Monday, May 18, 2020

KPI Minta Klarifikasi Stasiun TV



JAKARTA- Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) akan meminta klarifikasi stasiun televisi yang mencekal sejumlah iklan kampanye Mega-Prabowo. Dikhawatirkan, kasus tersebut muncul karena sikap tidak netral lembaga penyiaran itu.

"Bukan pada materi iklan. Tapi, ini soal keadilan dan memberikan kesempatan yang sama dalam menyiarkan iklan. Kami akan mencari apakah ada perlakuan diskriminatif atau tidak," kata anggota KPI Izzul Muslimin kemarin (22/6).

Itu adalah hasil keputusan rapat internal KPI mengenai .Jan Mega-Pro yang ditolak sejumlah lembaga penyiaran nasional. Hingga kemarin, yang menyatakan bersedia menyiarkan hanya SCTV dan Trans7. Sisanya, tim sukses Mega-Pro masih terus melobi.

Menurut Izzul, perlakuan lembaga penyiaran terhadap iklan tersebut bisa dianggap diskriminatif, bahkan partisan. Sebab, keputusan untuk menolak tayangan itu bukan kewenangan mereka. Padahal, dalam Undang-Undang Pilpres sudah disebutkan bahwa lembaga penyiaran tidak boleh berpihak. "Mereka harus netral," ujar Izzul yang juga koordinator pengawas pemilu dari KPI.

Namun, KPI hanya bisa menunggu laporan dari tim sukses Mega-Pro. Mereka tak bisa menindak dugaan pelanggaran apabila tidak ada laporan dari pihak yang merasa dirugikan. "Kami baru bisa bergerak kalau mereka melapor. Kalau tidak, kami anggap tidak ada yang dirugikan penolakan penayangan oleh lembaga penyiaran itu," ujarnya.

Nah, apabila tim Mega-Pro melapor, KPI mengklarifikasi kepada lembaga penyiaran mengenai alasan penolakanmereka. "Kalau tidak jelas, kami bisa menindak mereka," ujarnya.

Informasi yang diterima Jawa Pos menyebutkan, penolakan lembaga penyiaran sebenarnya cukup beralasan. Mereka yang menolak menilai iklan tersebut cenderung menyerang salah satu pasangan calon. Indikasi adanya black campaign cukup kuat.

Head of Corporate Communication Metro TV Adjie Soera Atmadjie mengatakan bahwa pihaknya memiliki alasan kuat untuk menolak menayangkan iklan itu. "Kami tahu bahwa iklan tersebut sudah lulus sensor Tapi, kami sendiri juga punya self censorship (sensor internal. Red)," katanya saat dihubungi Jawa Pos di Jakarta kemarin.

Iklan tersebut, kata Adjie, tendensius. Apabila ditayangkan, iklan itu bisa membahayakan. Sebab, materi iklan tidak didukung data dan fakta. "Kami pikir, kalau ditayangkan, ini justru membuat kekacauan. Iya kalau apa yang disampaikan dalam iklan tersebut memiliki data. Kami oke-oke saja. Tapi, ternyata tidak. Kami akhirnya memutuskan untuk menolak," jelasnya.

Keputusan Metro TV tersebut, lanjut Adjie, berdasar Undang-Undang Penyiaran dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). "Kita kan tidak diperbolehkan menayangkan berita bohong dan berbau fitnah. Bisa-bisa, kami yang dituntut," tuturnya.

Adjie menampik anggapan bahwa keputusan tersebut disebabkan keberpihakan pada calon tertentu. "Ini tidak ada hubungannya dengan demokrasi dan prinsip-prinspi menyampaikan pendapat. Ini murni muatan iklan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan," katanya, (aga/tof)

PT Nyonya Meneer Pamerkan 250 Produk



Banyak yang Belum Berani Gunakan Fitofarmaka


SEJAK ratusan tahun lalu bangsa Indonesia dikenal pandai meracik jamu atau obat tradisional. Ramuan tersebut dipergunakan untuk mengobati dan mencegah penyakit, serta menjaga kebugaran badan. Tidak hanya itu, masyarakat juga mengenal jamu untuk perawatan kencantikan.

Salah satu perusahaan yang melestarikan warisan leluhur adalah PT Nyonya Meneer. Perusahaan tersebut telah mengembangkan berbagai obat tradisional. Kini, setidaknya ada 250 produk yang dipamerkan di arena Pekan Raya Jakarta (PRJ), Kemayoran.

"Kami memamerkan sekitar 250 produk, 70% di antaranya untuk wanita baik berbentuk kapsul, pil, serbuk, dan minuman," kata Lili Siswanto, Consultan of Beauty and Health di stan Nyonya Meneer, kemarin.

Beberapa produk unggulan terbaru yang turut dipromosikan antara lain "Singkir Angin", ekstrak kapsul "Lelaki", dan "Body Mint".

Lewat berbagai upaya yang digelar, pihaknya menargetkan menaikkan omzet penjualan sebesar 15%, yakni dari sekitar Rp 7,2 triliun pada 2008 menjadi sekitar Rp 8 triliun padatahun ini dan 2010 ditargetkan naik lagi menjadi sekitar Rp 10 triliun.

"Untuk merealisasi target tersebut perlu ada berbagai terobosan dan memperhatikan permintaan pasar. Setiap industri harus membuat ino-vasi-inovasi yang diinginkan pasar," ungkapnya. Dukungan


Tidak hanya itu, dukungan pemerintah dalam pengembangan industri jamu atau obat tradisional sangat dibutuhkan, baik dari Departeman Perdagangan maupun Departeman Kesehatan.

Dia mencontohkan pemerintah China yang mendukung pengembangan obat tradisional sehingga industri di sana maju pesat. Di negara tersebut ada pendidikan, dokter, rumah sakit, apotek, dan ahli jamun-ya.

Di Indonesia memang sudah ada lembaga pendidikan dan dokter yang peduli pada jamu, misalnya RS Dokter Soetomo Surabaya. Di sana, pasien boleh memilih cara modern atau tradisonal.

"Kini sudah ada lembaga pendidikan yang menggeluti ilmu jamu, contohnya UGM dan Undip. Persoal-annya, jika lulusannya tidak diterima di rumah sakit. Kami meminta Menteri Kesehatan supaya memberikan izin kepada rumah sakit menggunakan obat tradisional. Jamu kan sudah dipakai sejak ratusan tahun lalu," ujarnya.

Ada tiga tingkatan jamu. Pertama, jamu empiris yang sejak zaman nenek moyang dipercaya dari mulut ke mulut. Selain itu, herbal terstandar atau jamu yang sudah di-reuji klinik serta fitofarmaka atau jamu yang sudah diuji secara klinis.

Obat itu merupakan hasil kerja sama antara rumah sakit dan fakultas kedokteran. Jamu tersebut sudah diujikan kepada manusia.

"Di Indonesia baru ada lima produk jamu yang sudah menjadi fitofarmaka. Salah satunya dari Nyonya Meneer bernama Reomaneer, obat untuk rematik," ungkapnya.

Seharusnya kalau sudah menjadi fitofarmaka, bisa diresepkan seperti obat-obatan farmasi. Tetapi banyak dokter yang belum berani menggunakan. Padahal untuk meningkatkan satu item produk menjadi fitofarmaka membutuhkan waktu 2-3 tahun dan biayanya Rp 2 miliaran. (Aris M-27)

Harus Mandiri dan Siapkan Home Industri



Untuk peningkatan kesejahteraan keluarga, anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) harus bisa mandiri dan mampu melakukan aktivitas ekonomi yang mengarah ke usaha home industri.

"UNTUK menunjang itu semua harus ditindnk lanjuti dengan pemberian modal. Dan modal itu bisa berasal dari kas DWP," kata Ketua DWP Provinsi Jatim, Dra. Hj. Nina Soekarwo MSi, pada pembukaan Pelatihan membuat kerajinan dari bahan daur ulang yang diselenggarakan DWP Provinsi Jatim di Dinas Perhubungan Provinsi, Rabu(16/4).

Tak hanya sekedar membantu mencarikan modal saja, namun lebih dari itu. DWP juga akan membantu mencarikan jalan keluar untuk pemasarannya "Ya mungkin nanti pemasaranya bisa dibantu lewat Dinas Perindustrian dan Per-dagangan Provinsi atau melalui Dekranasda. Karena itu, perlu diberikan ketrampilan dan pengetahuan," tandas pengajar di Universitas Dr Sutomo Surabaya ini.

Dituturkan, pelatihan membuat kerajinan dari bahan daur ulang khususnya dari kulit jagung merupakan salah satu bentuk pemberdayaan potensi ekonomi dan keterampilan kaum perempuan, sebagai potensi tambahan penghasilan, potensi menampung tenaga kerja dan dapat mengurangi dampak buruk sampah dengan mengubah limbah menjadi barang yang bernilai ekonomis dan seni.

Diutarakan pula dari pelatihantersebut anggota DWP dapat memanfaatkan ketrampilan untuk diri sendiri ataupun orang lain. Selain itu dapat dijadikan aktivitas ekonomi. "Sehingga mampu menjadikan sumber pendapatan baru yang dapat membantu menopang ekonomi keluarga, bermanfaat bagi masyarakat sekitar dan pada akhirnya dapat dijadikan salah satu upaya dalam mengatasi pengangguran," kata Nyonya Nina Soekarwo.

Nyonya Nina Soekarwo yang akhir-akhir ini populer dengan sebutan Bude Karwo ini mengharapkan, setelah mengikuti pelatihan ini agar peserta terus meningkatkan keterampilan dengan melakukan inovasi dan kreasi. Baik kreasi dalam bentuk rangkaian bunga maupun pewarnaan yang beragam. Selain itu dapatjuga memanfaatkan bahan dasar limbah lainnya selain kulit jagung, dan dapat ditindak lanjuti dengan latihan sendiri yang bertujuan untuk memperlancar dan meningkatkan kreativitas.

Ditempat yang sama, Ketua Panitia Ny. Hari Sugiri mengatakan, kegiatan pelatihan ini merupakan realisasi salah satu dari program kerja DWP th. 2008 bidang pendidikan dan diikuti oleh 147 orang, yang berasal dari pengurus dan anggota DWP Provinsi Jatim.

Peserta tampak sangat antusias mengikuti arahan dari para instruktur. Instruktur pelatihan ini antara lain, Ketua Asprinta (asosiasi pembuat bunga kering dan buatan) Jatim Tin Soebandi-ri, dan Tim dari SMK 6 Surabaya.

Yang menarik dari pelatihan tersebut, selain membuat bungadari bahan kulit jagung, juga dari gelas air kemasan yang dibuat menjadi tudiing saji dan tirai, botol bekas minyak goreng dibuat sebagai tempat HP dan tempat pensil, bekas bungkus mi instandan bungkus minuman serbuk dapat dijadikan sebagai tikar, sajadah dan tempat tisu, yang merupakan hasil kreasi dari Mi-narsih, anggota TP-PKK Jam-bangan. nel

Membangun Manusia Paripurna




Oleh HERRY TJAHJONO

Indonesia dikenal kaya karena berlimpahnya sumber daya alam dan sumber daya manusia. Ironisnya, negara dan rakyatnya tetap miskin.

Penyebabnya, ada perlakuan eksploitatif terhadap sumber daya alam dan sumber daya manusia (SDM). Seperti apa?

SDM sebagai "liability"

Selama ini SDM diperlakukan sebagai liability (kewajiban, tanggungan, pertanggungjawaban). Maka, Wikipedia mengartikan "liabilitas" sebagai segala hal yang menempatkan seseorang pada situasi tak menguntungkan.

Di berbagai perusahaan di Indonesia, praktik eksploitasi dengan memperlakukan karyawan sebagai liabilitas masih terjadi. Karyawan menjadi komponen produksi. Ungkapan yang dipakai adalah "mendayagunakan" karyawan (konotasi negatif), yakni bagaimana karyawan diarahkan mencapai target perusahaan. Dari sana nasib karyawan ditentukan tanpa mempertimbangkan faktor esensial, seperti pemberdayaan dan hak karyawan, karena hanya akan muncul sebagaifaktor biaya.

Tragikomedi nasib TKW/TKI kita di sejumlah negara juga akibat prinsip manajemen pemerintah yang memperlakukan SDM (TKW/TKI) sebagai liabilitas. Meski mungkin bersifat tak langsung, mereka "didayagunakan" untuk bekerja di luar negeri tanpa mempertimbangkan faktor pemberdayaan, perlindungan, dan lainnya (faktor yang dianggap biaya). Toh, itu bisa mengurangi pengangguran sekaligus menambah devisa negara.

Dalam dimensi pendidikan, ujian nasional, misalnya, sama saja. Standardisasi lebih sebagai upaya memenuhi kepentingan pragmatis pemerintah (Departemen Pendidikan Nasional) tanpa memedulikan esensi pendidikan manusia, seperti proses aktualisasi diri siswa, keunikan individu, perbedaan irama belajar, dan akses pendidikan. Semua dimatikan atas nama standardisasi. Pada titik ini, eksploitasi peserta didik berlangsung diam-diam. Pada tahap liabilitas ini, kita "membangun manusia produksi".

SDM sebagai aset


Faktor kedua, SDM sebagai aset Tahap ini jauh lebih baik dibandingkan dengan tahap liabi-litas. Namun, unsur eksploitasi- meski lebih halus-masih terkandung di sana Pengertian sederhana aset adalah segala sesuatu yang punya nilai dan siap dikonversikan menjadi uang. Dan SDM adalah intangible asset.

Maka, proses eksploitasi diam-diam terjadi saat SDM dipertimbangkan dari sudut nilai ekonomis. Frase manajemen yang berlaku di sini adalah "memberdayakan" manusia (SDM). Namun, semuanya hanya diarahkan pada pemenuhan target organisasi (kepentingan organisasi). Maka, ketika seorang karyawan dianggap incapable, dia akan diberdayakan melalui berbagai pelatihan di perusahaan. Ketika anak didik dianggap kurang mampu memenuhi standar, ia segera diikutkan dalam berbagai "bimbingan belajar" atau kursus.

Semua hanya untuk memenuhi target jangka pendek, terbatas kepentingan pragmatis-si-tuasional. Karena itu, kata "pendidikan" amat asing di sebuah perusahaan dan lebih akrab dengan pelatihan. Seandainya ada departemen pendidikan dan pelatihan (diklat), tetapi dalam praktik, unsur pelatihan lebih menonjol. Pihak sekolah dan orangtua lebih mempraktikkanprinsip persekolahan dibandingkan pendidikan dalam arti utuh. Nilai ekonomis tetap menjadi pedoman. Karyawan diberdayakan agar mampu memenuhi target yang mengandung nilai ekonomis. Anak didik diberdayakan agar memenuhi standar, didasari pada pertimbangan nilai ekonomis yang bisa dihitung dari kemampuan memenuhi standar. Pada tahap ini, kita "membangun manusia profesional".

Membangun manusia


Prinsip berbagai perusahaan atau organisasi bahwa SDM merupakan aset terpenting akhirnya "gagal" karena praktik eksploitasi meski tidak seliar tahap liabilitas. Karena itu lahir tahap ketiga yang mencoba meninggalkan prinsip eksploitasi dan mengacu pada Adrian Levy (RLG International), yang didasari pada praktik dan observasi pada berbagai great companies People are not the most important assets of a company - they are the company. Everything else is an asset.

Pada tahap ini, prinsip manajemen yang dipakai adalah "membangun manusia paripurna", tak sekadar manusia produksi atau manusia profesional. Ia tidak hanya diarahkan untuk me-menuhi target, tetapi diberi hak, kesempatan memenuhi tujuan hidup termulia sebagai manusia. Pada tahap ini, perusahaan sudah akrab dengan prinsip pendidikan. Jika anak didik, ia tidak sekadar diarahkan untuk memenuhi standar kelulusan, tetapi juga tujuan mendasar dan mulia sebagai (calon) manusia dewasa. Demikian juga TKW/TKI diberi kesempatan dan didampingi agar menjadi TKW/TKI paripurna". TKW/TKI bermartabat


Ringkasnya, SDM adalah perusahaan itu sendiri. Maka, sebagai aset, sumber daya lain wajib didayagunakan untuk membangun manusia paripurna yang sadar, punya hak, mau, dan mampu-bukan hanya memenuhi tujuan hidup pribadi termulia, tetapi juga tujuan dan nasib lingkungan, orang lain, perusahaan, sekolah, bangsa, bahkan dunia.

Hanya dengan membangun manusia paripurna SDM Indonesia bisa dijadikan benar-benar kaya. Sayang visi dan program "membangun manusia paripurna" tidak muncul dalam kampanye capres-cawapres. Sungguh ironis nasib SDM Indonesia.

HERRY TJAHJONO

HR President The XO Way,

Jakarta

Lumbung Padi Tergerus


Dua puluh tahun lalu Asep Rukhiyat (52) muda masih bangga menjadi anak salah satu petani kaya di Desa Rancaekek Wetan, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Mendiang ayahnya, Rokhaendi, adalah pemilik lahan sawah seluas hampir 8 hektar.

Oleh GREGORIUS MAGNUS FINESSO

"W" "ebanggaan itu kini mulai 1 luntur. Sejak lima tahun JL .terakhir sebagian besar lahan ayahnya tergilas pembangunan industri, properti, dan jalan toL

Wajar, Asep mengeluh. Sebelum tahun 2000 penghasilan ayahnya saat panen raya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Kini dengan sisa lahan 03 hektar yang dimiliki, ia hanya mampu menghasilkan Rp 5,75 juta per musim panen, atau sekitar Rp L5 juta per bulan. Angka itu jelas tak sebanding dengan harga kebutuhan hidup yang semakin mencekik, ditambah modal tanam yang kian membengkak.

"Ayah waktu itu tidak punya pilihan lain. Izin dari pemerintah daerah sudah keluar. Pikir ayah, menjual tanah ke negara adalah kewajiban, kata Asep.

Kisah Asep hanya satu dari ribuan cerita pedih petani yang pernah mengalami kejayaan pada masa lalu. Alih fungsi lahan menjadi penyakit kronis di Jabar, terutama di sejumlah wilayah di sekitar Bandung. Kawasan industri, permukiman. dan infrastruktur sering kali dibangun dengan mengorbankan lahan pertanian.

Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Jabar Rudy Gunawan mengatakan, sebagai provinsi yang berbatasan langsung dengan Ibu Kota Jakarta, areal sawah di Jabar yang berubah fungsi mencapai 4.000 hektar per tahun. Hal itu disebabkan pesatnya pertumbuhan industri, permukiman, dan infrastruktur jalan.

Menurut dia, perlindunganlahan pertanian masih lemah, termasuk dari pemerintah. Hampir 50 persen dari alih fungsi lahan menjadi tanggung jawab pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah. Ini dimungkinkan karena pemerintah memiliki wewenang mengeluarkan izin pembangunan.

Terus menyusut


Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Jabar, realisasi luas tanam sejak tahun 2007 cenderung turun. Tahun 2007 tercatat realisasi tanam padi sawah dan ladang mencapai L957.129 hektar. Tahun berikutnya luas areal tanam menyusut sekitar 10.869 hektar, tinggal 1.946.260 hektar.

Tahun 2009 Dispertan hanya berani menyiapkan lahan tanam sekitar 1.93 juta hektar, atau turun sekitar 16XKX) hektar dibandingkan dengan realisasi tanam tahun 2008. Asisten II Pemerintah Provinsi Jabar Wawan Ridwan mengakui, alih fungsi lahan menjadi satu dari beberapa permasalahan yang mampu mengancam ketahanan pangan Jabar, selain pemanasan global dan penggunaan buhan pangan untuk bioenergL

Menurut dia. peningkatan produksi harus seimbang dengan pertumbuhan penduduk 133 persen per tahun. Hal ini hanya bisa dicapai dengan peningkatan produktivitas padi


Selama empat tahun terakhir produktivitas padi di Jabar terus meningkat Pada 2006 produktivitas padi masih 5238 kuintal per hektar. Tahun berikutnya naik menjadi 5552 kuintal perhektar. Tren kenaikan ini berlanjut tahun 2008, yakni menjadi 56,36 kuintal per hektar. Kepala Dispertan Jabar Helmi Anwar mengatakan, pada 2009, dengan pemanfaatan bibit unggul, ditargetkan terjadi peningkatan produktivitas lahan menjadi 5858 kuintal padi per hektar.

"Kami menargetkan produksi beras sebanyak 10,78 juta ton gabah kering giling atau naik 680.000 ton dibandingkan perkiraan realisasi tahun lalu sebesar 10.10 juta ton," ujarnya.

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan berkomitmen, alih fungsi lahan harus dihentikan dengan alasan apa pun. Industri dan permukiman tak boleh lagi dibangun di atas lahan pertanian. Ia mendorong pembangunan ke lahan tidak produktif


Dia mengakui, sekitar pertengahan tahun 1990-an Jabar rata-rata menyumbang sekitar 22 persen produksi beras nasional. Namun, beberapa tahun terakhir pencapaian itu menurun. "Kini Jabar hanya mampu menyumbang sekitar 18 persen dari total produksi padi nasional. ujar Gubernur Jabar.

Kebijakan Pemerintah Provinsi Jabar untuk menjaga ketahanan pangan, yakni juga dengan diversifikasi komoditas da-lam upaya memenuhi pola konsumsi ideal. Untuk itu, upaya yang bisa dilakukan di antaranya dengan memanfaatkan lahan tidur, lahan marjinal dan lahan pekarangan.

Pengamat pertanian Entang Sastraatmadja menilai perlakuan pemerintah ke sektor pertanian seperti ungkapan habis manis sepah dibuang. Saat kampanye hampir semua calon menyampaikan, programnya adalah meningkatkan kesejahteraan petani Namun, ketika memimpin, mereka tergiur tawaran investasi jutaan dollar AS meski harus mengorbankan lahan pertanian.

Dia menyoroti, keberpihakan Pemprov Jabar terhadap pertanian juga belum optimal. Tolok ukurnya, anggaran di sektor ini baru mencapai 4 persen dari total APBD Jabar. Padahal, anggaran yang diperlukan untuk revitalisasi pertanian sekitar 10 persen dari APBD.

Lahan pertanian harus dilindungi secara optimal. Pembentukan payung hukum untuk perlindungan lahan pertanian sangat mendesak. Untuk itu, dia berharap presiden dan wakil presiden mendatang segera menyelesaikan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Lahan Pertanian Berkelanjutan.

Friday, May 8, 2020

SMAN 6 Balikpapan Paling Sehat di Kaltim




Senang Sekaligus Sedih


Civitas SMAN 6 Balikpapan masih tidak percaya sekolahnya menyandang juara pertama sekolah sehat tingkat provinsi. Mereka berbangga hati karena mendapat kesempatan mengharumkan nama Balikpapan. Namun mereka juga merasa sedih karena melalui predikat "paling", ada beban yang harus ditanggung.

UPACARA bendera seperti biasa digelar di halaman sekolah yang halamannya rimbun itu. Di tengah suasana bahagia, Kepala Sekolah Drs P Si-manullang mengumumkan bahwa SMAN 6 Balikpapan telah dinobatkan sebagai sekolah paling sehat di Kaltim. Sontak seluruh peserta upacara, baik siswa maupun guru, bersorak gembira.

Di hadapan seluruh siswa dan guru, kepala sekolah meminta dukungan. Penghargaan tertinggi pun diberikan kepada 3 orang tukang kebun yang setiap hari membersihkan areal seluas 2 hektare, dan 2 orang tukang sapu yang sehari-hari menyapu 23 ruang


kelas dan kantor guru.

Namun untuk maju ke pentas nasional, SMAN 6 belum ada apa-apanya. Dari pengamatan Kaltim Posi, beberapa bagian gedung sudah rusak. Ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) juga tidak bisa dibilang "wah". Jika ingin menang, ada banyak yang harus dibenahi. Tidak mungkin rasanya dalam sebulan bisa dilakukan perbaikan jika SMAN 6 menanggung sendiri beban ini.

Ada 9 poin kekurangan yang sudah dicatat oleh pihak sekolah, yaitu pembuatan toilet didalam UKS, perbaikan drainase, pembuatan taman, pemasangan wastafel di UKS, pembelian komputer untuk administrasi UKS, penambahan meja dan kursi guru, pen-gecatan gedung sekolah, pembelian rak untuk peralatan UKS, serta penyediaan tambahan bak sampah.

Dari kesembilan kekurangan, hanya poin terakhir yang disanggupi Dinas Pendidikan (Disdik). Padatnya anggaran membuat Disdik kesulitan mengucurkan dukungan. SMAN 6 kini mengharap bantuan Pem-kot. "Bagaimana pun juga ini membawa nama Balikpapan. Menjadi sekolah sehat tingkat nasional akan mengukuhkan predikat Balikpapan sebagai kota terbersih di Indonesia. Saya yakin Pak Imdaad akan mendukung kami," ujar Wakil Kepala SMAN 6 Balikpapan Drs Sriyono MM.

Dinas Pendidikan (Disdik) Balikpapan sendiri tidak dapat mengucurkan dana untuk membantu SMAN 6. Sebab, pos tersebut tak terdapat dalam anggaran belanja Disdik tahun ini. Kepala Seksi Pembinaan Pemuda dan Olah Raga Hendrik berharap Pemkot Balikpapan dapat ikut membantu.

Disdik sendiri telah menyanggupi untuk mendanai penambahan bak sampah di SMAN 6 Balikpapan. Namun Hendrik akui, hal tersebut masih sangat minim dari total perbaikan yang harus dilakukan.

"Kalau sudah di tingkat nasional, penilaiannya kelak tidak hanya sekedar bersih, tapi juga harus indah. Kita sebaiknya total mempersiapkan kedua sekolah, karena saya yakin sekolah di daerah lain persiapannya dikangila-gilaan " kata Hendrik yang juga termasuk dalam tim pembina sekolah sehat, (puput dewanthy)

FES Diawali Khitan Massal 128 Anak




"Ada yang Lari sampai Orangtua Pingsan"

KEGIATAN Festival Ekonomi Syariah (FES) 2008 atas kerjasama Bank Indonesia (BI), Kaltim Post, IDC Network FM 98,5 Mhz, KPFM 93,00 Mhz dan Pemkot Balikpapan, kemarin diawali dengan kegiatan khitanan massal. Sebanyak 128 anak dikhitan di lantai 3 Kantor Bank Indonesia (KBI).

Seru, lucu dan penuh sisi human interest. Acarayangdibuka Wakil Walikota Balikpapan H Rizal Effendi dan dihadiri Pemimpin Bank Indonesia (BI) Causa Iman Karana, Wakil Pemimpin BI Sumantri, Kajari Mansyur Zaeni, Danlanud F Indra Jaya, Direktur Kaltim Post Ivan Firdaus, Pemimpin Redaksi (Pimred) Kaltim Post H Badrul Munir dan seluruh perwakilan perbankan di Balikpapan itu berjalan sukses dan lancar.

Suasana KBI yang biasanya sepi, kemarin jadi ramai dikerumuni ba-nyakorang.yangtaklain adalah orangtua dan kerabat anak yang akan dikhitan. Semua anak mengenakan baju koko dilengkapi peci Pakaian itu sengaja disiapkan Ikatan Wanita Bank Balikpapan (Iwaba) yang membantu dan terlihat sibuk mengurusi anak-anak yang akan dan sudah dikhitan.

Secara bergiliran ke-128 anak itu dipanggil ke ruangan. Dan, suasana pembukaan pun bak suasana pernikahan. Karena, peserta yang akan dikhitan seolah diarakdengan menggunakan payung dan diiringi hadrah. "Ayo anak-anak, jangan takut. Nanti setelah dikhitan diberi hadiah," kata pembawa acara atau MC Benk-Benk.

Sebanyak 20 tim medis dari Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB) pun siap untuk "memotong burung" anak-anak. Tapi, namanya anak-anak, tentu saja ada yang takut, menangis bahkan sampai ada yang lari ketika melihat rekannya sudah dikerjai anunya oleh sang "pe-motongburung". "Nggak mau, takut," ujar seorang anak sambil berlari minta agar orangtuanya mengantarkan pulang. Tapi, akhirnya setelah dibujuk mereka mau juga


Bukan itu saja, tim medis dan panitia pun dibuat bingung dan kalang kabut oleh kejadian yang mengejutkan. Ada orangtua yang melihat da-

rah bercucuran di bagian "burung" sang anak langsung jatuh pingsan. TolongOcepat tolong," teriak lainnya. Hanya, semuanya bisa diatasi. "Alhamdulillah, nggak ada apa-apa. Mungkin kaget melihat darah," kata Manajer Event Organizer (EO) Kal-tim Post Group Noor Awaliah.

Ketua Panitia FES Mahendra Nu-santo mengatakan, awalnya panitia panik, khawatir tidak ada pesertanya. Temyata malah membeludak. "Ini kalau tidak dibatasi masih banyak yang berminat," katanya yangjuga sebagai kepala Kantor Cabang Mandiri Syariah itu.

Dalam sambutan pembukanya wawali juga menyinggung soal kondisi Kota Minyak. Antara lain kekhawatirannya tentang nilai Adipura yang makin merosot "Ya yang seharusnyanilainya 74 saat ini turun menjadi 65," kata Rizal. Penurunan nilai itu, kata dia, karena perairan terbuka Balikpapan masih dinilai jauh dari bersih. Rizal juga menyinggung soal listrik di Balikpapan menghadapi PON XVH. (dwa)

Puluhan Hektar Tanah Desa Dijarah1



SRAGEN (KR) - Puluhan hektar tanah oro-oro atau tanah 00 milik Pemerintah Desa Ngebung, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, dilaporkan telah berpindah tangan menjadi hak milik pribadi. Bahkan tanah tersebut sudah dimiliki perorangan secara resmi lengkap dengan sertifikatnya.

Ketua Fraksi Partai Demokrat (FPD) DPRD Kabupaten Sragen Inggus Subaryoto kepada wartawan, Selasa (23/6) mengatakan telah menerima laporan dari warga tentang aksi penjarahan massal tanah 00 tersebut. Berdasarkan laporan yang diterima, tanah 00 seluas 80 hektar milik pemerintah desa setempat dilaporkan telah hilang hampir mencapai 50 persen lebih. Hilangnya tanah 00 ini, dikarenakan adanya aksi penjarahan massal yang dilakukan masyarakat sekitar.

Ironisnya tanah 00 tersebut kini menjadi hak milik pribadi masya-rakat dan telah bersertifikat. "Yang menjadi pertanyaan saya adalah kenapa tanah 00 bisa menjadi tanah hak milik warga. Bahkan telah bersertifikat resmi pula. Tentunya ini yang harus segera dicari tahu penyebabnya," ujar Inggus.

Inggus mengatakan aksi penjarahan baru diketahui dan ramai dibicarakan masyarakat sekitar satu hingga dua tahun terakhir. Padahal perpindahan kepemilikan tanah tersebut sudah lama terjadi. Sesuai dengan aturan yang berlaku, Inggus menjelaskan pembebasan tanah dari tanah negara bebas menjadi tanah hak milik mesti-nya harus atas persetujuan gubernur. Selain itu juga harus disetujui Badan Perwakilan Desa (BPD). Mekanisme


Namun yang menjadi permasalahan, lanjut Inggus, dari pembebasan tanah yang dilakukan hanya beberapa yang sesuai dengan mekanisme aturan berlaku. Sedangkan sebagian besar lainnya tidak melalui mekanisme. "Ini yang akan kami cari. Apakah mekanisme yang dilalui itu benar atau tidak. Apalagi banyak sertifikat yang hak milik dan diketahui tidak melalui mekanisme itu," jelasnya.

Inggus mensinyalir hilangnya tanah desa menjadi tanah hak milik pribadi ini melibatkan perangkat desa serta pejabat di atasnya. Namun pihaknya belum bersedia menyebutkan siapa saja yang terlibat dalam kasus perpindahan kepemilikan tanah tersebut. Atas kondisi ini, Inggus beren-cana mendesak kepada pimpinan DPRD serta Komisi A yang membidangi masalah pemerintahan untuk segera memanggil pihak-pihak terkait. Termasuk para mantan perangkat desa atau pejabat yang pernah memimpin di wilayah tersebut. "Bagaimanapun juga hilangnya tanah ini bukan untuk kepentingan desa. Tapi hanya untuk kepentingan pribadi. Dan ini harus terus diusut sampai tuntas," tegasnya.

Sementara Ketua Komisi A DPRD Sragen Mahmudi Tohpati mengatakan belum menerima laporan tentang aksi penjarahan tanah 00 milik Pemdes Ngebung, Kecamatan Kalijambe tersebut. Pihaknya menyatakan siap segera menindaklanjuti jika laporan itu benar adanya. "Sampai sekarang kami belum terima laporan. Begitu laporan diterima akan segera kami tindaklanjuti," tukasnya. (Sam)-c

Wednesday, May 6, 2020

Lelaki dengan Tujuh Perkara



Dari sepucuk surat tagihan kartu kredit, ia belajar seluk-beluk berperkara di pengadilan. Potret pedagang obat yang mengadvokasi dirinya sendiri dalam setiap persidangan.

Siang itu langit gelap. Hujan turun, cepat menjadi lebat. Hagus Suanto hadir di ruang sidang dengan wajah antusias. Sendiri saja, tanpa dampingan pengacara atau kuasa hukum. Pada hari itu akan digelar persidangan atas gugatan lelaki keturunan Tionghoa tersebut terhadap Kantor Pengacara Adnan Buyung

Nasution Partner (ABNP) dan harian Kampas. Seperti biasa, sidang ngaret.

Jadwal menyebutkan pukul 11.00 WIB, tapi sidang baru dibuka sekitar pukul 15.00 WIB. Hakim Ketua, Albertina Ho, duduk di singgasananya. "Mohon maaf atas penundaan sidang, karena perhatian kita tersedot oleh persidangan Antasari," kata Ibu Hakim sebelum membuka persidangan. Pihak penggugat

dan tergugat menanggapi pernyataan itu dengan maklum. Lantas persidangan dimulai. Agendanya, pembuktian tertulis dari pihak tergugat I dan II.

Pihak tergugat I, ABNP, yang diwakili tiga pengacara menyerahkan setumpuk dokumen ke hadapan majelis hakim. Sedangkan pihak tergugat II, harian Kompas, tidak memberikan bukti tertulis. Hagus Suanto mendekati majelis hakim, lantas mengamati dokumen yang dihamparkan di atas meja hijau. Hakim ketua memandangi sosok dan aktivitas Hagus.

"Jangan-jangan nanti Anda menggugat saya," hakim ketua yang terhormat berseloroh seperti kawan lama. Hagus menjawab penuh takzim, "Tidak berani, Yang Mulia, karena majelis hakim memiliki hak imunitas."

Bukan tanpa maksud Albertina berujar demikian. Nama Hagus dikenal di kalangan penegak keadilan dan personalia Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sebagai sosokyangmemiliki tujuh perkara gugatan. Ketujuhnya disidangkan dalam kurun waktu berdekatan. Bahkan beberapa di antaranya kadang digelar secara bersamaan.

"Pernah suatu ketika, belum selesai bersidang di satu ruangan, nama saya sudah dipanggil untuk menghadiri persidangan lainnya di ruangan berbeda," kata pria kelahiran Purwokerto, Jawa

Tengah, tahun 1963 itu. ***

Nama "Hagus" seringkali keliru diartikulasikan sebagai "Agus". Sebuah perusahaan produsen produk kesehatan anak mcmbuatkannya kartu nama dengan ejaan "H. Agus Suanto". Hagus menoleransi kekeliruan itu dan tidak mempersoalkan dugaan orang mengenai gelar "haji" di depan namanya.

Sebelum 2005, kehidupan Hagus berjalan "normal" saja. Sebagai pengusaha apotek dan toko obat, Hagus dan keluarga besarnya cukup dikenal di kota Karawang, Jawa Barat. Ia menghidupi istri dan dua anaknya dengan bekerja pagi hingga malam, mengelola dua toko.

Strategi melindungi diri, keluarga, dan unit usahanya dari ancaman tindak kejahatan juga terhitung wajar. Dalam ruang kerjanya di Toko Obat (kini berstatus apotek) Sehat Jaya yang terletak di Jalan Tuparev Nomor 371, Karawang, tersedia sebilah bambu wulung berujung runcing sebagai senjata pengusir dan bela diri.

Sementara itu, rumahnya yang terletak tidak jauh dari toko memiliki pagar tembok yang tingginya hampir separuh tinggi bangunan berlantai dua

itu. Bukan itu saja. Ada juga pintu masuk dari kayu yang tinggi dan lebar serta teralis besi yang terlihat kokoh berdiri membatasi ruang tamu dengan ruangan-ruangan privat lainnya di rumah itu. "Terinspirasi dari film dan novel-novel cerita detektif," kata Hagus.

Hingga suatu hari, Hagus menerima sepucuk surat tagihan (billing statement) tertanggal 14 September 2005 dari Citibank. Surat tagihan itu, menurut Hagus, menyatakan secara sepihak bahwa sejak bulan itu, bea meterai akan dikenakan pada bulan yang sama. Dan dalam lembar penagihan itu, pihak Citibank mengenakan bca meterai dua kali, yakni bea meterai lunas bulan Juli untuk transaksi 25 Agustus dan 14 September 2005, masing-masing Rp 6.000.

Sejak 1993, Hagus menjadi nasabah Citibank dengan memegang kartu kredit Visa. Sepuluh tahun kemudian, ia juga tercatat sebagai nasabah pemegang kartu MasterCard pada bank yang sama. Selama itu pula, ia mengaku merasakan manfaat positif layanan kartu kredit dan selalu berusaha menyelesaikan kewajiban sesuai dengan waktu dan aturan yang berlaku. Dalam penilaiannya, bea meterai adalah pajak atas dokumen yang tidak dibebankan kepada nasabah.

Merasa tidak nyaman atas isi surat tagihan tersebut, pengagum kisah-kisah Sherlock Holmes itu lantas melakukan upaya pribadi rncncaritahu dasar hukum pengenaan bea meterai atas tagihan kartu kreditnya itu. Hagus mengontak petugas Citibank tiga kali dan diterima oleh tiga nama berbeda. Ketiganya memberi penjelasan berbeda, yang membuatnya tambah bingung.

Seorang karyawati. Rosa, mengatakan bahwa dasar hukum yang di gunakan adalah Peraturan Bank Indonesia Tahun 2005. Namun karyawan Citibank lainnya, Albert Hindarto, mengatakan bahwa dasar hukum yang digunakan adalah PPRI Nomor 24 Tahun 2000. Sedangkan petugas ketiga, Amalia Hutomo, mengatakan Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor 13 Tahun 2001 sebagai dasar hukumnya.

"Mana yang benar?" kata Hagus terheran-heran. Hagus lantas meminta setiap petugas bank yang dihubunginya mengirim peraturan yang menjadi dasar hukum Citibank menarik bea meterai kepadanya. Hanya Albert dan Amalia yang mengirim salinan peraturan yang dia minta itu. Itu pun, setelah Hagus pelajari, "Tak ada satu pun pasal yang menunjukkan bea meterai menjadi kewajiban nasabah," ujarnya, yakin.

Dalam pemahaman Hagus, bea meterai adalah pajak. Untuk itu, ia minta bukti pembayaran setoran pajak pada Citibank. Namun Citibank tak bisa memberikan bukti yang dimaksud dengan berbagai macam alasan. Hagus merasa dipermainkan. Ta mulai menuliskan situasi yang merugikannya itu serta menyebarkannya lewat internet, surat pembaca media massa cetak dan online. Juga menyurati Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) serta melakukan upaya publikasi dan sosialisasi persoalan lainnya.

"Semut saja kalau diinjak menggigit, apalagi manusia," tutur Hagus, menampilkan perasaannya ketika itu. Tapi, sampai sejauh itu pun, Hagus mengaku belum memiliki keberanian untuk memcrkarakan persoalan yang dihadapinya ke pengadilan lewat jasa

pengacara.**

Pada 2007, Hagus mengenal Tjandra Tedja. Tjandra adalah inisiator gugatan class action yang dilakukan Tim Advokasi Masyarakat Pengguna Jalan Tol atas kebijakan pemerintah menaikkan tarif 13 jalan tol dan JORR pada September 2007. "Saya menaruh empati pada usaha Tjandra yang berani memperjuangkan haknya sebagai konsumen," kata Hagus.

Dari Tjandra, Hagus mengenal Eri Herriawan, seorang advokat dari Kantor Pengacara ABNP. Eri menanggapi masalah yang dihadapi Hagus dengan positif. "Strong case" ujar Hagus, menirukan pendapat Eri dahulu. Peluang itu tidak dilewatkannya. Hagus mengumpulkan bukti yang telah dia miliki. Pada 2 Oktober 2007, ia menyiapkan gugatan terhadap Citibank dan menunjuk secara resmi ABNP dengan Eri Ilertiawan sebagai kuasa hukum.

Hagus juga membayar legal fee Rp 10 juta, plus menyepakati success fee 50% dari jumlah tuntutan, Rp 11,3 milyar, kepada ABNP.

Masalahnya, sejak Agustus 2007 hingga awal Januari 2008, gugatan itu tak kunjung didaftarkan kuasa hukumnya. "Padahal, mereka (pihak ABNP -Red.) menyatakan bahwa gugatan siap dikirimkan, tapi diundur terus," kata Hagus. Buntutnya, I Iagus merasa kecewa pada pihak ABNP.

Persoalan kerja sama dua pihak itu berkembang rumit dan berbuntut surat pengunduran diri secara sepihak dari Eri dan ABNP sebagai kuasa hukum. Sebagai gantinya, Eri merekomendasikan nama pengacara dari firma hukum lain untuk menjadi pendamping Hagus. "Itu artinya tidak ada yang mau menangani perkara saya di ABNP," ujar Ilagns kepada Lufti Avianto dari GATRA dengan nada berang.

David Tobing, kuasa hukum yang direkomendasikan Eri, akhirnya menjadi "mentor" Hagus. Pengacara dari Firma Hukum Adams Co ini menyarankan Hagus untuk menggugat sendiri Citibank. "Karena untuk menjadi penggugat tak perlu kuasa hukum," kata David.

Saran itu diterima Hagus sebagai bentuk dukungan yang melambungkan motivasinya. "Saya merasa seperti macan yang dibangunkan dari tidur," kata Hagus, merujuk pada semangat dan kepercayaan dirinya ketika itu.

Hagus lantas memulai periodeyang disebutnya sebagai "belajar hukum dari nol". Aleminjamdanmembeli buku-buku hukum sebagai referensi, bekerja keras mengelola bukti-bukti yang dimiliki, merunut logika hukum, lantas menyusun struktur gugatan berikut redaksionalnya sendiri di bawah penyeliaan David.

Pada 24 Oktober 2008, ia datang ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, mendaftarkan gugatannya terhadap Citibank untuk kasus pembebanan bea meterai yang berlarut-larut itu.

Itu gugatan pertamanya perkara pertama. Hagus menghadapi proses persidangan sendiri. Singkat cerita, Hagus menang. Pada 8 September 2009, dalam putusannya, hakim memerintahkan Ci ti bank membayar kerugian materiil kepada Hagus sebesar Rp 384.000 untuk pengenaan bea meterai terhitung sejak 1 Mei 2000 hingga September 2005.

Keputusan itu adalah tengaran penting, berkaitan dengan "kebijakan" Citibank dan institusi perbankan lainnya terkait pembebanan bea meterai kepada nasabah. Juga tengaran penting bagi Hagus dalam memperjuangkan haknya sebagai konsumen lewat proses hukum di

pengadilan.*+

Setelah yang pertama itu, Hagus bergerak terlalu cepat untuk proses hukum yang lamban. Ta kian memahami dan menguasai seluk-beluk berperkara. Juga merasa menjadi lebih peka terhadap tindakan-tindakan pihak lain yang merugikan atau dinilai melanggar hak asasinya yang dilindungi undang-undang. Kalau sudah begitu, proses hukum menjadi pilihannya jika penyelesaian di luar itu menemui jalan buntu.

Ketika gugatan pertama masih dalam proses persidangan, pada 8 Januari 2009 Hagus sudah mendaftarkan gugatan kedua. Kali ini, melempang kan kekecewaan atas penanganan kasus pertamanya, Hagus antara lain menggugat ABNP dan Eri Hertiawan.

Hagus menilai, ABNP menyalahi perjanjian kontrak di antara kedua pihak dengan mengundurkan diri sebagai kuasa hukum dan menghentikan secara sepihak kasusnya pada Juli 2008, dalam situasi ketika surat gugatan siap dilayangkan. Diikuti pengunduran diri Eri dari ABNP pada 18 Juli 2008, yang disusul dengan suratnya kepada Hagus yang menyatakan bahwa ia tidak dapat meneruskan penanganan perkara itu. Alasannya, terjadi perbedaan pendapat antara klien dan advokat dengan merujuk pada Kode Klik Advokat Pasal 8 nurut"g.

Perihal perbedaan pendapat antara kuasa hukum dan kliennya itu dibenarkan pengacara dari ABNP, Cindy Panjaitan. Cindy mengakui adanya perbedaan yang membuat dasar hukum atas gugatan itu lemah. Cindy mengakui, awalnya ABNP menilai kasus itu sebagai strong case. Namun, di tengah jalan, ABNP menilai tidak memiliki dasar hukum yang kuat untuk meneruskan gugatan ini.

Menurut Cindy, sesuai dengan Kode Etik Advokat, bisa saja seorang kuasa hukum mengundurkan diri

dari perkara yang ditangani terhadap kliennya. "Kalau merasa sudah tidak sejalan, berdasarkan etika, kami juga bisa mengundurkan diri," papar Cindy.

Masih menurut Cindy, pihak ABNP telah melakukan advokasi yang optimal terhadap Hagus. Namun, bila yang dipersoalkan adalah uang yang telah disetor mantan kliennya itu, Cindy menyatakan bersedia

mengembalikannya. ***

Belum rampung perkara melawan ABNP, Hagus sudah menyusun gugatan ketiga. Kali ini di luar tali-temali kasus Citibank, melainkan berkaitan dengan usaha toko obatnya. Ta menggugat beberapa produsen obat kuat atau yang jenisnya biasa dikelompokkan sebagai obat tradisional dan suplemen makanan berkhasiat pernambah stamina pria.

Dalam gugatan yang didaftarkan pada 3 Maret 2009 itu, Hagus menempatkan dirinya sebagai pengusaha, pedagang, dan pelanggan, sekaligus "Pembeli, pemakai, dan pengonsumsi," Hagus menegaskan.

Gugatan itu berkaitan dengan

surat edaran Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang berisi peringatan. Surat edaran BPOM ini menyebutkan bahwa beberapa produk obat kuat itu mengandung "tadalafil" yang membahayakan kesehatan, yakni bisa menyebabkan kehilangan potensi seksual secara permanen, bahkan dapat mematikan.

Implikasi seperti itu tentu tidak ia harapkan ketika meminum obat yang, antara lain, diproduksi PT Dexa Medica (Tripoten) dan Pyridam Farma (Harvest Sanomale) itu. Apalagi, PT DexaMedica, misalnya, menurut Hagus, baru menarik 492 kapsul Tripoten dari tokonya lima hari setelah surat edaran POM itu dipublikasikan.

Menurut kuasa hukum PT Dexa Medica, Frans Hendra Winarta, memang diperlukan jeda beberapa hari untuk menarik produk di pasaran di seluruh Indonesia. Namun hasil kajian BPOM itu, menurut Frans, masih perlu diperdebatkan. "Karena berdasarkan hasil riset badan independen, flripoten) tidak mengandung (tadalafil)," kata Frans.

Hingga kini, pihak Dexa Medica mengaku tidak bersalah, meski tak melakukan upaya hukum apa pun. "Tidak mau konfrontatif," ujar Frans. Atas gugatan Ilagus terhadap kliennya itu, Frans menyatakan akan melayaninya. "Kalau memang klien saya salah, biar saja pengadilan yang memutus," katanya.

Sidang perkara obat kuat masih bergulir ketika pada 24 Maret 2009, Hagus melengkapi gugatannya terhadap Citibank. Jika pada gugatan pertama ia menempatkan diri sebagai nasabah kartu kredit Citibank Visa, pada gugatan keempat ini ia mengambil peran sebagai pemegang kartu kredit Citibank MasterCard. Materi gugatannya hampir sama, seputar pembebanan bea meterai kepada nasabah dan beberapa implikasi

yang merugikannya. ***

Hampir sebulan kemudian, tepatnya 28 April 2009, Hagus mendaftarkan gugatan kelima dalam sejarah hidupnya. Seperti sebuah siklus, sederhananya, gugatan ini merupakan tindak lanjut atas persoalannya dengan ABNP. Hanya saja, yang menjadi tergugat pertama adalah Adnan Buyung Nasution dalam kapasitasnya sebagai pejabat negara (anggota Dewan Pertimbangan

Presiden), yang diduga ikut campur dalam konflik kepentingan ABNP ketika menangani kasus gugatan Hagus terhadap Citibank.

Masih berkaitan dengan proses persidangan kasus bea meterai Citibank, penggemar lukisan itu mendaftarkan gugatan keenam pada 14Juli 2009. Yang menjadi tergugat pertama adalah Fredy N. Montolalu, kuasa hukum Citibank dari Kantor Pengacara Manullang Kolopaking. Para tergugat dalam gugatan ini, menurut Hagus, telah menghalangi, melanggar, dan mematikan hak perdata penggugat untuk menghadiri persidangan.

Kasus itu menyaratkan gugatan atas proses gugatan lainnya. Dalam poin pertama "legal standing penggugat", Hagus menuliskan posisi hukumnya sebagai penggugat dalam redaksional sebagai berikut "Bahwa penggugat adalah selaku pihak penggugat dalam perkara gugatan...."

Hingga saat ini, Ilagus telah mendaftarkan tujuh gugatan. Gugatan yang disebut terakhir ini ia daftarkan pada 4 Agustus 2009. Ketika itu, enam gugatan lainnya masih dalam proses persidangan dan belum satu pun perkara yang sampai pada tahap putusan. Hanya ada satu

tergugat dalam gugatan ketujuh ini. Yaitu Tjandra Tedja.

Gugatan terhadap Tjandra Tedja itu sepertinya bukanlah perkara hukum terakhir buat Hagus. Selintas, ia mempertimbangkan rencana dan peluangnya untuk satu-dua perkara lain. "Tapi sekarang saya konsentrasi terhadap perkara-perkara yang sedang berjalan ini dulu. Repot juga kalau kebanyakan berperkara," ujarnya.

Menilik kemungkinan adanya kekurangan atau keterbatasan dalam materi gugatan yang disusun Hagus, menarik dicatat bahwa tujuh gugatan itu didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan ketujuhnya adalah perkara perdata perihal "gugatan perbuatan melawan hukum".

Selain itu, dalam empat dari tujuh tuntutan atas kerugian imateriilnya, Hagus mencantumkan nominal Rp 99.888.888.000. "Saya suka angka delapan dan sembilan," kata pria yang kini berusia 46 tahun itu.

Delapan atau fat dalam bahasa Mandarin adalah nama tengah Hagus. Lelaki yang sejak lulus SMA terjun ke dunia usaha ini memiliki nama Tionghoa Ho Fat Hien, rn

Bambang Sulistiyo

Sebuah Rapsodi Penuh Mimpi



KISAH babu-babu kita di luar negeri bukan hanya kisah sedih. Di Hong Kong pembantu-pembantu Indonesia seolah menemukan keriangannya. Di Hong Kong mereka seolah bisa mengekspresikan diri seluas-luasnya. Fakta yang sering dilupakan ini menginspirasi sejumlah anak muda Jakarta membuat film Minggu Pagi di Victoria Park. Selama hampir sebulan, November lalu, film yang disutradarai Lola Amaria ini melakukan syuting di Hong Kong. Inilah laporan wartawan Tempo Seno Joko Suyono yang mengunjungi proses syuting itu. Dia melengkapinya dengan kisah pembantu-pembantu yang sukses jadi pengusaha di Hong Kong.

AN Chai. Kawasan penuh deretan bar di Hong Kong itu terkenal dengan kehidupan malamnya. Di sana bertebaran diskotek dan tavema yang menyediakan erotic dancer. Inilah sebuah kawasan "red district" yang menjadi latar novel laris The World ofSuzie Wong karya Richard Mason, yang kemudian difilmkan dan dibuat opera.

Dalam novel tahun 1957 itu dikisahkan seorang pelacur bernama Suzie Wong jatuh hati kepada Robert Lomax, pemuda Inggris yang menginap di Hotel Luk Kwok. Hotel itu masih ada sampai kini di Gloucester Road. Tapi kini, di Wan Chai, yang membuat ramai barbar bukan sosok seperti Suzie Wong yang asli Hong Kong, melainkan pekerja-pekerja malam asal Filipina, Thailand, dan Indonesia. Cobalah Anda ma-sukkediskotek-diskotek, seperti Makati, Laguna, Dream 2, Anda akanmelihat banyak pekerja malam asal Indonesia.

Dan siang itu, di sebuah pub bernama Neptune 2 tampak Titi Syuman duduk di bar. Ia mengenakan mini sexy dress merah dan bot hak tinggi. Neptune 2 Disco Pub terletak di Jaffe Road. Tak jauh dari sebuah pub yang namanya berbau Indonesia Diskotek Cinta. Nep-
tune 2 sendiri terletak di lantai bawah tanah, yang sumpek.

Seorang tamu bule berperawakan "renegade" membawa Titi Syuman ke sebuah sofa di sudut. Ia mulai menciumi rambut Titi.

"Sekar!"

Tiba-tiba Donny Damara menyeruak, sambil menarik tangan Titi. "Cut..."

Adegan dilanjutkan. Titi, dengan aksen medok Jawa Timuran, marah kepada Donny;

"Ngopo to. Mas Gandhi. Jangan cari aku! Wis tak batek. Kerjo\"

Itulah secuplik adegan syuting film Minggu Pagi di Victoria Park. Inilah sebuah film yang berusaha memotret ke-perihan dan kegembiraan kehidupan tenaga kerja wanita atau TKW kita di Hong Kong. Titi Syuman menjadi seorang TKW yang terdampar dalam kehidupan pub-pub di Wan Chai. Dan Donny Damara menjadi Gandhi, pemuda Indonesia yang dianggap sesepuh bagi TKW.

Sutradara Lola Amaria dan penulis skenario Titin Wattimena melakukan riset habis-habisan. Mereka sebe-
lumnya mewawancarai puluhan TKW dan mendatangi seluruh kawasan di Hong Kong untuk menentukan lokasi. "Skenario sampai kami rombak 10 kali. Kami bolak-balik ke Hong Kong dari Juli 2008 sampai September 2009," kata Lola. Selama 22 hari pada November, dengan membawa 30-an kru, akhirnya syuting di Hong Kong terlaksana. Produser Dewi Umaya dan Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noel Letto) dari Pick Lock Production bergantian mengunjungi tim.

Sebuah Film tentang suka-duka pembantu kita di Hong Kong memang layak muncul. Pemba ntu-pembantu itu bagaimanapun fenomena diaspora kita yang memukau. Ratusan ribu TKW kita kini mengadu nasib di Hong Kong. Seribu TKW masuk tiap bulan ke Negeri Naga itu. Gaji mereka HK$ 3.580 atau sekitar Rp 4 juta. Bahkan yang senior dan disukai majikan bisa mencapai Rp 8 juta. "Bayangkan, dari Bank Mandiri saja Lebaran kemarin tercatat sekitar Rp 8 triliun pengiriman uang dari TKW ke Indonesia," kata Dewi Umaya.

Dan yang paling menarik, mereka tampak diterima oleh masyarakat Hong Kong. Mereka tampak diakui sebagai bagian dari wajah multikultural Hong Kong. "Babu kita fast learner. Orang

sini suka," kata Dewi. "Majikan Hong Kong, sebelum mengambil pembantu, melakukan interview dalam bahasa Inggris atau Kanton dengan calon pembantu di Jakarta memakai webcam komputer. Mereka jadi tidak beli kucing dalam karung," Lola menambahkan.

Temuilah seorang babu bernama Imas. Umurnya 24 tahun, asal Desa Li-gung, Majalengka. Rumah majikannya di Saikung, dekat Kowloon Bay. Sebelum menjadi pembantu di Hong Kong, ia telah berpengalaman menjadi babu di berbagai negara. Umur 14 tahun, saat kelas II sekolah menengah pertama, ia terbang ke Arab. Selama tujuh tahun ia bekerja di sana. Kemudian ia pindah bekerja di Malaysia. Bertahan setahun, ia menjajal menjadi pembantu di Singapura.

Di Negeri Singa ia juga hanya setahun, sebelum melesat ke Hong Kong. "Di Hong Kong kerja ringan, banyak li-burnya," kata Imas. Disuruh membandingkan mana lebih berat bekerja di Arab atau Hong Kong, ia cepat menukas "Ya, jelas di Arab. Di sana rumahnya gede-gede, banyak yang tingkat dua, sedangkan di sini luas apartemen paling gede 150 meter persegi."

Memang maj ika n-m aj ik an di Hong Kong memberikan libur pada Sabtu-

Minggu dan tanggal merah di kalender atau public holiday. Bila pembantunya masuk, akan ditambah bayaran per hari. Biasanya sekitar HK$ 100. Tapi umumnya pada Minggu itu para TKW kita menggunakan kesempatan untuk mengekspresikan diri di Victoria Park, Causeway Bay. Di taman yang lebih luas daripada Monas itu kita melihat bagaimana TKW menjadi Heung gong yan atau Hong Konger ala mereka sendiri.

Siapa pun dari Jakarta yang mampir pada Minggu di Victoria Park pasti terkesima melihat fenomena ini. Jauh dari kampung halaman, ribuan TKW kita merayakan kebebasan mereka. Gaya dandanan mereka metropolis, meski sering tak match dengan bodi mereka. Di taman yang dulu dipersembahkan kepada Ratu Victoria itu, mereka melakukan aneka kegiatan seperti di kampung. Di berbagai sudut Victoria ada kumpulan berbahasa Jawa medok sembari mengudap camilan-camilan pe-yek, keripik. "Mereka tetap mempertahankan kultur desa," kata Sabrang.

Juga di hari libur itu banyak pembantu mencoba tamasya ke Makau. "Gampang, naik feri. Terus ada bus gratis ke-liling-kelilinghoteltempatjudi.Ya,aku naik saja, lihat-lihat judi," kata Wati, 27 tahun, asal Kepanjen, Malang, yang se-
hari-hari mengurus Apartemen Kingston Building di Causeway Bay. "Saya pernah diajak majikan ke Beijing, naik mobil dua hari, lihat Tembok Cina," kata Sri Sumarsih, 35 tahun, asal Purwodadi. "Majikan saya malah mengajak ke Malaysia terus ke Bali, saya sebelumnya tak pernah ke Bali," kata Lastri, 29 tahun.

Toh, tetap ada nada sedih di keriangan tersebut. Tim Lola melihat problem terbesar terletak di kampung. "Mereka menjadi sapi perah keluarga," kata Dewi Umaya. Inilah temuan tim yang menjadi inti film. Menurut Dewi, keluarga para TKW di desa terus-menerus meminta kiriman uang dengan berbagai alasan. "Paling klise untuk beli motor."

Film ini menceritakan bagaimana seorang bapak di Gempol, dekat Surabaya, memaksa anaknya, Mayang (Lola Amaria), menjadi TKW untuk mencari adiknya, Sekar, yang sudah lebih dulu menjadi TKW tapi tak ada kabar. "Masa kontrak TKW Sekar habis. Ia terbelit utang dan mencoba menjadi perempuan malam. Peraturan di sini, bila selama seminggu pembantu tidak mendapat majikan baru lagi, ia ilegal," kata Lola. Di Hong Kong, Mayang berkenalan dengan Vincent (diperankan Don-

ny Alamsyah, sebelumnya main di film Merah Putih), seorang pegawai pengiriman barang. Keduanya kemudian dekat. "Cinta hanya bumbu," kata Dewi.

Melihat proses syuting Minggu Pagi di Victoria Park berlangsung, memang pembantu-pembantu itu seperti menyaksikan cermin kehidupan TKW sendiri. Di Wan Chai, duduklah dan minum bir dengan seorang perempuan asal Desa Cikandang, Kediri. Ia mengaku namanya Cindy, umurnya 27 tahun. Ia bukan pekerja malam. "Saya masih TKW kok, Mas." Tapi penampilannya jalang. Sekali melihat, kita tak menyangka asalnya Jawa Timur. Po-tongannya lebih mirip penari-penari bar Amerika Latin. Tubuhnya sekal. Rok mininya yang jauh di atas dengkul bermotif tutul-tutul. Gaya rambutnya panjang pirang kriwil merangsang.

"Kayak Mbah Surip ya rambutku," katanya, seraya tertawa. Ia pagi bekerja menjadi pembantu di daerah Kennedy Town. Cukup jauh dari Wan Chai. Sabtu dan Minggu selalu suka keluyuran di Wan Chai. Dia mengaku nongkrong-nya tidak di Neptune, tapi lebih suka di Galaxy Pub and Bar. "Saya lebih suka di sana, musiknya hip hop, cakep banget, kalau di sini terlalu slow."

Dia bercerita paling sering menemani tamu-tamu Afrika. "Mereka suka sambil nonton sepak bola," katanya. Sede-
mikian seringnya ia menemani tamu sampai pihak bar selalu menggratiskan biaya masuk yang seharusnya HK$ 400. "Minum bir saya enggak bayar," katanya. Ia tak menampik jika dikatakan banyak pekerja ilegal asal Indonesia yang berprofesi sebagai pekerja malam.

Salah satu adegan penting lain adalah adegan di tempat pengiriman dan peminjaman uang. Di Hong Kong, bank-bank kita, seperti BCA dan Mandiri, buka sampai Minggu tapi hanya melayani jasa remittance atau pengiriman uang. Di Hong Kong lalu banyak tempat pengiriman uang khusus ke Indonesia yang didirikan swasta. Sementara di bank tiap pengiriman ada biayanya, di situ tidak. Mereka mencari keuntungan dengan memanfaatkan selisih kurs. Anda bisa melihat di jalan-jalan di sekitar Sugar Street sampai Pennington Street banyak plang bertulisan "Langsung sampai tidak ada potongan". Juga tempat lembaga utang. "Di sini lembaga utang legal," kata Lola.

Lola pun banyak mengambil syuting di warung yang sering menjadi tempat kongko para TKW, misalnya di warung Bude di depan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Leighton Road. Di warung ini biasanya para TKW makan sambil memfotokopi paspor. Di KJRI sendiri, misalnya, sangat mengharukan menyaksikan adegan pembekalan bagi para babu yang baru pertama kali datang. Tampak wajah-wajah mereka

penuh harapan ketika mendengar gaji mereka melebihi gaji sarjana di Jakarta. "Tolong, Mbak-mbak jangan senyum-senyum, ya," Lola memberi pengarahan saat Donny Damara yang berperan sebagai wakil konsulat menjelaskan soal gaji, mereka malah ada yang mencuri-curi foto dengan telepon seluler.

Yang menarik, Lola dan Titin Wattimena juga mengungkap bagaimana fenomena lesbi merebak di antara TKW kita. Lola menekankan bahwa ia tidak ingin membuat film lesbi. "Fenomena lesbi hanya sebagian kecil permasalahan TKW di Hong Kong. Namun riil," katanya. Saat Fitriasih, anak Institut Kesenian Jakarta yang berperan sebagai Agus, seorang lesbi dengan potongan rambut cepak, lalu-lalang di antara kru, para TKW yang menonton syuting segera bisa menangkap perannya. "Wah, itu tombolnya," kala mereka cekikikan.

Syuting dilakukan sampai sudut-sudut Hong Kong. "Kami memilih lokasi mulai daerah lorong-lorong sempit di Kowloon sampai pusat bisnis di Central," kata Lola. Untuk lokasi gudang pengepakan barang tempat kerja Gandhi, misalnya, dipilih lokasi daerah Tsan Sai Poo di Kowloon. "Daerah Tsan Sai Poo itu daerah Bronx, daerah drug, masih banyak copet," kata Yadhi Sugandi, juru kamera (sebelumnya sutradara film Merah Putih). Ada-
pun apartemen Sekar dipilih di daerah Lion Rock Road, Kowloon, yang masih kumuh seperti Glodok. Sebetulnya bisa saja Lola mengakali semua syuting di satu lokasi, toh penonton Indonesia tak tahu. Namun Lola ingin agar filmnya screalis mungkin.

Lola ingin Mlmnya menjadi film Indonesia dengan ritme dan warna Hong Kong. "Ritme orang Hong Kong yang berkejaran dengan waktu," kata Lola. Arus manusia yang bergerak ke sana-kemari, orang-orang yang berjalan kaki seperti setengah berlari. Menurut Yadhi, Sugandi, tone warna Hong Kong berbeda dengan Jakarta. Langit di Hong Kong, misalnya, berwarna biru

agak campuran hijau. Di malam hari, bila syuting dilakukan, juga tidak diperlukan lampu karena neon sight menjadikan Hong Kong terang-benderang. Saat Sekar menyusun trotoar Wan Chai, kamera Yadhi oleh Lola diminta mengikuti tanpa sama sekali bantuan lampu. "Malam enggak pake cahaya warna sudah jadi," kata Yadhi.

Memang, malamdiHong Kong seperti siang. Dari pelabuhan Causeway Bay akan terlihat panorama indah saat malam hari. Di seberang laut tampak ker-lap-kerlip gedung tinggi yang menjadi landmark Hong Kong bagai jutaan ku-nang-kunang Pencakar langit seperti headquarter HSBC (The Hong Kong Shanghai Bank Corporation) dan Bursa Efek Hong Kong yang naik-turun indeks HangSeng-nya dipantau para fund manager seluruh dunia. "Lihat sebelah sana, itu daerah Kowloon," kata Lola,
sambil duduk menyenderkan punggungnya di bangku batu, di pelabuhan Causeway Bay, melepaskan lelah seharian menyutradarai, seraya mengisap rokok Marlboronya dan meneguk bir. "Lihat itu gedung International Finance, dari situ Batman (Christian BaJ-le dalam film Dark Night) meloncat," kata Sony Setiawan, fotografer lulusan IKJ yang menjadi bagian tim.

Setelah film Ketika Cinta Bertas-bih 1, mungkin film ini adalah film kita yang hampir seratus persen dikerjakan di luar negeri. Pihak Pick Lock Production menggandeng production house Hong Kong bernama Alchemy Icon Limited. "Mereka production support,
mengurus izin lokasi, menyediakan semua peralatan, mendampingi syuting," kata Sari Mochtan, Line Producer. Yang awalnya menyulitkan tim Indonesia, peraturan jam kerja Hong Kong begitu ketat. Peraturan bekerja hanya 10 jam per hari, padahal kru Indonesia biasa bekerja sehari penuh. "Kami nawar dari 10 jam sampai 12 jam. Lebih dari itu overtime," kata Dewi Uma-ya. Untungnya, semua target bisa dicapai. "Kami nyamain persepsi," dia menambahkan. Dalam soal lighting, misalnya, Yadhi menginginkan para kru Hong Kong seperti membikin film mereka sendiri. "Saya membiarkan kebiasaan mereka mengeset lighting, kebiasaan inereka men-treat lokasi, baru kemudian saya touch."

Awak film Hong Kong sendiri terlihat antusias bekerja sama. Mereka tampak mengerti persoalan yang disodor-
kan film ini. Apalagi dalam beberapa adegan digunakan bahasa Kanton. Para pemain memang digembleng kursus Kanton. Lola sendiri sangat lancar. Sebelumnya ia pernah main dalam film produksi Taiwan, The Detour of Paradise, yang menggunakan bahasa Mandarin. Juga Titi Syuman. Saat adegan ia ditolak masuk ke bar oleh pemilik bar, karena Sekar pernah membuat kerusuhan, percakapan terjadi dalam bahasa Kanton. Titi memohon-mohon dalam bahasa Kanton yang fasih.

Film ini juga melibatkan aktor-aktor Hong Kong. "Pihak Alchemy yang menyediakan, kami yang pilih," kata Lola. Majikan Lola, misalnya, bernama Tuan Chow, yang memiliki anak laki-laki kecil Sie Jun. Fenomena anak-anak Hong Kong yang diasuh babu Indonesia sendiri menarik. Banyak di antara mereka yang lalu mengenal kosakata Indonesia. "Mereka sebelum makan ada yang ngu-capin bismillah. Ada yang bilang assalamualaikum," kata Dewi. Dalam film ada adegan Mayang memarahi Sie Jun dalam bahasa Indonesia walau Sie Jun tidak mengerti. "Sic Jun kini sudah paham beberapa patah bahasa Indonesia," kata Lola tertawa.

Demikianlah, awal kisah bagaimana babu-babu kita sampai ke Hong Kong adalah karena mereka dibawa oleh pelarian Tionghoa Indonesia yang di zaman Soekarno merasa tertekan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1959, yang tak memperbolehkan usaha perdagangan kecil dan eceran di ibu kota daerah. Dari sinilah bertahun-tahun kemudian menyusul ratusan ribu pembantu lainnya. Ada yang lesbi, ada yang ilegal, ada yang kawin, tak lagi jadi pembantu, berwarga negara Hong Kong, dan menjadi pengusaha. Bukan tidak mungkin 50 tahun lagi ada kata-kata Indonesia yang terserap menjadi kata umum dalam percakapan sehari-hari Hong Kong. "Para babulah yang berjasa pada proses asimilasi ini," kata Sabrang "Letto".

Di Hong Konglah mereka menaruh mimpi. Di Hong Konglah tapi terjadi kekecewaan-kekecewaan. "Di antara warna-warni memang ada yang suram," kata Lola. Namun menyaksikan fenomena mbak-mbak pembantu itu mampu menciptakan Indonesia kecil yang riang di pojok-pojok Hong Kong, sedangkan di negeri sendiri mereka sering tidak diorangkan, bagaimanapun kita bisa terharu. "Kami bukan apa-apa dibanding mereka," kata Dewi Umaya lirih.

Kamera, siap. Rolling... action.

Kita Belum Ada Aturan Tentang Penamaan HllaHifcteinnal Pada Htjuiali Siikit



Belum adanya, pengaturan atau standarisasi mengenai pembangunan dan pembuatan nama suatu rumah sakit yang mempunyai taraf international, berakibat pada terbukanya serta peluang rumah sakit swasta dalam membuat sebuah nama dengan embel-embel "International." Hal ini secara hukum, memunculkan suatu kekosongan hukum dalam menindak adanya praktek nama rumah sakit, sehingga rumah sakit swasta yang memakai nama international tidak jadi persoalan hukum.

Berbagai pengalaman seperti halnya kasus yang ramai diperbincangkan, sebut saja, rumah sakit Omni Intenational, sebelum meruaknya kasus rumah sakit ini, masyarakat beranggapan bahwa rumah sakit tersebut bertaraf international dikarenakan naman internasional. Namun setelah mencuatnya kasus tersebut, akhirnya rumah sakit Omni International terbongkar statusnya, bahwa rumah sakit tersebut bukan merupakan rumah sakit yang bertaraf international, persoalan rumah sakit di Indonesia memang semakin pelik, mulai dari rumah sakit yang sudah hilang fungsi sosialnya, dan cenderung berorentasi dagang secara liberal.

Ditengah-tengah persoalan rumah sakit swasta, ternyata terdengar kabar bahwa rumah sakit yang memang secara konstitusi difungsikan sebagai rumah sakit yang mempunyai pelayanan sosial, yaitu Rumah Sakit milik Pemerintah, yang rencananya akan diswastariisasikan. Dan kalau ini benar-benar rumah sakit pemerintah diswastanisasi, maka secara miris masyarakat yang kurang mampu, tidak akan pernah mengakses pelayanan kesehatan, yang disebabkan beban pembiayaan yang terlampau mahal, dan sama saja dengan rumah sakit swasta yang ada.

Sebagai orang yang pernah menjabat Menteri Kesehatan pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid satu, sosok Siti Fadilah Supari memang mengagumkan dan terlihat tegas. Contohnya ketika Indonesia dilanda virus (lu burung. Ketika itu Siti membuat buku dengan judul Saatnya Dunia Berubah. Tangan 1\ihan di Balik Virus Flu Burung" yang isi nya mengungkap permainan kotor dan curang, yang dilakukan oleh WHO dan negara-negara maju. Caranya sendiri memang sangat licik. Ketika Indonesia terkena suspect virus flu burung, pihak WHO meminta sample virus tersebut tanpa syarat untuk diteliti di Amerika. Tapi sayangnya, pihak Indonesia tidak pernah tahu untuk apakah virus itu nantinya, apakah untuk vaksin atau jangan-jangan untuk dijadikan senjata biologis. Itu juga yang menjadi kekhawatiran Siti Fadilah. Wanita kelahiran Solo, 6 November 1960 ini juga menguak praktik-praktik kapitalistik yang dilakukan oleh negara-negara barat ketika menerima sample virus. Caranya adalah, ketika WHO menerima sampel virus dengan mudah dari negara-negara suspect (lu burung, termasuk Indonesia, WHO juga dengan mudahnya memberikan sampel tersebut kepada produsen-produsen obat dine-gara maju untuk diolah menjadi vaksi. Dan nantinya vaksin itu akan dijual kepada negara-negara penderita dengan harga yang sangat mahal.

Lalu bagaimana tanggapan dan penilaian Siti Fadilah Supari atas persoalan-persolan dibidang kesehatan ini, serta apa solusi dan harapan yang ditorehkan kepada Menteri Kesehatan yang baru, sehingga sejalan dengan amanat Pancasila dan Konstitusi Indonesia. Berikut petikan wawancara dengan

Siti Fadilah Supari yang pernah menjadi Menteri Kesehatan Kabinet Bersatu Jilid I dibawah Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, goal di temui (likrdnimiinnya oleh Fathul Ulum dari FORUM ptkan lalu. Petikannya.

Bagaimana pendapat Anda mengenal perselisihan Rumah Sakit Omnl International dengan Prita Mulyasari?
Bukan masalah hukuman, cuman kalau orang kecil begitu ada masalah, gampang sekali mendapatkan hukuman atau denda. Itu yang menonjol pada saat ini, seperti halnya dengan nenek Minah, yang tak pernah menyangka perbuatan isengnya memetik tiga buah kakao dihukum 1 bulan 15 hari.

Pada waktu masih menjabat sebagai Menkes, apakah ada upaya untuk mendamaikan perselisihan rumah sakit Omnl International dengan Prita Mulyasari?

Memang pada waktu saya masih menjabat sebagai Menkes, ada upaya untuk mendamaikan perselisihan rumah sakit Omni International dengan Prita Mulyasan. Tapi upaya ini memang tidak ada secara khusus di Depkes hanya secara informal. Saya juga tidak tahu kenapa tiba-tiba permasalahan ini muncul kembali, setelah adanya pergantian di Menkes. Dulu memang mau ada damai diantara yang berseteru itu, kemudian tiba-tiba ada hukuman bagi Prita untuk membayar sejumlah uang kepada rumah sakit Omnl International, ya saya kaget banget.

Apa sebelumnya pernah ada upaya-upaya perdamaian Ku?

Sebelumnya, belum pernah ada upaya-upaya perdamian. Seperti halnya perselisihan rumah sakit Omni International derv gan Prita Mulyasari, dan di Undang-undang Perumahsakitan juga tidak ada selengkap itu. Darimana muncul Ide untuk mendamaikan perselisihan rumah sakit Omni International dengan Prita Mulyasari?

Munculnya ide ini memang secara infomiil. Tetapi setelah itu kemudian tidak diberitakan, semua orang mengira Prita Mulyasari sudah ok, kemudian tiba-tiba muncul lagi kasus rumah sakit Omni Intenational dengan Prita Mulyasan Ini.
Apakah Anda mengetahui kenapa Prita Mulyasari berobat di rumah sakit Omnl International?

Tentang rumah sakit International, kenapa Prita memilih disitu karena kantornya bekerja sama dengan rumah sakit Omni International, karena dipikirnya rumah sakit Omni itu adalah bertaraf International. Rumah sakit international itu bukanlah merupakan suatu jaminan bagus dari pada rumah sakit pemerintah, terus bagaimana? sebelum adanya pergantian presiden yang diikuti dengan adanya pergantian kabinet bersatu Jilid I, saya sudah mengatakan kepada Dirjen untuk membereskan rambu-rambu rumah sakit International, karena bisa membuat orang salah persepsi.

Apakah pada waktu jadi Menkes ada upaya untuk membuat rambu-rambu penertiban Rumah Sakit yang mengunakan nama International?

Sebelum adanya pergantian kabinet Jilid I, saya mempunyai keinginan untuk menertibkan, akan tetapi masih ada didalam penggodokan belum ada hasilnya dan mudah-mudahan di periode kabinet Jilid II khususnya di bidang kesehatan mampu meneruskan adanya rambu-rambu atau aturan tegas untuk menertibkan apa yang disebut dengan rumah sakit international. Dan mudah-mudahan dengan adanya undang-undang rumah sakit, dengan adanya penamaan rumah sakit International segera ditertibkan.

Kenapa banyak rumah sakit yang menamakan International?

Selama kita belum mempunyai batasan-batasan mengenai rumah sakit International itu, maka Rumah Sakit bebas-bebas saja dalam memberikan nama (Internasional), karena tidak ada aturanya secara tegas. Pekan lalu DPR RI menyatakan akan mengeluarkan rekomendasi supaya Omni di tutup, bagaimana tanggapan ibu?

Saya kira rumah sakit itu, ijin prinsipnya dan ijin operasionalnya ada di Pemerintah Daerah dan Departemen Kesehatan. Saya tidak begitu ingat kapankah pemenntah itu boleh menutup rumah sakit, kapan rumah sakit itu ditutup karena dihukum saya belum tahu, kecuali urusan dengan nyawa. Artinya adanya mal praktek bahwa rumah sakit kecil dipakai untuk operasi besar, padahal tidak memenuhi syarat. Kemudian adanya suatu tindakan yang tidak mendapatkan ijin untuk Abortus medismalis. Abortus dengan pertimbangan-pertimbangan medis. Sebetulnya Abortus sendiri sudah dengan pertimbangan medis tapi ruangan itu tidak pantas melakukan Abortus dan tidak ada ijinya untuk melakukan Abortus. Jadi kejadian seperti ini bisa dikatakan perbuatan mal fungsi dengan ijinnya, kalau seperti itu rumah sakit bisa ditutup. Untuk kasus seperti rumah sakit Omni International saya belum tahu, dengan klausul apa nanti rumah sakit Omni International ini dapat ditutup? Saya juga belum begitu tahu.

Bagaimana dengan penamaan international yang dipakai dalam rumah sakit Omni?

Rumah sakit international yang dipakai Omni itu dianggapnya sebagai nama biasa bukan nama bertaraf International. Kalau rumah sakit bertaraf International itu belum diatur oleh Depkes, sampai pada saat peristiwa Omni itu ada, karena belum ada batasarvbatasan di Depkes apa yang disebut dengan rumah sakit International, maka mereka memberi nama itu dan kemudian di ijinkan oleh Pemerintah Daerah, jadi sah-sah saja. Mau bilang tidak sah, ya bagaimana, karena belum ada aturan. Padahal rumah sakit yang bertaraf International itu, sebelum adanya pergantian kabinet jilid I. saya panggil pakar-pakar untuk membicarakan masalah ini, dan mendengar pendapat para pakar ini, ada berbagai pendapat, ada yang berpendapat bahwa rumah sakit itu sudah mendapatkan Akreditasi oleh Persatuan Rumah Sakit yang berkelas dunia {World Class), dan persatuan atau perkumpulan itu tentunya mempunyai setandarisasi, kalau rumah sakit di akreditasi oleh mereka maka mungkin barangkali rumah sakit itu yang dikatakan bertaraf International.

Apakah ada rumah sakit yang bertaraf International di Indonesia?

Sekarang ini memang ada rumah sakit International yang bekerjasama dengan rumah sakit yang ada diluar negeri, dan ada

juga yang menamakan persepsmya international itu alat-alatnya yang canggih, yang setaraf dengan di Singapore. Ada juga yang persepsmya rumah sakit International itu bangunannya mewah sekali, dan itu belum ada sinkronisasi. Jadi belum ada standarisasi apa yang disebut dengan rumah sakit International. Menurut saya, segera ditertibkan, karena pada waktu masih menjabat sebgai Menkes saya berusaha menertibkan tetapi sudah keburu masa pengabdian habis.

Apakah Rumah Sakit Swasta ttu tanggung Jawab Pemerintah Indonesia?

Rumah sakit swasta di Indonesia bukan tanggungjawab pemerintah sama sekali. Rumah sakit itu dihadapkan dengan pasar bebas, sehingga rumah sakit swasta kalau dia memikirkan fungsi sosialnya, dia tidak akan mendapatkan profit yang dia harapkan secara maksimal, disitulah letak rancunya pasar bebas dan dike-sehatan dengan UUD 45. Jadi kalau kita konsekuen dengan UUD 45, bagaimana pemerintah harus melayani rakyatnya? Bagaimana cita-cita jiegara kita? Kenapa negara memerdekakan negara ini dengan cita-cita melindungi segenap bangsa dan tumpah darahnya untuk kesejahteraan umum, untuk mencerdaskan bangsa dan ikut andil didalam perdamaian international? Dengan melihat semanggat Pembukaan UUD 45, seharusnya rumah sakit lebih banyak kepada fungsi sosialnya. Namun di global, rumah sakit dianggap sebagai komoditas dagang, sehingga dengan sistem. pasar bebas yang dianut oleh Indonesia, maka rumah sakit

swasta berhak untuk seperti itu. Dan untungnya rumah sakit pemerintah tidak di swastakan.

Pada waktu Anda menjadi Menteri, apakah rumah sakit pemerintah ada rencana untuk di swastanisasikan?

Rumah sakit pemerintah pada waktu itu akan di swastakan, sekarang saya juga takut, jangarvjangan dalam 5 tahun ini rumah sakit pemerintah di privatisasi dan ini mengerikan. Itulah neo liberalisasi. Kalau rumah sakit pemerintah dihapus fungsi sosialnya, semuanya harus pro profit, pemerintah tidak akan mensubsidi lagi. Silahkan mencekik rakyat, dan ini adalah benar-benar neolib. Sekarang masih lumayan rumah sakit pemerintah bentuknya Badan Layanan Umum (BLU) dan di Daerah namanya BLUD. Di daerah-daerah itu menggangap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) itu adalah Pendapatan Asli Daerah (PAD) itu salah besar. Pemerintah daerah, apakah itu Bupati, walikota itu dipilih oleh rakyatnya, maka tidaklah senonoh, dan tidaklah sepantasnya kalau pemimpin yang dipilih rakyatnya mencari duit dari rakyatnya yang sakit. Seharusnya pemerintah melayani rakyatnya yang sakit. Wong orang sudah dipilih, bukannya malah ngutip orang yang sakit menjadi pendapatan daerahnya. Dan kalau benar-benar terjadi neo liberalisasi menjamah bidang kesehatan bersiap-siaplah bangsa ini menuju kehancuran, karena masih ada 76 juta rakyat kita yang belum siap untuk menghadapi pasar bebas dibidang kesehatan. Sekarang rakyat tenang-tenang dan baik-baik. Kalau neo liberalisasi benar-benar di aplikasikan di segala bidang di Indonesia, maka ini akan merugikan

bangsa dan im yang sangat bahaya.

Rumah sakit di Indonesianya sangat banyak, apa memang mudah dalam perijinannya untuk membuat Rumah Sakit?

Ya, memang banyak rumah sakit di Indonesia dan memang itu diperdagangkan, walaupun itu sebenarnya melanggar konstitusi. Memang ada aturannya tapi juga tidak mudah untuk mendirikan suatu rumah sakit. Tapi maksudnya rumah sakit tanpa fungsi sosial ini juga banyak. Dan mungkin orang miskin hanya boleh ke Puskesmas. Sekarang dan tahun 2010 akan dibuka lebar-lebar oleh Menteri Perdagangan bahwa rumah sakit asing akan masuk secara berduyun-duyun ke Indonesia. Saya menahan setengah mati masuknya rumah sakit asing ini dari tahun 2008, tapi sekarang silakan saja kalau Menterinya seperti ini.

Kalau status rumah sakit pemerintah berubah?

Kalau sampai status rumah sakit pemerintah berubah, rakyatnya itu harus bergerak. Salah satu yang harus dipantau oleh pers, jadi ada program-program saya terdahulu yang perlu dipantau oleh rakyat, salah satu tutupnya Namru II. Itu harus dipantau terus. Tentang privatisasi rumah sakit pemerintah tidak bisa di swastanisasikan, kemudian harga obat generik yang menentukan adalah pemerintah, dan pemerintah berhak melakukan regulasi terhadap perdagangan obat di Indonesia. Ini nanti yang kelihatannya akan dirubah dan akan di neo liberalisasikan. Seharusnya kebijakan-kebijakan nanti yang dikeluarkan harus senada dengan pancasila dan UUD 45, dan harus sesui dengan kepentingan rakyat.

Bagaimana tanggapan Anda mengenai program-program pendirian rumah sakit yang world class?

Kalau rumah sakit pemerintah sudah mencukupi didalam melayani fungsi sosialnya, sampai kebawah tidak ada pasien yang ditolak lagi karena tidak ada ruangan. Silahkan membuat rumah sakit World Class, tetapi kalau masih ada orang miskin yang tidak mendapat kamar dan tidak mendapatkan kesempatan untuk dirawat, karena tidak cukup tempatnya menurut saya rumah sakit world class itu dosa. Ini tidak sesuai dengan konstitusi. Kalau sudah mencukupi ya silakan. Karena kita juga harus bersaing dengan rumah sakit asing yang datang kesini. Jangan sampai rumah sakit asing disini tidak punya saingan. Ini memang pisau bermata

dua. maka kalau pemerintah membuat rumah sakit berkelas dan setuju, asal dengan catatan jangan sampai orang miskin tidak mendapatkan kesempatan, karena sesuai dengan konstitusi.

Rumah sakit yang world class ttu pasti mahal, bagaimana bisa memenuhi kepentingan rakyat kecil?

Boleh-boleh saja, supaya rakyat kita yang kaya-kaya tidak lagi kerumah sakit asing yang akan datang ke Indonesia. Boleh kita harus mempunyai rumah sakit world class, supaya nanti kalau ada rumah sakit asing datang bisa bersaing, tetapi

catatannya rumah sakit untuk rakyat kecil harus diprioritaskan terlebih dahulu. Jadi orang asing Itu keinginannya rumah sakit world class itu di swastakan dan nanti orang-orang asing yang akan mendirikan rumah sakit di Indonesia, maunya rumah sakit pemerintah yang wolrd class step by step akan di pri-vatisasikan. Tapi mudah-mudahan pemerintah jeli dan tidak perlu menurut kepada mereka, karena ini adalah pasar kita.

Dengan melihat bahwa akan terjadinya swastanisasi rumah sakit pemerintah, dan persoalan-persoalan yang muncul diatas. Apa harapan-harapan Anda?

Pertama, rumah sakit pemerintah tetap menjadi rumah sakit pemerintah sebagai kewajiban pemerintah yang melayani rakyatnya dan ini sesuai dengan konstitusi. Jangan sampai rumah sakit indonesia di priyatisasikan. Kedua, Pada saatnya nanti rumah sakit asing berhamburan datang ke Indoensia, yang akan dimulai pada tahun 2010, hendaknya pemerintah mempunyai rambu-rambu yang cukup untuk melindungi kepentingan-kepentingan rakyatnya khususnya bidang kesehatan. Jangan sampai rumah sakit asing merusak pasar kesehatan di Indonesia. Ketiga, Segeralah UU Rumah Sakit dijabarkan untuk kebutuhan sehari-hari bagi rakyat Indonesia, karena membutuhkan PP, Permenkes dan sebagainya. Mudahmudahan sangat aplikatif dan dapat melin-dunggi rakyat dan bencana kesehatan. Bencana kesehatan itu sudah besar apalagi kalau ditambah dengan bencana ekonomi kesehatan, maka akan bertambah besar dan habislah rakyat kita. Serta mudah-mudahan negara kita tetap negara yang berlandaskan pancasila dan UUD 45 dengan cara seperti ini, saya yakin bangsa ini akan terlindungi dari ganasnya Neo liberalisasi yang melanda dunia, j

UN : Belajar Mengelola Kecemasan Moderat



Di Gedung E Lantai 5, Depdiknas, Prof. Suyanto, Ph.D., yang lahir di Magetan, Jatim, 2 Maret 1953 itu banyak menelorkan Ide-ide unik. Tumpukan buku, berkas, lembaran, ada di hampir semua sudut ruangan Dirjen Manajaemen Dikdasmen yang mantan Rektor UNY Jogjakarta itu. Sebagai cendekiawan, lulusan S-3 di College of Education, Michigan State University, AS (1986) dalam bidang Social Studies Curriculum and Instruction ini punya pandangan yang khas soal Ujian Nasional (UN) yang sempat mengundang prokontra baru baru ini. Berikut perbincangan dengan INDOPOS.

PROFESOR, Ujian Nasional mencuat menjadi polemik besar, itu bukti bahwa publik semakin peduli dan concern dengan dunia pendidikan. Seberapa perlu sih Ujian Nasional itu?Sangat perlu! Kalau alasan-alasan normatif dan teknis, sudah banyak disampaikan melalui media kan? Saya melihat, UN itu memiliki makna yang amat mendasar. Salah satunya, untuk menciptakan kecemasan moderat. Cemas yang terkendali. Mengajarkan siswa untuk mengelola kecemasan yang terukur. Ini penting sekali, karena semua kesuksesan orang selalu diawali dan disertai dengan kecemasan.

Maksud Prof?

Cemas itu bukan hantu yang harus ditakuti. Cemas itu sebuah keniscayaan yang hampir pasti dihadapi oleh semua orang. Siapa saja, kapan saja, di mana saja, dengan apa saja, dengan alasan apa saja kalau ia sedang melakukan sesuatu yang ujung ujungnya harus mencapai kesuksesan. Nah, karena itu "pendidikan" untuk mampu menguasai "rasa cemas" ini juga penting dilalui para siswa kita.

Jadi, kecemasan siswa menghadapi UN itu sendiri sebenarnya bagian dari pendidikan?

Ya. Betul.

Seluruh kehidupan umat manusia tidak akan lepas dari kecemasan. Semuanya terkait. Dunia olahraga misalnya, penuh diliputi rasa waswas jika hendak bertanding. Rasa was-was itu bisa diatasi jika atlet yang bersangkutan sudah mempersiapkan fisik, mental, spiritual dan teknik yang cukup. Sama dengan UN, agar pede (baca percaya diri, red), harus belajar, menguasai melan pelajaran, siap fisik dan siap mental. Tanpa persiapan itu, mereka hanya akan diteror oleh "rasa cemas" yang kadang berlebihan. Tidak pede. Takut kalah, atau bahkan sudah kalah sebelum bertanding.

Contoh lain?

Banyak! Ibu hamil yang mau melahirkan, bisa tidak lahir bayinya kalau tidak cemas. Kecemasan itu membuat kontraksi dan menuruti instruksi dokter dan bidan. Sang dokter kandungan yang menangani kelahiran, juga diliputi kecemasan, agar bisa menyelamatkan nyawa bayi dan anaknya. Keluarga yang menunggui di luar ruangan juga terdiam, menahan rasa cemas, dan hanya bisa berdoa agar proses kelahiran berlangsung lancar.

Dalam bisnis pun sama. Seorang manajer atau direktur, dibebani dengan "ujian" juga yang bernama "target." Jika tidak tercapai, dia bisa diturunkan jabatannya, atau bahkan bisa diberhentikan dari pekerjaannya. Tiap tiga bulan, mereka harus mereport capaiannya, dibandingkan dengan proyeksi. Dibandingkan juga dengan perolehan tahun sebelumnya. Tiap tiga bulan, mereka dikejar-kejar target, yang mencemaskan!

Ketika pimpinannya ditarget, karyawannya pun dibebani dengan tugas dan kewajiban yang sangat ketat dan disiplin. Mereka diawasi ketat oleh pimpinannya, untuk mencapai atau bahkan melampaui target. Mereka pun menghadapi "rasa cemas" setiap hari. Mereka seperti menghadapi Ujian Nasional setiap hari.

Politisi, pejabat publik, tekanannya lebih kuat lagi. Ujiannya lebih kencang lagi. Pedagang, swasta, profesional, operator, seniman, penulis, semuanya menghadapi kecemasan-kecemasan sendiri-sendiri. Tidak ada orang yang bebas dari ujian yang bernama kecemasan itu.

Kalau begitu, Ujian Nasional itu sebenarnya tempat berlatih yang riil bagi seorang siswa untuk menapaki kehidupan dan masa depannya? Bahkan makin hebat seseorang, makin tinggi jabatannya, makin kuat pengaruhnya, "ujiannya" juga semakin sulit, dan tingkat kecemasan yang dihadapi semakin tinggi?

Betul. Karena itu saya sebut UN itu sebagai ujian untuk menghadapi kecemasan yang terkendali. Terukur. Artinya, dengan UN itu para siswa bisa belajar mengatasi kecemasan yang terukur, tidak merupakan kecemasan yang berlebihan. Hasil penelitian ilmiah menunjukkan hubungan antara kecemasan dan prestasi seseorang berbentuk kurva parabolik seperti huruf U terbalik. Dari hubungan ini dapat diketahui bahwa orang yang cemas keterlaluan akan tidak tinggi prestasinya. Sebaliknya orang yang tingkat kecemasannya paling rendah, atau bahkan tidak cemas sama sekali, diajuga tidak akan berprestasi. Bagi yang terialu cemas atau cemas berlebihan, dia secara psikologis terganggu sehingga tidak bisa berfikir jernih dan rasional. Bagi yang tidak cemas sama sekali dia berarti tidak tahu permasalahan yang dihadapi, alias tidak tahu samasekali apa yang harus dikhawatirkan, sehingga dia tidak cemas. Naahh..bagi yang cemasnya moderat, tidak tinggi tidak rendah, yang digambarkan pada puncak parabolik, dialah yang akan mendapatkan prestasi yang paling tinggi diantara tiga kelompok orang tadi. Ini lihat hubungannya seperti ini (sambil menunjukkan grafik korelasional yang dibuat Prof Suyanto di secarik kertas ke INDOPOS)

Kalau begitu, seharusnya mental atau flghting spirit anak-anak didik juga harus ditempa di pendidikan sekolah dong Prof? Agar mereka tumbuh menjadi generasi kuat, tidak cengeng, tidak gampang depresi, dan mampu mengendalikan kecemasan? Ya benar, agar para siswa bisa mengendalikan kecemasan dengan baik. Cemas itu kan impact-nya bisa positif, bisa juga negatif. Pendidikan kita diarahkan agar mereka lebih positif mengelola kecemasan, sehingga justeru menjadi pemicu motivasi, pembangkit semangat, dan pelecut cita-cita untuk maju.

Implementasinya, mereka mempersiapkan diri dengan baik. Memanfaatkan waktu untuk belajar lebih optimal. Dan menguasai pelajaran demi pelajaran dengan maksimal. Ujung-ujungnya, dites dengan variasi pertanyaan mtu mil apapun, mereka dengan mudah akan melahapnya. Lulus itu sudah pasti, tantangannya menjadi seberapa besar nilainya? Berebut di posisi puncak, bukan berkutat di papan bawah harus dibudayakan sejak para siswa belajar di jalur pendidikan formal di sekolah.

Dari grafik yang disodorkan Prof tadi juga bisa dibaca, bahwa Ujian Nasional itu jika tidak dipersepsikan sebagai ujian yang serius dan bisa tidak lulus, membuat siswa ogah-ogahan! Toh tidak menentukan kelulusan? Atau karena terlalu "takut tidak lulus" membuat konsentrasi mereka buyar! Yang biasanya gampang, menjadi super sulit? Ya, betul. Maksimum impact ada di puncak parabola yang berbentuk huruf U terbalik itu, yang saya nam akan cemas moderat, cemas terkendali, cemas terukur. Mengendalikannya. bisa dilakukan dengan cara diasah, dilatih, diberi tugas tugas yang terkait dengan mata ujian yang akan diujikan, sehingga rasa cemas itu justeru membangkitkan semangat positif. Rasa cemas bisa jadi stimulus bagi terbentuknya mi M i vasi intrinsik yang inggi. Bawa, lecutan spirit untuk menyelesaikan UN dengan sukses itu sangat penting. Mereka bisa bangku, lalu mempersiapkan diri dengan baik, dan hasilnya maksimal. Coba bayangkan kalau mereka tidak cemas? Tidak takut? Cuek, tidak belajar? Berbahaya jadinya bagi masa depan mereka.

Bagaimana dengan yang siswa yang sakit saat UN?

Tahun 2010 nanti ada ujian susulan, bagi yang sakit, dan ujian nasional ula-ngan, bagi mereka yang belum lulus dalam UN pertama. Tetapi, lagi-lagi filosofi dalam dunia pendidikan itu harus dilihat secara holistik. Menjaga kesehatan itu adalah pendidikan yang sama statusnya dengan memperkuat mental melawankecemasan. Bagaimana cara siswa menjaga diri agar tetap bugar, sehat, tidak sakit, merupakan hiden curriculum yang penting yang harus dikuasai semua siswa tanpa diminta oleh siapapun. Mereka harus makan makanan sehat, untuk bisa lulus dari tuntutan hiden curriculum tersebut. Makanan yang sehat bukan berarti makanan yang mahal, dan juga bukan selalu makanan yang enak. Mereka harus bisa menjaga komposisi istirahat yang optimal. Mereka harus menghindari hal-hal yang merusak kesehatan, seperti merokok, minuman keras, obat, dan kebiasaan buruk lainnya. Mereka harus punya mind set, di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Mereka harus memperkuat diri sendiri dengan berolahraga, apapun yang cocok dan memungkinkan. Sakit, itu terjadi karena daya tahan menurun, dan bibit penyakit masuk. Kalau sehat, pertahanan tubuh otomatis kuat, dan tidak gampang sakit. Ini sudah diajarkan di bangku formal tetapi implementasinya kan tetap ada di tangan anak-anak, dan pengawasan orang tua di rumah.

Desakan agar UN dihapus, sebenarnya berakar dari banyak orang tua yang ikut resah, takut dicap anaknya bodoh? Tidak berpendidikan, tidak lulus ujian?Lalu, mereka menyoal konsep UNnya?Tanpa UN, bagaimana bisa membandingkan ketercapaian pendidikan nasional secara objektif? Aple to aple? Pria dan wanita? Jawa dan luar Jawa? Kola dan desa? Kawasan maju dan kawasan terpencil? Bagaimana membual standarisasi pendidikan nasional? Bagaimana mengukumya? Darimana pemetaan problematika pendidikan nasional? Hasil-hasil UN itu bisa digunakan untuk membual kajian di masa datang untuk berbagai intervensi perbaikan di semua standar pendidikan nasional.

Faktor pimpinan daerah mungkin? Ada yang ngotot agar tidak dicap buruk di Ujian Nasional? Daerahnya sukses di pendidikan, lalu menggunakan kekuatan politik? Bupati dan walikotanya ingin bersih dari persoalan pendidikan?Ya, ada daerah terindikasi seperti itu. Ini yang terus kami pelajari, lalu dicarikan jalan keluarnya.

Konon masih ada juga joki yang profit making? Memanfaatkan kecemasan itu untuk kepentingan bisnis? Mencari duit dari ketakutan anak-anak sekolah?

Ya, ada juga yang mengambil manfaat di sudut sempit seperti ini. Tetapi upaya mereka itu hanya laku di kalangan anak anak yang kurang percaya diri, yang jumlahnya tidak banyak juga.

Lalu apa lagkah-langkah preventif Diknas?

Soal joki, isu jawaban yang sudah beredar, Diknas juga sudah lakukan langkah preventifnya. Misalnya, dalam satu kelas itu soalnya bisa tiga macam atau tiga set. Meskipun, sebenarnya materi soalnya sama, hanya nomor urutnya yang beda, disusun kembali secara random, sehingga kalau ada yang mendapatkan jawaban dari joki, belum tentu benar dan belum tentu cocok dengan set soal yang dikerjakan siswa. Kalau siswa tidak percayadiri dan langsung mengerjakan sesuai kunci jawaban yang palsu tadi, maka dia pasti akan salah semua dalam mengerjakan soal itu. Karena nomornya diacak. Kalau dicontek semua, pasti malah salah semua! Isu soalUN yang beredar, ada yang jual beli jawaban, harus ditolak saja, jangan percaya. Para siswa jangan pernah beli kkunci jawaban! Jangan pernah terbuai oleh bujuk rayu dan isu-isu menyesatkan seperti ini. Pede saja, kalau mau belajar, tidak ada yang tidak bisa. Semua sudah pernah diajarkan di bangku sekolah kok! * Nilai positif lain yang bisa dipetik dari UN apa Prof?

UN juga mendorong perilaku positif bagi anak dan orang tua. Banyak sekolah yang menggelar doa bersama, istighotsah, agar bisa mengerjakan soal-soal dengan baik dan benar, sehingga lulus. Itu untuk memperkuat mental, kepercayaan diri, confidence. Semua orang membutuhkan pede seperti itu untuk sukses. Tanpa kepercayaan diri, rasa pede, kesuksesan itu tidak akan hadir bersama kita Fenomena ini kan bagus, menambah nilai religiusitas pada diri siswa, dan juga menambah kebersamaan sesama mereka, sehingga akan tumbuh menjadi social skills dan social capital bagi mereka.

Persepsi publik sering mengaanggap UN sebagai biang kerok tidak lulus siswa? Dan itu indikator pendidikan kita masih sangat lemah?

Nah, ini juga sering salah kaprah. UN bukan satu-satunya instrumen kelulusan. Sekolah juga bisa menentukan lulus tidaknya para siswa, misalnya beberapa pelajaran seperti agama, akhlaq muba, kewarganegaraan dan kepribadian, kesenian, olah raga dan kesehatan, juga harus lulus di tingkat ujian sekolah. Jika nilainya jauh di bawah standar, juga bisa tidak lulus, meskipun mata pelajaran yang di ujian nasional itu lulus. Belum lulus itu tidak berarti kiamat. Masih ada waktu untuk belajar lebih keras lagi, agar bisa lulus. Namanya juga ujian, di mana-mana pasti ada yang lulus dan ada yang tidak lulus. Itu sudah keniscayaan. Di negara-negara maju, seperti AS, juga ada siswa yang tidak lulus.

Profesor kan merah gelar master di School of Education, Boston University, AS (1981) di bidang Social Studies Education. Lalu Doctor Philosophy (Ph.D.) di College of Education, Michigan State University, AS (1986) dalam bidang Social Studies ( in i ii iiliiiin and Instruction. Bagaimana suasana pendidikan di sana?

Hampir sama, tetap ada yang tidak lulus. Di Singapura dan Malaysia, yang pembangunan pendidikannya juga maju, masih menggunakan ujian negara juga Rata-rata yang tidak lulus juga ada Tetapi, standar kelulusan mereka lebih tinggi, memang jika dibandingkan dengan kita.

Cukup besar ya? Rata-rata 5 persen?

Ya lebih banyak yang lulus dong? Orang akan semakin sadar, bahwa kualitas kelulusan itu menjadi sangat penting. Karena kompetisi di pasar tenaga kerja maupun pendidikan tinggi, akan semakin ketat, dari waktu ke waktu. Saya kila banyak orang lua yang semakin sadar juga, bahwa tantangan ke depan makin berat. Saya yakin, orang tua yang memiliki anak yang akan UN, akan semakin waspada, mengingatkan, mengecek, agar pulera-puterinya lulus ujian.

Tapi mereka kan malu? Disebut sebagai siswa tidak lulus ujian nasional? Distampel "bodoh" oleh masyarakat?

Kan lebih berbahaya, jika belum saatnya lulus, karena belum cukup menguasai ilmu untuk bisa lulus, kemudian diluluskan. Kalau hal ini terjadi ada bahayanya saat mereka harus melanjutkan di tingkat pendidikan yang lebih tinggi lagi, atau di dunia pekerjaan. Pada akhirnya mereka kan tidak memiliki daya saing kann? Oleh karena itu, lebih baik belajar lagi, yang lebih baik lagi, dan menempuh ujian akhir lagi sampai benar benar memenuhi standar kelulusan yang ada.

Bagaimana menyadarkan mereka?

Ketika menjadi Rektor UNY Jogjakarta, saya bilang kepada mahasiswa, Ijazah kalian sudah saya tandatangani. Jadi, jangan khawatir Anda pasti lulus. Anda tinggal mengisi kualitas nilai sesuai dengan standar kemampuan anda"

Saya ingin menegaskan, bahwa standar sebuah kelulusan itu penting. Sekolah itu tidak sekedar mencari kelulusan dan selembar ijazah. Itu percuma saja, tanpa standar kualilas yang baik. Karena di dunia pekerjaan pun mereka tidak mampu bersaing kalau proses pendidikannya tidak membekali kompetensi yang berkualitas sama sekali. Tidak punya daya saing kalau kualitas pendidikan kita tidak ditegakkan melalui evaluasi yang bisa dipertanggungjawabkan.

Apa antisipasi Diknas tahun 2010?

Ada ujian utangan. Pemerintah memberi kesempatan kloter kedua bagi mereka yang belum lulus di "putaran" pertama jika kita pinjam istilah pemilu (ha ha). Ini sekaligus membuktikan bahwa Mendiknas itu mendengarkan dan sangat mengapresiasi keluhan publik. Tentu keluhan yang masuk akal dan bisa diaplikasikan dengan baik bagi peningkatan kualitas kompetensi lulusan pendidikan.

Soal kualitas guru?Agar juga memiliki standar dalam memberikan materi pelajaran kepada murid di seluruh Indonesia?

Ya pasti! Depdiknas terus melakukan sertifikasi, untuk peningkatan kualitas guru. Depdiknas juga memberi tunjangan fungsional baik pada guru negeri maupun swasta. Pemerintah juga memberikan tunjangan profesi bagi guru yang telah tersertifikasi. Kualifikasi pendidikan bagi guru juga distandarkan. minimal S-1 atau lu Gaji mereka juga naik. Itu adalah jawaban nyata akan pertanyaan publik, soal peningkatan kualitas tenaga pendidik.

Selain itu?

Buku-buku teks pelajaran di sekolah juga dibeli dalam jumlah yang cukup besar dari program BOS. Laboratorium dilengkapi, dan terus semakin dilengkapi secara bertahap. Bahkan pengadaan sambungan inlemet dalamjumlah yang cukup besar juga menjadi salah satu program 100 hari Depdiknas. Ruang kelas diperbaiki, karena ruangan yang nyaman itu akan meningkatkan akseptabilitas siswa dalam proses pembelajaran.

Soal kurikulum?

Semua sudah KTSP. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sudah makin maju, makin memiliki ownership di setiap satuan pendidikan. Dengan KTSP sekolah leluasa mengembangkan kurikulum sesuai dengan keunikan dan keunggulan masing masing, sehingga pada akhirnya sekolah akan didorong untuk tidak saja memiliki keunggulan komparatif, tetapi juga harus bisa memiliki unggulan kompetitif.(dituturkan kepada don kardono).