Monday, December 30, 2019

Membangun Jaringan di Luar Negeri



Sejumlah usahawan besar Indonesia menjadi pelaku bisnis di negara-negara Asia Tenggara, Asia Tengah, Asia Timur, Australia dan Amerika Serikat. Para pebisnis ini bermain di areal pertambangan, perdagangan umum, makanan, properti dan ritel. Menariknya, sebagian besar tenaga kerja perusahaan tersebut adalah eksekutif Indonesia. Nama mereka sangat wangi di antara eksekutif luar negeri.

Di RR China, jejak usahawan Indonesia tampak di kawasan utara dan sekitar pantai timur. Dari Dalian, Harbin, Beijing, Shanghai, Xiamen, Shenzen, Zhuhai, Guangzhou, Meizhou. dan Hainan di selatan. Di Hongkong, pemain Indonesia umumnya bermain di panggung properti, ritel, dan makanan. Di Amerika Serikat, sekadar menyebut contoh lain, pebisnis Indonesia bermain di bidang properti, ritel dan industri. Di Asia Tengah, khususnya di bekas Um Sovyet, usahawan Indonesia bergerak di bidang pertambangan minyak. Di Australia, di bidang properti, ritel dan jasa.

Datanglah ke Shanghai misalnya, jejak usahawan Indonesia terutama tampak di Nangking Road, kawasan sekitar The Bund (Shanghai Thang), dan Pudong. Bendera usaha Grup Lippo, Grup Salim. Sinar Mas, Gajah Tunggal, Summarecon, berdiri dengan sangat gagah di sana. Sulit disebutkan siapa yang terbesar, tetapi umumnya adalah pemain-pemain besar. Grup Lippo misalnya mempunyai jaringan ritel, supermarket yang tegak di pelbagai kota. Proyek-proyek propertinya juga sangat gemerlap. Tidak heran kalau nama Lippo, juga Sinar Mas,

Salim, Summarecon, sangat dikenal di kalangan usahawan di daratan besar China.

Di Amerika Serikat, beberapa imperium bisnis Indonesia cukup berki-lau. Jejak James Riady. Sofjan Wanandi dan usahawan lain tampak jelas di sini. Sofjan misalnya bermain di bidang perdagangan dan industri. Ia di antaranya menjadikan Chicago, kota ketiga terbesar di AS sebagai kantor pusat. Di Singapura, pemain-pemain Indonesia bermain di bidang perhotelan, properti, makanan dan sebagainya. Nama James Riady dengan Grup Lipponya cukup populer. Lippo memiliki sejumlah hotel bintang lima di kawasan elite, proyek-proyek properti di kawasan premium.

"Grup usaha Indonesia, seperti Lippo amat besar di sini," ujar Wu Liehong, eksekutif properti di Singpura, pekan lalu. Hal yang sangat menarik, menurut Wu, Lippo dan usahawan Indonesia lainnya mempunyai eksekutif yang andal. "Mereka umumnya cerdas, kreatif dan amat fasih berbahasa Inggris. Aksen Inggrisnya sangat Amerika, dan British. Tidak tampak bahwa mereka itu orang Indonesia."

Untuk usaha dalam skala lebih kecildan bergaung, juga banyak. Grup Tudung dengan Kacang Garudanya. lumayan dikenal di luar negeri. Usaha makanan Johnny Andrean juga sudah merambah ke mancanegara. Donatnya, J.Co sudah bisa dicicipi warga Singapura dah Malaysia. Ia sebentar lagi akan masuk ke pasar China dan Amerika Serikat. Johnny dikenal cermat dan hati-hati kalau melakukan ekspansi. Berekspansi ke dua negara tersebut, tentu sudah dengan perhitungan matang. Misalnya, pasarnya sangat jelas. Dalam realita di lapangan, donatnya Johnny Andrean disukai warga Malaysia dan Singapura.

Kepada Kompas, Johnny pernah bercerita bahwa ia ingin melebarkan sayap usahanya ke lebih banyak negara. Bukan untuk bermegah, tetapi ia ingin produk yang 100 persen asli Indonesia itu mendunia. Publik sejagat juga bakal tahu bahwa donat Indonesia tidak kalah dengan donat yang selama ini sudah masyhur. "Donat J.Co bisa berkompetisi di pentas dunia karena produknya enak, terdiri hampir 50 jenis. Sejumlah di antaranya sangat mendukung kesehatan," tutur Johnny.

Grup Ciputra tidak kalah bersinar di luar negeri. Di bawah pimpinan orangkepercayaan Ciputra, Budiarsa Sastrawinata, imperium bisnis properti dan perhotelan ini menancapkan bendera usahanya di India, Vietnam, Kamboja, Nigeria. Singapura dan beberapa negara Eropa. Tidak main-main, Budiarsa sangat dihargai di negara-negara tersebut. "Kamboja misalnya menyambutnya dengan hangat Ketika menjelaskan proyek kami, pemimpin Kamboja Hun Sen sendiri yang menerima saya dengan tim. Ini luar biasa," ujar Budiarsa. Di Vietnam, para petinggi negara tersebut juga menerima Budiarsa dengan tangan terbuka.

Uraian tentang grup usaha yang sukses ini tidak dimaksudkan untuk memuja mereka, melainkan memberi inspirasi kepada usahawan lain bahwa pengusaha seyogyanya tidak "jago kandang. Para usahawan Indonesia harus berpikir global, tidak keasyikan berkibar-kibar di negeri sendiri. Dengan mendirikan perusahaan di luar negeri, banyak manfaat diperoleh. Indonesia dan produknya menjadi lebih dikenal di luar negeri. Para eksekutif Indonesia pun tidak jago kandang, melainkan mampu berkompetisi dengan eksekutif lainnya di dunia.

Sebagian besar perolehan profit di luar negeri juga kembali lagi ke Indonesia.

Usahawan Sofian Wanandi dalam beberapa kesempatan menyatakan, sekarang era global. Usaha negara lain bisa masuk Indonesia. Usahawan Indonesia pun bisa masuk ke pelbagai negara dunia. Ini soal sangat lumrah dan sesuai perkembangan zamannya. Oleh karena itu para pengusaha Indonesia harus menyiapkan diri baik-baik untuk bertarung di panggung dunia. Manajemen mesti prima, sumber daya manusia harus profesional. "Jaringan dan lobi pun harus kuat. Bagaimana Anda bisa membuka usaha di luar .negeri, dan sukses kalau jaringan, lobi, pemasaran dan manajemen Anda tidak bagus," ujar Sofjan.

Catatan lain yang bisa disampaikan di sini, terlepas dari aspek era global itu. usahawan besar Indonesia hendaknya juga tidak keasyikan bermain di luar negeri. Di dalam negeri juga perlu perhatian, di antaranya pada masalah perbankan. Bank-bank swasta nasional, umumnya sudah dikuasai asing. Penguasaan oleh asing memang soal wajar dan jamak, tetapi betapapun juga perlu perhatian luar biasa dari pelbagai pihak, termasuk pemerintah.

Daerah Istimewa Yogyakarta

yogyakarta

Perubahan Arus Politik di "Nagaragung"

Yogyakarta adalah ironi bagi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Setelah berjaya "memerahkan" Daerah Istimewa Yogyakarta dalam dua pemilihan umum pascareformasi, partai berlambang kepala banteng tersebut harus menelan pil pahit dalam Pemilu Legislatif 2009. PDI-P kalah telak karena tak berhasil memetik satu kemenangan pun di lima kabupaten/kota di DIY.

OLEH NURUL FATCHIATI

Tak dapat dimungkiri, wilayah kesultanan Yogyakarta atau "nagaragung" DIY adalah salah satu basis PDI-P. Sejak Pemilu 1971, eksistensi partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu di bumi Mataram terus menguat Meskipun pada era Orde Baru tak luput dari "kuningisasi" Partai Golkar, tetapi kantong-kantong PDI-P di DIY tetap hidup. Terbukti, pada pemilu pertama pascareformasi, partai tersebut berhasil memenangi semua daerah pemilihan di DIY dengan perolehan suara mencapai 35,65 persen dari total suara sah.

Hegemoni PDI-P masih berlanjut pada Pemilu 2004 meskipun satu daerah pemilihan. Kabupaten Gunung Kidul, terlepas dari rengkuhan. Perolehan suara terbanyak di kabupaten terluas di DIY ini direbut Golkar. Sementara itu, Partai Amanat Nasional semakin ketat membayangi PDI-P di empat- daerah pemilihan lainnya. Secara umum, perolehan suara terbanyak di tingkat provinsi tetap dikuasai partai kepala banteng. Kejayaan partai tersebut berlanjut pada pemilihan kepala daerah. Dari lima kabupaten/kota di DIY, tiga di antaranya berhasil dimenangi bupati peta-hana (incumbent) yang berasal dari PDI-P, yaitu Idham Samawi (Bantul), Ibnu Subiyanto (Sleman), dan Toyo S Dipo (Kulon Progo).

Namun, tanduk banteng tak lagi melentingkan perolehan suara PDI-P ke peringkat atas pada Pemilu Legislatif 2009. Kemenangan di empat kabupaten/kota di DIY pada pemilu lima tahun lalu tak satu pun yang berhasil dipertahankan.

Sebaliknya, Partai Demokrat sukses melambungkan suaranya di tiga daerah pemilihan yang menjadi basis PDI-P, yakni Kabupaten Bantul, Sleman, dan Kota Yogyakarta Padahal, Bupati Bantul dan Sleman masih dijabat orang dari PDI-P. Kabupaten Kulon Progo pun lepas dari genggaman setelah dimenangi PAN. Dari lima wilayah DIY, hanya Kabupaten Gunung Kidul yang tidak berubah. Daerah yang sejak Pemilu 2004 direbut Golkar tersebut kembali dimenangkan partai berlambang beringin ini.

Tak hanya PDI-P yang luput mempertahankan suaranya di "kandang sendiri". Suara Partai Kebangkitan Bangsa di DIY pun "terjun bebas" dalam pemilu kali ini. Perolehan suara partai yangsempat dilanda badai internal perebutan kepengurusan antara kubu Abdurrahman Wahid dan Muhaimin Iskandar menjelang Pemilu 2009 tersebut tergerus banyak. PKB keluar dari peringkat lima besar partai pemenang pemilu legislatif di DIY, tergusur oleh Partai Keadilan Sejahtera yang semakin mengokohkan eksistensinya di peringkat kelima


Bongkar pasang


Perubahan konstelasi perolehan suara partai di DIY tak urung membawa perubahan pula pada komposisi anggota legislatif dari provinsi ini dalam Dewan Perwakilan Rakyat di tingkat pusat. PAN yang pada Pemilu 2004 berhasil merebut dua kursi di Senayan harus merelakan satu kursi untuk Demokrat Terjadi pula bongkar pasang personel partai yang akan berkiprah di gedung dewan di Jakarta.

Dari delapan jatah kursi DPR untuk DIY, lima di antaranya ditempati "wajah baru". Hanya legislator dari PAN, PKS, dan satu wakil dari PDI-P, yaitu Eddy Mi-hati, yang sudah mengecap pengalaman politik di tingkat pusat pada periode lalu.

Kesempatan bagi anggota legislatif dari DIY untuk ke Senayan pada pemilu kali ini terbuka luas sebab sejumlah legislator yang lolos ke DPR pada periode sebelumnya tidak lagi mencalonkan diri lewat DIY. Mereka tak lagi menjadi kompetitor bagi sesama calon anggota legislatif dari partainya.

GBPH Joyokusumo dari Golkar dan Soetardjo Soerjoguritno dari PDI-P, misalnya, tak lagi tercantum namanya sebagai calon anggota legislatif dari DIY pada Pemilu 2009. Padahal, Joyokusu-mo yang juga adik dari Sultan Hamengku Buwono X. Gubernur DIY dan pemimpin Keraton Yogyakarta, adalah salah satu penghimpun suara bagi Golkar di DIY. Sementara Soetardjo yang memilih bertarung untuk kursi Dewan Perwakilan Daerah DIY juga tak berhasil melaju ke Senayan.

Dalam komposisi baru legislator dari DIY untuk kursi DPR kali ini, hanya ada satu perwakilan perempuan yang berhasil mendudukinya, padahal pada pemilu sebelumnya mencapai tiga perempuan.

Para wakil rakyat dari DIY, bisa dibilang, telah memiliki bekal pengalaman dalam dunia politik praktis. Selain berpengalaman sebagai anggota DPRD DIY, dua legislator, yaitu Djuwarto (PDI-P) dan Gandung Pardiman (Golkar), adalah ketua dewan pimpinan daerah/wilayah tingkat provinsi untuk partainya masing-masing. Agus Sulistyono terakhir aktif di Fraksi Kebangkitan Bangsa DPRD DIY, sedangkan Agus Bastian menjabat sebagai Sekretaris DPD Partai Demokrat DIY. Adapun Roy Suryo No-todiprodjo adalah Ketua Departemen Komunikasi dan Informasi DPP Partai Demokrat


Bongkar pasang anggota juga terjadi di tubuh DPD DIY. Dua anggota baru, yaitu Cholid Mahmud dan Muhammad Afnan Ha-dikusumo, muncul mendampingi "pemain lama" Gusti Kanjeng Ratu Hemas dan Abdul Hafldh Ashrom. Meskipun perolehan suara Cholid berhasil mengungguli Hafldh, tetapi masih jauh di bawah perolehan suara GKR Hemas. Permaisuri Gubernur DIY yang banyak berkiprah di bidang sosial kemasyarakatan tersebut meraih mayoritas suara, menca-pai 52,61 persen dari seluruh suara pemilih DIY untuk DPD.

Terlepas dari bongkar pasang legislator dan DPD dari DIY, para wakil rakyat tersebut memikulamanat penting masyarakat Yogyakarta. "Kawulo" Ngayogyakar-ta menanti kiprah mereka dalam mewujudkan Undang-Undang Keistimewaan DIY selekasnya.satu soal yang "diwariskan" para wakil dalam periode sebelumnya.

(NURUL FATCHIATI/ Litbang Kompas)

Thursday, December 19, 2019

Bermain Pasir Sebabkan Infeksi Cacing Tambang



PERNAH melihat seorang anak dengan penyakit kulit yang yang menjalar seperti terowongan di kaki? Jika diperhatikan setiap hari, terowongan tersebut semakin panjang berwarna merah dan terasa gatal. Jika pernah, waspadalah! Karena bisa jadi anak tersebut terkena infeksi hewan parasit seperti cacing tambang.

Adapunjenis cacing tambang yang menyebabkan infeksi ini di antaranya bernama Anky-losloma braziliense dan Anky-lostoma caninum. Cacing jenis ini hidup dalam hewan seperti anjing dan kucing.

Menurut dokter umum Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB) dr Fajar Rudy Qimindra, di kalangan medis penyakit ini terkenal dengan istilah cutaneous larva mig-rans. Artinya, ada migrasi larva di kulit (cutan=lapisan kulit). Nama lainnya dermato-sis linearis migrans ataupun sandworm disease. Dari namanya dapat diketahui bahwa beberapa penderita terserang penyakit ini ketika berhubung-an dengan pasir.

"Istilah lainnya juga disebut creeping eruption (CE). Istilah ini digunakan karena pada pada invasi larva cacing tambang ini, akan timbul kelainan pada kulit berupa erupsi peradangan berbentuk lurus atau berliku-liku yang menonjol di atas permukaan kulit," jelas pria yang akrab disapa Qimi ini.

Pada dasarnya, papar Qimi, semua orang bisa terinfeksi penyakit ini jika secara langsung terpapar dengan larva tersebut. Namun, kelompok yang beresiko tinggi biasanya berkaitan dengan pekerjaan ataupun hobi yang membawanya terkontak dengan pasir, tanah ataupun lapisan hu musnya. Di antaranya wjsata-wan yang sedang berjemur di pantai dengan tekanjang kaki, anak-anak yang suka bermain pasir, petani, tukang kebun, penambang ataupun bekerja lain yang berinteraksi dengan tanah.

Lebih lanjut dikatakan, baru-baru ini dilaporkan, di Amerika


Serikat (AS) dan Selandia Baru, angka kejadian meningkat saat musim liburan sekolah. Bahkan pada tahun 2006 di Amerika Serikat pernah terjadi wabah yaitu 22 anak terkena cacing ini dari 380 anak yang berlibur ke pantai.

Bagaimana infeksi ini bisa terjadi? Dokteryang sudah tiga bulan menjaga di UGD RSPB ini menjelaskan, awalnya, larva yang berasal dari cacing tambang hidup di dalam tubuh anjing dan kucing. Kemudian sel telur yang terdapat pada kotoran anjing dan kucing tersebut, karena kondisi lembab telur akan berubah jadi larva.

"Larva inilah yang mampu menembus ke dalam kulit. Setelah menembus ke dalam kulit, larva tinggal di lapisan tersebut beberapa minggu atau bulan atau langsung berjalan-jalan dalam lapisan kulit epidermis. Setelan beberapa jam atau hari akan timbul gejala di kulit berupa guratan merah yang mirip dengan terowongan," terangnya.

Masuknya larva ke dalamkulit, tambah Qimi, biasanya disertai dengan rasa gatal dan panas pada tempat masuknya. Kemudian akan muncul tonjolan pada permukaan kulit, beberapa saat akan muncul bentuk yang khas yaitu tonjolan di atas permukaan kulit yang berkelok-kelok berwarna kemerahan.

Untuk selanjutnya, tonjolan kemerahan ini akan makin berkelok-kelok membentuk terowongan sesuai dengan pergerakan larva. Tiap larva membentuk lesi berkelok-kelok seperti ular memanjang dengan ukuran beberapa milimeter hingga beberapa sentimeter dalam sehari.

"Rasanya sangat gatal terutama pada malam hari. Dalam sehari panjang terowongan ini kira-kira bisa mencapai 2 mm hingga 2 cm," ungkapnya.

Dikatakan, adapun tempat yang terkena infeksi ini, umumnya terletak di kaki, sela-sela kaki, pantat, lulut, tangan ataupun pernah juga dilaporkan terjadi di dinding perut.

Lantas bagaimana penanganannya? Menurut Qimi, penyakit kulit yang disebabkan oleh larva cacing ini biasanya sembuh spontan. Karena pada dasarnya manusia bukan tempat hidupnya larva ini. Penyembuhan spontan ini tergantung pada jenis larva yang dikandung. Biasanya luka akan sembuh dalam beberapa minggu atau beberapa bulan. Tetapi dengan pengobatan yang ada bisa mempersingkat lamanya penyakit ini. Karena penyebabnya cacing maka pemberian obat anti cacing sangat dianjurkan. Obat-obatan ini bisa diminum ataupun dibuat campuran dengan cream ko-stikosteroid untuk dioleskan tipis, misalnya menggunakan obat topikal albendazole 4 %.

"Untuk pemberian obat minum golongan obat anticacing albendazole dosis sehari 400 mg sebagai dosis tunggal selama 3 hari. Obat pilihan lain juga banyak jenisnya tergantung peresepan dari dokter," ujarnya. (*/dha)

Jangan Bertengkar di Depan Anak



Bisa Mengakibatkan Anak Menjadi Pendiam


DINI (34) bingung melihat kelakuan anaknya, Sissy (10). Putri semata wayangnya itu kini menjadi lebih pendiam, tertutup dan suka mengurung diri di kamarnya. Padahal sebelumnya, Novi termasuk anak yang terbuka dan selalu ingin tahu. Dini khawatir perubahan tersebut ada hubungannya dengan beberapa kali Novi menemukan dirinya tengah bertengkar dengan suami. Pasalnya, perubahan itu terjadi sejak pertengkaran itu sering dilakukan.

"Saya khawatir, perubahan yang terjadi padanya ini karena pertengkaran saya dan ayahnya. Jika ditanya, Novi hanya diam membisu dan langsung masuk kamar," keluh Dini.

Dalam pandangan psikolog anak dan remaja dari Putik Psychology Center Balikpapan Elia Wardani MPsi, bisa jadi kekhawatiran Dini itu benar adanya. Menurut wanita yang akrab disapa Elia ini, pertengkaran orangtua dapat berdampak negatif bagi kondisi kejiawaan anak. Apalagi jika anak tersebut melihat kedua orangtuanya bertengkar. Pasalnya, anak memiliki ingatan yang kuat. Hingga akhirnya pertengkaran tersebut terekam pada ingatan anak dan melekat lama.

Karena itu, Elia mengingatkan para orangtua untuk Iebih sensitif kepada kondisi anak. Pertengkaran orangtua dapat menempatkan anak di posisi yang serbasalah. Hal ini, dapat membuat anak menjadi bingung. Mereka menganggap dirinyalah penyebab pertengkaran itu terjadi.

Mengapa bisa demikian? "Karena di usia ini, kemampuan anak untuk memikirkan segala sesuatu yang ada belum terlalu luas dan kompleks. Sehingga mereka beranggapan, pertengkaran tersebut terjadi karena kesalahannya. Apalagi jika sebelumnya orangtua


tidakmemberikanpenjelasanperteng-karan tersebut kepada anak,"jelas ibu satu putri ini.

Dikatakan Elia, ketika anak melihat pertengkaran, anak merasa bingung harus bagaimana dan berbuat apa. Sehingga akhirnya, si anak merasa seolah-olah ia ditempatkan pada posisi konflik.

Penempatan anak pada posisi konflik, lanjut Elia, bisa berakibat macam-macam pada anak. Masing-masing anak mempunyai cara sendiri-sendiri untuk mengatasi masalahnya itu. Dampak pertengkaran, antara lain, bisa membuat anak menjadi sering marah baik kepada kedua orangtuanya maupun lingkungan sekitar, anak menjadi lebih agresif. Ini, merupakan wujud luapan emosinya terhadap orangtuanya.

"Selainmenjadi lebih agresif, anakjugadapatmenjadi pendiam. Hal ini dikarenakan tekanan emosi yang mendera anak tersebut. Namun, anak pendiam memiliki dampak tersendiri," ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, anak yang pendiam harus lebih diwaspadai. Karena, dibandingkan anak yang agresif, anak pendiam lebih bersikap defensif. Penyaluran emosi anak pada kondisi ini menjadi tertahan.

"Kalau dia emosi, sukanya marah-marah itu berarti emosinya tersalurkan. Tetapi kalau dia menjadi pendiam, itu patut diwaspadai. Karena emosinya bisa saja tidak tersalurkan dengan benar," ungkap Elia.

Elia mengajak orangtua untuk waspada. Pertengkaran yang dilihat atau didengar, bisa membuat anak tersebut mempraktikkan hal tersebut kepadaorang lain. Misalnya, kepada teman sepermainan. Namun tidak selamanya tindakan itu berupa kekerasan secara fisik.

"Pertengkaran itu bisa ditiru oleh anak, karena daya ingatnya yang baik. Ini bahkan bisa dilakukan kepada teman sepermainannya. Mungkin tidak secara fisik. Tapi dalam bentuk kekerasan verbal. Misalnya, dengan melontarkan kata-kata kasar seperti yang didengar dalam pertengkaran orang tuanya," ungkap Elia.

Sebelum semua terjadi lebih lanjut, saran Elia, ada baiknya, orangtua menghindari berselisih paham. Apabila ada sesuatu hal yang dirasa tidak enak dilakukan seperti bertengkar, maka jangan dilakukan di depan anak.

Namun, apabila si anak sudah terlanjur mengetahui pertengkaran tersebut, sebaiknya orangtua segera memberikan penjelasan kepada anak tentang pertengkaran tersebut sesuai usia anak.

Anak, terang Elia, harus mendapat penjelasan. Ini ditujukan agar anak tidak menarik kesimpulan yang salah. Bagaimanapun, Elia mengatakan anak harus mendapat nasihat dan mengetahui mana yang salah dan benar. Selanjutnya, orangtua juga harus langsung menyadari jika ada perubahan pada anak. Lakukan pendekatan berlebih pada anak dengan cara menanyakan penyebab mengapa anak menjadi pendiam.

"Kalau anak tetap tidak mau bercerita, orangtua bisa membawa anak untuk menemui psikolog dan berkonsultasi tentang masalahnya," ungkap Elia.(*/dha)

Ketika Pemerintah Luncurkan Program Asuransi Kesehatan untuk Warga Miskin



Data Kurang Akurat, Ada Warga Mampu Mengaku Miskin


Untuk mengurangi beban masyarakat miskin, pemerintah pusat meluncurkan sejumlah program. Seperti, Bantuan Langsung Tunai (BLT), dan asuransi kesehatan untuk orang miskin (Askeskin). Belakangan diketahui, sasaran BLT maupun Askeskin kurang akurat, karena terdapat warga tergolong mampu yang mengaku miskin.

AGUS SALIM, Banjarmasin


KEPALA Dinas Kesehatan Kalsel Rosihan Adhani mengakui, sasaran Askeskin di Kalsel belum tunias 100 persen. Ia memperkirakan hanya sekira 80 persen dari total warga miskin di Banua ini yang mendapatkan Kartu Keluarga Miskin (Gakin), sebagai syarat mendapatkan pelayanan asuransi kesehatan. "Ironisnya, berdasarkan laporan petugas kesehatan yang melayani pasien pemegang


Askeskin tahun 2007 lalu, tidak sedikit pemegang Kartu Gakin dapat digolongkan warga mampu. Indikatornya dapat dilihatdari penampilannya, ada pasien Askeskin mengenakan perhiasan emas yang cukup banyak," ungkap Rosihan Adhani, belumlama tadi.

Nah, pada program Askeskin tahun 2008 ini, Dinas Kesehatan Kalsel mengharapkan terdaftarnya warga tergolong mampu sebagai pemegang Kartu Gakin dapat diminimalisir.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, papar Rosihan, jumlah masyarakat miskin di Kalsel sebanyak 843.837 jiwa. Nah. untuk mendapatkan kartu Askeskin, terangnya, masing-masing kabupaten dan kota diminta melakukan pendataan lagi, lalu disampaikan kepada Dinas Kesehatan Kalsel."Data masyarakat miskin tersebut harus di SK-kan Bupati dan Walikota sebelum dikeluarkan kartu Askeskin," katanya.

Sampai Rabu (20/2) lalu, papar mantan Kadinkes Kabupaten Banjar ini. terdapat 4 kabupaten di Kalsel yang belum menyertakan nama dan alamat warga miskin calon penerima Askeskin. Ia mengingatkan paling lambat akhir Juni semua kabupaten dan kola se-Kalscl sudah meng-SK-kan nama-nama penerima Kartu Gakin.

Lebih lanjut Rosihan menjelaskan soal tunggakan Askeskin tahun 2007 lalu yang belum dibayar PT Askes kepada sejumlah rumah sakit di Kalsel.

Mengacu pada hasil pertemuan di Departemen Kesehatan yang dihadiri seluruh Kepala Dinas Kesehatan, Direktur Rumah Sakit se-Indonesia, paparnya, tunggakan akan dibayar setelah sebelumnya dilakukan verifikasi. Selama pembayaran belum dilakukan diharapkan peran pemerintah daerah.

Seperti diketahui, tunggakan Askeskin yang belum dibayar PT Askes kepada sejumlah rumah sakit di Kalsel sepanjang tahun 2007 lalu mencapai Rp28 miliar. Tunggakan tersebut merupa-kanbiaya berobat orang miskinyang dananya sudah disalurkan pemerintah pusat kepada PT Askes.

Nah, lantaran tunggakan itulah, maka pelayanan kesehatan untuk keluarga miskin (Gakin) pada sejumlah rumah sakit dipastikan terganggu. Contohnya, RSUD Ulin Banjarmasin, jika sampai akhir Februari nanti PT Askes belum melunasi tunggakan Askeskin tahun 2007 sebesar Rp 9.7 miliar.

Tunggakan yang belum dibayar PT Askes itu terdiri dari dana pelayanan Gakin sebesar Rp 8,4 miliar, dan pelayanan Askes Sosial PNS sebesar Rp 1,3 miliar. "Kalau sampai akhir Februari ini tidak juga dilunasi, maka secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi operasional rumah sakit," kata Direktur RSUD Ulin Banjarmasin dr Abimanyu, baru-baru tadi.

Dijelaskannya, terganggunya pelayanan bukannya rumah sakit tidak mampu melayani, tapi ketidakmampuan rumah sakituntuk pelayanan Gakin. "Seperti untuk modal obat dan untuk makan, jelas duitnya kurang, sehingga pelayanan untuk Gakin pun terganggu," ujarnya.

Untuk itulah, ia mengharapkan Pemprov Kalsel memfasilitasi agar utang Askeskin segera dibayar, atau bisa juga Pemprov mengalokasikan dana talangan senilai utang PT Askes yang belum dibayar.

Pada bagian lain, orang nomor satu di RSUD Ulin ini meminta kabupaten dan kota memperbaharui data Gakin tahun 2007 lalu, karena pengalaman tahun lalu masih banyak pasien yang berobat menggunakan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dari RT/RW. "Pada tahun 2008 ini pola penyaluran dana pelayanan kesehatan untuk keluarga miskin diubah. Kalau dulu dananya dari Departemen Kesehatan, yangmengelola PT Askes, pelayanan adalah rumah sakit. Sekarang ini baik sumber dana maupun penyalurannya langsung ditangani Departemen Kesehatan," kata Abimanyu.

Namun demikian, lanjutnya, untuk pelayananan yang sifatnya mendesak, rumah sakit tetap akan melayani pasien yang menggunakan SKTM, sambil jalan diberi waktu 3 hari kerja untuk menyelesaikan Kartu Gakin pada masing-masing kabupaten dan kota. "

Sementara untuk rawat jalan harus ada rujukan dari puskesmas, atau rumah sakit di kabupaten dan kota. "Sejauh ini 6anyak pasien yang mestinya penyakitnya cukup dilayani di puskesmas atau rumah sakit kabupaten, tapi justru langsung dikirim RSUD Ulin. Pola-pola seperti itu akan diubah pada pelayanan Gakin tahun 2008 ini," terangnya.***

Membangun Masa Depan dari Telaga Gede



Potensi PDAM Tirta Mulia Pemalang


Air merupakan material penting yang I dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Tak bisa dibayangkan jika air yang kita minum sulit didapat, dan sumber-sumbermata air n .engering karena habis


dieksploitasi. Wartawan Suara Merdeka


Saiful Bachri menuliskan potensi airminum PDAM Tirta Mulia Pemalangdalam beberapa bagian.

KEKHAWATIRAN akan krisis air yang me-lintas di benak warga Dukuh Sodong, Desa Sikasur, Kecamatan Belik, Pemalang, belakangan ini cukup merisaukan. Apalagi ketika mereka mendengar sumber mata air Telaga Gede di desa itu akan disedot lebih besar lagi oleh PDAM Tirta Mulia. Tak ayal lagi perasaan risau tersebut makin mengganggu.

Bahkan mereka nyaris menghentikan rencana kegiatan eksploitasisumber daya alam mineral tersebut melalui sebuah gerakan. Untungnya PDAM cepat tanggap dan melakukan beberapa kali dialog, sehingga tak terjadi tindak anarkis dan pekerjaan pentahapan proyek besar itu tetap berlanjut sampai kini.

Ya, dari Telaga Gede harapan kehidupan masa depan itu sedang dibangun oleh PDAM. Karena dari sumber mata air itulah kebutuhan air bersih sebagian besar warga Pemalang yang berada di perkotaan dan sekitarnya tercukupi. 250Liter/Detik


Lalu kenapa muncul kekhawatiran warga di daerah atas khususnya Dukuh Sodong? Hal itu wajar. Sebab PDAM akan meningkatkan pemanfaatan air bersih dari sumber itu. Jika selama ini air yang diambil sebesar 110 liter/detik nantinya akan menjadi sebesar 360 liter/detik. Berarti ada tambahan 250 liter/detik atau lebih dari 300 persen.

Aktivis penyelamatan sumber mata air Telaga Gede Yusim mengatakan, semula banyak warga yang merasa tidak setuju jika pengambilan air dari sumber itu ditambah debitnya. Sebab bisa berpengaruh terhadap lingkungan sekitar.

"Sekarang saja ada sawah yang kekeringan tidak teraliri air. Bagaimana nanti jika debit yang diambil PDAM ditingkatkan," katanya.

Menurutnya, kendati survei tim ahli kandungan air baku yang meneliti sumber Telaga Gede menyimpulkan, eksploitasi masih bisa ditingkatkan, tetapi warga khawatir kegiatan itu akan berakibat negatif munculnya gangguan lingkungan di kemudian hari.

Misalnya makin menipisnya kandungan air yang ada. Sedangkan warga selama ini mengambil air dari sumur tanah itu tidak hanya untuk kebutuhan sehari-hari saja, melainkan dimanfaatkan pula untuk mengairi ratusan hektare sawah padi.

Sementara itu pihak PDAM berpendapat lain. Kandungan air masih lebih dari cukup untuk dimanfaatkan warga sekitar, baik untuk kehidupan sehari-hari atau untuk kegiatan pertanian dan ladang. Untuk itulah mere-ka tak pertu merasa khawatir.

Direktur PDAM Aji Setya Budi SE MSi melalui Kabag Hubungan Pelanggan Ronius DH SH mengatakan, pelaksanaan pengambilan air dari Telaga Gede dilaksanakan tidak sembarangan. Tetapi melalui riset teknologi dari para tim ahli ITB yang dipimpin guru besarnya Prof Arwin Sabar. Dengan demikian bisa direkomendasikan untuk ditingkatkan eksploitasinya


Hasil dari observasi lapangan menyebutkan, pada musim kemarau mata air Telaga Gede menjadi sumber utama kecukupan air bagi penduduk. Sedangkan keandalan air baku pada tahun kering dirumuskan Q (andalan mata air) 757-266/1.1. Dari rumus itu menghasilkan Q=428 Lps.

Berdasarkan hasil perhitungan itu Telaga Gede masih bisa diambil airnya lebih banyak lagi. PDAM pun menyiapkan segala sesuatunya. Di antaranya kesiapan lahan untuk jaringan pipa transmisi, penyediaan material dan mensosialisasikan kepada warga Isu Desa Dimekarkan


Menurut Ronius. munculnya kekhawatiran warga Dukuh Sodong terhadap proyek Telaga Gede bukanlah semata-mata karena masalah air. Tetapi terprovokasi isu desa akan dimekarkan. Karema wilayah telaga ada di Sodong, mereka menginginkan menjadi milik mereka, bukan desa lain.

Selain itu warga Sodong ingin mendapatkan kontribusi atau imbal jasa yang cukup atas pemanfaatantelaga. Sementara kontribusi yang sudah diberikan selama ini hanya diberikan ke desa. Warga Sodong tidak mendapatkan apa-apa. Hanya jalan yang beraspal.

Kontribusi yang diberikan PDAM secara berkala itu ke depan akan ditambah dengan dibangunkan jaringan irigasi untuk pertanian. Saat ini sarana irigasi masih sangat sederhana. Untuk itu banyak air yang hilang sebelum dimanfaatkan untuk mengairi sawah.

Dengan pengertian seperti itu akhirnya warga tak mempermasalahkan. Proyek kini sudah dimulai. Diawali dengan pemasangan pipa transmisi sepanjang 30.000 meter.

Tahap pertama dilakukan mulai dari Desa Semingkir, Kecamatan Randudongkal membujur ke utarasampai Kelurahan Bojongbata, Kecamatan Pemalang atau Gudang-Balok. Pipa yang digunakan jenis, PVC ukuran 16 inci sepanjang sekitar 27.600 meter. Penanaman pipa di bahu jalan PU Bina Marga Jateng. ,

Kemudian tahap kedua dilanjutkan dari Semingkir ke sumber mata air Telaga Gede sepanjangi 2.400 meter. Pipa yang digunakan jenis HDPE ukuran 14 inci. Pertemuan dua jenis pipa itu dipilih di Semingkir, karena di desa itu diba-. ngun reservoar dengan kapasitas air sebesar 2.000 m3. Sedangkan reser- voar yang sudah ada di Pemalang! berkapasitas 500 m3.

Kini yang sudah terpasang Jan Desa Semaya ke arah utara sekitar 800 meter lebih. Pemasangan terus1 berlanjut sampai selesai.( 17)

Keterbukaan Informasi dan Ironi Demokrasi



Ibnu Hamad *

TULISAN singkat ini hendak menyoroti pentingnya keterbukaan informasi terkait dengan calon pejabat. Sebab, penciptaan pemerintahan terbuka dan transparan {open and transparence government) sebagai target ditetapkannya UU Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP) mustahil berhasil jika para calon pejabatnya tidak terbuka dan tidak bersih.

Hemat penulis, keterbukaan informasi tentang para kandidat justru jauh lebih penting dengan tiga alasan yang terkait. Pertama, cita-cita pembentukan pemerintahan yang bersih itu sudah dapat kita lakukan sejak awal pemilihan para pejabat, baik di lingkungan eksekutif (presiden, gubernur, bupati, wali kota) maupun di lingkungan legislatif (DPR. DPD, DPRD I. dan DPRD U).

Kedua, dengan mengetahui kandidat yang bersih atau kotor sejak awal, lebih mudah bagi kila untuk memproyeksikan bentuk pemerintahan yang akan dicapai melalui pemilu, pilpres, maupun pilkada. Kalau yang terpilih rata-rata politisi bermoral, bolehlah kita berharap pemerintahan yang terwujud adalah pemerintahan yang baik dan bersih (good and clean government). Sebaliknya, jika yang terpilih umumnya politisi busuk, yang terjadi niscaya adalah pemerintahan yang jelek dan kolor (bad and dirty government).

Ketiga, pengetahuan yang cukupmengenai kandidat seharusnya mendorong pemilih untuk ikut bertanggung atas pilihannya. Jika ada pilihan kandidat yang bersih dan bermoral di antara sejumlah kandidat lainnya, lapi yang menang justru kandidat yang kotor dan bermasalah, selaku pemilih, semestinya kita bertanya, mengapa hal itu bisa terjadi?

Tapi, inilah faktanya. Akibat ketidakterbukaan informasi yang terkait dengan para kandidat, sejumlah caleg tetap terpilih menjadi anggota DPR/DPRD. Beberapa cagub, cabup. cawalkot yang diindikasikan tidak bersih dan melanggar moral terpilih, bahkan ada yang memperoleh suara lebih dari 60 persen.

Menjelang Pemilu 2009. caleg bermasalah bertebaran di daerah. Untuk DPR pusat. 21 Oktober 2008. anggota KPU Endang mengungkapkan kepada publik mengenai adanya 253 caleg bermasalah. Sesuai masukan masyarakat, di antaranya ada yang diduga terlibat kasus hukum (13 calon), menggunakan ijazah palsu (13 calon), dan diduga melakukan korupsi (45 calon). Toh demikian, beberapa di antara yang bermasalah itu tetap terpilih.

Ironi Demokrasi


Banyak yang bilang, itulah ironi demokrasi di negara kita. Yangbanyak uang -meski banyak masalah- sanggup menyingkirkan yang benar. Yang lebih ironis, dari pemilu/pilkada ke pemilu/ pilkada berikutnya, kejadiannya selalu berulang. Coba kita tengok ke Pemilu 2004.

Dari hasil Pemilu 5 April 2004, Ratusan Wakil Rakyat Terpilih Bermasalah (Tempo Interaktif, 5/8/2004). Panwaslu mengungkapkan, di luar Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Irian Jaya Barat yang laporannya belum masuk saat itu. ada 257 legislator terpilih bermasalah.

Ketua Panwaslu Didik Supriyanto menjelaskan, masalah-masalah itu terkait dengan persyaratan pendidikan, ketentuan harus mengundurkan diri dari pegawai negeri. TNI,atau Polri, terlibat kasus pidana, serta persyaratan kesehatan.

Sekarang, kita lihat hasil Pemilu 9 April 2009. Selain menemukan caleg bermasalah yang kembali terpilih, kita juga mendap "masalah yang tidak disebut masalah. Itulah dia caleg dinasti, yakni para caleg yang berasal dari satu keluarga. Fenomena ini sesungguhnya sama buruknya dengan caleg bermasalah karena berpotensi melakukan pembusukan demokrasi.

Sebagaimana dicatat Adkhilni M. Sidqi (Harian Radar Banten. 20 Mei 2009). politik dinasti, antara lain, terjadi di Tanah Banten. Beberapa nama terpilih sebagai anggota legislatif (anleg) baik tingkat daerah hingga pusat masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan para pejabat di Banten. Dan keluarga Gubernur Rt Alut Chosiyah paling yang banyak terpilih sebagai anleg, yakni Hikmat Tomet (suami. DPR. Golkar); Andika Hazrumy (putra, DPD); Ade Rossi Khae-runisa (menantu, DPRD Kota Serang, Golkar); Ratna Komala-sari (ibu tiri, DPRD Kota Serang, Golkar); Heryani (ibu tiri, DPRD Pandeglang. Golkar); Rt Tatu Chasanah (adik, DPRD Provinsi Banten, Golkar); Aden Abdul Cholik (adik ipar. DPRD Provinsi Banten. Golkar).

Selain dari keluarga gubernur.anleg terpilih memiliki hubungan kekeluargaan dengan para kepala daerah di Banten. Di antaranya. Tb Iman Aryadi (putra wali kota Cilegon. DPR. Golkar); Ahmed Zeki (putra bupati Tangerang. DPR. Golkar); Iti Octavia Jayabaya (putri bupati Lebak, DPR, Partai Demokrat); Diana Jayabaya (anak bupati Lebak. DPRD Prov Banten. PDIP) Mulyanah (adik bupati Lebak. DPRD Lebak. PDIP); Agus R. Wisas (adik ipar bupati Lebak. DPRD Banten. PDIP) dan Irna Narulita (istri bupati Pandeglang, DPR. PPP).

Tentu saja kita patut bertanya, mengapa para caleg dinasti bisa menang? Apakah karena teknik kampanye dan strategi pemasaran politiknya sangat canggih? Atau karena kepiawaiannya bermain politik? Seandainya kila selaku pemilih memiliki informasi yang cukup mengenai para caleg atau pejabat publik itu. tentulah kita tidak akan memilih dengan sekenanya. Itulah salah satu pentingnya keterbukaan informasi.

Apalagi, menjelang pelaksanaan pemilihan presiden, keterbukaan informasi tentang rekam jejak calon presiden menjadi sangat penting. Publik harus tahu siapa dan bagaimana calon pemimpin yang harus mereka pilih. Jika tidak, pemilu di Indonesia hanya akan menghasilkan ironi demokrasi. Ibnu Hamad, dosen Ilmu Komunikasi FISIP Ul. Depok.

Goa Tarusan Semakin Merana Pemkab Agam Diminta Bertindak Tegas






Bukittinggi, Singgalang


Sudah hampir satu tahun permohonan PT Tarusan Walet Sejahtera (TWS) untuk mengelola Sarang Walet di Goa Tarusan Sungai Janiah, Nagari Tabek Panjang, Kecamatan Baso, Agam, belum juga jelas juntrungannya. Perusahaan tersebut mengajukan permohonan izin berdasarkan putusan Mahkamah Agung yang memberikan hak pengelolaan.

Kini goa im sepertinya lidak bcnuan dun merana, semua orang saja bisu masuk dan mengambil sarang walcl di dalamnya. Dikhawatirkan, burung panghasil air ludah lerscbul bakal punah.

Adalah II. Nur Syamsi Nurdin. S.H.. yang pad.i laluin IW lalu menerima penyerahan pengelolaan Goa Tarusan i(u dari ninik mamak, cerdik pandai, alim ulama dan pemuda serta pemuda Sungai Jamiah.

Ketika itu Goa Tarusan lengah dikuasai oleh CV Sentral karena mengantongi kesepakatan dengan salah seorang ninik mamak. Akibatnya, ninik mamak Sungai Janiah. waktu itu pecah bahkan kaum Dt. Bandaro Kayo dari pesukuan Jambak dibuang sepanjang adat dan ditinggikan jenjang rumah kaum tersebut oleh ninik mamak nagari, karena menyerahkan goa tarusan tanpa musyawarah. Dan. penyerahan itu diulang kembali pada (ahun 1997.

Ketika itu bergulir permasalahannya ke PN Lubuk Basung dan sampai ke Mahkamah Agung. Tahun 1998, turun putusan dari lembaga peradilan tertinggi tersebut, yang intinya menyatakan bahwa Goa Tarusan Sungai Janiah adalah hak ulayat ninik mamak Sungai Janiah dan pengelola satu-satunya yang sah dari segi hukum adalah H. Nur Syamsi Nurlan, SH., (PT TWS).

Turunnya putusan tersebut antara lain berdasarkan penyerahan dari ninik mamak, alim ulama, cerdik pandai dan pemuda serta berbagai unsur LKMD yang waktu itu masih aktif.

Tapi karena adanya kongkalingkong antara bupati Agam (waktu itu dijabat oleh Ismu Nazif) dengan PT Cahaya Bukit Tarusan (CBT). pada tahun 1999 Pemkab Agam malah menyerahkan surat izin pengelolaan sarang walet tersebut kepada PT CBT. Sudah menjadi rahasia umum, ketika itu PT CBT melakukan berbagai cara untuk mcin-peroleh izin tersebut.

Oleh Nur Syamsi, permasalahan ini diajukan ke peradilan (ata usaha negara, dengan al.is.in bupati Agam (idak berhak mengeluarkan izin.

Ketika perkara TUN itu bergulir di PN Lubuk Basung. Nm Syamsi menang. Tapi pada PT TUN. dia dikalahkan karena pada (ahun 2000 sudah turun pendelegasian wewenang dari pemerimah pusat ke daerah bersamaan dengan berjalannya otonomi daerah. Apalagi waktu itu Nur Syamsi tengah menghadapi berbagai permasalahan akibat fitnah. Perkara TUN itu sampai ke Mahkamah Agung, dan Pemkab Agam pun melenggang di Mahkamah Agung.

Alasan Pemkab Agam yang dipimpin Ismu Nazif memberikan izin kepada PT CBTkarena adanya izin dari seorang ninik mamak. Kali ini yang berulah adalah Dt. Rajo Pangulu.

Ketika itu Nur Syamsi melayangkan laporan ke Polda Sumbar. Namun karena mengingal dan menjaga agar (idak menjatuhkan nama ninik-mamak laporan Nur Syamsi itu dicabutnya.

Pada awal tahun 2007 Jalu, seluruh ninik mamak Sungai Janiah memutuskan hubungannya dengan PT BCT. Justru itulah Nur Syamsi mengajukan permohonan izin berdasarkan putusan MA yang dikantonginya alas nama PT Tarusan Walet Sejahtera.

Permohonan itu disampaikan 2 April 2007. Ternyata sampai kini tidak jelas sampai di mana perjalanan perizinan tersebut.

Bupati Agam. Drs. H. Aristo Munandar ketika dihubungi menyebutkan, pihaknya sudah membentuk tim yang dipimpin oleh Asisten I Setwilda Syafir-man Azis. S.H. "Kitatunggu saja hasil kerja tim ini. Kalau soal hukum kita serahkan kepada ahlinya." ujar Aristo Munandar kepada Singgalang, Kamis (3 I/I I.

Syafirman Azis sebagai Ketua Tim perizinan tersebut justru (idak mempercayai putusan Mahkamah Agung itu. Berkali-kali pihak PT TWS menghubunginya, dia beralasan belum dapal memberikan izin itu karena perlu pengkajian lebih mendalam lagi.

"Kila akan kaji dari berbagai aspek. Sementara pekerjaan di kantor juga sungai banyak. Ini masalah rumit." ujar Syafirman Azis yang akrab dipanggil Pak Cap. kepada Singgalang. Rabu (30/1) lewat lelepon selularnya.

Tapi, pengkajian i(u (idak kunjung selesai. Setelah berjalan hampir satu tahun, juga tidak jelas juntrungan perizinan itu. Sepertinya pengkajian ini lebih rumit dari menetapkan APBD Agam yang lebih Rp300 miliar.

Pemkab (tim yang dipimpin Syafirman Azis) ternyata tidak memikirkan bahwa kalau dibiarkan berlarut-larut yang akan punah adalah walet itu sendiri.

Sementara itu H. Nur Syamsi Nurlan. yang dihubungi Sing-galang membenarkan pihaknyasudah hampir satu tahun ini mengajukan perizinan ke bupati Agam yang sampai kini Alhamdulillah masih belum diperoleh.

"Kila (idak mengerti jalan pikiran (im ini yang mempcr-(anyakan keabsahan pu(usan Mahkamah Agung ke mana-mana. Sampai dia mempertanyakannya ke PN Lubuk Basung. Mendiskusikannya dengan berbagai pihak. Saya heran, kenapa Syafirman Azis tidak mempercayai putusan Mahkamah Agung. Dia(crkesan (idak percaya dengan pu(usan MA tersebut." ujar Nur Syamsi dalam suatu percakapan dengan Singgalanq di Bukittinggi, Senin (29/1).

Dalam hal ini Nur Syamsi minta Pemkab Agam agar bertindak tegas. Bila memang tidak memungkinkan perizinan diberikan kepada PT Tarusan Walet Sejahtera, balas permohonan itu. "Kami mengajukannya secara tertulis. Kita mempertanyakan dimana letaknya pelayanan prima yang digembar-gemborkan Pemkab Agam selama ini," tambahnya.

Nur Syamsi juga memperkirakan, saat ini jumlah walel yang ada di Goa Tarusan hanya tinggal sekitar 20 persen saja lagi bila dibandingkan dengan kondisi tuhun lalu. Dan dikhawatirkan bila Goa Turusan itu (idak dikelola secara baik dan benar. walel di sana akun punah.

Lulu, bagaimana bila izin pengelolaannya diserahkan kepada pihak lain? Nur Syamsi menekannya, bila perizinan lidak diberikan Pemkab kepada PT TWS sesuai dengan putusan Mahkamah Agung, maka dia akan melawannya secara hukum.

"Negara ini adalah negara hukum. Supremasi hukum haruslah ditegakkan. Kalau bukan kita ini siapa lagi yang akan menghormati hukum di negara ini. Jangan sampai hukum di negeri ini dikangkangi hanya oleh oknum-oknum tertentu. Perlu juga dipertanyakan niat baik oknum lersebut. terutama dalam statusnya sebagai abdi negara," (egas Nur Syamsi yang juga anggota Komisi lil DPR-RI tersebut. 2O2

Membangun Bangsa dengan Takwa



Sementara itu, tentang buku Mengutamakan Rakyat, ada sedikit hal yang mengganjal dalam benak peresensi. rada bab Memerangi KKN (hal. 265) disebutkan bahwa KKN tidak ada kaitannya dengan nurani, keimanan, dan atau agama seseorang. KKN, menurut buku ini, terkait dengan sifat kreatif manusia yang akan terus eksis apabila sistem yang berlaku memberikan peluang.

Maka, masih menurut buku itu, untuk memberantas KKN hanya ada satu cara, yaitu melalui sistem yang tidak memberi kesempatan untuk terjadinya KKN. Pada kalimat selanjutnya kembali ditegaskan bahwa untuk meniadakan KKN janganlah se-kali-sekali digantungkan kepada moral, akhlak, apalagi keimanan dan agama seseorang.

Padahal pada pembukaan bab tersebut dikutip ayat Alquran Surat Al Haji ayat 45 yang artinya "Berapa banyak negeri yang penduduknya Kami binasakan karena penduduknya berbuat aniaya, maka rubuhlah dia atas atap-atapnya, dan beberapa banyak sumur-sumur yang ditinggalkan dan istana tinggi yang telah kosong".

Menurut peresensi, KKN justru sangat erat kaitannya dengan agama, keimanan dan ketakwaan seseorang. Karena itu, bangsa ini harus dibangun dengan ketakwaan. Pemimpinnya harus bertakwa, pembuat kebijakan/ sistem harus bertakwa, dan diikuti dengan rakyat yang bertakwa pula. Sebab takwa adalah landasan yang paling kuat dan paling ampuh. Dalam hal ini Allah Swt telah berfirman dalam Alquran Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepadanya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam (QS Ali Imran ayat 102).

Jika bangsa ini dibangun dengan takwa, maka negara kita akan aman dan dunia akan tentram, dan rezeki langit dan bumi akan dibuka dan kita akan diberi keberkahan, seperti janji Allah dalam Alquran Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan-nya.(QSAlAraf96).

Memang, di dalam suatu kota atau dalam suatu negara jika penduduknya beriman dan bertakwa kepada Allah, maka negara itu akan hidup tentram dan diberkahi oleh Allah dengan rezeki yang baik dan hasil yang berlimpah ruah. Sebab dengan bekal iman, rakyatnya tidak berani berbuat korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), manipulasi, dan sebagainya.

Sebaliknya, kalau dalam negeri itu berlomba-lomba dalam kemungkaran dan kemaksiatan, rakyat senang berpesta pora dengan judi, minum-minuman keras, ekstasi, shabu-shabu, narkoba, dan sebagainya, maka tunggu saja kehancuran negara itu.

Kita dapat melihat atau membaca sejarah kehancuran negarapada zaman dahulu yang bergelimang dalam kemaksiatan, seperti pada zaman Nabi Nuh AS. Pada saat itu kaum Nnbi Nuh menentang dan i ulak mau tunduk kepada ajakan Nabi Nuh. Nabi Nuh mengajak kepada kaumnya supaya menyembah kepada Allah, tapi ajakan Nabi Nuh itu dicemoohkan dan tidak diindahkan, bahkan anaknya sendiri yang bernama Kanan juga menentang ajakan ayahnya, yaitu Nabi Nuh.

Setelah itu, Allah menurunkan adzab yang sebesar-besarnya. Ditenggelamkan kaum Nabi Nuh yang menentangnya, termasuk anaknya Kanan, mati dalam kekafiran. Tapi Nabi Nuh dan orang-orang yang beriman diselamatkan oleh Allah dari bahaya banjir yang dahsyat itu.

Permintaan atau doa tersebut dikabulkan oleh Allah Swt, dan kaum Nabi Nuh yang sangat ingkar itu ditumpas habis-habisan oleh Allah, kecuali Nabi Nuh dan orang-orang yang beriman kepada Allah.

Ada lagi kenyataan dalam dalam sejarah yang tidak mengindahkan kepada ajakan Rasulnya. Seperti zaman Nabi Musa dengan Firaun. Nabi Musa As adalah utusan Allah, yang ditugaskan untuk amar makruf nahi mungkar, Kita dapat melihat bagaimana kekejaman Firaun kepada kaumnya. Sampai-sampai anak kecil yang tidak berdosa turut menjadi kurban karena kekejaman Firaun.

Tapi Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa, dapat menyelamatkan Musa dari bahaya maut yang mengerikan itu. Allah memerintahkan supaya Musa itu dihan-yutkan dalam air, sampai akhirnya tidak dibunuh, tapi dijadikan anak oleh Firaun.

Setelah Nabi Musa dewasa, melihat keadaan dan tindakan raja Firaun yang sewenang-wenang, sampai-sampai Firaun mengaku sebagai Tuhan, rakyatnya disuruh menyembahnya sebagai Tuhan. Tapi atas perintah Allah, Musa mengajak kaum yang sesat itu untuk kembali menyembah kepada Allah. Namun demikian, Nabi Musa juga mendapatkan tantangan yang hebat sekali.

Meski demikian, sekalipun resiko yang dihadapi oleh Musa sangat besar, tapi Nabi Musa yakin bahwa apa yang diperintahkan Allah adalah hal yang benar, maka Nabi Musa mendapatkan kemenangan yang gilang gemilang. Sedang Firaun dan bala tentaranya ditenggelamkan di Laut merah dalam keadaan kafir.

Beberapa musibah dan bencana yang terjadi di negeri mulai tsunami di Aceh, gempa Yogya, banjir bandang di sejumlah wilayah, lumpur Lapindo, dan berbagai musibah kecelakaan di nusantara ini, haruslah kita jadikan pelajaran yang sangat berharga. Hendaknya kita senantiasa waspada bahwa musibah dan bencana itu senantiasa mengintai bangsa, kota, kampung, dan keluarga serta diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita harus membentengi diri kita, keluarga kita, kampung kita, kota dan bangsa negara kita dengan peningkatan iman dan takwakepada Allah.

Tolak Bencana dengan Bertaubat


Beberapa kenyataan sejarah tersebut di atas, terungkap dalam buku ini pada bab Potret Bangsa (hal. 315). "Korupsi bukan lagi dosa, tapi urusan peluang, rasanya malah menjadi bagian dari budaya kenegaraan kita. Jelas-jelas gaji kecil, sebagian elite hidup mewah dengan menilap uang rakyat... Di depan publik lantang bicara pen kemanusiaan, tapi di belakang layar diam-diam merampok uang negara".

Sementara kenyataan paling gres bisa kita lihat kasus suap milyaran rupiah yang menimpa elit politik kita. Di antaranya, Ketua Tim Jaksa Penyelidik Kasus Penyimpangan Dana BLBI, Urip Tri Gunawan. Ia ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Minggu (2/3/2008) di rumah pengusaha Sjamsul Nursalim di Kelurahan Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Ia tertangkap menerima dana sebesar 660 ribu Dolar Amerika (Rp6,l Miliar) dari Artalyta Suryani, yang diduga sebagai uang suap dalam penyelidikan kasus penyimpangan dana BLBI.

Sebulan kemudian, tepatnya Rabu (9/4/2008) dini hari KPK kembali menangkap Anggota DPR Al Amin Nur Nasution atas dugaan suap bersama empat orang lainnya, termasuk Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan, Azir-wan di Hotel Rita Carlton. Penangkapan ini diduga terkait dengan upaya alih fungsi lahan hutan lindung 7.300 hektar di Bintan Bunyu, ibu kota Kabupaten Bintan. Alih fungsi itu bisa dilakukan atas rekomendasi DPR. Sebelum ia ditangkap, saat Rapat Kerja (Raker) dengan Menteri Kehutanan MS Kaban, Komisi IV DPR RI akhirnya menyetujui pengalihfungsian lahan hutan lindung tersebut. Diduga keputusan ini merupakan buah dari hasil lobi-lobi Al Amin Nur Nasution.

Namun dalam alenea tersebut (di buku Mengutamakan Rakyat) juga diberikan secercah harapan "...Kita masih berharap dan bahkan yakin hari depan akan cerah". Bahkan bab tersebut diawali dengan untaian kata "Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi. Dalam kemiskinan harta ada kekayaanjiwa. Dalam kesempitan hidup ada keluasan ilmu. Hidup ini indah jika segala karena Allah SWT".

MeBki terlambat, tampaknya memang perlu bangsa Indonesia mengadakan taubat nasional. Namun hal ini bukan merupakan hal yang mudah. Karena itu, sekali lagi kita harus waspada bahwa musibah dan bencana itu senantiasa mengintai bangsa, kota, kampung, dan keluarga serta diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita harus membentengi diri kita, keluarga kita, kampung kita, kota dan bangsa negara kita dengan peningkatan iman dan takwa kepada Allah. Sehingga kalau memang belum bisa mengajak orang lain, secara pribadi kita harus tetap bertaubat serta meningkatkan keimanan dan ketakwaankita kepada Allah Swt untuk menolak berbagai bencana yang menimpa bangsa kita.

Kalau kita kembali membaca sejarah masa lalu, bencana-ben-cana seperti yang tersebut di atas tidak hanya terjadi pada zaman ini saja. Sejak dulu bencana itu menimpa pada manusia. Seperti yang telah disebutkan di atas, juga gempa yang telah melanda kaum Ad (kaum Nabi Hud AS), angin topan yang melanda kaum Tsamud (kaum Nabi Sholeh), hujan batu yang menimpa kaum Nabi Luth, atau bencana alam yang menimpa orang-orang Madyan (kaum Nabi Syuaib), dan masih banyak lagi. Dunia memang tidak akan sepi dari bencana dikarenakan masih banyaknya orang-orang yang sombong dan durhaka terhadap Allah.


Orang-orang yang telah disiksa oleh Allah, hampir tidak ada yang selamat, sekalipun mereka itu orang-orang yang kuat, gagah serta berpengetahuan tinggi. Namun ada -atu kaum, yakni kaumnya Nabi Yunus As, yang kemudian diselamatkan oleh Allah Swt


Nabi Yunus As, seperti nabi-nabi yang lain yang diutus oleh Allah kepada kaumnya untuk mengajak mereka agar menyembah kepada Allah saja dan meninggalkan sesembahan selain Allah. Siang malam Nabi Yunus tidak mengenal lelah dalam mengajak mereka kembali ke jalan Allah, tetapi mereka selalu menolak dan mencemooh Nabi Yunus As. Di saat kedurhakaan mereka sudah sangat keterlaluan, maka Allah mengirimkan siksa yang berupa hujan api di atas daerah mereka.

Nabi Yunus yang belum dapat perintah Allah untuk meninggalkan daerah tersebut, sudah menghilang dari kampungnya. Di waktu mereka sudah dikepung oleh siksa, maka timbullah kesadaran mereka bahwa Nabi Yunus adalah benar. Mereka beramai-ramai mencarinya untuk bertaubat dan meminta maaf atas perlakuan selama ini terhadap Nabi Yunus. Tetapi sayang, Nabi Yunus sudah pergi jauh. Namun perasaan taubat dan penyesalan mereka itu menyebabkan siksa atau bencana ditarik kembali oleh Allah.

Dari kisah tersebut kita dapat mengambil satu pelajaran yang sangat berharga, bahwasanya untuk menolak bulak atau bencana, hanya dengan taubat dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Pengetahuan yang bagaimanapun tingginya, tidak akan dapat membendung kemurkaan Allah.

Ranah Apresiasi Pameran Seni Rupa Oleh Drs.M.Zainal






FAKTA yang paling menarik untuk diutarakan, kebanyakan pendaftaran dalam cabang seni rupa adalah orang yang tidak memiliki bakat kreatif secara konkrit seperti menggambar atau mema tung sekaligus tidak memiliki minat ke arah itu.

Banyak hal yang selalu dicari dalam hidup dan kehidupan ini, seperli harta benda, pangkat, kekuasaan dan kebahagiaan. Untuk mencapai kenikmatan di dunia, banyak cara yang harus dilaksanakan dan diupayakan untuk mencapainya termasuk dalam bclajar dan mengapresiasi Reni lukis.

Dalam proses bclajar menga jar, seni lukis sendiri terdapat kecemasan akan punahnya aprc siasi terhadap kemampuan teknis seniman. Hal ini sedikit banyak juga disebabkan oleh karena begitu banyaknya dominasi teori sehingga mcngenvampingkan ekplorasi artistic yang lahir dari kecakapan (skill) yang hanya bergantung pada konsep sema ta. Farah Handani. Kompas 2003).

Di antara kcnikmatan-kenik-maian dunia termasuk di dalamnya, kenikmatan dalam kegiatan menggambar dan melukis seperli yang dilakukan dan dilaksanakan oleh murid TK, SD. siswa SLTA dan mahasiswa senirupa dan seniman pada cabang perguruan tinggi serta mengadakan apresiasi yang lebih dikenal dengan pameran seni rupa. Dulu saya pernah bcrangga pan, bahwa menggam bar atau melukis itu dianggap sebagai suatu kegiatan untuk menimbul kan kesan terlihatnya benda-benda tiga dimensi pada bidang datar sebidang kertas atau kanvas lukisan.

Akan tetapi, setelah mengikutiperkuliahan dan diskusi tentang seni lukis pada tingkat daerah dan tingkat nasional, ternyata menggambar dan melukis itu lebih dalam dari itu. (Adrian hill. How lo Draw. 1992).

Terutama sekali kenikmatan yang di dapat dalam tahapan mencoba dengan menggaris lurus, melengkung serta menggabungkan yang pada akhirnya bcrmua ra dan berlanjut kepada goresan yang mengarah kepada bentuk alum dan binatang serta bentuk yang terpikirkan oleh calon seniman itu.

Kesenangan dan kegembiraan yang muncul dalam proses keasyi kan kerja tanpa memperdulikan waktu yang berputar cepat, tanpa memperdulikan hasil yang dicapai. Apakah yang dibuat itu baik atau belum mencapai hasil yang diharapkan. Tapi yang pasti calon seniman ini (elah luluh dalam pengembangan pensil dan kilas pada gambar dan kanvas yang maha luas tiada balas.

Untuk memahami lebih mendalam apa sebenarnya menggam barkan dan melukis itu. kita akan menemukan makna yang lebih mendalam jika kila telah melihal dan menikmati hasil nyata seba gai dampak kerja penyaluran bakal, hobi yang tersimpan dalam rolling hati calon perupa/ seniman yang paling dalam.

Pada hakekatnya menggambar dan melukis itu adalah pcngung kapan rasa seni dari seorang melalui unsur seni secara mental dan visuil dari apa yang dialami diam bentuk garis, bidang, warna dengan penuh pertimbangan, keseimbangan dan aksentuasi untuk menciptakan komposisi yang manis dan menyenangkan serta tertata dengan harmonis.

Sering kita merasakan apa yang kita buat itu belum menca pai hasil maksimal seperti apa yang kila harapkan. Anehnya dalam relung sebuah hati terbersit rasa kebahagiaan yang mendalam, akan hal yang baru saja kita laksanakan.

Rasa puas akan keasyikan yang (crjadi selama berkecimpung dan berkutat dengan cat dan kuas untuk menuju penyelesaian sebuah karya seni rupa yang baru penuh inovasi.

Kebahagiaan dan kesenangan yang dicapai bukanlah hasil akhir, karena akan masih datang tanta ngan baru pada media yang baru untuk berkarya yang lebih baik dan lebih bagus dalam upaya incnambahkan bagan-bagan penting yang masih memerlukan scntuhan-scntuhan tambahan untuk mewujudkan karya seni yang mendasar dan hakiki.

Untuk sampai kepada tahap kenikmatan yang hakiki itu tidaklah semudah membalik telapak tangan, tentulah akan menempuh lorong-lorong sempit dan kecil yang memiliki onak dan duri di sepanjang perjalanan pensil dan kuas dengan segala perimbangan estetika sebelum smapai ke tilik finish yakni dipajangkanya karya tulis kita dalam pameran besar, sejajar dengan pelukis terkenal seperti Wakidi. Basuki Abdullah. Affan di.Sujoyonodan lain-lain.

Saya yakin dan berharap karya siswa dan guru sekarang ini akan dapal dipajang sejajar dengan pelukis terkenal lainya, karena banyak bentuk dan motivasi yang diberikan dalam men capai karya yang utuh secara maksimal.

Seperti sering membawa siswa melihal dan mengapresiasi pameran karya pelukis terkenal yang dipamerankan di museum, di galeri atau di sanggar seni lukis yang banyak terdapat di setiap kota dan provinsi.

Setiap individu itu berbeda dengan individu yang lainnya, masing-masing mempunyai ciri khas, baik sifat, nilai-nilai yang dianut maupun kemampuan yang dimilikjnya. Setiap orang adalah suatu konfigursi motif-motif, sifat-sifat sarat dengan nilai yang khas, tiap tindak yang dilakukan oleh seseorang mem bawa corak khas gaya kehidupan nya yang bersifat individu. (A/red Adler).

Namun satu hal yang perlu diperhatikan karena setiap orang mempunyai ciri khas, sebagai perbedaan individu, tidak usah marah dan gusar apabila karya yang kita tampilkan (idak cocok dengan selera penikmat seni, karena memang cita rasa dan instuisi setiap orang itu berbeda dan saling mengungkapkan prinsip masing-masing.

Oleh sebab itu, jangan gusar dulu bila ada yang sebahagian orang mencela dan merendahkan karya lukisan kita. Yang penting sekali janganlah kita larut dalam cacian pcnimat seni itu jadikan itu sebagai evaluasi dan introspeksi karya. Barangkali kita perlu mende ngarkan akan apa yang mereka perbincangkan dan apa yang mereka diskusikan itu karena mungkin ada sisi benarnya untuk pengembangan dan penda laman karya lukis kita di masa men datang.

Kalau perlu diadakan ajang diskusi/bedah karya dan sebaliknya jadikanlah pujian itu untuk memacu semangat dan motivasi kita dalam berkarya lebih aspiratif.

Pada penyelenggaraan pendidikan seni rupa sekarang ini yang sudah berbasiskan kecakapan hidup (life skill) dan bermuatan kompetensi yang mengharuskan siswa itu matang dalam berkarya dan dapat melaksanakan pame ran gambar dan lukisan dengan baik dan mencapai sasaran.

Berkarya dan pameran seni rupa ini sudah merupakan kalen der tetap setiap sekolah sesuai dengan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2005 yang bertujuan untuk memper dalam dan mengasah cita rasa seni penikmat dan rasa seni siswa dalam berkarya dan apresiasi.

Disamping memamerkan karya-karya terbaik pelukis dan karya siswa, selalu saja diadakan diskusi seni rupa dengan topik pembahasan seperti yang ada dalam lukisan yang terpajang di ruangan galery pameran itu.

Pada awal bulan Februari 2007 di Sumatra barat telah dilaksanakan pelatihan workshop komunitas kritikus seni rupa yang dilaksanakan oleh Fakultas Bahasa.Sastra dan Seni I INP Padang. Tujuannya, untuk menga nalisa, mengangkat dan memasya rakalkon masalah-masalah aktual yang sedang berkembang dalam seni lukis, sehingga masalah seni lukis dan pelukinya seperti Wakidi. Basuki Abdullah, Sujo yono. Affandi dan pelukis lainnya menjadi komunitas umum dan merupakan pokok pembicaran omag umum, apalagi komunitas seni rupa.

Sebetulnya banyak cara yang dapat dilaksanakan oleh perguruan tinggi seni, sekolah kejuruan seni lukis, tingkat SLTAdan SLTP untuk meningkatkan kemampuan dalam seni lukis dan rasa apresisi siswa.

Seperti melibatkan dan mengundang setiap sekolah itu untuk datang melihat pemeran dan berpartisipasi aktif dalam setiap diskusi, rasanya tidak terlalu berat bagi pembina orga nisasi siswa intra sekolah (OSIS) dan pihak sekolah untuk memberi izin. Kalaupun tidak pada jam belajar efektif, bisa saja sepulang siswa sekolah atau pada hari libur dan minggu.

Untuk mematangkan kegiatan berpameran dan rasa apresiasi siswa dalam pameran ini, akan sngat tergantung kepada kemauan dan kegigihan guru seni rupa dalam menciptakan kegiatan yang menarik dan mengkaitkan dengan metode pembelajaran seni rupa di sekolah.

Mudah-mudahan, kalau siswa telah sering kita bawha melihat dan mengunjungi pameran seni lukis, baik lingkat sekolah, atau di museum, semoga rasa seni dan apresiasi mereka terhadap karya seni rupa akan semakin terasa dan teruji. Dengan harapan pada suatu saat nanti mereka akan dapat melaksanakan pameran secara berkelompok atau per orangan. Semoga. *uPenulis adalah patriasimposium dan inomst pembelajaranlingkat nasional 2004 dan 2005mtwakili ktlompok guru dari Sumatra


Barat Di Cicarua, Bogor.

Membiasakan Diri dengan Kemacetan Jakarta



Macet seakan menjadi salah satu ciri khas Jakarta yang berulang tahun ke-482. Tanyakan saja kepada penduduk Jakarta, "kata apa yang diingat tentang Jakarta", hampir pasti kata "macet" akan keluar dari mulutnya.

Berbagai survei yang mengindikasikan kemacetan memang masih memperlihatkan bahwa tren kemacetan di Jakarta memburuk. Rata-rata kecepatan perjalanan kendaraan bermotor turun dari 25 km perjam tahun 2000 menjadi sekitar 20 km per jam tahun 2007.

Sebuah penelitian memperlihatkan bahwa waktu bergerak kendaraan di Jakarta hanya 40 persen, sedangkan sisanya merupakan waktu hambatan karena terperangkap kemacetan. Beberapa persimpangan utama juga menunjukkan tingkat kejenuhan yang tinggi sehingga sebuah kendaraan harus mengantre hingga 5-7 kali di lampu merah untuk menerobos persimpangan tersebut.

Dalam bahasa teknis, rasio perbandingan antara jumlah kendaraan (vehicle) dan kapasitas jalan (capacity) banyak yang sudah melampaui angka 1.0. Ini artinya jalan-jalan tersebut sudah terlampaui kapasitasnya sehingga kemacetan menjadi pemandangan rutin sehari-hari.

Apa penyebabnya? Saya kira sudah begitu banyak ulasan tentang kemacetan di media ini. Kompas termasuk yang terus mengingatkan betapa kita sudah rugi lebih dari Rp 12,8 triliun per tahun (nilai waktu, pemborosan bahan bakar, dan biaya kesehatan) akibat kemacetan di Jakarta. Namun, ada baiknya beberapa hal utama kita kete-ngahkan lagi di sini.

Pertama, soal lokasi pusat kegiatan ekonomi dan permukiman yang sering disebut job-housing mismatch. Disebut ketidak-imbangan karena lokasi pusat-pusat kegiatan ekonomi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) terkonsentrasi di tengah kota.

Sementara sebagian besar warga yang bekerja di Jakarta punya rumah di Bodetabek. Sejak tahun 1995 persentase penduduk Bodetabek telah mengungguli persentase penduduk Jakarta. Ini karena permukiman yang terjangkau bagi kebanyakan warga ada di pinggiran kota.

Sebenarnya fenomena ini ingin disikapi pemerintah dengan memfasilitasi kota-kota mandiri seperti Cikarang, Bumi Serpong Damai, dan Karawaci. Namun, kenyataan setiap pagi kebanyakan warga berduyun-duyun ke tengah kota Jakarta dalam waktu, ruang (baca jalan atau rute), dan moda transportasi (kendaraan pribadi) yang sama.

Namun, karena ada konvergensi ketiga hal ini, yakni waktu, ruang, dan kendaraan pribadi, tidak heran kalau terjadi kemacetan.

Pola pergerakan di Jabodetabek yang mencapai sekitar 20 juta perjalanan per hari ini memang tidak mungkin ditampung oleh jaringan jalan yang ada. Berapa pun jalan dibangun, tidak akan mampu mengikuti laju pertumbuhan kendaraan di Jakarta. Panjang jalan di DKI hanya tumbuh 0,01 persen per tahun, sedangkan volume lalu lintas naik 12,2 persen per tahun pada 2002-2008.

Di lain pihak, kepemilikan kendaraan terus naik seiring dengan peningkatan ekonomi war-

ga DKI. Soal ini ada baiknya melihat bagaimana Jakarta dibandingkan dengan berbagai kota yang ada di dunia ini.

Gambar memperlihatkan keterkaitan antara laju kepemilikan kendaraan dan ekonomi perkotaan yang ditunjukkan melalui pendapatan per kapitanya. Studi yang dilakukan oleh para akademisi dan praktisi dari berbagai universitas ternama di Asia Timur dan Pasifik dilakukan secara kolaborasi melalui the East Asia Society of Transportation Studies (EASTS).

Salah satu kajian memperlihatkan ada tiga kemungkinan trajektori bagi kota-kota yang relatif masih memiliki kepemilikan kendaraan yang rendah (JKK/Jakarta, BJG/Beijing.

MNL/ManUa, BKK/Bangkok). Jalur trajektori pertama adalah mengikuti kota-kota di AS yang terkenal dengan kota yang sangat bergantung pada kendaia-an pribadi (auto-oriented city). Jalur kedua adalah kota-kota di Eropa yang memiliki ciri humanis, padat (compact) dan penggunaan campuran, serta sangat bersahabat terhadap pejalan kaki dan kendaraan tidak bermotor.

Ketiga adalah kota-kota negara maju di Asia, seperti Tokyo, Singapura, dan Hongkong, yang telah memiliki sistem jaringan angkutan umum yang baik dehgan kepadatan kota yang cukup tinggi. Seoul dan Taipei mencoba mengikuti ketiga kota tersebut


Dibawa ke mana


Lalu, kira-kira Jakarta mau ke manakah? Mau jadi kota yang bergantung pada kendaraan pribadi, yang akan mengakibatkan berkurangnya kerekat-an sosial seperti halnya di AS?

Beberapa buku seperti the Suburban Gridlock (kemacetan total di kota-kota penyangga) dan The Geography of Nowhere (yang menceritakan tentang hilangnya humanisme di perkotaan AS karena terkungkungnya manusia oleh kendaraan bermotor) merupakan contoh dari berbagai studi tentang transportasi dan dampaknya pada perkembangan kota di AS.

Kota-kota di AS hingga saat ini masih terus bergulat dengan kepemilikan kendaraan yang sangat tinggi, yang dipicu oleh mudahnya orang mendapatkan kredit mobil. Sementara itu, banyak kota di Eropa seperti London, Paris, dan Amsterdam berupaya terus mempertahankan ciri khasnya sebagai the livable city (kota yang nyaman). *

Kota yang memanjakan pejalan kaki, pengendara angkutan umum, dan kendaraan tidak bermotor. Kota-kota ini mampu menekan laju kepemilikan kendaraan bermotor meskipun memiliki tingkat ekonomi perkotaan yang tinggi.

The Asian Way tampaknya menjadi salah satu hal yang direkomendasikan para ahli transportasi di Asia dan Pasifik. -Mengikuti kota-kota yang memiliki pendapatan per kapita yang tinggi seperti Tokyo, Singapura, dan Hongkong, yang berada di "tengah" dengan pendapatan per kapita menengah seperti Seoul dan Taipei.

Kota-kota metropolitan yang berkembang pesat seperti Jakar-ta, Bangkok, dan Manila diharapkan mampu menekan laju kepemilikan kendaraan dengan penyediaan angkutan umum yang baik. Bagi kota-kota ini sebenarnya proporsi orang yang memakai angkutan umum sudah cukup besar.

AmBil contoh Jakarta, yang memiliki sekkar 56 persen perjalanan dengan angkutan umum. Oleh sebab itu, tantangan yang ada adalah mempertahankan proporsi ini sembari memperbesarnya secara bertahap. Jangan lupa sebesar 64,5 persen warga berpenghasilan rendah di Jakarta menggunakan angkutan umum. Perlu menjadi catatan, 24,2 persen warga ha-rus mengeluarkan biaya transportasi lebih dari 20 persen. Sebanyak 47,3 persen mengeluarkan biaya transportasi 10-20 persen.

Data memberikan makna bahwa 71,5 persen warga Jakarta harus mengeluarkan biaya tinggi untuk transportasi dibandingkan dengan negara berkembang lain yang memiliki angka "patokan" sekitar 10 persen.

Kembali ke Jakarta yang memiliki jumlah kendaraan sekitar 6.5 juta, dua pertiganya merupakan sepeda motor. Sepanjang tahun 2000-2007 proporsi kendaraan roda empat pada volume lalu lintas di jalan-jalan utama tetap, sedangkan sepeda motor meningkat menjadi 2.4 kali lipat. Ledakan jumlah sepeda motor ini harus dilihat sebagai "akibat" dari ketidakmampuan angkutan umum untuk melayani kebutuhan warganya.

Dari survei yang aila, umumnya warga mau meninggalkan kendaraan pribadinya, baik roda empat maupun roda dua. jika angkutan umum yang ada aman.nyaman, berjadwal, dan terjangkau.

Oleh sebab itu. kunci mengelola kemacetan Jakarta adalah melakukan revitalisasi angkutan umum. Bagi Jakarta, tampaknya tidak ada pilihan lain selain me-" lakukan reformasi total angkutan umumnya.

OJeh karena itu, diperlukan konsistensi dalam cara pandang dan eksekusi program secara cepat namun tepat Ketergesa-gesaan seperti dalam proyek wa-tenvay dan monorel seharusnya menjadi pelajaran untuk meng-akselerasi program transportasi secara terintegrasi dan komprehensif, namun tetap dengan persiapan yang matang dan good governance yang baik.

Hal ini dapat dimulai dengan optimalisasi angkutan umum massal yang sudah ada, seperti bus transjakarta dan kereta api komuter, serta kereta api dalam kota. Juga, melakukan restrukturisasi trayek angkutan umum secara menyeluruh, dan manajemen transportasi untuk menata lalu lintas di tengah kota dan koridor-koridor utama


Kita, warga Jakarta, tampaknya memang satu tahun ke depan masih harus membiasakan diri dengan kemacetan yang ada. Mungkin ada benarnya tulisan di dalam majalah Times yang menobatkan Jakarta sebagai tempat untuk melatih kesabaran karena kemacetannya.

Sering kali kita lupa, ketika kita terjebak kemacetan lalu mengumpat adalah bahwa kita sendiri merupakan bagian dari lalu lintas yang membuat kemacetan tersebut


BAMBANG SUSANTONO

Ketua Umum Masyarakat


Transportasi Indonesia

Wednesday, December 11, 2019

Menengok Mata Air Pancuran di Desa Pekunden Kutowinangun



Tak Pernah Kering, Diyakini Bisa Sembuhkan Berbagai Penyakit


Mata air "Pancuran" di


Desa Pekunden memangunik. Selain tak pernahkering, kabarnya air


Pancuran itu konon jugabisa menyembuhkanberbagai penyakit.

Benarkah?

FUAD HASYIM-Kutowinangun


JELANG musim kemarau ini, warga desa Pekunden Kecamatan Kutowinangun tak begitu resah. Sebab, mereka memiliki sumber mata air yang tidak pernah surut. Bahkan dimusim kemarau sekalipun.

Pancuran, demikianlah warga desa setempat biasa menyebut sumber mata air yang berada di Dukuh Kalisetra Desa Pekunden itu. Tak sulit untuk menemukan sumber air Pancuran ini. Dari balai Desa Pekunden ke utara sekitar 600 meter. Jika bingung, tanyakan saja pada warga desa setempat. Pasti semua akan menunjukkan tempatnya.

Disebut Pancuran, karena secara


alami air tersebut mancur (meman-car) dari dalam tanah. Letak sumber mata airnya pun cukup unik. Yaitu persis berada di bawah sebuah pohon tinggi besar yang konon usianya sudah ratusan tahun. Air yang keluar dari sela-sela akar pohon itu sangat bening. Bahkan nyaris tidak mengandungendapan. Warga juga terbiasa meminum langsung air Pancurdn tar.pa harus dimasak terlebih dahulu.

Agar mudah diambil, warga membuat saluran dari bambu. Di tempat itu pula, khususnya kaum perempuan melakukan aktivitas mencuci, mandi dan mengambilair untuk keperluan di rumah.

Aktivitas di Pancuran ini akan semakin meningkat. Terutamajika musim kemarau. Ada saja warga yang datang ke tempat ini. Baik untuk keperluan mandi, mencuci dan mengambil air. Tak hanya warga dari dukuh Kalisetra saja yang dalang. Warga dari luar dukuh dan desa pun banyak yang memanfaatkan airnya.

Namun jika pada musim kemarau, harus bersabar. Sebab, debit air yang keluar tidak terlalu besar, dibanding musim penghujan. Otomatis warga pun harus antre. Apalagi hanya ada dua pancuran bambu yang dibuat warga.

Selain sebagai sumber air bersih bagi warga setempat, air Pancuran ini konon dipercaya bisa mengobati berbagai macam penyakit. "Kalau cuma sakit "batuk pilek, minum air Pancuran ini InsyaAllah bisa sembuh," ungkap Wariyun, sesepuh Dukuh Kalisetra.

Ditambahkannya, sudah tidak terhitung orang yang minta izin mengambil air Pancuran dengan maksud berikhtiar demi kesem-buhan penyakit yang dideritanya. Tidak hanya lokal Kebumen saja. Mereka juga datang dari berbagai kota di Pulau Jawa. Tidak sedikit pulayang dalang dari Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi . Bahkan ada yang sengaja datang dari luar negeri seperti Malaysia dan Filipina.

Wariyun paham benar situasi Pancuran. Sebab sebagai sesepuh, dia pernah menjalani laku tidak makan nasi selama 19 tahun dan puasa selama 40 hari 40 malam. "Jangan takut, "penunggu" Pancuran ini berujud seorang putri cantik jelita," ujar dia sambil tersenyum.

Dia menambahkan, keunikan lairT dari Pancuran, debit air yang keluar selalu sama. Tidak berkurang di musim kemarau dan tidak banjir ketika hujan.

Keanehan lain, Pancuran ini anti dipugar. Dulu, kala Wariyun, pernah dibangun bak penampungan air agar memudahkan warga mengambil air. Herannya, pasca dibangun, air Pancuran malah tidak keluar sama sekali.(*)

Semangat Hijau di Tengah Pabrik


kawasan hijau


MEMASUKI lingkungan pabrik PT. Semen Gresik di Tuban. Jawa Timur ibarai memxsuki dua kawasan industri; ada industri tambang dan agro industri. Di ia ria. selain menyalcsikjri bangunan raksasa yang mengolah limestone menjadi semen juga terdapat hamparan hijau aneka pepohonan dan tanaman sela lainnya.

Tidak heran memang, karena Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14000 dan telah diintegrasikan ke dalam Sistem Manajemen Semen Gresik (SMSG). Pengelolaan lingkungan berpedoman pada Peraturan Perundangan yang berlaku dan persyaratan lingkungan lain, khususnya terhadap komitmen yang tertulis pada dokumen-dokumen


AMDAL Pusat dan Daerah untuk studi AMDAL.RKL/RPL dan UKL/UPL.

Sejak periode 2003/201(4 dnlam Program Penilaiaji Pc ringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) oleh Kantor Kementrian Negara Lingkungan Hidup RI. perusahaan mendapatkan peringkat "Biru" yang berarti bahwa perusahaan tetah melaksanakan upaya pengendalian pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup dan telah mencapai hasil yang sesuai dengan persyaratan minimum sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Menurut Slamet Budiyanto, staf Bina Lingkungan dan Usaha PT. SG penerapan programpengliijauan nduk hanya untuk mcnitungslkan kcratuli .sisa lahan yang sudah dimanfaatkan untuk keperluan material semen, tapi juga untuk menerapkan pagram penghijauan sekaligus menggerakkan perekonomian masyara-kal yang ada di area pabrik.

Di wilayah pabrik terdapat 249 kepala keluarga. Warga yang tinggal di sana diajak ikut berpartisipasi melakukan penghijauan dengan bantuan perusahaan dalam pengadaan fesilitas. Bibit dan pupuk semuanya disediakan oleh PT.SG tinggal masyarakat yang menjaga dan mengelolanya.

"Program ini sudah dimulai sejak 2003 lalu. Di arca yany bekas galian dan bcrtanah liat kila i.ni im ii pohon mangga, nangka, dan mahoni. Sedangkan sebagai tanaman sela, ditanami jagung dan tanaman jarak kopyor. Karena warga yang mengelola, maka mereka juga yang memetik hasil dan keuntungan dari setiap panennya." jelas Slamet.

Program yang dipaparkan Slamet adalah salah satu bentuk kepedulian lingkungan dan sosial PT. SG terutama untuk program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL). Pada umumnya untukkegiatan hina lingkungan, berbagai prograrn pewberdayaan kondisi sosial masyarakat telah dilakukan.

Lallan yang disebutkan Slamet ladi adalah lahan green belt. Di lahan itu penghijauan tidak nanya memberi dampak positif untuk lingkungan tapi juga dampak ekonomis bagi masyarakat di arca pabrik.Bagaimana tidak, sejak dua dua kali panen, masyarakat bisa menikmati hasilnya.

"Dari i,in.un.ni yang kita (a-,nam, diharapkan nantinya akanlahir industri baru, atau agroindustri. Dari tanaman mangga inisalnya, kita tidak hanya merti jual buah lapi juga bisa mengolahnya menjadi produk kalcngan. Atau tanaman jarak yang bisa dimanfaatkan untuk kosmetik, diharapkan nantinya kila yang akan memproduk.si. Demikian pula tanaman lainnya." jelas Slamet. Bisa jadi upaya yang diterapkan merupakan kelanjutan dari pemanfaatan green bell yang telah sukses, seperti halnya kesuksesan pada pemberdayaan keramba ikan yang selama ini hasilnya dinikmati oleh masyarakat penggarap.B

Wednesday, December 4, 2019

Curug Sewu Tetap Primadona



OBJEK wisata Curug Sewu di Kecamatan Pa-tean Kabupaten Kendal yang terkenal dengan keindahan air terjunnya, kini semakin menjadi primadona wisata domestik di daerah ini. Apalagi kini ditambah fasilitas kolam renang dan kebun binatang, semakin memberi daya tarik wisatawan domestik untuk menikmati suasana tenang, berudara sejuk dan segar, panorama indah jauh dari kebisingan dan polusi udara.

Terutama memasuki masa libur sekolah, banyak wisatawan yang memanfaatkan sebagai sarana rekreasi bagi keluarga.

Dalam masa liburan ini, sedikitnya jumlah pengunjung pada hari Minggu mencapai 4.000 orang dan di luar hari Minggu berkisar 2.000 pengunjung. IPada masa liburan ini, peningkatan pengunjung mencapai 50 persen. Mereka tidak hanya warga Kendal tetapi juga dari Temanggung, Batang dan Semarang," kata Munto-har, pengelola objek wisata Curug Sewu saat ditemui KR, Minggu (21/6).

Dilihat dari mobil dan motor yang diparkir, para wisatawan memang tak hanya dari Kendal, namun banyak pula plat nomor Kedu, Pekalongan dan Semarang. Menurut Muntohar, hingga kini, Curug Sewu tetap menjadi persinggahan favorit bagi masyarakat Kendal dan sekitarnya. Di antara tempat wisata di Kendal, Curug Sewu yang paling banyak diminati wisatawan lokal. "Objek wisata ini tiap tahunnya selalu mencapai target pendapatan yang ditetapkan Pemkab Kendal," papar Muntohar.

Ada keunikan jika memasuki area wisata Curug Sewu. Harga tiket tanda masuk Rp 3.000nRp 4.000, masih belum bisa menikmati seluruh fasilitas yang ada di objek wisata tersebut. Misalnya untuk renang, pengunjung harus bayar lagi karcis dengan tarif Rp 2.000 per orang. Untuk melihat koleksi satwa di Kebun Binatang


dikenai biaya Rp 2.500 per orang.

Pengunjung jangan kaget, bila hendak mendekati air terjun yang merupakan trade mark Curug Sewu, dikenai tarif Rp 3.500. Bila ingin berlibur ke objek wisata Curug Sewu, sedikitnya harus mengeluarkan ongkos keseluruhan Rp 12.000.

Ari, warga Patebon, seorang pengunjung Curug Sewu, sempat terperangah saat harus merogoh koceknya untuk tiap kali menikmati fasilitas di area wisata ini, apalagi harus membayar lagi saat akan melihat dari dekat air terjun yang merupakan kebanggaan masyarakat Kendal.

"Terakhir saya ke sini selesai kuliah saat merayakan kelulusan sekitar 10 tahun yang lalu, saat itu pungutan tiket hanya satu di pintu masuk, selanjutnya kita bebas memanfaatkan fasilitas yang ada, memang kolam renang dan kebun binatang belum ada, namun kita tidak dipungut biaya lagi ketika melihatair terjun dari dekat," katanya.

Ketika dikonfirmasi mengenai sistem tiket tanda masuk, Muntohar menjawab, tiket tanda masuk di area wisata Curug Sewu seperti kolam renang dan kebun binatang diatur dalam Perda, sedangkan pungutan tiket masuk lokasi air terjun merupakan kewenangan Perhutani, karena air terjun itu milik Perhutani.

Di tengah mempeso-nanya Curug Sewu, banyak pengunjung yang menyesalkan arena adu nyali yang cukup modern, roll coaster, sudah lima tahun ini terbengkelai. "Saya ingin naik roll coaster, dulu, setiap pulang kampung, saya sempatkan ke Curug Sewu dan melihat apakah alat ini sudah bisa berfungsi, ternyata belum," kata Ragil, pengunjung dari Kaliwungu. Tidak difungsikannya roll coaster, kata Muntohar, karena tingkat kenyamanan dan keamanan belum terjamin.

(Isdiyanto/Obi )-g

Dari Usaha Bordir ke Percetakan



Siang itu. tidak ada yang spesial di CV Mutiara, yang berlokasi di JL. Raya Widang -Tuban, Suiabaya., sebelum rombongan pengurus KAN Lubuk Kilangan. Di satu ruangan ada belasan pegawai yang tengah menjahit dao mengoperasikan mesin bordir. Di ruangan lainnya, ada puluhan pegawai yang (cngali melipat, mcnjilid buku sekolah dan menjalankan mesin cetak.

"Beginilah rutinitas kami setiap harinya. Saya memantau jalannya usaha konveksi dan bordir, sementara suami saya, mensupervisi jalannya usaha percetakan." tutur Mutiara,4l saal kunjungan pengurus KN Lubuk Kilangan, staf PT. Semen Padang dan pendamping merekadari divisi Bina Lingkungan dan Usaha. PT Semen Gresik, (29/1) lalu.

Kunjungan itu bermakna tersendiri bagi Mutiara dan suaminya Amat.51. Ada kebanggaan dan rasa sukur terpancar dari matanya. Bagaimana tidak, kalau biasanya ia hanya dikunjungi oleh staf PT SG saja, kali ini iadijambangi Masyarakat dari pulau lain yang bisa jadi adalah konsumen usaha konveksinya. Bahkan, ia juga dijadikan contoh suksesnya usaha rumahan hasil dampingan PT. SG

Mutiara masih ingat bagaimana usahanya itu berawal. Mutiara memulai usahnya bermula dari sebuah mesin jahit dan kctcrampilannya membordir. ditahun 1984 silam. Kala itu ruang lingkup usahanya sangat terbatas.

Beruntung di saat itu divisi Bina Lingkungan dan Usaha. PT SG mendatangi dan menawarkan bantuan memberi pinjaman lunak sebesar Rp 15 juta.

"Awal-awal itu memang masa merintis usaha. Dan usaha yang dimodali sekian bisa berkembang dan membutuhkan penambahan modal untuk pengembangan lebih." buka Mutiara.

Menurut wanita tamatan pondok pesantren, setingkat sekolah menengah atas itu, hingga usahanya berkembang saal ini sudah empat kali ia mendapat pinjaman lunak. Pinjaman pertama sebanyak Rp 15 juta, kedua Rp 30 juta, ketiga Rp 45 juta dan terakhir untuk usaha percetakan Rp 75 juta.

Dengan bunga pinjaman yang berkisar 6 persen, Mutiara berhasil menunjukkan kalau bantuan itu tidak sia-sia. Buktinya, dengan pembelian bahan konveksi sebanyak 3 ton per buliin (namun sekarang berkurang hingga 15 ton karena inflasi), Mutiara berhasil meraup omzet hampir Rp 5 miliar per bulan.

Yang menarik dari pesatnya perkembangan usaha Mutiara adalah karena kesunggiihannya selalu memperkaya pengetahuandan sumber day any a. Kalau dulu ia memanfaatkan bordir manual, sekarang sudah menggunakan mesin bordir berteknologi komputer.

"Bantuan dari perusahaan tidak hanya berupa modal saja, tapi mereka juga membekali dengan mengadakan pelatihan dalam bidang manajemen dan promosi. Tidak hanya itu, perusahaan juga memakai produk kami jika kebetulan mereka butuh," beber Mutiara.

Lain halnya dengan istrinya yang lebih fokus ke bidang konveksi. Amat justru berminat di bidang percetakan. Cuma sama halnya dengan istrinya. Amat pun mulai dari kemampuan dan minatnya. Artinya, ia memulai usaha terlebih dulu, dan ketika butuh modal yang lebih besar baru diajukanlah proposal ke PT.SG

Meski sudah cukup berkembang, usaha yang baru dirintis-nya sejak setahun silam itu telah memberikan omzet sekitar Rp 100 juta setiap bulannya. "Meski demikian, kila sebenarnya masih (etap butuh pendampingan lain berupa kunjungan belajar ke tempat lain. Hal ini akan membuka wawasan kita bagaimana pengusaha sukses lainnya bisa mempertahankan bisnis mereka," hamp Amat."