Potensi PDAM Tirta Mulia Pemalang
Air merupakan material penting yang I dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Tak bisa dibayangkan jika air yang kita minum sulit didapat, dan sumber-sumbermata air n .engering karena habis
dieksploitasi. Wartawan Suara Merdeka
Saiful Bachri menuliskan potensi airminum PDAM Tirta Mulia Pemalangdalam beberapa bagian.
KEKHAWATIRAN akan krisis air yang me-lintas di benak warga Dukuh Sodong, Desa Sikasur, Kecamatan Belik, Pemalang, belakangan ini cukup merisaukan. Apalagi ketika mereka mendengar sumber mata air Telaga Gede di desa itu akan disedot lebih besar lagi oleh PDAM Tirta Mulia. Tak ayal lagi perasaan risau tersebut makin mengganggu.
Bahkan mereka nyaris menghentikan rencana kegiatan eksploitasisumber daya alam mineral tersebut melalui sebuah gerakan. Untungnya PDAM cepat tanggap dan melakukan beberapa kali dialog, sehingga tak terjadi tindak anarkis dan pekerjaan pentahapan proyek besar itu tetap berlanjut sampai kini.
Ya, dari Telaga Gede harapan kehidupan masa depan itu sedang dibangun oleh PDAM. Karena dari sumber mata air itulah kebutuhan air bersih sebagian besar warga Pemalang yang berada di perkotaan dan sekitarnya tercukupi. 250Liter/Detik
Lalu kenapa muncul kekhawatiran warga di daerah atas khususnya Dukuh Sodong? Hal itu wajar. Sebab PDAM akan meningkatkan pemanfaatan air bersih dari sumber itu. Jika selama ini air yang diambil sebesar 110 liter/detik nantinya akan menjadi sebesar 360 liter/detik. Berarti ada tambahan 250 liter/detik atau lebih dari 300 persen.
Aktivis penyelamatan sumber mata air Telaga Gede Yusim mengatakan, semula banyak warga yang merasa tidak setuju jika pengambilan air dari sumber itu ditambah debitnya. Sebab bisa berpengaruh terhadap lingkungan sekitar.
"Sekarang saja ada sawah yang kekeringan tidak teraliri air. Bagaimana nanti jika debit yang diambil PDAM ditingkatkan," katanya.
Menurutnya, kendati survei tim ahli kandungan air baku yang meneliti sumber Telaga Gede menyimpulkan, eksploitasi masih bisa ditingkatkan, tetapi warga khawatir kegiatan itu akan berakibat negatif munculnya gangguan lingkungan di kemudian hari.
Misalnya makin menipisnya kandungan air yang ada. Sedangkan warga selama ini mengambil air dari sumur tanah itu tidak hanya untuk kebutuhan sehari-hari saja, melainkan dimanfaatkan pula untuk mengairi ratusan hektare sawah padi.
Sementara itu pihak PDAM berpendapat lain. Kandungan air masih lebih dari cukup untuk dimanfaatkan warga sekitar, baik untuk kehidupan sehari-hari atau untuk kegiatan pertanian dan ladang. Untuk itulah mere-ka tak pertu merasa khawatir.
Direktur PDAM Aji Setya Budi SE MSi melalui Kabag Hubungan Pelanggan Ronius DH SH mengatakan, pelaksanaan pengambilan air dari Telaga Gede dilaksanakan tidak sembarangan. Tetapi melalui riset teknologi dari para tim ahli ITB yang dipimpin guru besarnya Prof Arwin Sabar. Dengan demikian bisa direkomendasikan untuk ditingkatkan eksploitasinya
Hasil dari observasi lapangan menyebutkan, pada musim kemarau mata air Telaga Gede menjadi sumber utama kecukupan air bagi penduduk. Sedangkan keandalan air baku pada tahun kering dirumuskan Q (andalan mata air) 757-266/1.1. Dari rumus itu menghasilkan Q=428 Lps.
Berdasarkan hasil perhitungan itu Telaga Gede masih bisa diambil airnya lebih banyak lagi. PDAM pun menyiapkan segala sesuatunya. Di antaranya kesiapan lahan untuk jaringan pipa transmisi, penyediaan material dan mensosialisasikan kepada warga Isu Desa Dimekarkan
Menurut Ronius. munculnya kekhawatiran warga Dukuh Sodong terhadap proyek Telaga Gede bukanlah semata-mata karena masalah air. Tetapi terprovokasi isu desa akan dimekarkan. Karema wilayah telaga ada di Sodong, mereka menginginkan menjadi milik mereka, bukan desa lain.
Selain itu warga Sodong ingin mendapatkan kontribusi atau imbal jasa yang cukup atas pemanfaatantelaga. Sementara kontribusi yang sudah diberikan selama ini hanya diberikan ke desa. Warga Sodong tidak mendapatkan apa-apa. Hanya jalan yang beraspal.
Kontribusi yang diberikan PDAM secara berkala itu ke depan akan ditambah dengan dibangunkan jaringan irigasi untuk pertanian. Saat ini sarana irigasi masih sangat sederhana. Untuk itu banyak air yang hilang sebelum dimanfaatkan untuk mengairi sawah.
Dengan pengertian seperti itu akhirnya warga tak mempermasalahkan. Proyek kini sudah dimulai. Diawali dengan pemasangan pipa transmisi sepanjang 30.000 meter.
Tahap pertama dilakukan mulai dari Desa Semingkir, Kecamatan Randudongkal membujur ke utarasampai Kelurahan Bojongbata, Kecamatan Pemalang atau Gudang-Balok. Pipa yang digunakan jenis, PVC ukuran 16 inci sepanjang sekitar 27.600 meter. Penanaman pipa di bahu jalan PU Bina Marga Jateng. ,
Kemudian tahap kedua dilanjutkan dari Semingkir ke sumber mata air Telaga Gede sepanjangi 2.400 meter. Pipa yang digunakan jenis HDPE ukuran 14 inci. Pertemuan dua jenis pipa itu dipilih di Semingkir, karena di desa itu diba-. ngun reservoar dengan kapasitas air sebesar 2.000 m3. Sedangkan reser- voar yang sudah ada di Pemalang! berkapasitas 500 m3.
Kini yang sudah terpasang Jan Desa Semaya ke arah utara sekitar 800 meter lebih. Pemasangan terus1 berlanjut sampai selesai.( 17)
