Membangun Jaringan di Luar Negeri
Sejumlah usahawan besar Indonesia menjadi pelaku bisnis di negara-negara Asia Tenggara, Asia Tengah, Asia Timur, Australia dan Amerika Serikat. Para pebisnis ini bermain di areal pertambangan, perdagangan umum, makanan, properti dan ritel. Menariknya, sebagian besar tenaga kerja perusahaan tersebut adalah eksekutif Indonesia. Nama mereka sangat wangi di antara eksekutif luar negeri.
Di RR China, jejak usahawan Indonesia tampak di kawasan utara dan sekitar pantai timur. Dari Dalian, Harbin, Beijing, Shanghai, Xiamen, Shenzen, Zhuhai, Guangzhou, Meizhou. dan Hainan di selatan. Di Hongkong, pemain Indonesia umumnya bermain di panggung properti, ritel, dan makanan. Di Amerika Serikat, sekadar menyebut contoh lain, pebisnis Indonesia bermain di bidang properti, ritel dan industri. Di Asia Tengah, khususnya di bekas Um Sovyet, usahawan Indonesia bergerak di bidang pertambangan minyak. Di Australia, di bidang properti, ritel dan jasa.
Datanglah ke Shanghai misalnya, jejak usahawan Indonesia terutama tampak di Nangking Road, kawasan sekitar The Bund (Shanghai Thang), dan Pudong. Bendera usaha Grup Lippo, Grup Salim. Sinar Mas, Gajah Tunggal, Summarecon, berdiri dengan sangat gagah di sana. Sulit disebutkan siapa yang terbesar, tetapi umumnya adalah pemain-pemain besar. Grup Lippo misalnya mempunyai jaringan ritel, supermarket yang tegak di pelbagai kota. Proyek-proyek propertinya juga sangat gemerlap. Tidak heran kalau nama Lippo, juga Sinar Mas,
Salim, Summarecon, sangat dikenal di kalangan usahawan di daratan besar China.
Di Amerika Serikat, beberapa imperium bisnis Indonesia cukup berki-lau. Jejak James Riady. Sofjan Wanandi dan usahawan lain tampak jelas di sini. Sofjan misalnya bermain di bidang perdagangan dan industri. Ia di antaranya menjadikan Chicago, kota ketiga terbesar di AS sebagai kantor pusat. Di Singapura, pemain-pemain Indonesia bermain di bidang perhotelan, properti, makanan dan sebagainya. Nama James Riady dengan Grup Lipponya cukup populer. Lippo memiliki sejumlah hotel bintang lima di kawasan elite, proyek-proyek properti di kawasan premium.
"Grup usaha Indonesia, seperti Lippo amat besar di sini," ujar Wu Liehong, eksekutif properti di Singpura, pekan lalu. Hal yang sangat menarik, menurut Wu, Lippo dan usahawan Indonesia lainnya mempunyai eksekutif yang andal. "Mereka umumnya cerdas, kreatif dan amat fasih berbahasa Inggris. Aksen Inggrisnya sangat Amerika, dan British. Tidak tampak bahwa mereka itu orang Indonesia."
Untuk usaha dalam skala lebih kecildan bergaung, juga banyak. Grup Tudung dengan Kacang Garudanya. lumayan dikenal di luar negeri. Usaha makanan Johnny Andrean juga sudah merambah ke mancanegara. Donatnya, J.Co sudah bisa dicicipi warga Singapura dah Malaysia. Ia sebentar lagi akan masuk ke pasar China dan Amerika Serikat. Johnny dikenal cermat dan hati-hati kalau melakukan ekspansi. Berekspansi ke dua negara tersebut, tentu sudah dengan perhitungan matang. Misalnya, pasarnya sangat jelas. Dalam realita di lapangan, donatnya Johnny Andrean disukai warga Malaysia dan Singapura.
Kepada Kompas, Johnny pernah bercerita bahwa ia ingin melebarkan sayap usahanya ke lebih banyak negara. Bukan untuk bermegah, tetapi ia ingin produk yang 100 persen asli Indonesia itu mendunia. Publik sejagat juga bakal tahu bahwa donat Indonesia tidak kalah dengan donat yang selama ini sudah masyhur. "Donat J.Co bisa berkompetisi di pentas dunia karena produknya enak, terdiri hampir 50 jenis. Sejumlah di antaranya sangat mendukung kesehatan," tutur Johnny.
Grup Ciputra tidak kalah bersinar di luar negeri. Di bawah pimpinan orangkepercayaan Ciputra, Budiarsa Sastrawinata, imperium bisnis properti dan perhotelan ini menancapkan bendera usahanya di India, Vietnam, Kamboja, Nigeria. Singapura dan beberapa negara Eropa. Tidak main-main, Budiarsa sangat dihargai di negara-negara tersebut. "Kamboja misalnya menyambutnya dengan hangat Ketika menjelaskan proyek kami, pemimpin Kamboja Hun Sen sendiri yang menerima saya dengan tim. Ini luar biasa," ujar Budiarsa. Di Vietnam, para petinggi negara tersebut juga menerima Budiarsa dengan tangan terbuka.
Uraian tentang grup usaha yang sukses ini tidak dimaksudkan untuk memuja mereka, melainkan memberi inspirasi kepada usahawan lain bahwa pengusaha seyogyanya tidak "jago kandang. Para usahawan Indonesia harus berpikir global, tidak keasyikan berkibar-kibar di negeri sendiri. Dengan mendirikan perusahaan di luar negeri, banyak manfaat diperoleh. Indonesia dan produknya menjadi lebih dikenal di luar negeri. Para eksekutif Indonesia pun tidak jago kandang, melainkan mampu berkompetisi dengan eksekutif lainnya di dunia.
Sebagian besar perolehan profit di luar negeri juga kembali lagi ke Indonesia.
Usahawan Sofian Wanandi dalam beberapa kesempatan menyatakan, sekarang era global. Usaha negara lain bisa masuk Indonesia. Usahawan Indonesia pun bisa masuk ke pelbagai negara dunia. Ini soal sangat lumrah dan sesuai perkembangan zamannya. Oleh karena itu para pengusaha Indonesia harus menyiapkan diri baik-baik untuk bertarung di panggung dunia. Manajemen mesti prima, sumber daya manusia harus profesional. "Jaringan dan lobi pun harus kuat. Bagaimana Anda bisa membuka usaha di luar .negeri, dan sukses kalau jaringan, lobi, pemasaran dan manajemen Anda tidak bagus," ujar Sofjan.
Catatan lain yang bisa disampaikan di sini, terlepas dari aspek era global itu. usahawan besar Indonesia hendaknya juga tidak keasyikan bermain di luar negeri. Di dalam negeri juga perlu perhatian, di antaranya pada masalah perbankan. Bank-bank swasta nasional, umumnya sudah dikuasai asing. Penguasaan oleh asing memang soal wajar dan jamak, tetapi betapapun juga perlu perhatian luar biasa dari pelbagai pihak, termasuk pemerintah.













