![]() |
| ilustrasi |
walaupun tidak efektif dalam jangka waktu lama, vaksin antikanker wajib dipertimbangkan. Tubuh manusia memerlukan kekebalan ekstra untuk mencegah masuknya virus penyebab kanker. Penyakit kanker selama ini dikenal sebagai aktivitas pembelahan sel yang tidak terkendali di dalam tubuh makhluk hidup. Bila hal itu terjadi pada organ-organ penting manusia dan berlangsung secara cepat, bisa menimbulkan komplikasi dan kematian.
Sejak beberapa dasawarsa terakhir, kanker menjadi penyakit yang paling menakutkan di dunia. Ganasnya penyakit, ditambah dengan ketidaksadaran masyarakat terhadap keberadaan penyakit itu di dalam tubuh mereka, membuat kanker menempati urutan pertama sebagai mesin pembunuh manusia. Kebanyakan penderita baru menyadari kehadiran penyakit tersebut setelah mencapai stadium lanjut.
Menurut data Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organisation (WHO) pada 2009, setiap 11 menit ada satu penduduk dunia yang meninggal karena kanker. Selain itu, tercatat setiap tiga menit terdapat tiga penderita kanker baru. Pada 2030, para ahli memprediksi jumlah penderita kanker di seluruh dunia akan mencapai 75 juta orang.
Di Indonesia, kondisinya tidak jauh berbeda. Sekitar enam persen atau 13,2 juta dari 220 juta penduduk menderita penyakit kanker dari berbagai jenis. Data Kementerian Kesehatan 2001 menyebutkan sekarang ini kanker menjadi penyakit penyebab kematian nomor 5 di Indonesia.
Menurut ahli kanker yang juga spesialis anak dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta, Hardini Intan S Mahdi, meningkatnya penyakit kanker disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor itu antara lain genetika, bahan kimia, obat-obatan, infeksi, radiasi, dan makanan.
"Lingkungan penuh polusi dan kontaminasi zat berbahaya seperti sekarang juga mendorong semakin meningkatnya jumlah penderita kanker," katanya. Menurut Intan, di antara berbagai jenis penyakit kanker yang mematikan, kanker usus, lim-foma, kanker hati, kanker tulang, dan kanker serviks atau kanker leher rahim merupakan jenis kanker yang paling banyak diderita masyarakat.
Dan jenis kanker serviks paling menghantui perempuan, terutama bagi perempuan yang telah aktif secara seksual.
Kurangnya kesadaran perempuan untuk melakukan pap stnear (pemeriksaan dini terhadap kemungkinan kanker rahim) dan lambatnya pelaporan saat penyakit ini sudah menggerogoti menjadi biang keladi tingginya tingkat kematian akibat kanker serviks.
Karena itu, tidak heran jika jumlah penderita kanker serviks seakan berkejar-kejaran dengan penderita kanker payudara. Keduanya merupakan jenis kanker paling berbahaya di Indonesia. Keprihatinan ini membuat para ahli mencoba menciptakan sebuah sarana yang dapat membantu menekan jumlah penderita kanker serviks pada khususnya dan semua jenis kanker pada umumnya. Tindakan preventif atau pencegahan selama ini dinilai kurang efektif.
Dan untungnya, menurut Hardini, kini ada model pencegahan preventif untuk kanker serviks yang disebabkan oleh virus. Caranya dengan memberi vaksinasi untuk memperoleh kekebalan tubuh, seperti halnya dengan mem-
peroleh kekebalan terhadap penyakit lain yang juga disebabkan oleh virus, seperti cacar, campak, dan polio.
Prosesnya adalah ketika vaksinasi diberikan, tubuh akan berusaha mengenali benda asing tersebut dan bereaksi. ladi, jika benda asing yang masuk adalah sel-sel kanker, sistem kekebalan rubuh akan bereaksi terhadap sel-sel itu.
Kanker leher rahim disebabkan oleh virus HPV (human papillo virus). Virus itu dapat menular melalui sentuhan kulit dengan kulit atau hubungan seksual. Tidak heran jika penderita penyakit ini kebanyakan adalah mereka yang pernah melakukan kontak seksual.
Efektif 1? Bulan Menurut WHO, vaksin yang telah disahkan pada 2006 tersebut bisa menahan serangan infeksi HPV tipe 16 dan 18 yang telah menyebabkan 70 persen kanker serviks. Lebih jauh, vaksin itu juga dapat mencegah perkembangan virus tipe 6 dan 11 yang menyebabkan hampir 90 persen dari semua jenis kanker leher rahim.
Bahkan beberapa ilmuwan dunia mendukung dipakainya vaksin dengan sistem ajuvan nomor 4 (AS04). Pasalnya, AS04 ini telah memberikan reaksi kekebalan yang tinggi terhadap HPV. Namun, menurut Hardini, keefektifan vaksin itu tidak berlangsung lama seperti jenis vaksin lain pada umumnya, diperkirakan hingga 12 bulan saja. "Selebihnya tidak efektif lagi, katanya.
Untuk meningkatkan lagi keefektifan vaksin kanker, pemberian sebaiknya dilakukan saat kondisi pasien sangat sehat. Ini juga berlaku bagi pemberian vaksin-vaksin lainnya. Selain pada kanker serviks, pemberian vaksin antikanker dapat dilakukan kepada anak. Bentuknya berupa vaksin anti-influenza.
"Vaksin bekerja agar anak tidak mengalami influenza. Pasalnya, influenza dapat menyebabkan kekebalan tubuh berkurang sehingga mudah terkena kanker yang disebabkan oleh virus, seperti kanker hati, limfoma, kanker darah, kanker darah dan lainnya," ujarnya.
Para orang tua bisa mengenali beberapa gejala umum kanker pada anak, berupa wajah pucat, lemah, lesu, demam yang tidak diketahui sebabnya, perdarahan abnormal seperti lebam atau biru-biru pada kulit, mimisan, serta kencing darah. Gejala kanker pada anak secara khusus bisa juga terjadi pada mata, seperti ada bintik putih pada mata atau mata kucing, penglihatan terganggu, bola mata tampak lebih besar, mata menonjol, perdarahan pada mata secara spontan, dan mata mendadak juling. Gejala itu umumnya terjadi pada anak di bawah usia empat tahun.
Menurut Hardini, pencegahan kanker pada anak-anak dapat dilakukan. Caranya dengan memberikan vaksin kepada anak-anak di saat tubuh mereka fit. Berdasarkan data WHO, sekitar 10 persen kematian pada anak disebabkan oleh kanker. Kanker pada anak tercatat sekitar 2 hingga 4 persen dari seluruh angka kejadian kanker pada orang dewasa. hay/L-4
