tika Bisono masih berduka akan kepergian putri kecilnya, Janika, lebih dari 2 tahun lalu akibat sakit Demam Berdarah Dengue (DBD). "Saya masih memakai kalungnya Janika. Entah sampai kapan," kata psikolog ini dengan suara serak, di sebuah acara jumpa pers mengenai demam berdarh dengue di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Tika yang kini menjadi Duta Tangani dengan Tepat Demam Berdarah pada Anak ini bertekad agar tak ada lagi anak yang meninggal akibat demam berdarah. Oleh karena itu, Tika giat melakukan penyuluhan kepada para orang tua atau pasien yang menderita demam berdarah.
Masalah yang dihadapi sekarang adalah pola kejadian demam dengue sekarang ini cenderung berubah, ndak lagi hanya terjadi pada masa pancaroba dan memiliki gejala-gejala yang ndak jelas. Kalau dulu demam dengue banyak menyerang anak-anak, belakangan juga banyak menyerang usia 15-45 tahun. Celakanya, Indonesia merupakan negara tropis dengan kejadian dengue yang tinggi.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta dr Dien Emawati, M.Kes, kasus tersangka DBD di DKI Jakarta sampai dengan 30 Oktober 2009 mencapai 26.522 kasus, tersebar di enam wilayah kota/kabupaten. Kasus terbanyak ada di Jakarta Timur, yaitu 8.193 kasus, sedangkan secara proporsional jumlah kasus dibandingkan dengan jumlah penduduk, terbesar ada di Jakarta Selatan, yakni 391/100.000 penduduk.
Demam dengue terbagi atas dua tipe, yaitu Demam Dengue (DD) dan. Demam Berdarah Dengue (DBD). DBD merupakan bentuk yang lebih parah dibandingkan DD, di mana pendarahan dan syok terkadang dapat terjadi, yang akhirnya dapat berujung kematian. Menurut konsultan dan staf pengajar infeksi pediatri tropik, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Dr Alan Tumbelaka, SpA (K), penentuan diagnosis DD dan DBD pada anak harus menggunakan kriteria yang tepat Secara umum, DD memiliki ciri-ciri seperti panas tinggi selama 2-7 hari disertai nyeri perut (ulu hati), pendarahan berupa bintik-bintik merah di kulit,
mimisan, gusi berdarah, muntah darah dan berak darah. Gejala DD biasanya muncul pada hari ke 4-7. setelah terinfeksi nyamuk Aedes aegypti, selaku pembawa virus dengue. Jenis infeksi yang terjadi bisa terlihat tanpa gejala, dengan gejala atau gejala yang disertai dengan perdarahan yang fatal.
Sampai saat ini, belum ada pengobatan yang efektif untuk DD. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan penggunaan paraseta-mol sebagai salah satu obat untuk meredakan demam pada kasus DBD. Penanganan demam diikuti dengan terapi supornf dengan memperbanyak konsumsi cairan, seperti air putih, oralit, larutan gula garam, jus buah, susu, dan lainnya. Bila pasien mengalami satu atau
lebih gejala DD, seger% dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat agar ndak terjadi DBD dan syok (Dengue Shock Syndrome).
Gejala DBD dan syok biasanya serupa dengan demam dengue, namun disertai dengan sakit/nyeri pada ulu hati yang terus-menerus, perdarahan pada hidung, mulut, gusi atau memar pada kulit, juga muntah yang terus menurus dan terkadang disertai dengan darah. Kotoran tinja yang hitam seperti batu bara, rasa haus yang berlebihan, kulit pucat dan dingin, serta penurunan kesadaran dan me-ngantuk. WHO 1997 menambahkan, kriteria DBD ditandai dengan hasil penelitian labora-torik, terdiri dari jumlah trom-bosit kurang dari 100.000 dan hemokonsentrasi atau kadar Ht lebih dari 20% dari normal.
DBD memang belum ada obatnya, tetapi penyakit ini bisa dicegah. Itu sebabnya, Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengimbau agar melakukan pencegahan penularan melalui pemutusan mata rantai daur hidup nyamuk dengan gerakan 3M, yaitu mengubur, menutup dan menguras tempat perindukan nyamuk. Bila akan bepergian dalam waktu lama, pastikan semua kontainer tertutup rapat, dan bila perlu dikuras bersih atau dikeringkan.
Dien mengingatkan, fogging ndak serta merta bisa memutuskan mata rantai nyamuk. Menurutnya, fogging diberikan bila di lingkungan sekitar terjadi infeksi nyamuk yang mengandung virus DBD. "Buat apa menghambur insektisida,
khawatir menjadi kebal dan sulit membunuh nyamuk. Fogging dilakukan bila sudah ada penularan di masyarakat," tuturnya.
Sebelum sakit, memang lebih baik mencegah. Namun, Tika mengkritik bahwa sesungguhnya masyarakat masih banyak yang belum memahami program 3M, karena kurangnya sosialisasi dari pemerintah. Ia mencontohkan, misalnya menguras, sering kali hanya diterjemahkan membuang air saja. Kalaupun menyikat, sikat yang dipakai dan cara meng-gosoknya berbeda-beda karena tidak ada definisi yang jelas. Oleh karena itu, dibutuhkan peran psikolog kesehatan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat
(dina sasti damayanti)
