Bisa Mengakibatkan Anak Menjadi Pendiam
DINI (34) bingung melihat kelakuan anaknya, Sissy (10). Putri semata wayangnya itu kini menjadi lebih pendiam, tertutup dan suka mengurung diri di kamarnya. Padahal sebelumnya, Novi termasuk anak yang terbuka dan selalu ingin tahu. Dini khawatir perubahan tersebut ada hubungannya dengan beberapa kali Novi menemukan dirinya tengah bertengkar dengan suami. Pasalnya, perubahan itu terjadi sejak pertengkaran itu sering dilakukan.
"Saya khawatir, perubahan yang terjadi padanya ini karena pertengkaran saya dan ayahnya. Jika ditanya, Novi hanya diam membisu dan langsung masuk kamar," keluh Dini.
Dalam pandangan psikolog anak dan remaja dari Putik Psychology Center Balikpapan Elia Wardani MPsi, bisa jadi kekhawatiran Dini itu benar adanya. Menurut wanita yang akrab disapa Elia ini, pertengkaran orangtua dapat berdampak negatif bagi kondisi kejiawaan anak. Apalagi jika anak tersebut melihat kedua orangtuanya bertengkar. Pasalnya, anak memiliki ingatan yang kuat. Hingga akhirnya pertengkaran tersebut terekam pada ingatan anak dan melekat lama.
Karena itu, Elia mengingatkan para orangtua untuk Iebih sensitif kepada kondisi anak. Pertengkaran orangtua dapat menempatkan anak di posisi yang serbasalah. Hal ini, dapat membuat anak menjadi bingung. Mereka menganggap dirinyalah penyebab pertengkaran itu terjadi.
Mengapa bisa demikian? "Karena di usia ini, kemampuan anak untuk memikirkan segala sesuatu yang ada belum terlalu luas dan kompleks. Sehingga mereka beranggapan, pertengkaran tersebut terjadi karena kesalahannya. Apalagi jika sebelumnya orangtua
tidakmemberikanpenjelasanperteng-karan tersebut kepada anak,"jelas ibu satu putri ini.
Dikatakan Elia, ketika anak melihat pertengkaran, anak merasa bingung harus bagaimana dan berbuat apa. Sehingga akhirnya, si anak merasa seolah-olah ia ditempatkan pada posisi konflik.
Penempatan anak pada posisi konflik, lanjut Elia, bisa berakibat macam-macam pada anak. Masing-masing anak mempunyai cara sendiri-sendiri untuk mengatasi masalahnya itu. Dampak pertengkaran, antara lain, bisa membuat anak menjadi sering marah baik kepada kedua orangtuanya maupun lingkungan sekitar, anak menjadi lebih agresif. Ini, merupakan wujud luapan emosinya terhadap orangtuanya.
"Selainmenjadi lebih agresif, anakjugadapatmenjadi pendiam. Hal ini dikarenakan tekanan emosi yang mendera anak tersebut. Namun, anak pendiam memiliki dampak tersendiri," ujarnya.
Lebih lanjut dikatakan, anak yang pendiam harus lebih diwaspadai. Karena, dibandingkan anak yang agresif, anak pendiam lebih bersikap defensif. Penyaluran emosi anak pada kondisi ini menjadi tertahan.
"Kalau dia emosi, sukanya marah-marah itu berarti emosinya tersalurkan. Tetapi kalau dia menjadi pendiam, itu patut diwaspadai. Karena emosinya bisa saja tidak tersalurkan dengan benar," ungkap Elia.
Elia mengajak orangtua untuk waspada. Pertengkaran yang dilihat atau didengar, bisa membuat anak tersebut mempraktikkan hal tersebut kepadaorang lain. Misalnya, kepada teman sepermainan. Namun tidak selamanya tindakan itu berupa kekerasan secara fisik.
"Pertengkaran itu bisa ditiru oleh anak, karena daya ingatnya yang baik. Ini bahkan bisa dilakukan kepada teman sepermainannya. Mungkin tidak secara fisik. Tapi dalam bentuk kekerasan verbal. Misalnya, dengan melontarkan kata-kata kasar seperti yang didengar dalam pertengkaran orang tuanya," ungkap Elia.
Sebelum semua terjadi lebih lanjut, saran Elia, ada baiknya, orangtua menghindari berselisih paham. Apabila ada sesuatu hal yang dirasa tidak enak dilakukan seperti bertengkar, maka jangan dilakukan di depan anak.
Namun, apabila si anak sudah terlanjur mengetahui pertengkaran tersebut, sebaiknya orangtua segera memberikan penjelasan kepada anak tentang pertengkaran tersebut sesuai usia anak.
Anak, terang Elia, harus mendapat penjelasan. Ini ditujukan agar anak tidak menarik kesimpulan yang salah. Bagaimanapun, Elia mengatakan anak harus mendapat nasihat dan mengetahui mana yang salah dan benar. Selanjutnya, orangtua juga harus langsung menyadari jika ada perubahan pada anak. Lakukan pendekatan berlebih pada anak dengan cara menanyakan penyebab mengapa anak menjadi pendiam.
"Kalau anak tetap tidak mau bercerita, orangtua bisa membawa anak untuk menemui psikolog dan berkonsultasi tentang masalahnya," ungkap Elia.(*/dha)
