Tuesday, November 19, 2019

Atas - Bawah Sama-sama Susah


ilustrasi pdam

SUATU hari di Kompleks Perum BTN Sugihwaras Pemalang air berih dari keran milik PDAM Tirta Mulia tidak mengucur. Warga pun risau, bingung dan berusaha mencari air bersih sebisanya.

Ada yang langsung membeli air kemasan, ada pula yang hanya bersungut-sungut menunggu air mengucur. Tapi tak berapa lama datang satu mobil tangki membawa 4.000 liter air bersih Warga pun sontak menyambut gembira


Persoalan itu sebagai gambaran pelayanan air di wilayah perkotaan Pemalang hingga kini belum sempurna. Hal itu tidak saja membingungkan pelanggan. Namun PDAM sendiri repot mengirimkan suplai air bersih dengan tangki ke permukiman yang membutuhkan.

Lain di kota lain pula persoalannya di wilayah atas atau perbukitan. Kala musim kemarau tiba sumber-sumber air pun mengecil debitnya. Biasanya hal itu terjadi di Desa Gom-bong, Kecamatan Belik dan sejumlah desa di Kecamatan Pubsari.

Untuk mendapatkan air bersih warga di desa itu harus antre sehari semalam. Warga sudah sangat bersyukur bisa dapat air untuk minum dan memasak. Sedangkan untuk mandi mereka mencari cara lain. Bahkan rela tak mandi beberapa hari karena tak ada air. Dalam situasi seperti itu Pemkab Pemalang pun turun tangan menyuplai air bersih dengan sejumlah kendaraan tangki.

Dua persoalan di wilayah yang berbeda itu sebagai contoh pelayanan air bersih membutuhkan perhatian serius di Pemalang. Daerah atas maupun bawah dalam kondisi tertentu sama-sama susah mendapatkan air bersih. Sistem Grafitasi


Sebenarnya jika dilihat dari potensi sumber mata air yang ada, warga Pemalang tidak akan kekurangan air bersih. Karena dalam musim kemarau pun sumber-sumber mata air besar masih tetap mengucur. Namun karena letak dan posisi mata air berada di bawah permukiman, maka harus digunakan pompa untuk mendistribusikan air ke permukiman. Teknologi inilah yang masih minim dimiliki oleh pemkab.

Sampai sejauh ini teknologi yang dimiliki PDAM masih relatif sederhana, yaitu penyaluran air dengan sistem grafitasi. Maka permukiman yang berada di jalur atau di bawah pipa jaringan yang akan mudah mendapatkan air bersih. Sedangkan yang berada di atas jaringan masih sulit


Sementara persoalan di wilayah perkotaan disebabkan karena pipa transmisi PDAM yang digunakan kondisinya sudah tua, sehingga sering pecah. Jika kerusakannya ringan perbaikan bisa cepat selesai. Paling tidak air tidak dapat mengalir ke pelanggan satu dua hari. Namun jika kerusakannya parah membutuhkan beberapa hari untuk mem-perbaikinya.

Kejadian pipa pecah itu bisa dibilang sering dialami oleh PDAM. Sudah tak terhitung berapa kali pipa transmisi mengalami penyambungan.

Bisa-bisa jika hal itu tak cepat diatasi sepanjang pipa transmisi lama bersi sambungan melulu.

Hal itu diakui oleh pihak PDAM. Pelayanan air minum di perkotaan sampai sekarang masih sangat rendah. Cakupan pelayanan untuk perkotaan (Kecamatan Pemalang dan Taman) baru mencapai sebesar 16,74 persen. Sedangkan untuk wilayah kecamatan pantura lainnya seperti Petarukan, Comal dan Ulujami belum bisa dijangkau sama sekali.

Penyebabnya karena jaringan perpipaan dan ukuran yang ada sekarang sudah tidak dapat mencukupi kebutuhan masyarakat perkotaan, Selain itu kurangnya kapasitas debit air.

Debit airyang dkjunakan sebesar 110 liter/detik tidak mencukupi kebutuhan penduduk di daerah perkotaan. Selain itu adanya kehilangan air mencapai sebesar 29 persen akibat pipa bocor/rusak.

Penduduk wilayah perkotaan untuk mendapat air bersih sebagian besar memang harus dpenuhi oleh PDAM. Sebab kondisi air tanah di wilayah pantura yang ada buruk dan tidak memenuhi syarat kesehatan sebagai air minum.(17)
Comments


EmoticonEmoticon