![]() |
| source google image |
JANGAN pernah bertanya potensi apa yang tidak ada di Mandailing Natal (Madina). Semua sektor memiliki inner beauty yang bisa dikelola orang yang tepat. Potensi geografis, demografi, hingga soal teknis ada di Madina.
Maka tak salah jika Irwan Daulay (foto), tokoh masyarakat Madina, mengibaratkan Madina itu seperti miniatur Singapura. Berbicara dengan Irwan kerap kali menunjuk Singapura sebagai salah satu negara yang bisa ditiru.
Negara berpenduduk sekira empat juga itu memang mampu memaksimalkan seluruh potensi yang dimilikinya. Malah jika bicara potensi daerah, Madina masih lebih banyak. Hanya saja Singapura sudah lebih dulu maju dengan teknologi-nya.
Padahal potensi pertanian dan sumber daya alam masih kalah jauh dari Mandailing Natal. Irwan Daulay punya cita-cita paling tidak Madina itu mulai menggeliat dan punya nama setingkat nasional.
Menurut dia, banyak hal yang bisa dilakukan dengan Madina Dari sisi geografis misalnya, menurut Irwan, sebenarnya merupakan wilayah yang bisa menghubungkan Tapanuli Bagian Selatan, Riau dan Sumatera Barat.
Dalam peta Madina ha-
rusnya ketiga wilayah ini merupakan persinggungan yang sangat strategis. Dengan begitu Madina bisa menjadi salah satu lokasi dengan keunggulan secara ekonomi karena persing-gungan antara tiga wilayah, tuturnya.
Begitupula dengan upaya mendorong adanya bandara internasional di Bukit Malintang sebagai salah satu pendukung mobilitas semua orang untuk memajukan ekonomi masyarakat, ungkap Irwan. "Memang tahap awal saya yakin bandara ini masih digunakan untuk keperluan domestik selama lima tahun. Namun ketika berusia 10 tahun sudah harus bisa melayani rute internasional."
Sarana jalan dan lapangan terbang diharapkan menjadi faktor yang sangat strategis menghubungkan Madina dengan wilayan lain termasuk dengan tiga daerah terdekat tadi, jelasnya. Dari situlah Madina mengambil keuntungan.
Irwan mengatakan jika
infrastruktur mendukung otomatis ekonomi masyarakat akan ikut meningkat. Dia menegaskan saat ini pendapatan per kapita masyarakat Madina masih Rp6 juta per tahun atau sekira Rp500 ribu sebulan.
Itu, tuturnya, belum cukup. Sebab tak akan sanggup memenuhi kebutuhan dasar yang meliputi sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan. Di sisi lain, dengan terbangunnya infrastruktur Irwan pun akan bisa mendorong terbentuknya badan usaha.
Bahkan, menurutnya, di Madina ada potensi listrik se-besar450 megawatt. Jadi, ujarnya, investor yang datang ke Madina tak perlu khawatir akan kekurangan listrik.
Sebab, menurut Irwan, daerah sudah bisa membangun listrik sendiri. Potensi energi itu tepatnya ada di Sungai Batang Gadis dan Sungai Batang Angkola di Lompatan Harimau. Tiga puluh tahun yang akan datang dia yakin Madina surplus listrik. Itu merupakan salah satu indikator kebangkitan ekonomi.
Selama ini kapasitas terpasang baru 42 megawatt di Madina yang dikonsumsi 45 ribu kepala keluarga. Konsumsi energi listrik itu lebih banyak untuk penerangan daripada industri.
Irwan menggambarkan semua potensi yang diketahui -nya secara detil. Bahkan mungkin banyak orang Madina yang tidak tahu tentang energi listrik, lapangan terbang dan rancangan infrastruktur yang melin-
tasiTabagsel, Riau dan Sumatera Barat.
Dengan gamblang Irwan mengungkapkan semua potensi itu satu per satu. Dia membahas secara lunut. ringkas namun terstruktur. Artinya upaya untuk memperbaiki infrastruktur Madina ke Tabagsel, Riau dan Sumatera Barat bisa dilakukan.
Begitupula membangun bandara internasional di Bukit Malintang. Dan satu lagi yang paling penting adalah potensi energi listrik di Lompatan Harimau. Semua yangdiung-kapkannya terukur dan bisa diwujudkan tidak perlu menunggu waktu bertahun-tahun.
Pembangunan infrastruktur seperti jalan, lapangan terbang dan energi listrik hanya memerlukan sentuhan pemerintah daerah yang kreatif, jelasnya "Saya punya cita-cita Madina ini akan punya gaung. Memiliki kompetensi secara nasional dan akan dikenal secara internasional," jelasnya.
Wajar kalau kemudian dia mengibaratkan Madina itu seperti miniatumya Singapura. Karena negara kecil itu punya pengaruh se-dunia padahal potensinya terutama sumber daya alam tak sebanyak Madina Menurut Irwan, Madina hanya perlu sentuhan kreatif dan berkesinambungan untuk menjadikannya sejajar dengan daerah lain di Indonesia.
Armin Nasution
